
Ratu mendapati satu pesan dari ibunya yang berisikan jika 'ibu dan ayahnya tidak akan pulang malam ini' ,itu artinya ratu akan menghabiskan malamnya bersama Raka--kakaknya.
Ayah dan Ibunya memang jarang ada dirumah. Terkadang juga Ratu dirumah sendiri kalau Abangnya pergi bersama temanya. Disaat-saat seperti itulah, Ratu merindukan Bundanya. Bunda yang telah pergi ke alam keabadian. Ratu merindukan Bundanya itu. Beberapa tahu setelah Bunda pergi, Ayahnya memutuskan untuk kembali menikah. Keluarga Ratu kembali lengkap, namun tetap tidak ada yang bisa menggantikan Bundanya.
"Ratu ada yang nyariin lo" Kata Bang Raka dengan wajah songongnya itu.
"Siapa?" tanya Ratu dengan pandangan yang tidak lepas dari handphonenya.
"Andra"
Sebelum Ratu keluar dari kamarnya, Ratu sempat menoleh ke arah Abangnya yang tengah asik memainkan handphone sembari membaringkan tubuhnya di tempat tidur Ratu. Raka tidak memperdulikan Ratu yang kini tengah menatapnya tajam.
...*...
"Kenapa lo bisa jadian sama Gavin?"
Itulah yang kalimat pertama yang Andra tanyakan setelah kedatangan Ratu di ruang keluarga, rumah Ratu.
Ratu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjawab pertanyaan Andra. Ratu tidak mau Andra tahu tentang hal ini.
Ratu membisu namun tatapannya begitu lincah. Tatapannya melihat ke segala penjuru ruangan ini. Begitulah Ratu jika sedang dalam keadaan tidak aman. Dan Andra tahu hal itu. Namun nyaman atau tidak nyamannya keadaan Ratu sekarang, Andra harus bertanya.
"Lo rebut pacar Kayla. Lo pacaran sama Gavin. Lo sadar nggak siapa mereka?" Nada bicara Andra sedikit meninggi.
Ratu tetap membisu beserta tatapannya. Hanya satu objek yang ia tatap, yaitu mata milik Andra yang dipenuhi aura kekecewaan.
"Kalau lo lupa gue akan ingetin bahwa Kayla itu sahabat lo dan Gavin itu cowo ****** disekolah. Kalau lo sadar gue ingetin, lo udah rebut pacar sahabat lo sendiri Ratu. Ini jelas bukan lo banget. Gue kecewa" Andra berbicara dengan penuh penekanan.
Ratu tahu dan Ratu sadar apa yang ia lakukan tanpa harus diberitahu. Yang tidak tahu itu Andra, Andra tidak tahu alasan Ratu seperti ini. Dan tidak pernah ada niatan Ratu untuk memberitahu Andra. Ratu tahu Andra dan mungkin beberapa orang diluaran sana kecewa pada Ratu.
Ratu menyadari semenjak kemarin dirinya lebih banyak diam daripada berbicara seperti kemarin-kemarin. Dan sekarang Ratu tidak bisa menceritakan atau sekedar menjawab perkataan Andra. Ratu tidak bisa.
"Mungkin kali ini lo nggak mau nyerita tapi kalau lo butuh cerita, lo bisa datang ke gue" Nada bicara Andra sekarang nampak lebih tenang dibandingkan tadi.
Ratu selalu menyukai sikap dewasa Andra. Ratu beruntung mempunyai sepupu seperti Andra. Andra adalah anak dari adik Ibu tirinya Ratu. Dan semenjak Ayah Ratu menikah dengan Kakak dari Ibunya Andra, mereka menjadi akrab.
Andra bangkit berdiri diikuti Ratu. Kedua tangan Ratu langsung memeluk tubuh Andra. Andra membalas pelukan Ratu.
__ADS_1
"Gue pamit pulang ya. Salam buat bang Raka" Bisik Andra, namun pelukannya belum dilepaskan.
Sampai Ratu paham jika dirinyalah yang harus melepaskan pelukan. Karena Andra tidak pernah tega melepaskan pelukan terlebih dahulu. Andra sangat baik walaupun sedikit posesif pada Ratu tetapi Ratu tahu Andra seperti itu karena menyanyanginya.
