Ratu Kepo

Ratu Kepo
17. Penyesalan di Kota Bandung


__ADS_3

...Seperti inilah Bandung kadang kala ada yang tertawa diujung sana ada juga yang sibuk menyembunyikan luka disudut sana...


Ratu menggigiti bibir bagian bawahnya. Rasa takut menjalari tubuhnya. Semua ini salah kakaknya yang tega meninggalkan Ratu sendiri di sebuah cafe yang terletak jauh dari rumahnya.


Awal ceritanya adalah Bang Raka yang merupakan kakak Ratu satu-satunya itu mengajak Ratu untuk makan malam di cafe milik sahabatnya itu. Tetapi karena Bang Raka tiba-tiba di telpon pacarnya untuk suatu kepentingan,maka Bang Raka dengan teganya meninggalkan Ratu di cafe ini sendiri.


Dengan jari-jari yang diketukkan pada atas meja Ratu memandangi sekitar cafe ini,  semoga saja ada orang yang Ratu kenal. Karena malam ini adalah malam sialnya, selain karena Bang Raka yang meninggalkannya begitu saja, Bang Raka juga lupa memberikan Ratu uang untuk membayar makanan yang telah Ratu makan seharusnya Bang Raka tahu bahwa Ratu tidak membawa uang sepeserpun.


Keputusan untuk pergi dari cafe ini telah terlintas beberapa kali dipikiran Ratu akan tetapi Ratu juga tahu bahwa dia harus membayar makanan yang baru ia habiskan. Kedua mata Ratu memandangi piring dan gelas yang menyisakkan sisa-sisa makanan dan minuman saja. Ahh itu membuat Ratu semakin frustasi.


Ratu kembali mengedarkan pandanganya untuk mencari solusi dan benar saja Ratu melihat seorang ibu-ibu tengah menelpon seseorang. Dari sana Ratu memutuskan untuk menelpon seseorang juga untuk membantunya. Terimakasih tuhan telah memberikan jalan keluar lewat si ibu-ibu itu, pikir Ratu.


Ratu mengambil handphonenya dari tas kecil berwarna hitam miliknya itu. Ratu nampak berpikir sejenak untuk menentukan siapa yang akan ia minta bantuannya. Nama kakaknya sudah tidak termasuk,karena Ratu yakin sekarang kakaknya sedang berada diperjalanan dan tidak mungkin menjawab panggilan telpon Ratu.


Candra. Nama itu melintas dipikiranya dan Ratu langsung mengirimi Candra pesan. Karena jika menelpon Ratu kira pulsanya tidak akan mencukupi. Dengan cepat Ratu mengetikkan pesan kepada no telpon Candra dan langsung mengirimnya.


Ratu merasa sedikit lega. Tetapi itu tidak memastikan bahwa dirinya akan selamat. Karena bisa-bisa saja Candra tidak datang dan membuat Ratu terancam disini. Semoga saja Candra segera datang, doa Ratu.


Ratu menghembuskan nafasnya kasar seolah dia melepaskan semua bebannya. Sesegara mungkin Ratu menenggelamkan wajahnya diatas kedua tangan yang ia lipatkan. Rasa kantuk menghampirinya dan Ratu tidak bisa menolak untuk tidak tidur.


Ratu memejamkan kedua matanya. Alunan musik dari penyanyi cafe membuat Rau merasa dinina bobokan hingga dalam hitungan detik dia sudah terlelap.


"Ratuuuu"


Suara seseorang terdengar samar di indera pendengaranya. Mungkin itu bagian dari mimpinya pikir Ratu lalu dia menghiraukan itu.


Beberapa kali nama Ratu terdengar samar dan beberapa kali itu juga Ratu menghiraukannya.


"Awwww" jerit Ratu dengan kedua mata yang masih terpejam. Diantara sadar dan tidak dia menjerit kesakitan ketika merasakan sebuah cubitan di tangan kanannya.


