Ratu Kepo

Ratu Kepo
34. Kita Ini Apa?


__ADS_3

...Manusia akan terus berubah seperti bumi yang terus berputar...


"Kita batalin aja ya jadiannya. Kita nggak pacaran"


Gavin menatap Ratu tidak percaya. Apa yang Ratu katakan tidak bisa Gavin terima. Gavin membuka mulutnya untuk bertanya masuk Ratu mengatakan itu, namun Ratu mendahuluinya.


"Jadi gini, besok itu kan tanggal sebelas. Nah sebelas itu no favorit gue. Jadi, gue mau kita jadiannya besok aja. Nggak apa-apa kan?" Ratu menggigit bibir bagian dalamnya, ia berbicara dengan ragu-ragu takutnya Gavin tidak setuju dengan keinginannya.


"Okay" Kemudian Gavin menatap Ratu yang tengah tersenyum lebar kepadanya.


Gavin tidak merasa keberatan dengan keinginan Ratu. Apa bedanya hari ini dan besok, toh Ratu akan menjadi miliknya. Begitulah pikir Gavin.


"Hari ini adalah hari terakhir lo jadi jomblo. Besok lo jadi pacar gue"


...*...


"Anjing lo"


Suara Gavin terdengar samar-samar di telinga Ratu. Ingin memastikan lebih jelasnya, Ratu meninggalkan Jeni dan Kayla yang berada dibelakang dan mulai berlari menuju suara yang ia yakini adalah suara Gavin.


Suara itu seperti berasal dari sana, di tengah gerombolan orang-orang. Ratu yakin Gavin pasti ada ditengah gerombolan itu. Ratu mendesakkan tubuhnya agar bisa berada ditengah lingkaran gerombolan itu.


Napas Ratu tidak teratur dan kini mulut dan matanya terbuka, ketika melihat Gavin. Cowok itu tengah berdiri dengan tangan yang menarik kerah kemeja seorang murid laki-laki.


Gavin berulah lagi. Ratu tidak tahu harus apa selain berlari. Ratu berlari menjauhi gerombolan itu. Ratu terus berlari tanpa memperdulikan Jeni dan Kayla yang memanggil namanya. Ratu tidak memperdulikan dirinya yang belum mengganti baju olahraganya.


Ratu sudah kepalang kecewa. Beberapa hari ini Gavin tidak pernah lagi berkelahi atau dipanggil BK tapi hari ini?  Ah mungkin bukan Gavin namanya kalau tidak membuat masalah. Dan Ratu tidak pernah berpikir jika laki-laki yang akan menjadi pacarnya itu adalah seseorang yang menyukai perkelahian. Ini bukan mimpi yang Ratu inginkan. Ini realita yang masih bisa dilihat dengan mata.


...*...


Sial. Sepanjang pelajaran tidak ada sedikitpun materi yang ia mengerti. Fokusnya tertuju pada seseorang yang tidak ada di ruangan, yaitu Gavin.


Murid di kelas Ratu sudah tahu apa yang terjadi dengan Gavin. Sedikitnya, Ratu mendengar bahwa Gavin membuat adik kelas pingsan, tentu saja karena tinjuannya. Namun untuk alasan mengapa Gavin melakukan hal seperti itu, belum ada yang tahu.


Setelah tahu informasi itu, Ratu tidak menangis juga tidak tersenyum. Yang Ratu tahu dirinya hanya sedang kecewa. Rasanya Ratu ingin marah sejadi-jadinya pada Gavin namun Ratu terlalu enggan untuk melihat wajah Gavin.

__ADS_1


Bel pulang berbunyi, menjadi tanda bahwa kegiatan belajar telah selesai. Ratu memasukkan alat tulis milikknya kedalam tas.


"Ratu"


Setelah mendengar suara itu, Ratu bergerak cepat untuk mengenakan tasnya kemudian berdiri dari kursi.


"Lo harus dengerin gue" Suara itu membuat Ratu memutarkan bola matanya. Kepalanya menoleh pada Jeni yang berada disampingnya.


"Gue duluan, Jen"


Setelah mendapat anggukan dan ucapan hati-hati dari Jeni, Ratu melangkahkan kakinya. Dan sebelum melewati Gavin yang tengah berdiri, Ratu menarik pergelangan tangan Gavin dengan sengaja.


"Ikut gue"


"Tolong bawa tas gue, Lang" Gavin berteriak pada Elang tanpa menatap Elang. Karena tatapannya tertuju pada tangan Ratu yang menarik pergelangan tangannya.


Beberapa orang yang belum keluar kelas dapat melihat kejadian tadi. Ada yang menatap dengan tatapan tak suka, ada juga yang menatap penasaran dengan apa yang akan Ratu lakukan pada Gavin.


Setelah kakinya menginjak keramik di depan kelas 10 yang sudah tidak ada orang, Ratu melepaskan tangan Gavin. Ratu mendudukkan tubuhnya di kursi panjang yang berada diluar kelas itu. Tanpa sepatahkatapun, Gavin duduk disamping Ratu.


Gavin tidak menjawab, namun dia menoleh. Kemudian kepala Gavin menunduk dalam. Ratu menghembuskan napasnya gusar, sebelum memberikan pertanyaan kepada Gavin.


"Kenapa lakuin itu?"


Tanpa Ratu jelaskan panjang lebar, Gavin pasti sudah mengerti makna dibalik itu yang Ratu pertanyakan.


