Ratu Kepo

Ratu Kepo
31. Harapan dan Kepastian


__ADS_3

...Memberi harapan itu lebih mudah daripada memberi kepastian...


Senin pagi ini, Ratu kedatangan seseorang di mejanya. Seseorang itu adalah Deva, kakak kelas yang pernah menyatakan perasaanya. Menyatakan cinta dan meminta Ratu menjadi pacarnya, lebih tepatnya seperti itu. Namun Ratu tidak kunjung memberi jawaban. Ratu masih meminta waktu untuk mempertimbangkan keputusannya.


Tidak jarang Deva yang merupakan adik dari teman kakaknya itu, datang ke rumah Ratu. Sekedar berkunjung dan menanyakan jawaban dari Ratu. Ratu masih tidak memberikan jawabanya, membuat Deva semakin penasaran tentunya.


"Gue ke kelas ya. Jangan lupa makanannya di makan" Deva memandang Ratu yang sedang memusatkan perhatiannya ke arah lain.


Ratu memusatkan perhatiannya pada Gavin dan Elang si murid baru itu. Ah bukan Ratu saja tapi hampir semua murid yang berada disana memandang ke arah Gavin dan Elang yang baru saja memasuki pintu masuk kelas, tidak terkecuali Deva. Deva memandang mereka,  karena mengikuti kemana pusat perhatian Ratu tertuju.


Disana Gavin tidak sengaja menaruh pandangannya pada Ratu yang tengah duduk disamping Deva. Kedua mata mereka bertemu.


...*...


Alunan musik berjudul The One milik Kodaline mendominasi indera pendengaran Gavin. Matanya terpejam seakan meresapi lagu itu.


Sekarang adalah waktu istirahat, namun Gavin memilih berdiam di kelas seperti ini. Ditemani handphone, headset dan musik kesukaannya.


Tadi, Candra dan Elang yang sudah resmi menjadi murid di kelas Gavin itu mengajaknya ke kantin. Namun Gavin menolak, dan menyuruh Candra untuk menemani Elang ke kantin. Untung saja, Candra dan Elang merupakan pribadi yang mudah akrab. Bahkan sekarang mereka menjadi teman sebangku. Tentu saja karena keinginan Gavin. Gavin memilih duduk sendiri dan membiarkan Elang duduk dikursi yang biasa ia tempati. Elang sempat menolak tapi Gavin memaksanya.


Beberapa kali tepukan terasa dipundaknya. Gavin berusaha tidak menghiraukan, agar seseorang yang menepuk pundaknya itu berhenti. Namun alih-alih berhenti, tepukan itu malah semakin cepat.


Mau tidak mau Gavin membuka matanya. Gavin tidak menutup matanya kembali setelah terbuka. Ia tidak menyangka jika seseorang yang tadi menepuk pundaknya itu adalah Ratu.


"Apa?"


Ratu mengerucutkan bibirnya setelah mendengar pertanyaan sesingkat itu dari Gavin. Sedangkan Gavin menatap Ratu lurus.


Tanpa menjawab, Ratu langsung membawa tubuhnya untuk duduk kursi kosong yang berada di sebelah Gavin. Gavin tidak melepaskan pandangannya dari sosok Ratu itu, dan apa yang Gavin lakukan itu diketahui oleh Ratu.


"Gue mau cerita" Kata Ratu tiba-tiba dia tidak mencoba memandang Gavin seperti biasanya. Namun mengapa rasanya sangat susah, seperti ada yang aneh. Ah ini terjadi setelah Ratu mendengar perkataan Kayla bahwa Gavin mencintainya. Ratu tidak menyangka jika perkataan se sederhana itu bisa berpengaruh lumayan besar terhadapnya.


Gavin membalas tatapan Ratu. "Silahkan"


Ratu kesal mendengar tanggapan dari Gavin. Terlalu dingin.


"Jangan dengerin musik dulu dong" Protes Ratu dengan nada kesal.


Setelah mendengar protes dari Ratu. Gavin mencabut sebelah headset  dan memakaikannya di sebelah telinga Ratu. Ratu hendak protes tapi Gavin lebih dahulu berbicara.


"Lagunya enak. Gue masih bisa denger suara lo kok"


Ratu mengerti jika Gavin tidak ingin berhenti mendengarkan musik itu, karena itu dia berbagi sebelah headsetnya pada Ratu. Agar mereka berdua sama-sama menikmati musik itu.


"Gue udah baikkan sama Kayla. Gue seneng banget. Kita it--"

__ADS_1


"Lo nggak mau ke kantin?" ucap Gavin yang tentu saja membuat Ratu behenti berbicara.


"Nggak. Gue terusin ya. Kita itu sekarang sahabatan ber--"


"Tapi tadi pagi udah sarapan?"


"Udah Gavin. Tadi juga Kak Deva bawain gue makanan" jawab Ratu.


Merasa kesal karena daritadi Gavin memotong ucapannya, Akhirnya Ratu menjawab dengan cepat sampai sadar bahwa Seharusnya dia tidak membawa Deva dalam pembicaraanya ini.