Perlahan Ratu membuka kedua matanya. Dan entah ini alam mimpi atau alam nyata. Kedua mata Ratu bertemu dengan kedua mata milik seseorang yang seperti tidak asing, namun Ratu lupa namanya. Tatapan laki-laki itu menusuk kedua mata Ratu seraya menarik satu sudut bibirnya lalu berkata


"Ayo pulang"


Ratu yang baru terbangun dari tidur singkatnya itu kembali memajamkan matanya berusaha mengingat apa yang baru terjadi sebelum dia tertidur.


Seingat Ratu dia meminta Candra untuk datang kemari tetapi kenapa yang datang malah laki-laki yang Ratu lupa namanya siapa.


"Lo siapa?" Ratu memberanikan diri bertanya seperti itu dengan nada menantang, padahal jauh dilubuk hatinya sekarang dia tengah ketakutan bukan main.


"Gue Deva" jawabnya singkat.


Ratu masih belum meningat nama dan orang itu. Rau memandangi terus laki-laki yang katanya Deva itu, dia memiliki tubuh tinggi sedikit berisi dan wajahnya tampan dengan hidung mancung dan juga ada satu, dua, ahh tiga jerawat disekitar kening dan pipinya.


"Yuk pulang, bentar lagi kayaknya hujan"


Ratu mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Deva itu. Barusaja membuka mulut unyuk bertanya, suara khas milik Deva telah terdengar membuat bibirnya tertutup rapat-rapat.


"Kakak lo minta bantuan gue buat anter lo pulang dan makanan lo bisa dibayar nanti sama kakak lo. Itukan yang lo mau tahu?"


"Nggak. Gue nggak kenal lo siapa dan bisa jadikan lo itu komplotan penculik atau pelaku kejahatan semacamnya. Dengan modus lo sebagai suruhan kakak gue ter--" Ratu sengaja memotong ucapanya ketika tiba-tiba tangan kananya ditarik Deva.

__ADS_1


"Nama gue Deva. Satu sekolah sama lo. Sekarang gue kelas 12. Dan gue adik dari dari yang punya cafe ini yang artinya kakak kita itu temenan. Udah jelas kenalannya?" Deva bersalaman dengan Ratu dan tentu saja itu karena paksaan Deva.


Tanpa ada lagi percakapan, Deva langsung menarik Ratu untuk mengikuti kemana dirinya pergi.


Sampai akhirnya, mereka sampai di parkiran. Deva melepaskan tanganya dari tangan Ratu. Deva membukakan pintu mobilnya dan tanpa ragu-ragu Ratu langsung masuk.


...*...


"Biar gue aja"


Setelah megatakan kalimat itu Gavin langsung pergi dari kossan Candra. Akhir-akhir ini Gavin memang menomor satukan Ratu diatas segala-galanya termasuk dirinya.


Candra ingin sekali membalas pesan yang Ratu kirimkan. Sayangnya Candra tahu jika saldo pulsanya tidak mencukupi. Jadi yang bisa Candra lakukan adalah berdoa semoga Gavin dan Ratu baik-baik saja.


Padahal Candra yang diminta bantuan oleh Ratu tetapi malah Gavin yang akan membantu. Candra pikir Gavin memang beneran sayang pada Ratu.


Ditempat yang berbeda, Gavin tengah mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Pesan singkat dari Ratu membuat Gavin semakin khawatir akan keadaan Ratu. Gavin harus segera sampai di cafe itu. Gavin harus menyelamatkan Ratu. Gavin juga tidak peduli pada malam ini, yang sepertinya akan hujan.


Benar saja, tetesan hujan mulai  berjatuhan ke atas permukaan tanah. Gavin menghiraukan hujan. Gavin terus melajukan sepeda motornya, membelah jalanan malam ini. Air hujan turun membasahi tubuhnya, dan di kepala Gavin hanya terdapat nama Ratu.