Ratu melepaskan pelukannya. Kemudian seulas senyumnya tercetak dibibir Ratu. Andra melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sedangkan Ratu memandangi punggung Andra menjauh.
Tidak lama dari itu datanglah Abang paling mengesalkan di dunia versi Ratu.
"Woy" Raka menoyor kepala Ratu.
"Apaan?" tanya Ratu sinis, sedangkan lawan bicaranya terkekeh pelan.
"Gue punya pacar lho"
"Nggak nanya"
"Emang nggak mau kepo? Biasanya jugakan lo stalk semua sosmed cewe gue terus ngachat 'kak follback dong, btw ini calon ade ipar lho' sampe malu banget gue punya adek kayak lo" ucap Raka jujur.
Stalk dan kepo pada setiap urusan orang terdekatnya adalah sifat Ratu yang kini mulai dihilangkan, karena Ratu takut rasa keponya itu akan menimbulkan masalah. Contohnya ketika ia kepo terhadap Gavin.
...*...
"Pacar" ucap seseorang dari arah belakang.
"Ehh" Ratu terkejut ketika mendapati Gavin yang tiba-tiba berjalan disampingnya. Gavin masih mengenakan seragam sekolah dan jangan lupakan sebatang rokok yang berada ditangannya.
Setelah itu Gavin mengajak Ratu duduk di sebuah bangku taman. Dan Ratu menerima ajakan Gavin. Tidak ada yang memulai pembicaraan, keduanya saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ratu risih dan tidak suka melihat Gavin yang sedang merokok disampingnya. Bukan karena Gavin berada di sampingnya, namun karena Ratu tidak suka Gavin merokok. Karena sudah jelas jika merokok tidak baik itu kesehatan.
Dengan beraninya, tangan kanan Ratu merampas sebatang rokok yang diambil dibibir Ratu. Setelah berada ditangannya, Ratu membuang rokok itu sembarangan.
"Jangan ngerokok" kata Ratu dengan nada tidak suka.
"Jangan larang gue" Gavin mengambil sebatang rokok dari saku seragamnya setelah menatap tajam kedua mata Ratu.
"Gue nggak suka lo ngerokok" Ratu kembali merampas rokok yang siap Gavin nyalakan.
__ADS_1
"Gue nggak suka lo rampas apa yang gue suka" ucap Gavin merampas kembali sebatang rokok yang belum sempat Ratu jatuhkan ke tanah.
"Ngerokok itu nggak sehat. Kalau masih muda lo udah ngerokok gimana kalau nanti tua. Gimana masa depan lo? Lo pernah nggak mikirin itu. Mikirin masa depan lo"
Gavin mendengar suara Ratu penuh ketegasan dan ketidaksukaan. Kedua mata Ratu menatap tajam mata Gavin yang sama tajamnya.
"Kabar lo gimana?"
Ratu mengerenyitkan dahinya. Merasa heran dengan Gavin yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Baik"
"Ya udah. Berarti masa depan gue juga baik-baik aja" kata Gavin santai.
Ratu menampilkan wajah kesalnya ketika mendengar perkataan Gavin yang menjawab pertanyaannya dengan bercanda.
"Ishh udah gue bilang.." ucap ratu menggantung. Pandangannya kini tertuju pada wajah Gavin yang berjarak dekat.
"Apa?" tanya Gavin,setelah menghisap rokoknya.
"Berantem lagi?" tanya Ratu tiba-tiba, ketika melihat luka diwajah Gavin.
"Iya"
"Kenapa?"
"Ciee kepo. Pulang yuk udah malem"
Ratu tahu Gavin sedang mengalihkan pembicaraan.
"Percuma dong tadi gue obatin lo kalo ternyata lo masih juga berantem" Ratu mengusap luka darah yang sedikit bercucuran di wajah Gavin sementara Gavin hanya mengaduh kesakitan.
"Jangan berantem lagi"
"Enggak"
"Ish,jangan ngerokok lagi"
__ADS_1
"Nggak"
Ratu menghembuskan napasnya pelan. Sesulit ini Ratu melarang Gavin melakukan hal buruk.