
...Karena ada yang tak terlihat namun terasa, namanya cinta. ...
Ada yang membuat Ratu penasaran lagi.
Setelah Ratu menghabiskan nasi kuningnya, Ratu dan Gavin memilih kembali ke kelas. Dan setibanya di kelas mereka menemukan Andra yang tengah berdiri di sebelah pintu kelas. Andra bilang ingin berbicara berdua bersama Gavin. Ratu membiarkan mereka berdua, dan melanjutkan langkahnya kedalam kelas.
Kemarin, kakak Ratu alias Bang Raka bilang bahwa Andra terluka seperti habis dipukuli. Dan hari ini, Andra ingin berbicara berdua bersama Gavin. Apakah itu tidak mencurigakan? Ah Ratu semakin penasaran. Setelah Gavin selesai berbicara dengan Andra, Ratu akan langsung bertanya.
Ratu duduk disamping kursi yang tengah ditempati Jeni. 5 menit lagi istirahat akan berakhir dan pelajaran berikutnya akan segera di mulai.
"Ratu" Jeni memanggil Ratu.
Ratu menolehkan pandangannya pada Jeni yang sedang sibuk seperti membawa sesuatu didalam laci mejanya. Ratu memperhatikan dan mencoba menebak apa yang akan Jeni bawa dari dalam sana.
Sebuah kotak makan berwarna abu-abu berhasil dikeluarkan Jeni dari dalam laci mejanya. Kotak makan itu disodorkan ke arah Ratu oleh Jeni. Ratu menyipitkan kedua matanya, berusaha melihat dengan jelas bahwa itu adalah kotak bekal yang seperti miliknya.
"Ini--"
"Iya itu punya lo"
Ratu terkejut sehingga bibirnya sedikit terbuka. Kenapa bisa kotak bekal yang tadi Gavin buang ke tempat sampah bisa ada di Jeni. Ratu meraih kotak bekal itu dan membukanya. Sudah tidak ada nasi goreng, kemana perginya? Kotak bekal itu bersih.
"Jangan bilang lo bawa kotak bekal ini dari tempat sampah terus lo cuci" Kata Ratu mengira-ngira.
"Gue nggak bakal bilang gitu karena lo salah"
Perkiraan Ratu salah. Ternyata bukan Jeni. Lantas siapa?
Melihat wajah Ratu yang kebingungan sekaligus penasaran membuat Jeni tidak tega untuk tidak mengatakan kejadian sebenarnya. Akhirnya Jeni membuka mulutnya dan berkata "Candra yang ngambil kotak bekal lo dan dia juga yang nyuci. Gue yang suruh dia"
Ratu tertawa. Candra memang pacar penurut, terbukti dari dia yang rela melakukan apa yang Jeni perintahkan. Andai saja Ratu mempunyai pacar seperti Candra, pasti menyenangkan.
Jeni ikut tertawa bersama Ratu namun beberapa detik setelah mereka tertawa bersama. Ratu tiba-tiba berhenti tertawa, raut wajahnya berubah. Kekhawatiran tergambar jelas diwajah Ratu, dan Jeni bisa melihatnya.
"Berarti lo denger gue sama Gavin berantem?"
Oh jadi itu yang membuat Ratu khawatir, Jeni mengerti. Kemudian, Jeni mengangguk.
"Lo pacaran sama dia?" Tanya Jeni tiba tiba.
Ratu paham sangat dia yang dimaksud Jeni adalah Gavin. Perlahan Ratu menggelengkan kepalanya. Ratu dan Gavin tidak pacaran, mereka hanya pernah pacaran.
Seketika Ratu teringat adegan ciuman Jeni dan Gavin ketika di UKS. Pertanyaan-pertanyaan muncul di kepalanya. Terkadang Ratu binggung kenapa dia selalu penasaran atau kepo terhadap orang lain. Ah Ratu benci itu.
"Lo suka sama Gavin?" Tanya Ratu dengan nada pelan. Ratu berharap pertanyaannya ini tidak membuat Jeni tersinggung.
__ADS_1
Jeni belum menjawab. Jeni malah tersenyum tipis pada Ratu.
"Gue kan punya Candra" Jeni menngalihkan tatapannya pada Candra yang tengah duduk di bangku paling ujung.
Bukan itu jawaban seharusnya. Jawaban dari Jeni tidak nyambung dengan pertanyaan Ratu. Tetapi pasti ada alasan mengapa Jeni menjawab seperti itu.
"Tapi wak--"
Bel masuk berbunyi dan memotong perkataan Ratu. Jika bukan karena Bel yang berbunyi, mungkin Ratu akan melanjutkan pertanyaanya yang tidak pantas Ratu pertanyakan.
"Nanti gue ceritain"
...***...
Sekitar setengah jam yang lalu, kebanyakan murid telah pulang. Terkecuali beberapa murid yang sedang melakukan kegiatan ekstrakurikuler atau ada kepentingan lain.
Salah satunya adalah Ratu. Ratu tengah menunggu Gavin keluar dari ruang guru. Gavin sendiri tidak tahu kalau ada Ratu yang menunggunya. Perihal Gavin yang dipanggil salah satu guru, Ratu bisa perkirakan jika itu karena ulah Gavin yang datang ke sekolah terlambat.
Ratu merasa bosan. Beberapa kali dia mencoba membunuh kebosanannya dengan memainkan ponsel. Jika bukan karena rasa penasarannya, Ratu tidak akan menunggu Gavin.
"Ngapain disini?"
