Ratu Kepo

Ratu Kepo
35. Keputusan


__ADS_3

Malam itu berlalu dengan satu keputusan. Keputusan yang telah Ratu pikirkan matang-matang, meskipun pada awalnya Ratu sempat ragu. Keputusannya adalah, besok Ratu akan bertanya pada Elang tentang apa yang Ratu ingin tahu. Semoga saja Elang lebih menjawab semua rasa ingin tahu Ratu dan jikalau tidak yang terpenting Ratu sudah mencoba.


Keesokan harinya Ratu memberanikan dirinya berbicara dengan Elang. Ratu sadar jika sebenarnya yang dirinya lakukan mungkin tidak ada gunannya. Iya, itu pikiran Ratu sebelum Ratu berpikir jika Ratu tahu apa yang terjadi tentang Gavin dan Efrina di masa lampau, mungkin sedikit banyaknya Ratu akan membantu Gavin mengobati lukanya. Jadi meskipun ada rasa malu Ratu tetap menanyakan hal itu kepada Elang.


Elang tahu jawaban yang Ratu inginkan. Namun Elang tidak akan menceritakannya hari itu, hari dimana Ratu bertanya pada Elang. Elang meminta Ratu menunggu untuk senin yang akan datang. Ratu tidak tahu alasanya kenapa, namun Ratu mengiyakan ucapan Elang. Ratu akan menunggu meskipun rasa penasarannya kerap kali meradang.


Dan hari ini adalah hari dimana Elang akan menjawab semua rasa penasaran Ratu dengan apa yang ia tahu dan Ratu berharap Elang tidak mengatakan kebohongan.


"Gavin selalu cerita sama gue betapa sayangnya dia sama Efrina. Dia lakuin apapun demi Efrina. Kalau menurut gue, dia lebih sayang Efrina daripada apapun termasuk dirinya sendiri"


"Bukannya itu nggak baik ya?" Kalimat pertanyaan retoris itu keluar dari mulut Ratu yang sontak membuat Elang tidak melanjutkan ucapannya.


"Iya. Nggak baik dan nggak sehat. Karena Jatuh cinta yang sehat itu ketika kita mencintai diri oranglain tanpa lupa untuk mencintai diri sendiri"


Bijak dan dewasa seperti itulah penilaian Ratu setelah mengenal Elang beberapa hari ini. Setiap kata dan kalimat yang Elang keluar dari mulutnya sangat berbeda dengan Gavin. Jika ada perbandingan diantara mereka, ya begitulah kira-kiranya.


"Terus?" Tanya Ratu dengan tidak sabar.


"Terus yang gue tahu Efrina itu selingkuh sama Deva. Lo tahu kan Deva itu yang mana?"


Ratu menganggukkan kepalanya. Jelas dia menganal laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menyatakan cintanya namun Ratu tolak.


"Efrina bilang kalau Gavin itu brengsek dan hal buruk lainnya. Dan itulah yang membuat Gavin jadi ya lo tahu kan dia gimana" Elang memilih tidak melanjutkan ucapannya karena ia tahu bahwa Ratu tahu bagaimana Gavin yang sekarang.


Ratu tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Bahagia karena ia rasa penasarannya telah hilang? Atau merasa sedih atas hal yang Efrina lakukan sampai membuat Gavin menjadi seperti ini.


Tapi yang jelas Gavin melakukan hal seperti ini bukan semata-mata karena Efrina. Pasti ada alasan lain. Tidak mungkin hanya karena Efrina. Efrina mungkin salah satu penyebabnya bukan faktor utama kenapa Gavin bisa menjadi bad boy seperti kata orang-orang.


...*...


Sore ini Ratu baru saja mengikuti pertemuan anggota yang akan mengikuti perlombaan. Cipta puisi adalah lomba yang akan diikutinya. Lomba ini diadakan kecil-kecilan. Anggotanya pun hanya murid-murid satu sekolah. Namun itu tidak menjadi masalah. Niat Ratu hanya berpartisipasi bukan untuk mendapatkan juara. Tetapi bukan artinya Ratu tidak ingin juara, namun itu bukan prioritasnya.


Dan ternyata Gavin--yang sudah menyelesaikan masa skornya itu menunggu Ratu untuk mengajaknya pulang bersama. Ratu mana bisa menolak.


Kini mereka berjalan berdampingan, melewati koridor-koridoragar sampai ke parkiran. Langkah Ratu pun terhenti dan Gavin yang menyadari itu langsung berhenti.