"Gue lihat mereka lagi ngintip toilet cewe terus gue tinju aja. Yang satunya kabur sebelum gue tinju dan satunya lagi" Gavin menggantungkan ucapannya. Ia sendiri tidak menyangka dengan apa yang tadi dia lakukan.


Gavin mengangkat kepalanya, kemudian matanya memandangi Ratu yang tengah penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Namun bukan hanya penasaran, ada juga kekecewaan di mata Ratu.


"Satunya lagi pingsan"


"Nggak ada cara lain selain pake tangan? Lo kan bisa pake mulut. Lo bisa bilang kalau mereka nggak boleh ngintip toilet cewek" Nada suara Ratu meninggi, napasnya tidak teratur.


"Mereka nggak akan ngerti"

__ADS_1


"Kalau gitu lo laporin aja mereka ke guru BK. Dengan gitu lo nggak akan ninju anak orang sampai pingsan"


Gavin mendekatkan wajahnya pada Ratu. Sedangkan Ratu berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Gavin. Mata Gavin menatap tajam mata Ratu.


"Gue juga nggak peduli mau dia ngintip toilet cewek atau cowok atau bahkan ngintip toilet guru. Gue nggak akan repot-repot tinju dia sampai pingsan kalau" Gavin menggantungkan kalimat yang diucapnya. Ia menarik wajahnya agar menjauh dari wajah Ratu, karena Gavin melihat Ratu sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.


"Kalau gue nggak ngira dia ngintipin lo. Tadi, gue tahu lo belum ganti baju. Jadi gue kira orang yang diintipin itu lo. Makanya gue langsung tinju dia. Gue cuman takut kalau dia ngintip lo. Gue nggak suka. Gue nggak bisa ngebayangin kalau dia lakuin macem--"


Ucapan Gavin terpotong ketika ia merasakan tangannya digenggam Ratu. Gavin yang tadi tidak menolehkan pandangnya pada Ratu, kini menolehkan pandangannya pada Ratu.


Ratu tengah memandangi Gavin dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Tentu saja Ratu merasa haru dengan apa yang Gavin lakukan, meskipun apa yang Gavin lakukan tidak benar.


"Makasih. Lain kali lo jangan ceroboh lagi. Jangan langsung main tangan. Selain orang lain yang celaka, diri lo juga"


Gavin menganggukkan kepalanya, kemudian tatapannya jatuh pada Ratu. Gavin tidak siap mengatakan ini tetapi dia ingin sekali Ratu tahu.


Setelah mengambil napas dan menghembuskannya, Gavin membuka mulutnya dan berkata.


"Besok dan dua hari kedepan gue nggak sekolah. Gue di skors"


...*...


Ratu menyembunyikan wajahnya diatas bantal. Beberapa kali Ratu mengusir Gavin dari pikirannya namun tidak berhasil. Perkataan Gavin yang mengatakan jika dirinya di skors membuat Ratu tidak bisa memikirkan hal lain selain itu.


Ratu tidak tahu kenapa Gavin begitu emosional dan dengan mudahnya menggunakan tangannya untuk meninju seseorang. Mungkin niatnya memang baik, Gavin tidak ingin Ratu kenapa-napa. Tapi cara yang Gavin lakukan tidak bisa dikatakan benar.


Ratu jadi teringat percakapannya di sekolah bersama Kayla dan Jeni. Waktu itu, Ratu menanyakan pada keduanya tentang Gavin. Seperti, sejak kapan Gavin suka berkelahi?. Dan mereka menjawab sejak Gavin berpacaran dengn Efrina. Kemudian Ratu bertanya kenapa alasannya, namun tidak ada yang tahu.


Ratu penasaran dengan apa yang terjadi antara Gavin dan Efrina selain hubungan mereka. Ratu ingin tahu sebab Gavin menjadi seperti itu. Karena menurut perkataan Jeni dan Kayla, sebelum berpacaran dengan Efrina, Gavin tidak sering berkelahi. Ratu harap jika dirinya tahu alasan Gavin menjadi seperti itu, Ratu akan membuat Gavin mengerti bahwa selama ini, yang dia lakukan itu salah.  Ratu tidak berniat berubah Gavin. Ratu akan membiarkan Gavin sesuai keinginannya, tetapi Ratu tidak akan membiarkan Gavin merawat sifat buruknya. Bukan karena Ratu malu kelak Gavin akan menjadi pacarnya, namun karena Ratu ingin Gavin menjadi lebih baik.


Mungkin Deva yang pernah berhubungan dengan Gavin dan Efrina sedikitnya akan tahu tentang apa yang terjadi dengan Gavin. Namun Ratu teringat ketika dirinya menolak Deva. Deva meminta bahwa Ratu harus menjauhinya dan bertindak seolah tidak kenal dengan Deva. Awalnya Ratu merasa keberatan, namun Deva bilang jika Ratu tetap berada disekitarnya, Deva tidak bisa melupakan Ratu. Oleh karena itu Ratu menyanggupi permintaan Deva.


Sudah jelas Deva bukan orang yang bisa Ratu tanyakan tentang masalah ini. Begitupun juga dengan Gavin, Gavin tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya.


Elang. Satu nama itu tercetus dari usulnya. Gavin pernah bercerita bahwa ia dan Elang adalah sahabat dekat dari kecil, namun karena satu alasan Gavin dan Elang harus berpisah. Dan Ratu tahu Elang pasti tahu dengan apa yang terjadi pada Gavin.

__ADS_1


Namun apakah Elang akan membantunya dalam menjawab semua rasa penasaran Ratu?


__ADS_2