Kedua mata Ratu langsung memancarkan aura bahagia ketika melihat Gavin berada didepannya.
"Nungguin lo" Ratu bangkit berdiri dari duduknya.
Mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut Gavin membuat Ratu merasa kesal. Dengan cepat Ratu membuka mulut dan menjawab "Jangan kepedean. Gue nungguin lo karena ada yang mau gue tanyain, bukan karena gue suka sama lo"
"Semua orang juga tahu lo nggak suka sama gue"
Sebaris kalimat bernada dingin itu sukses membuat Ratu merasa tidak enak. Apakah dia salah berbicara? Ratu memang tidak menyukai Gavin.
"Lo nggak suka sama gue karena lo cintakan sama gue?"
Ratu menatap Gavin sebal. Sudah menjadi kebiasaan jika Gavin membuat hatinya naik turun tidak karuan, Gavin sekali. Ratu tidak tahu ada berapa lapis kepercayaan diri milik Gavin. Karena enggan memperpanjang urusan itu, akhirnya Ratu memilih diam.
"Lo mau nanya apa?"
Akhirnya Gavin bertanya seperti itu setelah mendapati Ratu yang tidak kunjung merespon perkataannya
Ratu mengedarkan pandangannya. Sepertinya dia tidak bisa bertanya di tempat ini. Terlebih tempat ini dekat dengan ruang guru.
"Jangan disini"
"Yaudah disana aja"
__ADS_1
Ratu mengikuti arah telunjuk Gavin. Bangku yang tidak jauh dari lapangan basket. Itulah tempat yang Gavin tunjuk.
Setibanya dibangku. Ratu duduk terlebih dahulu, kemudian diikuti Gavin yang duduk di sampingnya.
Sore ini tidak panas namun juga tidak mendung. Biasa-biasa saja. Jadi Ratu dan Gavin tidak akan kepanasan berdua di tempat terbuka seperti ini.
"Mau nanya apa?" Tanpa menatap lawan bicara, kalimat itu keluar dari mulut Gavin.
Pandangan Gavin lurus menuju kepada mereka yang tengah sibuk bermain basket. Ada yang berusaha merebut bola, ada yang berusaha memasukkan bola kedalam ring, ada yang berlari-lari. Macam-macam.
"Lo sama Andra tadi ngobrol apa?" Ratu menghadapkan wajahnya kepada Gavin.
"Jangan kepo deh"
Ratu mengerucutkan bibirnya ketika mendengar perkataan itu dari Gavin. Jika Gavin menatap matanya pasti dia akan memberikan tatapan sinisnya, namun karena dia sedang memandang mereka yang tengah bermain bola basket, Ratu tidak mendapatkan tatapan sinisnya.
Terkadang Gavin tidak menyukai sifat Ratu yang selalu ingin tahu setiap urusan orang lain yang bahkan tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Gimana kalau gue jawab pertanyaan lo setelah lo jawab pertanyaan dari gue"
Ribet. Itulah kata yang Ratu tutuk didalam hatinya. Tinggal menjawab saja dan Ratu akan pulang, tetapi Gavin membuatnya semakin susah. Ah Ratu merasa kesal. Jika saja Andra mau memberinya jawaban mungkin Ratu tidak akan berada disini bersama Gavin, iyakan?
"Apa pertanyaanya?"
Ratu akhirnya pasrah. Setelah dia berpikir singkat. Dia tidak boleh menyerah kemudian pulang tanpa jawaban dari Gavin. Penantian Ratu tadi akan sia-sia jika ia menyerah.
"Ada berapa jumlah matahar-"
"Satu" Jawab Ratu sebelum Gavin melanjutkan pertanyaanya.
"Pertanyaan selanjutnya. Ada berapa jumlah matahari di waktu malam?"
"Nggak ada matahari. Adanya bulan" Jawab Ratu dengan pasti.
Gavin tersenyum ke arah Ratu, senyum yang tidak bisa diartikan. Ratu melihat senyum itu kemudian mengalihkan pandangannya dengan cepat, bukan keinginan Ratu untuk lama-lama melihat senyum Gavin.
"Pertanyaan pertama bener. Pertanyaan kedua itu salah"
"Loh bukannya bener ya? Kalau malam kan matahari nggak ada. Adanya bulan" kata Ratu dengan nada tidak terima.
"Mau siang atau malam, matahari itu ada satu. Bedanya kalau siang mataharinya bisa kita lihat tapi kalau malam, mataharinya nggak bisa kita lihat. Matahari itu tetap ada, nggak kemana-mana cuma nggak kelihatan" Mungkin akan terasa aneh jika kalimat-kalimat itu terdengar dari mulut seorang Gavin. Ya siapa sangka Gavin bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Saking tidak percayanya dengan kalimat-kalimat yang Gavin ucapkan, Ratu curiga Gavin mengambil kata-kata itu dari dialog film. Sebenarnya Ratu juga tidak tahu kenapa Gavin bertanya hal seperti itu. Pertanyaan yang Gavin telah ketahui jawabanya. Jadi untuk apa Gavin bertanya pada Ratu.
Oh Ratu tahu, Gavin bertanya seperti itu karena ingin mengetahui kemampuan berpikir Ratu. Kira-kira itulah yang Ratu duga.
__ADS_1
"Yang nggak kelihatan belum tentu nggak ada. Seperti gue, gue emang ada tapi apa lo bisa lihat gue sebagai seseorang yang mencintai lo?" Gavin berkata didalam hatinya.