Setelah melewati beberapa belokan akhirnya Gavin sampai di cafe yang dimaksudkan Ratu. Segera Gavin memarkirkan motornya dan langsung berlari menuju cafe itu.


Dengan pakaian basah kuyupnya Gavin memberanikan diri bertanya pada kasir tentang keberadaan Ratu. Hasilnya mengecewakan karena kata kasir di cafe itu, Ratu telah pulang diantar oleh adik pemilik cafe ini.


Saat itu juga Gavin keluar dari cafe dan berlari menuju motornya. Gavin mengendarai motornya untuk kembali ke kossan Candra. Tanpa peduli hujan dan tanpa peduli Ratu yang telah pergi.


Gavin baru sadar jika cafe yang barusaja didatanginya itu adalah cafe yang paling Gavin tidak sukai. Gavin benar-benar menyesal telah menginjakkan kakinya di cafe itu.


Tanda tanya besar mencuat dipikiranya, kenapa bisa Deva mengantar Ratu pulanh. Karena setahu Gavin mereka tidak saling mengenal.


Deva adalah satu dari sekian banyak daftar orang yang tidak akan Gavin maafkan seumur hidup.  Seketika mengingat nama Deva, sedikit demi sedikit celah masalalu mebiarkan Gavin memasukinya.


Semua tentang masa lalu adalah hal yang paling ingin Gavin benci seumur hidupnya. Dimana Gavin nyaris kehilangan segalanya. Namun melupakan sesuatu yang dibenci membutuhkan waktu yang cukup lama. Hati tidak mudah melupakan rasa sakit, mungkin itu alasanya.


Gavin membenci Deva.


...*...


Ratu telah sampai di rumahnya dengan keadaan selamat. Untung saja dia pulang naik mobil sehingga air hujan tidak membasahi Ratu seenaknya. Ratu berjalan kedalam rumahnya.


"Bi Ayah mana?" teriak Ratu seraya melangkahkan kakinya.


"Lagi ada urusan non" jawab bibi dari arah dapur.


Ratu hanya mengangguk-nganggukka kepala. Sudah biasa jika Ayah dan Ibunya jarang ada dirumah. Ratupun memiliki pemakluman untuk itu.


"Tuu" suara dengan nada pelan sedikit serak itu membuat Ratu menoleh.


Ditatapnya laki-laki yang tengah duduk di sofa miliknya. Laki-laki itu juga membalas tatapan Ratu seraya tersenyum. Setelah beberapa detik Ratu mengalihkan pandaaganya dan berjalan menuju sofa.


"Ada apa malem-malem?" Ratu duduk di sebelah laki-laki itu. Nampak jelas sekali terlihat dari wajah Ratu, jika dia tidak menyukai laki-laki itu datang ke rumahnya malam-malam seperti ini.

__ADS_1


Laki-laki itu menatap wajah Ratu, memperhatikan apapun yang ada diwajahnya. Sadar jika Ratu tidak suka diperlakukan seperti itu. Laki-laki itu menyudahi memperhatikan Ratu dan memilih menundukkan kepalanya.


"Gue mau pamit" kata laki-laki itu membuat Ratu merapatkan bibirnya.


Ratu berusaha bersikap senormal mungkin, tetapi jauh didalam hatinya dia kesakitan, jantungnya kembali berdetak lebih kencang.


"Besok gue berangkat ke jakarta dan gue nyesel pindah ke sini"


"Kenapa ja?" tanya Ratu, kedua matanya memberanikan menatap laki-laki bernama Raja yang merupakan cinta pertamanya itu.


Raja membalas tatapan Ratu, disana jelas Raja melihat Ratu dengan air mata yang berada di pelupuk kedua matanya. Mungkin air mata yang Raja lihat adalah air mata Ratu yang takut kehilangan Raja atau karena Ratu tidak ingin Raja pergi. Tetapi jika kemungkinan itu benar, kenapa selama ini Ratu tidak pernah menganggap Raja nyata dan selama ini Ratu telah membiasakan dirinya tanpa Raja walaupun Raja bersikeras mengembalikan Ratu yang dulu.


