Ratu Kepo

Ratu Kepo
2. Pacar?


__ADS_3

...Ketika pacar tidak menganggap kita layaknya seorang pacar,maka menjadi jomblo itu lebih baik...


"Pacar lo berantem lagi"


"Berantem emang kerjaannya Gavin kan, Ta?" tanya Ratu cuek dan kembali menyuapkan mie instan yang tersisa di sendoknya.


"Berantemnya sama Andra"


Ratu hampir saja tersedak mendengar ucapan laki-laki yang tadi di paggil 'ta' itu. Bagaimana bisa Gavin berkelahi dengan Andra, seorang murid teladan yang sangat patuh aturan.


Setelah mendengar informasi itu, Ratu langsung berjalan cepat meninggalkan kantin dan menuju tempat dimana biasanya Gavin berkelahi.


Ratu memilih jalan pintas, yaitu jalan koridor perpustakaan dan gudang yang jarang di lewati murid-murid alasanya karena Ratu benci melihat tatapan mata murid lain. Setelah kejadian kemarin, beberapa orang sepertinya tidak suka kepada Ratu ah bukan sepertinya namun memang. Memang tidak menyukai Ratu.


"Ratu" Gavin berjalan mendekati Ratu.


"Andra dimana?" tanya Ratu dengan cepat, ia sangat khawatir dengan keadaan Andra.


"Di UKS"


Ratu melangkahkan kakinya tanpa mengatakan satu katapun. Sekarang Ratu tahu dia harus kemana, ke UKS.


"Pacar lo siapa sih?" tanya Gavin dengan nada yang sedikit tinggi.


Sontak Ratu menghentikan langkahnya. Kemudain perlahan matanya menatap wajah Gavin, ada bercak darah disana. Mungkin itu hasil tinjuan Andra.


"Gue atau andra?" Gavin berjalan mendekati Ratu.


"Lo" Ratu benci mengatakan itu. Tapi itulah kenyataannya.


"Obatin luka gue"


"Pergi aja ke UKS. Disana ada anggota PMR yang bisa ngobatin luka lo" ucap Ratu cuek, sedangkan lawan bicaranya kini tengah mengaduh kesakitan karena lukanya itu malah tambah sakit.


"Pacar gue itu lo, bukan anggota PMR"


"Emang yang ngobatin luka lo harus selalu pacar lo?"


"Gue kayak gini juga gara gara lo"

__ADS_1


...*...


"Sabar ya, Tu" Jeni mengusap punggung ratu, berharap dengan seperti itu Ratu merasa sedikit lebih tenang.


Ratu menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban dari perkataan singkat Jeni. Jeni yang dimaksud bukanlah Jeni salah satu personil black pink. Jeni yang dimaksud adalah seorang murid di kelas Ratu yang jarang sekali bersosialisasi. Hanya Ratu dan Kayla lah yang menjadi temannya, itupun tidak dekat. Sekarang Jeni adalah teman sebangku Ratu yang baru, ya Kayla menukarkan posisinya dengan Jeni. Kayla menjauhi Ratu. Ratu sadar Kayla memang pantas seperti itu.


"Jangan dimasukkin hati ya. Biarin aja mereka kayak gitu" Setelah mengatakan itu Jeni memberikan seulas senyum pada Ratu. Memberi semangat untuk Ratu.


Beberapa teman sekelasnya terang-terangan membicarakan Ratu yang dianggap telah menikung Kayla. Mereka tidak tahu tapi merasa paling tahu.


...*...


Sepulang sekolah Ratu menyempatkan dirinya untuk pergi ke toilet. Bel pulang menjadi hal yang ia sukai setelah kejadian kemarin. Karena ia akan keluar dari kelas yang sekarang tidak nyaman ditempatinya.


"Lo hutang cerita sama gue"


Ratu menganggukan kepalanya sebagai jawaban ia dari pertanyaan Andra. Andra sangat peduli padanya namun untuk urusan yang satu ini, Ratu tidak akan membawa Andra kedalam masalahnya. Ratu tidak akan bercerita apapun kepada Andra, ia mengangguk agar Andra cepat pergi karena ia harus buru-buru ke toilet.


"Pulang bareng?" ajak andra yang mendapat gelengan kepala dari Ratu.


Andra kembali berjalan,melangkah pergi meninggalkan Ratu. Ratu merasakan ada yang berbeda dengan diri Andra, Andra bersikap dingin pada Ratu. Ah iya Ratu lupa bertanya kenapa Andra berkelahi dengan Gavin. Sial, Ratu ingat pertanyaan itu ketika Andra sudah benar-benar pergi.


