
...Pastikan harapanmu tersimpan di raga yang tak salah, di raga yang tak membuat hatimu patah...
Gavin memandang lekat-lekat selembar kertas putih dengan belasan kalimat bertinta hitam di atasnya. Dengan dipakaikan bingkai pigura, kertas itu semakin cantik menempel di dinding kamar bercat hitam milik Gavin.
Kedua sudut bibirnya terangkat ketika melihat nama yang berada dibarisan terakhir. Nama di pemilik puisi tersebut.
Ratu Andira.
...*...
"Kenapa Lo nggak mati aja sih?" Tanya Sinis Candra yang sedang sibuk mengamati Gavin membersihkan bercak darah di wajahnya.
"Perkataan kamu itu lho mas nggak baik" sahut Gavin dengan nada di buat-buat.
"Kelakuan Lo yang nggak baik. Sayang dong sama diri Lo sendiri! Kasihan badan lo jadi samsak orang lain terus."
Kalau Candra sudah berkata seperti itu. Diam adalah jalan satu-satunya yang akan Gavin pilih. Sembari merenungkan ucapan Candra yang barusaja terdengar di telinganya, Gavin menyelesaikan kegiatan membersihkan sedikit darah yang berada di sekitar wajahnya.
"Nggak ada niat untuk keluar?" Candra memecahkan keheningan dengan pertanyaannya itu.
Gavin paham sekali dengan apa yang Candra katakan. Ini mengenai kumpulan yang ia ikuti. Kumpulan tidak sehat, kumpulan penuh kekerasan. Gavin ingin keluar dari kumpulan itu tapi dia membutuhkan kumpulan itu. Meski resikonya sangat berat.
Efrina. Dialah gadis yamg secara langsung menarik Gavin kedalam perkumpulan itu. Singkat cerita dahulu Efrina selalu meminta pertolongan pada Gavin. Efrina mengaku jika dia selalu diperlukan tidak baik oleh pacarnya. Gavin yang saat itu tidak bisa berkelahi akhirnya bertemu dengan seseorang yang merupakan ketua dari perkumpulan itu.
Demi membantu Efrina, Gavin masuk perkumpulan itu. Sederhana saja peraturannya. Jika salah satu diantara anggotanya mempunyai musuh maka musuh itu akan menjadi musuh semua anggota. Dan saat itu Gavin meminta bantuan mereka untuk berkelahi dengan pacar Efrina itu.
Perkelahian itu sering terjadi karena salah satu anggota pasti ada yang meminta untuk berkelahi dan tidak ada penolakan. Untuk keluar dari sana sangatlah mudah. Yaitu berjanji tidak akan meminta bantuan untuk berkelahi kepada anggota perkumpulan itu. Candra telah melakukannya. Candra telah keluar sementara Gavin masih menjadi anggota disana. Karena Gavin tahu akan ada saatnya dia membutuhkan bantuan mereka meski bukan untuk melindungi Efrina.
"Gimana sama Jeni?" Tanya Gavin.
Candra menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu Gavin sedang tidak ingin membahas itu.
"Baik-baik aja. Gue nggak nyangka ya kalau benci adalah awal dari cinta itu ternyata bener" Kemudian Candra tersenyum.
Gavin menjelajahi ingatanya. Tepat ketika Candra memarahi Jeni yang selalu berlaku agresif pada Gavin. Candra merasa jijik melihat perilaku Jeni pada Gavin dulu.
"Lo nggak apa-apa kan?" Tanya Candra seolah tahu apa yang sedang Gavin pikirkan. Candra tahu jika Gavin tidak pernah menyimpan rasa kepada Jeni tapi dia hanya ingin meyakinkan saja jika ia tidak salah.
"Nggak ada alasan untuk apa-apa"
Suara menandakan pesan masuk terdengar dari handphone milik Gavin. Ia segera membuka pesan itu setelah mengambil handphonenya dari meja.
__ADS_1
Kayla
Tadi ada Deva di rumah Ratu
...*...
Terlambat dan dilarang masuk kelas adalah alasan kekesalan Ratu. Karena dua hal itu Ratu harus pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan hukuman dari ibu guru.
Langkah Ratu terhenti ketika melihat Gavin tengah tertidur pulas. Ratu memandangi wajah Gavin. Selalu ada bekas luka di wajahnya itu. Jari-jari tangan Ratu mulai menyentuh bagian bekas luka itu.
