Ratu Kepo

Ratu Kepo
18. Karena Hidup


__ADS_3

...Karena hidup adalah tentang menyambut kedatangan dan merelakan kepergian...


"Lo kenal Kak Deva?"


Candra yang tengah asyik bermain game onlinenya memutuskan untuk menghentikan sementara gamenya dan mulai menatap Ratu yang barusaja menanyakan pertanyaan seperti itu.


"Lo kenal Deva?" tanya balik Candra dengan kedua mata yang menyorotkan aura kekhawatiran.


"Ish guekan nanya buat dijawab bukan ditanya balik" ucap Ratu dengan nada tidak suka.


Candra mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Candra tidak suka jika melihat Ratu mulai marah padanya.


"Nggak kenal sih, cuman gue tahu orangnya tapi mungkin orangnya nggak tahu sama gue" Candra berharap Ratu tidak marah padanya oleh karena itu Candra menjawab pertanyaan Ratu.


"Kalo gitu anterin gue ke kelasnya"


Candra membulatkan kedua matanya lebar-lebar. Benar-benar semua yang terpikiran didalam otak Ratu tidak pernah Candra kira.


"Mau ngapain?lo kenal sama dia?"


"Kemarin malem gue dianter balik sama dia, gue rasa sih handphone gue ketinggalan di mobilnya" jelas Ratu jujur. Ratu memang kehilagan handphonenya dan seingat Ratu handphonenya itu tertinggal di mobil Deva.


"Kenapa lo pulang sama Deva?bukannya lo sms gue buat bantuin lo?" tanya Candra membuat Ratu yang berada di sisinya memutarkan kedua bola matanya.


"Lo juga nggak datang ke cafe kan?"


"Gue emang nggak dateng. Tapi Gavin dateng ke cafe itu hujan-hujanan tu" jelas Candra dengan nada penuh penekanan sontak itu membuat Ratu merasa bersalah.


Ratu terkejut mendengar jawaban dari Candra. Ratu tidak tahu jika Gavin akan datang.


"Gue beneran nggak tahu" Ratu berucap lirih. Ada rasa penyesalan dalam ucapanya.


Candra menghembuskan nafasnya gusar. Sepenuhnya bukan salah Ratu. Andai saja Candra bisa mecegah Gavin saat kejadian semalam atau Gavin bisa lebih sedikit tidak keras kepala untuk pergi ke cafe itu. Candra tidak terlalu memperdulika terlalu banyak tentang Gavin yang hujan-hujanan tetapi yang Candra takutkan adalah jika Gavin mengetahui kemarin malam Ratu diantar Deva.


"Candra anter ke kelas Kak Deva" rengek Ratu yang tidak lupa pada keinginan awalnya.


"Terus lo nggak niat minta maaf sama Gavin gitu?"


"Gue bisa minta maafnya nanti. Lagian Gavin lagi nggak ada dikelas. Lo kenapa sih selalu aja mihak Gavin?" Ratu berbicara dengan nada sedikit tinggi. Setelag pertanyaan Candra menohok hatinya, Ratu tidak bisa tinggal diam.


"Gavin aja yang selalu nyakitin gue nggak pernah minta maaf sama gue" Perlahan ucapan itu terdengar ditelinga Candra kemudian ucapan itu menghilang bersama dengan Ratu yang berjalan meninggalkan Candra.


Candra tahu jika Ratu marah padanya. Alih-alih membujuk atau mengejar perginya Ratu. Candra malah memandangi punggung Ratu yang berjalan menjauh. Lalu Candra kembali memainkan handphonenya.


Ditempat yang berbeda tepatnya dikoridor kelas Ratu menemukan Gavin yang tengah berdiri memandangi lapangan olahraga. Dengan satu tarikan nafas Ratu memberanikan diri untuk menghampiri Gavin. Ratu akan meminta maaf bagaimanapun caranya.


"Woi" sapa Ratu seraya menepuk pundak Gavin.

__ADS_1


Kini Gavin menatap Ratu dengan kedua alis dinaikkan. Ratu berdecak sebal ketika melihat tanggapan dari Gavin yang sangat dingin itu yaa walaupun kedua matanya menatap Ratu tetapi percuma jika mulutnya tidak mengeluarkan ucapan barang satu katapun.


