
...Kode itu semakin jelas dan hatinya masih saja keras...
Tersadar jika sudah beberapa menit ia melamun, melamunkan Gavin lebih tepatnya. Ratu yang sedang duduk manis di kursinya seorang diri itu melihat jam tangan yang berada dipergelangan tangannya.
10 menit lagi bel masuk berbunyi. Dengan gerakan cepat Ratu langsung menyapukan pandangannya pada seluruh penjuru kelas. Nihil, seseorang yang dicarinya tidak ada. Gavin, Ratu mencarinya.
Ratu bangkit dari duduknya dan melangkahkan kedua kakinya menuju keluar kelas untuk mencari keberadaan Gavin. Dan selangkah lagi ia menuju pintu. Seseorang berusaha masuk lewat pintu yang akan Ratu lalui. Seseorang itu tidak lain adalah Candra--teman Gavin.
"Candra"
Laki-laki yang dipanggil Candra itu menghentikan langkahnya tepat didepan tubuh Ratu. Pandangnya mengarah pada wajah Ratu yang terlihat cemas, pandangan itu seolah mengatakan satu kata tanya yaitu 'Apa?'
"Lo tahu nggak Gavin kemana?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Ratu itu sontak membuat Candra membulatkan matanya sempurna sebelum ia menjawab
"Nggak. Tumben Lo nanyain dia" Jawab Candra kemudian tersenyum penuh arti.
Iya tumben, tumben Ratu menanyakan Gavin. Tumben Ratu peduli pada Gavin. Aduh Ratu merutuki dirinya sendiri sepertinya dia sudah salah langkah lagi. Ada apa ini?
...^,^,^,^...
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi semua murid di kelas Ratu yang mendapatkan rezeki tidak terduga. Ya rezeki itu datang dari Candra, berkat Joni yang mengungkap jika Candra telah mempunyai pacar dan mengharuskan Candra untuk membagikan sebagian--seluruh uangnya yang ada untuk di berikan kepada murid-murid dikelas sebagai 'Pajak Jadian'. Semua itu bermula ketika Joni berteriak mengumumkan jika status di WA Candra telah berubah. Dari "SALAM SATU JOMBLO" menjadi "JENINATALIA". Sudah Joni pastikan jika Jeni sekarang adalah pacarnya Candra.
Awalnya Ratu tidak percaya. Namun setelah ia menanyakan langsung pada Jeni dan jawaban Jeni adalah iya, maka Ratu percaya. Ratu ingat jika dahulu Jeni mencintai Gavin. Tetapi sekarang Jeni menjadi pacar Candra. Mungkin Jeni telah selesai mencintai Gavin.
Jika semua teman sekelasnya tengah berada di kantin untuk merayakan hari jadi Jeni dan Candra yang entah sejak kapan menjadi sepasang kekasih itu, maka lain halnya dengan Ratu yang menyibukkan dirinya di perpustakaan bersama buku novel terbaru.
Sudah beberapa halaman Ratu baca namun belum juga Ratu tuntaskan pikirannya untuk berhenti memikirkan seseorang yang sedang tidak bersekolah hari ini. Ya, Gavin tidak sekolah. Ratu tidak tahu alasanya. Padahal kemarin Gavin berkata pada Ratu bahwa ia akan berubah. Berubah seperti apa? Jika berubah menjadi yang lebih buruk? Mungkin iya. Buktinya Gavin tidak bersekolah hari ini.
Gagal. Percuma Ratu mencoba menghabiskan waktunya dengan tidak memikirkan Gavin jika akhirnya Gavinlah yang selalu ada dipikirannya. Ratupun memutuskan untuk menyimpan satu novel yang baru sedikit dibacanya itu ke rak buku. Kemudian ia melangkah pergi keluar dari perpustakaan. Ia akan pergi ke tempat dimana tidak ada nama Gavin dipikirannya.
Suara handphone menandakan satu pesan masuk membuat Ratu menghentikan langkahnya dan memilih mengambil handphone yang sengaja ia taruh di saku roknya. Satu notifikasi pesan masuk tertera dilayar handphonenya. Nomor yang ia tidak kenal.
Karena penasaran, Ratupun membuka pesan itu.
^^^Kita pulang bareng. Gue tunggu di parkiran nanti.^^^
__ADS_1
^^^-Gavin^^^
Ratu membaca ulang pesan singkat yang mengatasnamakan Gavin itu. Mana mungkin pesan itu memang sungguhan berasal dari Gavin toh hari ini Gavinkan tidak sekolah jadi bagaimana dia bisa mengajak Ratu pulang bareng?
Ratu mulai mengetikkan balasan untuk nomor yang tidak dikenal itu. Rayu sangat yakin jika itu bukanlah Gavin.
