Ratu Kepo

Ratu Kepo
4. Permainan Cinta


__ADS_3

...Bermain cinta itu perlu nyali,sakit itu resikonya dan bahagia itu hadiahnya....


Gavin berjalan santai menuju kelasnya. Beberapa pasang mata dari teman-teman sekelasnya terlihat sinis menatap Gavin.


Sedangkan Gavin seolah tidak peduli, mungkin dia merasa sedang berjalan di red carpet.


Jam 10 disaat murid-murid baru saja istirahat. Tetapi berbeda dengan Gavin, murid spesial di kelas ini. Gavin baru memasuki kelas di jam 10 ini, karena sedari tadi dia menjalani hukuman.


"Pacar" sapa Gavin pada Ratu. Ratu berharap telinga semua orang yang ada di kelas ini tidak berfungsi atau sedikit terganggu. Pasalnya Ratu malu dan takut dijadikan topik gosip utama karena perlakuan Gavin yang 'sok manis' .


Gavin berdiri tepat di meja milik Ratu. Sedangkan Ratu masih terdiam dengan wajah yang tenggelam di meja beralaskan tasnya.


"Ratu sakit " ucap Jeni singkat lalu pergi dari kursi duduknya yang berada di samping Ratu. Gavin melirik Jeni dengan tatapan tidak peduli.


Ketika kursi milik jeni kosong, Gavin segera menduduki kursi itu. Gavin menatap Ratu dengan seksama. Kemarin Ratu terlihat baik baik saja tapi sekarang sepertinya Ratu tidak baik-baik saja.


"Ratu lo sakit?" tanya Gavin mendekatkan wajahnya ke tubuh Rat


tu.


"Nggak " jawab Ratu dengan suara seraknya. Ratu menampakkan wajahnya yang sedikit pucat pada Gavin. Kemauan bibirnya tersenyum.


"Kok pacar gue kayak mayat?" tanya Gavin kurang ajar. Dengan cepat Gavin mengulurkan telapak tangan kanannya di kening Ratu. Berusaha memeriksa suhu tubuh milik Ratu.


Ratu melepaskan tangan Gavin, menurutnya tangan Gavin itu dingin.


"Kening lo panas kayak neraka jahanam" ucap Gavin khawatir.


Tangan yang tadi berada dikenang Ratu kini turun ke tangan milik Ratu. Gavin mengenggam tangan Ratu erat.


"Calon penghuni neraka mah tahu ya suhu disana" cibir Ratu yang membuat Gavin terkekeh pelan.


Ratu memasrahkan tangannya digenggam oleh Gavin. Ratu kembali menenggelamkan wajahnya di meja yang beralaskan tas miliknya.


Melihat ratu seperti itu membuat gavin merasa sedikit khawatir. Gavin melepaskan tas yang sedaritadi di pundaknya dan langsung mengeluarkan jaket berwarna coklat.


Bibir Gavin membentuk sebuah senyuman ketika melirik jaket dan tubuh ramping Ratu secara bergiliran.


"Biar kaya drakor. Nanti lo peluk gue ya" Gavin memakaikan jaket coklat miliknya pada tubuh Ratu.


Sedetik kemudian Ratu melemparkan jaket yang baru saja Gavin pakaikan.


"Bau rokok" ucap Ratu sukses membuat beberapa pasang mata melirik ke arah Gavin, karena Ratu berucap dengan nada yang sedikit tinggi.


Dengan cekatan Gavin mengambil jaketnya yang telah jatuh.


"Tunggu sebentar" ucap Gavin kemudian pergi dari hadapan Ratu.


Ratu mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya mengigil kedinginan, tapi dahinya panas dan kepalanya sangat pusing.

__ADS_1


"Nih udah wangi" suara Gavin terdengar samar-samar di indera pendengaran Ratu. Matanya perlahan terbuka. Gavin sudah ada di sampingnya lagi dengan jaket yang sama.