"Gue minta maaf kemarin udah buat lo hujan-hujanan nyamperin gue ke cafe. Lo juga sih kenapa mau disuruh Candra nyamperin gue"


Ratu masih binggung dengan sifat Gavin yang menjadi pendiam seperti ini. Sedaritadi Ratu mengoceh dan hanya dibalas anggukan singkat dari Gavin.


"Maaf ya" ucap Ratu seraya menyodorkan sebelah tangan kananya.


Pandangan Gavin yang semula jatuh pada wajah Ratu kini mulai turun pada sebelah tangan Ratu yang ingin mendapatkan balasan dari sebelah tangan Gavin. Sayangnya Gavin hanya memandangi tanpa membalasnya.


Setelah merasa tidak ditanggapi Ratu menarik kembali sebelah tanganya. Ratu marah pada perlakuan Gavin.


"Lo itu kenapa sih gue minta maaf didiemin. Masih untung gue minta maaf nggak kayak lo udah nyusahin hidup gue, ngeresin hidup gue, nambah masalah dalam hidup gue. Tapi lo nggak pernah minta maaf. Ahh iya gue lupa kalo orang kayak lo itu cuman bisa buat masalah tapi nggak bisa minta maaf"


Ratu merasakan air matanya jatuh melintasi pipinya. Ratu mengingat betapa hidupnya beruba setelah mengenal Gavin. Dengan nafas yang memburu Ratu berhasil menyelesaikan ucapan yang selama ini dia simpan didalam hatinya.


Alih-alih marah atau menyaggah apa yang telah Ratu katakan. Gavin malah menundukkan kepalanya.


"Maaf kalo gue udah lakuin seperti apa yang lo bilang " Gavin mengatakan itu dengan nada sedikit menyesal dan jauh didalam hatinya dia merasakan sesak terlebih saat mendengarkan ucapan Ratu yang begitu menohok.


Gavin melangkahkan kakinya. Sementara Ratu menyibakkan air matanya dengan jari-jari tanganya. Ratu tidak akan melarang untuk tidak pergi atau menarik tangan Gavin untuk tetap berada disampingnya. Dia tidak pernah melarang agar seseorang tidak pergi karena dia sadar yang pernah datang akan pergi dan ini saatnya dia pergi.


Gavin menghentikan langkahnya dan mulai berjalan cepat kepada Ratu. Gavin menatap Ratu begitupun sebaliknya. Kedua pasang mata mereka saling bertemu dalam waktu yang cukup lama sampai akhirnya Gavin berkata "Satu lagi. Kemarin malem gue nyamperin lo ke cafe bukan karena gue disuruh Candra. Gue mau sendiri"


...^,^,^,^,...


Ratu percaya sepenuhnya pada Deva karena Bang Raka pernah bercerita jika kakak dari Deva adalah orang yang baik dan tidak mungkin Deva mengatakan kebohongan.


Sekarang Ratu tengah duduk dikursinya. Ratu menghela nafas ketika tidak menemui Jeni disampingnya. Jeni pergi ke kantin tetapi masih saja belum kembali.


"Eh tu tolong ambilin penghapus gue jatuh kayaknya di bawah meja lo deh"


Tanpa menoleh ke sumber suara, Ratu bisa memastikan jika suara itu adalah milik Liana. Tanpa mengatakan apapun Ratu langsung berjongkok dan mulai mencari penghapus Liana.


"Aduh sorry nggak sengaja"


Ratu merasakan rambutnya terkena sesuatu cairan yang dingin. Lantas Ratu berdiri dan menatap Liana tajam. Liana tengah berdiri di belakang Ratu dengan senyum setannya dan sebuah botol minuman teh dingin yang sekarang hampir setengah. Ratu kira cairan dingin yang mengenai kepalanya berasal dari sesuatu yang tengah Liana pegang.


Ratu memandangi Liana dengan aura kemarahan. Ratu mulai mencerna maksud dari perbuatan Liana kepadanya. Ternyata tidak hanya Ratu tetapi seisi kelaspun memandangi kejadian itu.


"Kalo gue ada salah tuh ngomong bukan malah kayak gini" kata Ratu tanpa memandangi Liana.


"Guekan udah bilang nggak sengaja sayang. Apa perlu gue keramasih kepala lo? Ehh lo mau kemana?"


