
...Aku tidak suka menebak maka jangan beri aku kode...
^^^Untuk Ratu A.F.^^^
Maaf...
Secarik kertas ini
Bertulisan tinta hitam
Bersama keanehannya tulisan Ku ini
Dan ketulusannya Aku ini
Tolong!Maafkan Aku
Semoga Kau memberikan maafMu
Maaf Aku telah membuat Mu bersedih
Aku hanya manusia yang pernah melukai Mu
Dan mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan lagi
DariKu,Yang pernah menyakitiMu
Ratu mengerutkan dahinya,setelah membaca secarik kertas bertulisan tidak rapi berada di lokernya.
Sudah jelas ini surat untuknya tapi pengirimnya tidak jelas. Si pegirim hanya memberi kode di akhir surat yang menyatakan 'dia pernah menyakiti ratu' itu kode yang sangat sulit apalagi ratu benci hal yang bersifat tebak menebak.
Ratu menyimpan secarik kertas itu di saku baju seragam putihnya. Kemudian Ratu menutup loker miliknya dan melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah sepagi ini.
Pikiranya kembali teringat pada secarik kertas itu. Ratu mulai mengingat siapa saja orang yang pernah menyakitinya dan dengan itu mungkin dia akan mengungkap si pengirim surat itu.
Gavin, kata itulah yang pertama Ratu sangka sebagai si pengirim surat itu. Karena kemarin-kemarin ini Gavinlah yang sering membuat Rtu menangis.
"Hai pacar" ucap gmFavin yang tiba-tiba berdiri di samping Ratu. Langkahnya mulai disejajarkan dengan langkah Ratu.
"Putus yuk" ucap Ratu dengan senyum tipis dari bibir merahnya. Sedangkan Gavin menghembuskan napasnya gusar. Bukan kalimat ini yang pantas untuk menjadi balasan sapaan Gavin.
Gavin menundukkan kepalanya dalam. Gavin sadar kenapa Ratu ingin memutuskannya, tetapi Gavin tidak pernah siap untuk putus dari Ratu.
"Lo kan punya pacar banyak. Kalau kita putus lo tetep masih ada pacar yang lain kan?"
Setelah tidak mendengar tanggapan dari gavin. Ratu melangkahkan kakinya memasuki ruang kelasnya.
"Ratu lo cinta nggak sih sama gue?" tanya Gavin dengan nada sedikit meninggi.
Jauh didalam hatinya Ratu bersyukur karena hanya ada Gavin dan dirinya di ruang kelas ini.
__ADS_1
Ratu yang kini tengah duduk di kursiĀ paling belakang menenggelamkan wajahnya pada atas meja. Tidak bisa di pungkiri jika sekarang Ratu merasa pusing. Ratu mengacuhkan Gavin dengan pertanyaan bodohnya.
"Lo punya bibir ?" tanya Gavin terdengar sangat jelas dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Ratu mendongkakkan kepalanya. Matanya menatap lurus Gavin ketika menyadari Gavin telah duduk di samping kursinya.
"Gue punya bibir tapi nggak punya jawaban. Kemarin juga lo diem kan?Padahal lo punya bibir. Ngakunya lo itu mahal banget yah" Ratu mengungkit kejadian kemarin, ketika dia bersama Gavin di UKS.
"Gue harus ngaku apa? nggak ada hal yang perlu di akui" Gavin terseyum puas dengan ucapannya. Sementara Ratu yang di sebelahnya merasa kesal.
"Tanpa lo akui gue juga udah tahu lo selingkuh"
"Gue nggak selingkuh Ratu" Gavin menggelengkan kepalanya cepat. Sedangkan Ratu memutarkan bola matanya malas.
"Lo ciuman sama Jeni ketika pacar lo lagi sakit. Apa namanya kalau bukan selingkuh?" Ratu menundukkan kepalanya dalam. Kejadian kemarin terputar lagi di memorinya.
Hening...
Tidak ada jawaban dari Gavin.
Brukk..
Dengan cepat Ratu menoleh sumber suara dan disana tengah ada Gavin yang tersungkur di atas lantai dengan tangan yang memegangi sudut bibirnya.
"Ini akan jadi pukulan yang terakhir kalo lo nggak akan macem macem lagi sama Ratu"
Ratu mengalihkan pandangannya pada sepupunya yang kini berdiri disampingnya. Andra baru saja melayangkan satu pukulan untuk Gavin. Gavin malah terduduk di lantai menikmati pukulan Andra tanpa berniat membalas kesakitannya.
Ratu menggangguk pelan. Pandangannya dialihkan pada Gavin yang kini tengah duduk di samping kursi Ratu.
"Bibir lo berdarah" Ratu menunjuk sudut bibir Gavin dengan jarinya. Gavin tersenyum seraya berucap "Lo peduli?"
"Sini gue obatin" Ratu mengeluarkan tisu dari tas nya, mengabaikan pertanyaan Gavin.
