Ratu Kepo

Ratu Kepo
21. Gavin Kembali


__ADS_3

...Silahkan pergi asal tak lupa untuk kembali...


"Hello Ratu"


Ratu menolehkan pandangannya perlahan pada sumber suara itu. Seingat Ratu suara itu mirip dengan suara jelek punya Gavin, atau mungkin itu suara Gavin.


Benar saja, itu Gavin. Gavin tersenyum ke arah Ratu dengan seragam yang sama sekali tidak mencerminkan seorang murid sekolah. Tetapi tidak apa-apa Ratu bahagia melihat Gavin.


"Ngapain kesini?" Tanya Ratu agak jutek namun jauh di lubuk hatinya dia bahagia, sangat.


"Ini masih sekolahankan? Gue kesini mau sekolah"


"Mau sekolah atau mau berantem?" Tanya Ratu sinis.


Gavin tidak tahu apa yang membuat Ratu semenyabalkan ini. Seharusnya Ratu bahagia bisa mekihatnya lagi.


"Sinis mulu sama saya. nggak rindu apa?" Goda Gavin seraya tertawa.


Kedua mata Ratu terbelalak. Berani-beraninya Gavin menanyakan perihal rindu pada Ratu.


"Kirain udah mati. Dua Minggu nggak ada kabar. Gue telpon, nggak diangkat. Kata si Candra Lo pindah sekolah. Dan sekarang Lo tiba-tiba muncul. Lo itu nyebelin banget sih" cerocos Ratu tanpa henti.


Gavin tersenyum memandangi Ratu bercerita tentang dirinya. Gavin memang tidak sekolah selama dua Minggu. Dan dia genti no telpon karena satu hal. Dan tentang Candra yang berbohong pada Ratu, Gavin benar-benar tidak tahu.


"Kangen gue nggak?"


"Nggak" jawab Ratu singkat dengan nada keras.


...^,^,^,^...


Kabar baik untuk kelas Gavin hari ini. Karena guru yang mengajar jam ini tidak masuk. Guru yang bersangkutan hanya memerintahkan muridnya untuk merangkum.


Bukan Gavin namanya jika dia mengerjakan apa yang guru perintahkan. Dibanding merangkum Gavin lebih senang merecoki Ratu seperti ini.


"Kenapa sih Lo marah sama gue?" Tanya Gavin dengan nada sedikit kesal.


Bukan tanpa alasan Gavin seperti itu, jangan salahkan Gavin. Salahkan Ratu yang sedaritadi mendiami Gavin.


"Hak gue dong" jawab Ratu dengan entengnya sembari menulis.


"Gue selama dua Minggu nggak sekolah itu karena gue harus operasi di luar negeri jad---"


"Serius Lo?" Tanya Ratu sangat panik, bahkan dia menghentikan kegiatan menulisnya untuk mempertanyakan apakah Gavin serius atau tidaknya.


Ratu melihat raut kesedihan di wajah Gavin. Tanpa Ratu sadari, Ratu juga ikut larut dalam kesedihan itu. Ratu masih memandangi Gavin dengan lekat.


"Serius Lo?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Ratu dengan nada pelan.


"Enggaklah hahaha" jawab Gavin kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


Ratu kembali kesal. Bisa-bisanya Gavin berbohong tentang hal seperti itu. Ratu geram. Ratu ingin menggigit Gavin tapi itu rasanya tidak mungkin. Jadi Ratu lebih memilih melanjutkan menulisnya untuk meredakan amarahnya.

__ADS_1


"Bercanda gue. Gue ngambil perkataan itu dari sinetron-sinetron" ucap Gavin setelah selesai tertawa.


Sadar jika Ratu malah semakin marah padanya Gavin menghembuskan nafas dan membuka mulutnya lalu berkata.


"Gue nggak ada niatan bikin Lo khawatir atau rindu atau cemas atau kepikiran gue. Seriusan" kata Gavin dengan wajah yang dibuat sedih.


"Harusnya kalau mau pergi ya bilang-bilang jangan pergi gitu aja" kata Ratu seraya menulis. Ratu tidak mengalihkan pandangannya dari buku-bukunya.


Gavin terkaget mendengar perkataan Ratu. Apakah Ratu benar khawatir padanya? Kalau iya, Gavin sangat bersyukur sekali.


"Bilang sama siapa?" Tanya Gavin membuat Ratu memalingkan wajahnya dari buku dan menatap Gavin.


Ratu merutuki dirinya sendiri didalam hati. Apa yang telah ia katakan? Pasti dia salah bicara. Tidak seharusnya Ratu mengatakan itu. Mungkin ketika Ratu mengatakan itu, Ratu sedang lupa jika sekarang mereka adalah mantan pacar.


Ratu memilih mengabaikan pertanyaan Gavin dan kembali fokus pada kegiatan menulisnya.


"Gue suka kok Lo peduli sama gue. Makasih" ucap Gavin seraya tersenyum pada Ratu.