Gavin memberikan jaketnya pada Ratu. Awalnya Ratu hanya diam menatap Gavin seolah mengatakan 'apaan sih?'


"Cium aja" suruh Gavin mendekatkan jaketnya ke hidung Ratu.


"Woooooo" Ratu mual-mual.


Sementara Gavin memasang wajah cemas dan berkata


"Lo hamil?padahal waktu itu gue cuma cium lo. Itu juga cuman sekali"


Ratu membulatkan matanya sempurna.  Kenapa ada manusia seperti Gavin?


Ratu mual karena jaket milik gavin terlalu banyak memakai minyak wangi perempuan. Mungkin saja Gavin menumpahkan seluruh isi botol minyak wangi di jaketnya. Sesuatu yang berlebihan memang tidak pernah baik


"Gav--- awww" jerit Ratu sembari meremas perutnya. Sepertinya maggnya kambuh lagi.


"Ihh perutnya jangan di gitu gitu nanti lo keguguran" Favin menarik tangan Ratu yang tengah meremas perutnya. Gavin tidak pernah tahu betapa malunya Ratu mempunyai pacar spesies langka seperti Gavin.


...*...


"Kak"


"Lo bukan adek gue" jawab Gavin menyebalkan, seperti biasanya.


"Maaf, tapi selain anggota PMR dan orang sakit dilarang masuk ke ruangan UKS " ucap murid perempuan dengan penuh kehati-hatian.


"Ta---pi kak--"


"Adek keluar ya,disini kan udah ada saya anggota PMR baru. Mendingan sekarang adek belajar di kelas aja. Nanti kalo adek udah belajar terus udah jadi dokter nahh boleh balik lagi kesini buat periksa pacar saya" ucap Gavin memotong perkataan murid yang merupakan anggota PMR itu.


Awalnya anggota PMR bernama sandra itu diam di tempatnya tanpa melakukan apa-apa. Tetapi setelah gavin melayangkan tatapan yang seolah mengatakan 'pergi atau gue abisiin lo' .


Sandra langsung keluar dari ruangan UKS. Meninggalkan Gavin dan RAtu berdua. Karena di UKS yang sakit hanya ratu. Mungkin murid yang lain takut ke UKS karena tahu keberadaan  Gavin di UKS.


Gavin berjalan mendekati Ratu yang tengah tebaring. Ratu tidur sangat pulas karena efek samping dari obat yang tadi di makannya.


"Cepet sembuh ya" Gavin menusuk -nusuk pipi kanan Ratu dengan jari telunjuknya. Lalu dia tertawa melihat betapa lucunya Ratu jika sedang tidur seperti ini.


"Gavin" suara lembut milik seseorang yang tidak asing itu sukses membuat Gavin terkejut. Dengan kening yang mengerut gavin berjalan mendekati sumber suara itu.


Gavin menutup gorden yang berada di dekat ranjang ratu.


Perlahan kedua mata Ratu terbuka. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru UKS. Gorden tertutup sehingga Ratu kesulitan untuk menemukan orang yang ada di UKS. Ratu membutuhkan seseorang untuk membantunya mengambil air minum. Bukan Ratu manja tapi kepalanya sedang dilanda pusing yang sangat membuatnya tidak berdaya selain berbaring di ranjang ini.


Tangan kanan ratu perlahan membuka gorden yang ada di sampingnya.


Degg

__ADS_1


Dibalik gorden ini. Gavin bersama jeni. Gavin tengah mencium bibir Jeni di ruang uks ini. Untuk apa?


Ratu kembali menutupkan gorden itu rapat-rapat. Ratu berharap ada sesuatu yang salah dari matanya.


Bagaimana bisa Gavin--lelaki yang beberapa hari ini menjadi pacar ratu bisa melakukan ciuman bersama Jeni teman sebangkunya.