"Maaf tu" ucap Gavin pelan.
Matanya fokus pada tangan kanan Ratu yang tengah mengusap darah yang berada di sudut bibirnya.
"Thanks buat suratnya" Ratu menghentikan tangannya yang sedari tadi mengusap darah di sudut bibir Gavin.
Gavin mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang di katakan Ratu.
...*...
"Pacar gue cuma lo dan gue cuma sayang sama lo. Semoga lo ngerti"
Gavin mencubit hidung milik Ratu di hadapan jeni.
Ratu berusaha melepaskan tangan Gavin dari hidungnya tapi Gavin malah tertawa puas melihat wajah Ratu yang mulai kesal karenanya.
__ADS_1
Dan Gavin lupa ada jeni di sampingnya yang kini tengah menatap mereka.
...*...
Jika dia adalah Ratu yang dulu. Ratu yang selalu kepo terhadap semua hal tentang orang yang dicurigainya.
Mungkin saat ini Ratu akan pergi kepinggir lapangan untuk melihat 'anak baru' yang sedang bermain basket di lapangan sekolahnya.
Di sekolah Ratu, katanya ada anak baru yang pindahan dari luar kota.
Katanya murid itu pintar, ganteng dan hampir sempurna di mata para hawa.
Sebagian para hawa di kelasnya tengah menonton pertunjukan basket yang katanya salah satunya ada murid baru. Tapi ratu tidak peduli terkecuali murid barunya itu Shawn mendes baru Ratu akan pergi kesana bukan untuk menonton pertandingan basket tapi untuk memeluk Shawn Mendes penyanyi favoritnya.
Sedangkan Jeni berada di UKS dia sakit seperti Ratu kemarin. Ratu merasa kesepian di kelasnya, Gavin juga tidak tahu kemana mungkin berkunjung ke ruang BK.
Ratu menghembuskan napasnya pelan. Pandagannya mengedar pada seluruh sudut penjuru ruang kelas ini.
Di jam istirahat seperti ini, Ratu selalu merindukan Kayla.
Biasanya Ratu akan pergi ke kantin dan meminta traktiran dari Kayla jika Ratu mendapatkan nilai lebih besar daripada Kayla.
Sekarang Ratu hanya bisa mengingat kenangan itu dengan pandangan lurus menuju Kayla yang tengah membaca buku novel.
Ratu mulai memberanikan diri menghampiri Kayla. Dengan langkah pelan dan ragu-ragu Ratu mulai berjalan.
Ketika Ratu berniat menghampiri Kayla. Kayla entah dengan sengaja atau tidak sengajanya pergi keluar kelas dengan langkah yang cepat.
Ratu memilih melanjutkan perjalanannya ke UKS. Untuk memastikan apakah Jeni baik-baik saja atau tidak. Ratu tahu mungkin Jeni dan Gavin selingkuh tapi itu bukan alasan bagi Ratu untuk menjadi jahat atau membenci Jeni. Ratu harus tetap baik meski di pandangan buruk semua orang.
Puluhan langkah berhasil membawa Ratu ke ruang UKS. Ratu membuka pintu UKS tanpa mengetuk pintu.
Matanya membulat sempurna dengan bibir yang sedikit terbuka ketika melihat Jeni dan Gavin tengah berpelukan di ruangan uks.
Ratu berlari cepat ketika kehadiranya di ketahui Gavin yang melayangkan tatapan penuh penyesalan pada Ratu. Gavin melepaskan pelukannya dan berlari menyusul Ratu.
Ratu menyandarkan dirinya di tembok dekat perpustakan yang letaknya tidak jauh dari ruang UKS.
Wajahnya kembali basah karena air matanya yang mengalir entah sejak kapan.
"Ratu" suara pelan milik Gavin terdengar menyakitkan di indera pendengaran Ratu.
Ratu menoleh ke arah Gavin seraya berkata "Kemarin ciuman sekarang pelukan besok sekalian aja akad nikah"
"Kemarin lo nyakitin gue. Terus lo kasih gue surat permintaan maaf. Terus sekarang lo nyakiyin gue lagi. Terus lo mau kasih gue apalagi? puisi? Dan setelah lo kasih puisi nanti lo sakiti gue lagi? Gue nggak butuh apapun, gue butuh lo yang berhenti nyakitin gud" ucap Ratu dengan suara seraknya di sela isakan tangis yang tak kunjung henti.
"Gue nggak ngerti tentang surat yang lo maksud. Gue nggak pernah bikin surat karena gue lupa cara bikin titi mangsa yang bener itu kayak gimana" ucap Gavin jujur. Dia memang tidak suka membuat surat alasanya karena dia tidak bisa mempuat titi mangsa dengan baik dan benar.
"Kalo bukan lo siapa?" tanya Ratu tiba-tiba suasana menjadi horor.
__ADS_1
"Gue"