Ratu Kepo

Ratu Kepo
29. Adik Kakakan


__ADS_3

"Gue kan udah jawab. Sekarang gue boleh nanya dong?"


Gavin mengangguk sekilas.


"Tadi lo ngobrol apa sama Andra?"


Oh ternyata pertanyaan ini yang ingin Ratu ketahui jawabanya sampai Ratu rela menunggu Gavin selama kurang lebih satu jam.


"Andra bilang makasih ke gue karena gue nolongin dia sama Kayla kemarin. Andra itu pacaran sama Kayla" Setelah mengatakan itu, Gavin mengalihkan pandangannya pada wajah Ratu.


Sengaja, supaya Gavin bisa melihat ekspresi seperti apa yang akan tergambar diwajah Ratu ketika mendengar perkataan dari mulut Gavin.


"Sebelum lo nanya gue udah jawab kalau mereka pacaran. Lo mau nanya itukan?"


Ratu mengiyakan didalam hati. Entah kenapa Ratu tidak suka mendengar pernyataan kalau Andra si sepupunya itu berpacaran dengan Kayla. Ketika nama Kayla disebut Gavin, kilasan kejadiannya bersama Kayla terputar didalam ingatannya. Semuanya Ratu ingat. Terlebih ketika Kayla menyakiti dirinya.


"Lo belum maafin Kayka?"


"Udah. Gue maafin Kayla. Cuma ya gue nggak terima aja dia pacaran sama Andra. Gue takut kalau dia bakal nyakitin Andra kayak waktu itu dia nyakitin gue" Jelas Ratu dengan nada tinggi.


Bisa Gavin lihat jika sekarang Ratu tengah emosi. Itu sangat wajar Ratu rasakan. Ratu kecewa, Gavin tahu itu.


"Maafin dari mulut lo udah. Tapi dari hati lo udah dimaafin?"


Ratu menundukkan kepalanya. Mulai memikirkan pertanyaan yang Gavin berikan kepadanya. Ratu memang telah memaafkan Kayla tapi itu hanya di mulut atau ucapannya belum hatinya. Mungkin Ratu belum sepenuhnya memaafkan Kayla. Ratu masih merasa sakit hati karena Kayla.


Beberapa menit, mereka lewati dengan saling diam. Tidak ada yang membuka mulut untuk mengeluarkan sepatah katapun.


"Semua orang pernah nyakitin lo tapi nggak selamanya mereka akan nyakitin lo. Termasuk Kay--"


"Terus gue harus apa? Lo ngomong kayak gini seolah gue yang salah" Ratu memperlihatkan wajahnya kepada Gavin. Kini Ratu tidak menunduk lagi. Gavin melihat, ada air yang membasahi wajahnya. Iya Ratu menangis. Suaranya parau terdengar frustasi. Ratu mejadi sangat sensitif dan emosional ketika membahas Kayla.


"Gue juga sama kayak Kayla kan?" Tanya Gavin membuat Ratu mengerutkan dahinya.


"Gue nyakitin lo berkali-kali. Tapi kenapa lo masih ada disisi gue? Kenapa lo nggak ngehindar? Kayak yang lo lakuin ke Kayla. Gue sama Kayla itu sama"

__ADS_1


Perkataan Gavin menohok hati Ratu. Tidak bisa Ratu pungkiri jika semua yang Gavin itu memang benar. Gavin dan Kayla pernah menyakitinya tetapi kenapa Ratu bisa menjauhi Kayla tapi tidak dengan Gavin. Ratu sendiripun tidak tahu alasanya. Ini semua berada diluar kendalinya.


"Gue juga nggak tahu. Gue selalu ngerasa aja kalau lo sebenernya nggak niat nyakitin gue. Sekalipun lo emang bener nyakitin gue, nggak apa-apa, paling sakit hati" Jawab Ratu jujur didalam hatinya.


"Gue ke toilet dulu"


...*...


Setelah keluar dari toilet. Ratu akan meminta Gavin mengantarnya ke rumah Kayla. Ratu akan memaafkan Kayla dari mulut dan hatinya. Ratu ingin Kayla bisa bersama dirinya lagi. Ratu ingin persahabatannya dengan Kayla kembali seperti semula.


Ratu juga ingin menjelaskan apa yang terjadi diantara dirinya dan Gavin. Ah Ratu sudah tidak sabar membayangkan situasi itu, pasti sangat menyenangkan.


Semua itu berkat Gavin. Gavin yang menyadarkan Ratu. Ratu akan berterimakasih pada Gavin


Tidak terasa langkah Ratu sudah membawa dirinya ke tempat semula dirinya dengan Gavin. Namun rasanya Ratu ingin kembali lagi ke toilet atau memilih pergi,  setelah melihat Gavin dan Jeni sedang berpelukan. Ratu tahu seharusnya dia tidak merasa marah, kesal ataupun cemburu. Ratu bukan siapa-siapa nya Gavin. Ratu ingatkan itu didalam hatinya.


Setelah meyakinkan dirinya untuk menemui Jeni dan Gavin, Ratu melangkahkan kakinya lebih dekat kepada mereka yang sedang berpelukan.


