Ratu Kepo

Ratu Kepo
8. Gavin mah apa atuh


__ADS_3

"Bang bangun dong? Lo masih sakit ya? kok lo bisa dipukulin bang?" Ratu membangunkan abangnya itu dengan cara memukul mukul pipi raka dengan pelan tentunya.


Sesudah Raka membuka matanya dia mendengus sebal. Melihat adik keponya ini berdiri disamping ranjang. Raka menatap ratu intens sebelum bertanya sinis "Mau minjem duit berapa?"


"Hehe tahu aja" ratu memamerkan deretan gigi putihnya.


"Lo cuma peduli sama duit gue bukan sama gue" Raka mencebikkan bibirnya persis seperti ABG alay yang kurang belaian.


"Baperan elah kayak ABG alay aja" cibir Ratu.


Mendengar cibiran dari adiknya itu, sontak Raka mengubah posisinya menjadi duduk dengan mata yang menatap tajam arah Ratu.


"Tidak semua yang baperan itu ABG alay. Baper itu bisa dirasain siapa aja. Oh iya, karena hari ini gue nggak bisa antar lo. Lo diantar jemput Raja ya"


"****, lo malu-maluin banget minta Raja antar jemput gue" Ratu marah.


Raka memang sudah mengenal Raja. Tetapi Raka tidak bisa seenaknya menyuruh Raja, kenapa tidak Andra saja yang mengantar jemputnya? Kenapa harus Raja?


"Kenapa mengumpat wahai adikku tersayang? Lagian gue nggak nyuruh dia buat ngantar jemput lo kok. Dia sendiri yang nawarin" Jelas Raka dengan nada santai.


Ratu terkejut mendengar penjelasan dari Raka. Seorang Raja mau mengantar jemput dirinya?  Apa Ratu tidak salah dengar?


"Gue turut prihatin sama lo yang masih jomblo. Masa SMA itu jangan dilewatin gitu aja. Belajar emang keharusan, tapi soal cinta juga jangan dilupakan. Bukan otak aja yang nggak boleh kosong, hati juga"


*


"Oy Ratu!" Candra berjalan cepat mendekati Ratu, dengan Gavin yang berada dibelakangnya.


Ratu yang tengah berdua bersama Raja,  menghentikan langkahnya. Menatap Candra dan Gavin secara bergantian.


"Hei gimana liburan lo?" tanya Ratu.


Candra terkekeh pelan mendengar pertanyaan Ratu, Candra tahu jelas apa yang dimaksud liburan itu. Sebenarnya Candra tidak liburan melainkan dikenakan skors.


"Kurang-kurangin nakalnya" kata Ratu.


"Pacar lo nggak disuruh?" ledek Candra dengan sengaja menyenggol bahu Gavin dengan bahunya.  Sementara Gavin yang disenggol tetap setia menatap sinis orang yang tengah berada di samping Ratu.


"Di suruh juga pasti nggak bakal nurut" gumam Ratu pelan.

__ADS_1


Tapi itu terdengar oleh Gavin, membuat Gavin mengalihkan pandanganya ke wajah Ratu. Sementara Ratu berusaha menghindari kontak mata dengan Gavin, jadi dia hanya menundukkan kepalanya.


"Eh ini murid baru?" tanya Candra yang baru menyadari keberadaan Raja.


"Oh iya itu namanya Raja murid baru di kelas sebelah" Ratu mengangkat dagunya ke arah Raja.


Raja mengulurkan tanganya pada Candra sembari mengucapkan namanya. Candra menerima dan mereka berjabat tangan.


"Gue Candra Baiq imigran dari--"


"Bukannya itu pidi baiq?" potong Raja yang mulai menyadari kegilaan Candra.


"Ohh iya gue lupa, gue kan dilan"


"Bacot sekali" itulah kata pertama yang Gavin ucapkan dari percakapan ini.


Ratu dan Raja sontak menatap gavin secara bersamaan. Bahkan diantara mereka tidak sadar jika Gavin belum berkenalan dengan Raja.


"Nahh kalo ada Raja ada Ratu, si gavin ini cocok jadi prajurit iya nggak?" tanya Candra entah pada siapa.


"Iya gue mah apa atuh, hanya seorang Gavin si biang rusuh yang selalu tersakiti" aku Gavin pasrah.


"Apaan sih ?" tiba-tiba saja Ratu meresponya dengan tatapan penuh amarah dan Gavin nampak begitu gelisah.


"Ngeselin lo" bentak Ratu. Kemudian Ratu pergi dari hadapan mereka


"Salah gue?" tanya Gavin pada Candra.


"Bukan salah lo, tapi inget cewe selalu bener" jawab Candra.


Setelah mendengar jawaban dari Candra, Gavin langsung menyusul Ratu.


"Ratu" Gavin memanggil Ratu dengan nada tinggi namun tidak membentak.


Dan suaranya itu berhasil memusatkan perhatian semua murid yang ada dikelas kepada Gavin dan Ratu. Lagi-lagi mereka menjadi tontonan.


"Lo kok tiba-tiba ngambek sih? Lo lagi PMS" tanya Gavin.


"Ehh Gavin jangan pacaran mulu lo! Ganti rugi minyak wangi gue abis" tiba-tiba Liana datang.

__ADS_1


"Minta aja sama ayu ting-ting" balas Gavin sekenanya. Mungkin karena ayu ting-ting suka menyanyikan lagu minyak wangi, Gavin jadi menyuruh Liana memintanya pada Ayu ting-ting. Se gila itulah pikiran Gavin.


"Gue serius. Pokoknya lo harus ganti rugi" tegas Liana dengan nada marah tetapi berbeda dengan tingkahnnya. Tangan liana menyentuh wajah Gavin secara halus. Dan Ratu melihat itu.


Gavin berusaha melepaskan tangan Liana dari wajahnya.


"Berapa?"


"Ini bukan masalah soal uang"


"Mau lo apa?" dengan nada tidak suka.


Liana tersenyum puas mendengarkan penawaran Gavin


"Pulang sekolah nanti kita beli minyak wangi" jawab Liana dengan mata menatap Ratu lalu melanjutkan ucapannya "Berdua"


"Oke"


Setelah itu Liana pergi dari hadapan Ratu dan Gavin.


"Sakit lagi?" Gavin mengusap puncak kepala Ratu.


Suara handphone Gavin berbunyi. Segera, Gavin mengambil handphone dari dalam saku seragamnya.


Gavin mengangkat kedua alisnya setelah membaca pesan yang baru saja dikirim untuknya.


'Pagi pagi udah ngajak berantem, padahal gue belum sarapan' batin Gavin.


*


"Lo ada hubungan apa sama cewek gue? Sampai lo berani cium dia"


Gavin pasti sangat mengerti siapa yang dimaksud laki-laki itu. Laki-laki itu pastilah pacar Jeni.


"Gue tahu lo mau ninju gue. Tapi karena muka gue udah babak belur kayak gini, sebagai gantinya lo minta apapun gue kasih. Asal jangan nambah luka di wajah gue" gavin mendekatkan langkahnya pada laki laki itu,tidak aura ketakutan di dirinya.


"Apapun pasti lo kasih buat gue? "


Gavin mengangguk setuju.

__ADS_1


"Gue minta Ratu"


"Oke" Gavin tersenyum, begitupun laki-laki itu.


__ADS_2