"Eh lo beneran pacaran sama Gavin? Lo pakai dukun mana?"


Liana itu memang ahli dalam menghina.


"Rasanya nikung sahabat sendiri itu gimana sih?ohh iya kok tega sih?" tanya bunga yang merupakan kawan dari Liana. 


Sementara Poppy hanya diam. Namun diamnya itu mematikan, Poppy memandang Ratu dengan tatapan sinis. Diantara mereka memang Poppylah yang jarang bicara.


Ratu menghembuskan napasnya gusar. Ia tidak berniat untuk meladeni mereka. Ratu malah berpikir, Apakah Kayla juga sebenci ini pada ratu? Jika Ratu menjelaskan kronoligi kejadian yang sesungguhnya, Apa Kayla akan percaya?


Ratu menundukkan kepalanya. Apa setiap hari akan seperti ini? Dimana Ratu akan dihina dan di cap seorang penikung. Meskipun memang iya menikung, tapi ada alasankan dibalik itu. Semua orang tidak pernah menginginkan alasan di balik sebuah perbuatan.


Tiba tiba saja hening. Ini memang tempat sepi tetapi tadi tempat ini ramai karena kicauan-kicauan unfaedah liana dan kawan kawannya.


Tiba tiba saja sepasang tangan menelungkup wajah Ratu, membuat Ratu mendongkakkan kepalanya. Lalu mata milik orang itu menatap tajam mata Ratu yang berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Ratu sedikit heran,kemudian tubuhnya bergerak mundur.


Tapi seseorang itu lebih dulu membawa tubuh ratu kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Lepasin Gavin" pinta Ratu ketika berada di pelukan Gavin, ini tidak nyaman sama sekali.


Gavin menghiraukan permintaan Ratu, sampai akhirnya Ratu sedikit berteriak "Gue nggak kuat" .


"Mau lahiran?" tanya Gavin dengan bodohnya. Pelukannya itu ia lepaskan perlahan.


"Mau pipis" Ratu mendorong tubuh Gavin dan segera pergi ke toilet.


Ratu berjalan menuju toilet. Didalam hatinya ia sempat bertanya kemana perginya Liana dan kawannya itu. Kepergian mereka bersamaan dengan kemunculan Gavin.


Beberapa menit kemudian ratu keluar dari toilet. Matanya menolak apa yang tengah ia lihat. Yaitu Gavin yang berada ditempat tadi. Ahh kenapa tidak pergi saja?


"Nggak pulang?" Ratu berjalan mendekati Gavin sedangkan Gavin tidak berhenti menatap wajah Ratu daritadi. Memangnya ada apa diwajah Ratu?


"Lo nggak pulang?" tanya balik Gavin.


"Ini mau pulang"


"Yuk" Tangan Gavin terlebih dahulu ditepis Ratu sebelum Gavin meraihnya atau menggenggamnya.


Ratu belum siap diperlakukan seperti ini tiba-tiba. Ratu belum terbiasa dan Ratu juga tidak mau.


"Kemana?"


"Lo pikir daritadi gue disini nunggu apaan? yuk ah pulang jangan pura-pura ****" Bentak Gavin dengan nada tidak pelan pastinya.


Jadi begini ya jadi pacar paksaan Gavin. Kenapa juga Gavin meminta Ratu menjadi pacarnya. Yang jelas Ratu tahu, alasanya bukan karena Gavin mencintainya.


"Lo nggak bahagia pacaran sama gue?" tanya Gavin tiba-tiba seolah tahu apa yang Ratu rasakan.


Ratu menggelengkan kepalanya pelan. Jujur ia memang tidak bahagia.


"Gimana cara buat lo bahagia?"


"Putusin gue" Ucap Ratu dengan sederhana, namun rumit bagi Gavin.


"Kalo kita putus. Gue dong yang nggak bahagia" ucap gavin.


Hening. Ratu jelas tidak mengerti apa yang Gavin maksud. Ia tidak akan bahagia jika putus dari Ratu, apakah itu benar?

__ADS_1


"Tolong anggap gue sebagai pacar lo bukan seperti monster ya lo takutin"


Ratu tidak salah dengar. Gavin baru saja meminta tolong padanya. Namun apakah bisa Ratu menuruti apa yang Gavin inginkan?


__ADS_2