Pertanyaan dari Liana dihiraukan Ratu begitu saja. Ratu akan meminta izin pulang pada gurunya karena tidak mungkin Ratu akan belajar dengan keadaan Rambut seperti ini. Liana memang keterlaluan tetapi Ratu tidak akan berbuat banyak. Karena Liana akan semakin menjadi-jadi jika terus diladeni. Beruntung Kayla tidak sekolah hari ini, jika Kayla sekolah mungkin keadaanya akan tambah parah. Siapa yang akan menyangka jika sahabat bisa menjadi musuh? Semesta terkadang suka bercanda tetapi tidak ada yang bahagia dengan candaanya.


...^,^,^,^...

__ADS_1


"Ratu punya gue" tiga kata yang keluar dari mulut Gavin sontak membuat Deva tertawa mengejek.


"Gue nggak akan ambil. Tapi kalo semisal dia yang mau sama gue ya gue nggak bisa nolak" setelah berhenti tertawa mengejek, Deva mengatakan hal itu denga santainya.


Nafas Gavin memburu. Dia sudah terlanjur emosi oleh orang yang berada disampingnya ini. Deva memang paling bisa membuat Gavin lebih cepat menyulut amarahnya.


"Gue nggak akan biarin lo ambil apa yang gue punya lagi. Cukup dia jangan Ratu" pinta Gavin dengan segala sesak didadanya. Setelah ucapan Gavin terdengar oleh telinganya sendiri. Gavin mengingat kejadian pahit di masa lalunya. Sekuat apapun dia mencoba melupakan ternyata takdir akan tetap membuatnya mengingat.


"Kalau semisal Ratu yang ngejar gue, lo akan berbuat apa?"


...^,^,^,^...


Ratu berdiri di pinggir jalan seraya mengedarkan pandanganya ke arah kanan dan kiri. Sekarang Ratu butuh kendaraan umum yang bisa dinaikinya untuk pulang menuju rumah. Ratu mulai tidak nyaman dengan sesuatu yang menganggu dirambutnya ini.


Ratu mencebikkan bibirnya. Liana sukses membuat Ratu semakin tidak suka kepadanya.


"Mau ikut?"


Ratu menolehkan pandanganya pada Gavin yang tberada dibelakangnya dengan motor yang dinaikinya.


Ratu nampak menimang-nimang ajakan Gavin. Ratu masih menatap Gavin dengan segala rasa bersalahnya tadi. Ratu barusaja menyakiti hati Gavin karena ucapanya lalu jika Ratu menerima ajakan Gavin....


"Mau atau enggak?" tanya Gavin sekali lagi dengan nada dingin membuat Ratu semakin tidak enak.


"Gu--e udah ngom---ong jahat sama lo jadi gue nggak enak aja kalo---" Ratu benar-benar tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.


"Yaudah gue duluan"


"Ehh tunggu, gue ikut sama lo" Ratu berlari menuju motor Gavin lalu duduk di belakang Gavin.


Gavin mulai menjalankan motornya. Motor Gavin menyusuri jalanan ibu kota. Ratu masih dihinggapi rasa tidak enak pada Gavin ini membuat segalanya menjadi canggung.


"Kenapa bisa Liana numpahin minumannya ke rambut lo?" tanya Gavin membuat Ratu sedikit lebih lega karena Gavin akhirnya membuka percakapan ini.


"Nggak tahu" jawab Ratu acuh terdengar dari nada bicaranya Ratu tidak ingin membahas kejadian itu dan beruntungnya Gavin paham dengan itu jadi Gavin tidak bertanya lebih banyak tentang kejadian itu.


"Eh tadi lo mau kemana? Bukannya lo belum pulangkan? Lo mau bolos ya? Jangan gitu ih lo udah dewasa sebentar lagi kel---"


"Lo bicara lagi gue turunin"


Seketika ucapan Gavin membuat Ratu merapatkan bibirnya. Seharusnya Ratu tidak bertanya hal yang mengancam nyawanya.


"Gue emang sengaja bolos buat nganterin lo karena gue nggak mau lo naik kendaraan umum dengan keadaan lo kayak gini" jawab Gavin sukses membuat Ratu merasa tidak enak. Karena secara tidak langsung Ratu barusaja membuat seseorang bolos karenanya.


"Gue nggak tahu harus bilang apa"


Gavin tersenyum mendengar perkataan Ratu yang terkesan lucu untuknya.

__ADS_1


Setelah ucapan Ratu tadi tidak ada lagi percakapan yang terjadi diatas motor itu. Hari semakin siang dan tanpa Ratu sadari bahwa Gavin mengendarai motornya bukan menuju rumah Ratu melainkan menuju rumah Gavin.


__ADS_2