Ratu menyesal atas tindakannya membuka gorden tadi. Yang mengakibatkan Ratu menjadi kepikiran akan hal yang baru saja terjadi. Tapi di sisi lain Ratu beruntung karena baik Gavin atau Jeni tidak ada yang mengetahui jika Ratu sudah terbangun dari tidurnya-- dan tidak sengaja melihat adegan barusan.


Kepalanya kembali pusing. Perlahan cairan bening dari kedua bola matanya mengalir secara tiba-tiba.


Ratu segera menghapus jejak air matanya dan kembali memejamkan matanya. Berharap apa yang terjadi barusan hanyalah mimpi buruk.


"Ratu" Gavin membukakan gorden yang tepat berada di samping Ratu.


Ratu membuka matanya ketika mendengar Gavin memanggil namanya.


"Gimana udah baikkan?" Gavin meletakkan tangan kananya di dahi Ratu. Suhu tubuhnya sudah tidak sepanas tadi. Ratu sudah baikkan, sepertinya.


Ratu mulai mencerna tiga kata yang menjadi kalimat tanya dari Gavin. Apa ratu akan mendingan atau segera sembuh ketika melihat pacarnya sedang beradegan tidak senonoh bersama teman sebangkunya.


Sekarang Ratu mengerti perasaan Kayla ketika Ratu menjadi pacar Gavin. Ratu melakukan semua itu karena ada alasan baik di belakangnya. Apakah Jeni juga mempunyai alasan di balik kisahnya bersama Gavin?


Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Ratu, akhirnya Gavin bertanya lagi.


"Sakit banget ya sampe nangis kayak gitu?" tanya Gavin retoris. Seandainya  saja Gavin tahu jika Ratu menyaksikan apa yang ia lakukan dengan Jeni. Apakah Gavin akan menyangka bahwa Ratu menangis karena rasa sakit dibadanya bukan hatinya?


Ratu terseyum miris. Pandangan Ratu menyapu sekitar UKS,  mencari keberadaan Jeni. Namun tidak terlihat atau sudah tidak ada.


Gavin mengusap air mata Ratu yang berjatuhan di pipinya dengan tisu yang tersimpan di dekat lemari ranjang Ratu.


Ratu membenarkan posisi tubuhnya. Kini dia terduduk di ranjang uks dengan bantuan tangan Gavin yang tidak bisa di tolak.


"Minta tisu" pinta Ratu pelan.


Matanya menatap lurus wajah Gavin dan ketika melihat bibir Gavin, Ratu merasa ada yang sakit di bagian hatinya.


Tanpa jawaban, Gavin segera mengambil selembar tisu dan langsung memberikannya pada Ratu.


Ratu segera mengambil tisu itu dan berkata "Sini vin!" dengan tangan yang menggode agar Gavin mendekatkan wajahnya pada Ratu.


Gavin mendekatkan wajahnya ke hadapan Ratu, sesuai keinginan Ratu. Ratu terseyum dengan mata yang tertuju pada bibir milik Gavin.


"Udah berapa kali?" tanya Ratu ambigu. Tangan kanannya  mengusap lembut bibir Gavin dengan selembar tisu.


"Maksudnya?" Gavin mejauhkan wajahnya dari tangan Ratu sehingga Ratu tidak bisa mengusap bibir gavin dengan tisu karena jarak mereka yang cukup berjauhan.


"Gue cuma nanya aja. Lo udah berapa kali lakuin itu? ada lagi selain Jeni?" Ratu bertanya dengan nada lembut namun siapapun yang mendengar pasti ada nada kesedihan didalamnya. Pipinya kembali basah karena cairan bening dari matanya itu kembali keluar.


"Gue nggak ciuman sama jeni"

__ADS_1


"Gue nggak bilang lo ciuman sama Jeni" Ratu menatap Gavin sendu kemudian bibirnya tersenyum. Sedangkan Gavin menatap Ratu lekat ada rasa sakit terpancar di mata cokelat milik Ratu. Sekarang Gavin tahu bahwa Ratu menangis karenanya.


__ADS_2