Sadar ada sesuatu yang menyentuh bagian wajahnya, Gavin membukakan kedua matanya perlahan. Gavin membenarkan posisi duduknya dengan benar. Kedua matanya menatap Ratu yang seperti gugup. Gavin sekarang tahu jika sesuatu yang membangunkannya itu adalah tangan milik Ratu.
"Aduh jadi kebangun" Ratu merasa bersalah.
"Padahal masih ngantuk" kemudian Gavin menguap.
"Makanya kalau mau tidur jangan di perpustakaan" saran Ratu sembari mendaratkan tubuhnya ke kursi yang tepat berada di hadapan Gavin.
"Bener juga. Tidur itu jangan di perpustakaan takut ada yang nyolek" Gavin terkekeh, matanya memandangi Ratu yang sedang membelalakkan matanya.
"Apaan sih tadi gue nggak nyolek kok cum--"
"Lho jadi Lo yang nyolek gue? padahal gue kira orang lain. Lo suka sama gue ya?" Gavin tersenyum jahil sementara Ratu kelihatan kesal.
Ratu membawa beberapa buku dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Tidak ada jawaban dari Gavin. Hening seperti itulah. Ratu sibuk dengan bukunya dan Gavin sibuk dengan pikirannya. Seketika Gavin teringat tentang pesan yang Kayla kirim kemarin.
"Lo masih jomblokan?"
"Emang kenapa?" Tanya balik Ratu tanpa menatap Gavin, ia terlalu sibuk dengan buku-bukunya.
"Nanya aja"
"Ohhh"
"Masih jomblo?"
Ratu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya. Seulas senyum muncul di bibir Gavin pas setelah Ratu menganggukkan kepalanya.
Masih ada harapan, batin Gavin.
__ADS_1
"Karena gue udah jawab pertanyaan Lo. Sekarang kita ngerjain tugas"
Gavin menghembuskan nafasnya kasar. Jangankan untuk mengerjakan tugas, membawa buku pun Gavin tidak.
"Saya tidak membawa buku Ibu Guru" ucap Gavin dengan nada dibuat-buat menjadi anak kecil.
Ratu terkekeh mendengar suara Gavin yang sangat tidak cocok dengan wajahnya.
"Pake buku gue dulu aja. Tuh ada di tas!"
Gavin segera menuruti perintah Ratu. Dan Ratu kembali sibuk dengan buku-bukunya.
Setelah beberapa menit terlewati dengan keadaan hening. Kejadian kemarin terlintas di pikiran Ratu. Dan Ratu memutuskan untuk bertanya pada Gavin.
"Gue mau nanya" kata Ratu dengan buku yang telah ditutup dan mata yang menatap Gavin lurus.
"Nanya apa?" Tanya Gavin yang menghentikan kegiatan menulisnya.
Mana mungkin Gavin melewatkan momen bersama Ratu seperti ini. Terlalu sayang--- untuk dilewatkan.
"Gimana cara maafin orang yang udah nyakitin kita?" Tanya Ratu dengan penuh kehati-hatian.
Gavin tidak menyangka Ratu akan bertanya seperti itu. Bukan hanya jawaban bahkan Gavin tahu sebab Ratu mempertanyakan itu.
"Jangan menganggap orang yang nyakitin Lo itu sebagai musuh. Anggap orang itu sebagai guru. Bukan seperti musuh yang memberi peluru tapi seperti guru yang memberi pelajaran. Dia memberi pelajaran meskipun lewat kesakitan"
Ratu berusaha mencerna kalimat per kalimat yang diucap Gavin. Sungguh ia tidak percaya kalau kata-kata tadi keluar dari mulut Gavin.
"Karena gue udah jawab. Lo harus traktir gue!" Gavin tersenyum penuh kemenangan.
"Nggak mau"
"Ada dua pilihan sih antara traktir atau jadi pacar gue. Gimana?"
"Iya gue traktir"
"Padahal pilihan kedua menarik"
"Nggak" sanggah Ratu cepat.
"Satu pertanyaan lagi deh buat Lo ini bonus. Lo mau nanya apa?"
__ADS_1
"Kenapa Lo obsesi banget milikin gue?"