"Peduli sebagai teman" tambah Ratu dengan nada pelan namun masih bisa terdengar oleh Gavin.


"Teman hidupkan?"


...^,^,^,^,^,...


"Gue kira setelah Lo pergi selama dua Minggu, Lo udah nggak nakal lagi" ucap Ratu setelah mengetahui jika Gavin baru saja keluar dari ruang BK karena berkelahi dengan murid kelas sebelah.


"Apa hubungannya? Lagian gue kangen berantem tahu" ungkap Gavin kemudian melahap baso yang berada di sendoknya.


"Sampai kapan mau gini? Sekarang masih ngerokok?" Tanya Ratu serius, terlihat dari raut wajahnya yang sengaja Gavin perhatikan.


"Nggak tahu gue juga. Gue masih ngerokok, kenapa? Lo mau ngerokok juga?"


Ratu memutarkan kedua bola matanya. Lagi-lagi Gavin tidak pernah serius.


"Lo harus berubah!"


"Pasti"


"Kapan?"


"Ketika gue harus merasa pantas untuk seseorang. Itu artinya gue harus berubah"


Ratu masih mencerna perkataan Gavin barusan. Dan sudah Gavin pastikan jika Ratu tidak mengerti ucapannya karena itu tergambar jelas dari raut wajahnya.


"Ketika gue harus pantas untuk lo itu artinya gue harus berubah" ucap Gavin yang langsung diberi tatapan tidak percaya dari Ratu.


Dan bertepatan pada saat itu, jantung Ratu juga berdetak kencang.


"Bantu gue menjadi seseorang yang pantas buat Lo" pinta Gavin.


Dengan ragu-ragu Ratu mengangguk kepalanya pelan.

__ADS_1


"Ratu" panggil seseorang tiba-tiba muncul dihadapannya Ratu dan Gavin.


"Ada apa kak?" Tanya Ratu pada seseorang yang dipanggilnya kak itu.


Gavin menatap tajam seseorang yang dipanggil Ratu dengan sebutan kak itu, dan seseorang itu bernama Deva. Yang tidak lain adalah tokoh utama dimasa lalu Gavin.


"Ikut gue dulu yuk. Ada yang mau gue omongin" pinta Deva dan Ratu menganggukkan kepalanya.


"Gue kesana dulu ya" pamit Ratu agak canggung ketika harus mengatakan itu pada Gavin.


Gavin mengangguk pelan. Kemudian Deva dan Ratu pergi meninggalkannya.


...^,^,^,^...


"Mau pulang bareng?" Ajak Gavin seraya mensejajarkan langkahnya dengan Ratu.


"Nggak" tolak Ratu dengan nada kesal.


Ada apa lagi? Tanya Gavin didalam hati.


"Ratu Lo kenapa?" Tanya Gavin dengan nada sedikit tinggi, ya dia tersulut emosi.


Tidak ada jawaban dari Ratu. Ratu mempercepat langkahnya.


"Ini udah sore. Lagian sebentar lagi hujan. Udah gue anterin pulang ya" kata Gavin setelah ia menghembuskan nafas panjang.


"Maksud kamu apa peluk-peluk Kayla?" Tanya Ratu dengan bibir yang bergetar. Bisa Gavin lihat, air mata terbendung di pelupuk matanya. Ratu menghentikan langkahnya dan Gavin juga.


Tunggu. Kamu? Sejak kapan Ratu memanggil Gavin dengan sebutan Kamu? Dan memeluk Kayla. Seingat Gavin itu terjadi setelah dua Minggu yang lalu. Sebelum Gavin memutuskan untuk tidak bersekolah. Dan kenapa Ratu bisa tahu sekarang?


"Kapan?" Tanya Gavin dengan nada pelan.


"Waktu itu. Malem-malem" jawab Ratu seraya menitihkan air mata.


Ratu menangis. Kenapa harus menangis?tanya hati Gavin.


"Ratu tahu dari siapa?"


"Kak Deva" jawab Ratu pelan.


Seketika Gavin ingin memakan hidup-hidup Deva. Untuk apa dia mengatakan itu pada Ratu? Dan kenapa dia bisa tahu Gavin memeluk Kayla waktu itu?


"Nanti gue jelasin kalo gue sama dia nggak ada apa-apa. Gue kan ada apa-apanya cuma sama Lo, gimana sih ini?" Kata Gavin yang mulai frustasi.


Ratu tidak mengatakan apapun. Dia menghapus jejak air mata di pipinya. Gavin ingin menenangkan Ratu dipeluknya tapi ahh..


"Deva ngomong apa aja sama Lo?"


"Ya ngomongin itu dann" jawab Ratu menggantungkan ucapannya.


"Dan apa?" Tanya Gavin penasaran, sekali.

__ADS_1


"Dan dia ngomong kalo dia suka sama gue dan dia nawarin gue jadi pacarnya" jawab Ratu.


__ADS_2