Setelah menghembuskan nafasnya dengan gusar. Ratu memberanikan diri menatap kedua mata milik Gavin seraya bertanya.


"Kita ini apa sih?"


"Kok nanya gitu sih? Emang kamu lupa kalau kita itu manusia?"


Ratu berdecak kesal mendengar jawaban Gavin. Bukan jawaban itu yang Ratu inginkan. Apakah pertanyaan Ratu kurang jelas atau Gavin yang pura-pura tidak mengerti?


"Hubungan kita itu apa?" Ratu bertanya dengan nada kesal bercampur marah.

__ADS_1


Ratu bukanlah tipikal cewek kebanyakan yang mempunyai gengsi selangit. Ratu juga bukan tipikal cewek yang menggunakan bermacam-macam kode untuk diberi kepastian oleh doi. Ratu lebih suka to the point, itu lebih menghemat waktu kan?


Setelah itu yang terdengar adalah suara tawa Gavin, bukannya jawaban. Ratu memandang aneh Gavin, memangnya apa yang lucu dari pertanyaannya tadi?.


"Gue udah nembak lo. Lo juga udah terima gue. Hubungan kita ya pacaran kecuali kalau lo mau hubungan kita lebih serius kayak tunangan atau nikah ya ayok saya mah" Kemudian Gavin kembali tertawa.


Sedangkan Ratu semakin merasa kesal. Mungkin Gavin memang makhluk Tuhan yang diciptakan tanpa memiliki keseriusan.


"Kapan kita jadian hah?"


"Waktu tanggal sebelas, sesuai keinginan kamu. Apa harus aku nembak kamu lagi? Aku nggak keberatan kok asalkan jawaban kamu masih sama"


"Jangan pake aku kamu. Jijik gue dengernya" Bentak Ratu.


Sedetik kemudian tawa Gavin pecah. Padahal Gavin mengganti kata gue lo menjadi aku kamu itu agar terdengar romantis. Namun yang menurut Gavin romantis malah jijik menurut Ratu.


Gavin melangkahkan kakinya untuk mendekat pada bangku yang berada di dekat koridor. Kemudian dia duduk dan menyuruh Ratu untuk duduk disisinya. Ratu menurutinya.


"Kita itu pacaran. Gue emang pernah nembak lo dan lo terima. Tapi lo maunya jadian di tanggal sebelaskan? Ya udah tanggal jadian kita itu ya tanggal sebelas. Jadi nggak perlu diulang kalau menurut gue"


Ratu menganggukkan kepalanya. Dia mengerti apa yang Gavin sampaikan. Ratu hanya memastikan apa hubungan yang sekarang ia dan Gavin jalani. Dan ternyata jawaban Gavin sangat memuaskan hatinya.


"Jadi gue pacar lo?" Ratu menoleh pada Gavin yang tengah memusatkan perhatiannya kedepan.


Gavin mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sana. Ia menoleh ke arah Ratu dan bertanya kenapa kemudian Ratu menjawab.


"Aku mau tahu tentang Efrina"


Gavin membulatkan kedua matanya. Ia tidak menyangka dari semua topik yang bisa dibahas kenapa harus tentang Efrina. Dan bagaimana Ratu tahu tentang Efrina sedangkan Efrina telah pindah sekolah sebelum Ratu menjadi murid baru. Ah mungkin Gavin lupa kalau pacarnya itu mempunyai rasa kepo yang luar biasa.


"Efrina itu mantan. Kalau kamu itu masa depan" Kemudian Gavin tersenyum pada Ratu.


Memang setelah mendengar nama Efrina disebut apalagi oleh pacarnya itu membuat Gavin sedikit terganggu. Sebenarnya Gavin tidak ingin membahas masa lalu. Namun sekarang Gavin agar tenang dan tidak keberatan.


"Selain kata mantan. Efrina itu apa?" Ratu berusaha menghiraukan apa yang baru saja Gavin katakan mengenai dirinya. Meskipun tidakĀ  jsa dipungkiri jika hatinya merasa senang.


"Ya sama kayak kita. Efrina juga manusia"


"Gue udah tahu tentang lo dan Efrina" Ratu berusaha memfokuskan pembicaraan ini ke tujuan awal, meskipun tanggapan Gavin selalu diselingi candaan.


"Kalau udah tahu ya kenapa nanya" Suara Gavin terdengar sinis terlebih lagi sorot mata tajam yang ia lemparkan pada Ratu. Ratu paham bahwa Gavin sedang marah.