"Mungkin keputusan gue pindah ke bandung adalah keputusan yang paling gue sesali. Gue ketemu sama lo lagi, gue bahagia sementara lo nggak. Gue pengennya lo bahagia tapi kalau gue datang terus lo nggak bahagia, gue bisa pergi" Raja kembali menatap Ratu yang kini tengah menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangan.


Suara hujan terdengar risih dikedua telinga Raja. Seperti ada rasa sakit yang dibawa hujan pada setiap air yang jatuh membasahi bumi.


"Jangan menyangkal tentang perasaan lo. Gue tahu lo juga cinta sama Gavin dan senakal apapun cowok dia akan baik sama orang yang dicintainya"


Seketika Ratu menatap Raja kesal. Kenapa ujung-ujungnya pada Gavin. Ini tidak nyambung sekali.


"Gue nggak nyangkal cuman takut" ucap Ratu dengan nada pelan.


"Takut jatuh cinta sendirian?" tebak Raja yang dibalas angguka setuju oleh Ratu.


"Iya, seperti dulu gue jatuh cinta sendirian sama lo dan lo malah--" ucap batin Ratu lirih.


"Lama-lama lo juga ngerti kalau lo nggak bisa selamanya menyangkal perasaan lo. Lo akan berharap pada seseorang dengan ketidak pedulian bahwa lo bakal sakit hati. Cinta kayaknya gitu" nasihat Raja.


"Kayaknya hujan mulai reda. Gue pamit pergi ya. Jaga diri baik-baik. Lo adalah sahabat terbaik gue" Raja memeluk tubuh Ratu, mungkin ini adalah pelukam terakhir sebelum Raja benar-benar pergi dari Bandung dan pelukan terakhir sebelum Raja berhenti mencintai dan mengejar Ratu.


Tiba-tiba handphone milik Raja yang tersimpan diatas meja bergetar, menyudahi pelukan mereka. Lantas Raja langsung mengambil handphonenya dan membuka satu pesan masuk.


Setelah Raja membacanya sampai selesai Raja memperlihatkan pesan singkat itu pada Ratu dan setelah selesai beberapa detik Ratu membaca pesan itu, seyum Ratu mengembang seketika.


Pesan singkat itu berisi tentang Ayah Ratu yang mengaharuskan Raja menginap dirumahnya karena alasan hujan. Dan Ratu tahu Raja tidak akan bisa menolak keinginan Ayahnya Ratu.


"Yaudah deh terahiran di bandung gue nginep disini" ucap Raja, lalu Ratu kembali tersenyum mendengarkan keputusan Raja.


"Main gitar yuk?" ajak Ratu.


Raja memang pintar bermain gitar suaranya juga bagus namun tidak sebagus Adam Levine vokalis Marron 5 yang merupakan idola Raja.


Raja mengangguk setuju.


"Gue ambil dulu" pamit Ratu lalu dia berjalan menuju kamar Bang Raka yang dimana beberaa gitar berada di kamarnya. Selain Raja, Bang Raka juga menyukai musik terlebih band asal irlandia bernama kodaline .


Setelah beberapa menit akhirnya Ratu datang dengan membawa gitar milik kakaknya itu. Ratu kembali duduk disamping Raja ketika selesai memberikan gitarnya pada Raja.


"Nyanyi lagu apa?" tanya Raja ketika siap memainka gitar.


Ratu nampak berpikir sejenak dan ketika dia melirik gitar itu terdapat nama band kodaline yang ditulis memakai spidol oleh kakaknya.

__ADS_1


"All i want, kodaline" jawab Ratu kemudian Raja memetikkan senar gitar itu dan memulai bernyanyi sementara Ratu hanya bernyanyi dengan nada pelan karena sadar suaranya tidak sebagus Raja.


__ADS_2