^^^LO BUKAN GAVIN!^^^
Ratu selesai mengirim balasan pada no itu. Ada sedikit ketakutan jika ternyata seseorang itu berniat jahat padanya. Baru saja Ratu hendak melanjutkan langkahnya, satu notifikasi masuk memaksa Ratu mengurungkan niatnya karena penasaran untuk melihat pesan masuk yang ternyata masih dari no itu.
^^^Gue beneran Gavin.^^^
^^^Kemarin helm gue kebawa pulang sama Lo. Jadi gue mau ngambil helmnya sekarang. Sekali lagi gue tunggu di parkiran sepulang sekolah. ^^^
Ratu terkejut namun merasa sedikit lega jika ternyata ini benar-benar Gavin. Kemarin Ratu diantar pulang oleh Gavin dan tanpa Ratu sadari, helm yang sedari tadi Ratu pakai diperjalanan terbawa sampai rumahnya. Dan hari ini Ratu lupa membawa helm itu.
Ratu kembali mengetikkan huruf-huruf di keyboard layar handphonenya untuk membalas pesan dari Gavin.
^^^Okay.^^^
Belum ada jawaban dari Gavin.
...^,^,^,^...
Ratu berjalan mendekati motor yang dinaiki Gavin. Gavin menatap Ratu lurus. Tanpa senyum. Itu membuat Ratu semakin tidak enak hati. Entah kenapa sepertinya aura Gavin berbeda. Ratu takut melihat Gavin seperti ini, Gavin nampak mirip seperti preman. Tetapi Ratu harus pandai menyembunyikan ketakutannya dengan kecuekkan wajahnya.
"Naik!" kata itu yang pertama keluar dari mulut Gavin setelah Ratu berhasil berjalan menuju motor Gavin.
Ratu memutarkan kedua bola matanya kemudian naik motor Gavin tepat di belakang tubuh Gavin. Seharusnya Ratu yang marah pada Gavin. Karena pertama tadi Gavin tidak sekolah setelah hari kemarin Gavin berkata jika ia akan berubah, kedua karena pesan terakhir Ratu tidak dibalas Gavin sampai sekarang dan ketiga Gavin malah bersikap dingin kepadanya.
Ratu benar-benar tidak mengerti Gavin. Lebih baik dia diam. Kini motor yang ditumpangi Gavin dan Ratu tengah melaju membelah jalanan. Tidak ada percakapan. Keduanya saling setia membisu.
"Candra jadian sama Jeni?"
Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Gavin. Ratu berusaha bersikap biasa saja. Apa Gavin cemburu karena Jeni jadian dengan Candra? Apakah karena ini Candra bersikap dingin pada Ratu?
Tidak ada jawaban dari Ratu. Seakan pertanyaan itu habis dimakan angin, digerogoti jalanan yang terlewatkan.
__ADS_1
"Candra jadian sama Jeni?" Ulang Gavin.
"Iya. Kenapa Lo cemburu?" Entah kenapa tapi kalimat itulah yang seketika keluar dari mulut Ratu.
"Gue nanya bukan cemburu" jawab Gavin dengan nada pelan.
"Halah pake ngelak segala kalo cemburu ya cemburu aja kali" Ratu menaikkan nada bicaranya.
"Kalo Lo yang jadian sama Candra baru gue cemburu" kalimat itu berhasil membuat Ratu bungkam.
Apa-apaan ini? Batin Ratu.
Ratu berusaha mengabaikan detak jantungnya yang bekerja lebih cepat. Ratu berharap Gavin tidak mendengar suara detakannya.
"Kita kapan?" Pertanyaan ambigu itu milik Gavin.
"Kapan apa?" Tanya Ratu dengan penasaran.
"Kapan jadian?. Nyusul Candra sama Jeni"
"Bukanya yang Lo suka itu Jeni?" Pertanyaan itu kuat dari mulut Ratu bersamaan dengan usaha Ratu untuk menormalkan detakan jantungnya.
"Nggak" jawab Gavin singkat.
"Bohong"
"Cara biar Lo ngerti kalau gue beneran cinta sama Lo gimana sih?"
Oh Tuhan. Kedua pipi Ratu memerah seketika. Jantungnya berdetak kencang sekali. Gavin benar-benar paling bisa membuat Ratu merasakan hal-hal seperti ini.
"Kalau hari ini gue nembak Lo diterima nggak? Kalau enggak diterima hari ini. Berarti kalau besok gue nembak diterima ya"
Ratu benar-benar bisu. Ratu mencoba beberapakali menegaskan jika telinganya tidak salah mendengar. Gavin apakah harus dia membuat Ratu sebegitunya?
Ratu memejamkan matanya rapat-rapat. Diam-diam di dalam hati Ratu menyibukkan diri berdoa pada Tuhan.
"Tuhan aku harus bagaimana pada laki-laki ini?"
__ADS_1