"Maafin Efrina"


"Untuk apa lo ngomong kayak gitu? Dia-nya aja nggak pernah minta maaf"

__ADS_1


"Memaafkan tanpa diminta itu lebih baik. Memaafkan dia untuk diri lo sendiri" Ratu menghentikan perkataan yang ketika sadar Gavin yang menjadi lawan bicaranya itu terlihat memalingkan wajahnya, seperti tidak ingin menanggapi apa yang Ratu katakan.


"Kalau Efrina ngatain lo brengsek harusnya lo bisa buktiin kalau perkataan dia itu sala--"


"Bukannya malah berontak atau malah jadi lebih buruk. Gitu maksud lo? Iya?" Suara pelan dengan nada yang setiap orang yang mendengarnya akan tahu bahwa Gavin sedang marah.


Ratu menghembuskan nafasnya pelan. Ia tidak tahu bahwa ternyata mengatakan hal ini akan membuat Gavin semarah ini. Ratu memilih untuk mengakhiri saja obrolan ini.


"Ya uda--"


"Gue lampiasin amarah gue ke orang yang nggak bersalah. Seharusnya cewek itu yang menjadi lampiasan amarah gue, karena dialah penyebabnya. Dia selingkuh sama Deva dan ah gue males bahasnya. Emosi gue sulit sekali untuk ditahan, gue selalu inget apa yang dilakukan cewek itu dan selingkuhannya. Jadi gue nggak pernah sekalipun keberatan untuk menghajar orang karena hal sepele"


Ratu bisa menangkap rasa kecewa dari sorot mata Gavin. Bahkan Gavin tidak menyebut nama Efrina adeng cewek itu, mungkin karena tidak inginnya Gavin mengatakan nama itu.


"Hei lihat gue" Satu jari Ratu menyentuh dagu Gavin dan mengarahkannya untuk berhadapan dengan wajah milik Ratu. Gavin tidak menolak, dengan senang hati dia menatap Ratu.


"Coba deh lo maafin Efrina. Karena kalau melupakan itu rasanya mustahil, lebih mudah memaafkan daripada melupakan. Efrina selingkuh mungkin karena ada alasan, entah itu alasannya di lo atau di dia. Entah karena dia yang nggak mempunyai perasaan cinta sebesar lo atau entah karena lo yang terlalu mencintai dia sampai lupa mencintai diri lo sendiri. Efrina itu singgah membawa pelajaran untuk hidup lo. Kalau lo mencintai seseorang saat ini lo harus cintai diri lo sendiri"


"Dan seseorang itu adalah lo"


Ratu tersenyum mendengar perkataan Gavin itu namun hanya beberapa detik Ratu menahan senyumnya.


"Kalau lo udah bisa maafin Efrina, lo nggak akan marah lagi ketika teringat dia. Emosi lo juga kayaknya akan tertahan. Lo cuma butuh pelampiasan untuk melampiaskan tentang apa yang lo rasakan. Sekarang ada gue"


"Jadi gue bisa melampiaskan apapun yang gue rasakan sama lo? Gue harus nonjokin lo gitu? Nggak. Kita itu teman hidup bukan teman tonjok-tonjokkan"


Ratu menatap Gavin kesal. Kebiasaan, Gavin selalu saja memotong perkataannya itu.


"Melampiaskannya itu nggak selalu harus dengan tonjok-tonjokkan. Bisa dengan cara ngobrol. Sekarang ada gue lo bisa cerita apa pun sama gu--"


"Kalau bercerita tentang berapa gue bersyukurnya punya pacar kayak lo boleh nggak?" Gavin menaik turunkan kedua alisnya.


Melihat kelakuan Gavin, rasanya Ratu ingin menonjok kedua alisnya itu. Namun mendengar perkataan Gavin itu, membuat Ratu ingin tersenyum.


Namun yang akan Ratu lakukan bukanlah tersenyum atau menonjok alis Gavin. Ratu malam membuka mulutnya dan kembali bersuara.


"Buktikan kalau di masa depan lo bisa menjadi seseorang yang berarti Sampai mereka menyesal karena pernah nyakitin lo"


"Bantuin gue" Gavin menatap Ratu dengan tatapan penuh permohonan.


"Bantuin apa?"


"Bantuin buktiin kalau di masa depan gue bisa menjadi suami dan ayah yang baik dengan lo yang jadi istri gue d--"


Satu tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kanan Gavin. Tamparan itu hadiah dari Ratu atas perkataan gila Gavin.

__ADS_1


__ADS_2