Orang pertama yang menyadari keberadaan Ratu itu adalah Jeni. Kedua mata Jeni membulat dibalas senyum tipis oleh Ratu. Pelukan mereka terselesaikan ketika Jeni menarik kedua tangannya dari pelukan Gavin.


"Kita pelukan sebagai adik dan kakak. Lo jangan salah paham ya" Jeni menjauhkan tubuhnya dari Gavin dan mendekat pada Ratu.


"Kalau gitu gue duluan ya. Bye semuanya" Pamit Jeni dengan melambaikan telapak tangannya.


Tidak lama dari itu, Jeni melangkah pergi dari mereka.  Sekarang tersisalah Gavin dan Ratu yang saling memandang.


"Maaf"


"Karena? "


"Gue udah pelukan sama Jeni. Tapi itu nggak seperti yang lo kira kok"


"Nggak usah minta maaf gue kan bukan pacar lo"


Perkataan Ratu itu begitu menohok hati Gavin. Ya memang benar, seharusnya Gavin tidak minta maaf kepada Ratu. Namun Gavin takut Ratu akan marah kepadanya jadi dia lebih dahulu meminta maaf. Ternyata Ratu tidak marah.

__ADS_1


"Tadinya gue harap lo marah ketika gue pelukan sama Kayla. Gue harap lo cemburu eh tahunya nggak. Meskipun lo bukan pacar gue, nggak papa kok kalau lo cemburu. Gue malahan seneng, cemburu kan tanda--"


"Gue mau pulang" Potong Ratu dengan nada datar.


Gavin merasa ada keanehan. Katanya Ratu tidak marah tetapi sikap Ratu menunjukkan bahwa dirinya marah pada Gavin. Ratu memang rumit.


"Lo denger dulu cerita kenapa gue dan Jeni bisa pelukan. Nanti gue anter lo pulang"


Sebenarnya Ratu tidak mau mendengar apapun yang Gavin lalukan dengan Jeni. Itu akan membuat Ratu semakin kesal pada Gavin, Ratu hanya kesal bukan cemburu. Tetapi Ratu juga penasaran.


"Sebelum pulang gue mau ke rumah Kayla dulu" ucap Ratu yang disambut dengan senyuman lebar dari Gavin.


Gavin bahagia mendengar itu. Ternyata Ratu tidak sekeras kepala yang ia bayangkan.


Gavin menganggukan kepalanya. Ia menyetujui keinginan Ratu yang sangat sederhana sekali bagi Gavin. Setelah itu Gavin mengajak Ratu duduk ditempat yang tadi mereka tempati dan Gavin mulai bercerita tentang bagaimana pelukan antara dirinya dan Jeni bisa terjadi.


Flashback on


Jeni berjalan didepan Gavin dengan langkah yang terburu-buru. Jeni sepertinya tahu dengan keberadaan Gavin, oleh karena itu ia ingin menjauh dari Gavin. Ini bukan yang Gavin inginkan, dia memang ingin Jeni berhenti mengejarnya namun ia tidak pernah ingin Jeni menjauhinya. Karena bagaimanapun Jeni adalah temannya.


Gavin memilih berdiri dan langsung menghampiri Jeni. Dicekalnya tangan Jeni agar dia tidak bisa pergi.


"Lo mau jauhin gue?" tanya Gavin seraya melepaskan cekalan tangannya.


"Iya. Kalau lihat lo, gue selalu malu. Gue malu kalau inget betapa nggak ada harga dirinya banget gue di depan lo. Setiap gue inget lo, gue semakin malu sama diri gue sendiri" jawab Jeni dengan suara parau. Kepalanya tertunduk, pandangannya terpokuskan kebawah.


"Jeni gue tahu dari Candra kalau sekarang lo berubah. Gue seneng dengernya. Gue nggak mau kehilangan temen kayak lo, jadi jangan menjauh dari gue. Lo mau kan jadi temen gue?" Gavin menatap Jeni yang sedang tidak menatapnya balik, jika Jeni menatap mata Gavin. Jeni akan menemukan harapan besar dimata Gavin yang sangat tulus.


Perlahan Jeni mengangkat kepalanya. Namun ia masih tidak berani menatap Gavin.


"Maafin gue ya. Gue mau kok jadi temen lo"


"Eh jangan temen deh. Kita kakak adean aja ya? Lo yang jadi ade dan gue yang jadi kakak" usul Gavin dengan penuh kebahagiaan.


Untuk pertama kalinya disaat seperti ini,  Jeni menatap kedua mata Gavin. Kemudian kepalanya mengangguk pelan dan bibirnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Gavin langsung membawa Jeni kepelukannya. Jeni langsung membalas pelukan Gavin. Mereka berpelukan layaknya sepasang adik dan kakak, seperti yang mereka sepakati. Baik Jeni maupun Gavin keduanya merasa bahagia bisa seperti ini.


Di tengah hangatnya pelukan Gavin berbisik pelan pada Jeni "Gue udah maafin lo. Jangan ngejauhin gue lagi. Lo adik gue sekarang. Gue sayang sama lo"


__ADS_2