Ratu menatap Gavin ragu-ragu. Pandangan Gavin tidak lagi pada wajah Ratu, apakah Gavin cemburu karena ucapan Ratu tadi?


"Kenapa diem? Nggak mau dilanjut ceritanya?" tanya Gavin dengan pandangan lurus kedepan.


Ratu sudah kehilangan semangatnya untuk bercerita. Dia sudah malas bercerita. Sekarang yang ada dipikirannya adalah cowok yang berada disampingnya.


"Nanti aja deh gue ceritanya"


Gavin menolehkan pandanganya pada Ratu. Begitupun dengan Ratu. Namun diantara mereka tidak ada yang berbicara, hanya saling diam.


"Lo suka sama Deva?" tanya Gavin tiba-tiba.


Ratu mengerutkan dahinya, merasa aneh ketika Gavin tiba-tiba bertanya seperti itu. Apa itu ada hubungannya dengan yang tadi pagi-pagi Gavin lihat, ketika Deva bersama Ratu? Ataukah karena Gavin tahu bahwa Deva memberi makanan untuk Ratu.


"Gue nggak tahu" jawab Ratu jujur. Ia memang tidak tahu dengan perasaanya kepada Deva.


"Nggak apa-apa" Gavin menggelengkan kepalanya kemudian mengalihkan tatapannya dari Ratu. Khas orang berbohong. Dan Ratu sadar itu


"Bohong. Mata lo bilang ada apa-apa"


Gavin ingin mengelak. Namun itu akan sia-sia. Jadi lebih baik dia mengaku.


"Gue emang nggak bisa bohong sama lo" Aku Gavin.


"Lo cemburu?"


"Hah?"


"Nggak. Lupain aja gue tad--"


"Iya gue cemburu" aku Gavin. Karena dia tahu, bahwa dia tidak bisa berbohong kepada Ratu.


"Lo cari tahu perasaan lo sama Deva gimana. Kasihan kalau dia nunggu terlalu lama. Ketika dia menunggu, dia juga berharap. Dia mau kepastian lo" Tambah Gavin.


"Harus banget bahas Deva?" tanya Ratu dengan nada tidak suka.  Bibirnya kembali manyun.

__ADS_1


"Gue cuma ngasih saran"


"Makasih" Ratu tersenyum terpaksa kepada Gavin.


Gavin menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan atas perkataan Ratu.


"Lo marah sama gue?" Ratu menatap Gavin dengan tatapan ragu-ragu. Sebenarnya Ratu tidak ingin menanyakan itu, tetapi Ratu tidak bisa membiarkan sikap Gavin yang mendadak dingin seperti ini.


"Emangnya kenapa?"


"Ya lo bersikap seolah nggak suka denger cerita gue. Lo nggak suka gue ada disini?"


"Gue suka" Jawab Gavin singkat. Tanpa menoleh ke arah Ratu. Entah kenapa Gavin sedang tidak ingin menatap Ratu. Setiap menatap Ratu, Gavin selalu ingat kejadian tadi pagi, ketika Ratu bersama Deva. Dan Gavin tidak suka.


"Sekarang lo lagi suka sama siapa?" tanya Ratu dengan nada bicara tinggi. Sepertinya Ratu sedang marah.


"Nggak ada"


"Ohh" Ratu memutarkan bola matanya. Dia merasa kesal dengan ucapan Gavin. Ternyata Gavin tidak mencintainya kan? Ratu tidak suka dengan jawaban Gavin.


"Nggak ada yang gue suka. Adanya yang gue cinta"


"Siapa?"


"Lo"


"Lo masih cinta sama gue?" Ratu menatap Gavin dengan kedua mata penuh pengharapan. Ratu berharap jawaban Gavin adalah iya.


"Iya. Tapi lo nggak percaya kan?"


"Dulu Iya. Sekarang gue percaya" Ratu tersenyum lebar kepada Gavin ya walaupun Gavin tidak sedang melihat ke arahnya. Ratu bahagia karena jawaban Gavin sama dengan harapannya.


"Ohh"


Senyum Ratu perlahan luntur. Kedua sudut bibir yang tadi terangkat, kemudian turun.


"Kok oh doang tanya dong, kenapa"


Protes Ratu.


"Kenapa?"


"Gue percaya karena Kayla yang bilang. Dia bilang kalau lo cinta sama gue" jawab Ratu dan seketika dia tersenyum lagi.


"Lo bukan percaya sama perasaan gue. Lo cuma percaya dengan apa yang Kayla katakan" Gavin menokejkan pandangan pada Ratu. Nada bicaranya tinggi dan penuh penekanan. Gavin melepaskan sebelah headset dari telinga Ratu dengan pelan. Kemudian dia melepaskan juga sebelah headset dari telinganya.

__ADS_1


"Bukan gitu Gavin" ucap Ratu dengan nada pelan. Ia merasa bersalah karena ucapannya itu. Ratu tahu sekarang Gavin sedang marah kepadanya.


"Bukan gitu. Tapi gini, lo itu lebih percaya sama sahabat lo daripada gue yang ngerasainnya. Kalau perkataan gue nggak bisa lo percaya apalagi perasaan" Setelah mengatakan itu, Gavin berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan Ratu.


__ADS_2