
~ Mansion Lambert ~
Zach pun dengan langkah gagah beraninya mengikuti langkah kaki Austin yang tingginya sama dengannya yakni 190 cm, pria tua yang masih tampan di usia 65 tahunnya itu pun memiliki aura yang sangat berwibawa tak heran gadis secantik Jelita dibuat tak berkutik dan jatuh ke dalam pesonanya.
~ Ruang Kerja ~
"Duduklah Zach!"
"Hmm terima kasih om."
"Zach bagaimana kalian bertemu?"
Austin pun mulai membuka obrolannya dengan santai dan ramah pada Zach.
"Yah om, ini juga demi Brianna, saya bertemu dengan Briana saat saya memimpin misi razia di sebuah club' malam."
Deg!
Jantung Austin berdegup kencang kala mendengar tentang perkataan Zach yang gak pernah di duganya sama sekali anak gadisnya itu bakalan senakal dan seliar ini.
"Ya tuhaaaan! Mungkin ini memang salahku yang tak pernah memperhatikannya selama ini."
"Hmm ya saya rasa juga begitu om, Briana merasa tak di perhatikan dan kesepian, keluhannya kalau om dan Tante yang jarang sekali dirumah, selalu keliling luar negeri dalam rangka perjalanan bisnis."
"Oww Briana yang malang, lalu apakah kamu juga pernah menahannya di kantor polisi, karena selama ini aku belum pernah sama sekali di panggil ke kepolisian akibat ulah gadis itu?!"
"Tidak om, saya sudah memback up dan mencegah agar anak buah saya tidak membahas lagi soal pemeriksaan urine pada Briana, waktu itu setelah mengantarnya pulang, saya pun kembali bertugas."
Zach menjawab dengan jujur apa yang terjadi dan bagaimana Zach dengan nalurinya yang sudah memendam rasa suka pada gadis usil itu, tanpa memberitahukan apa saja yang terjadi pada malam di Penthouse Briana yang pasti sangat panas dan penuh naf su.
"Baiklah mulai sekarang sepertinya aku harus lebih memperketat penjagaan pada Briana ya Zach?"
Deg!
Detak jantung Zach seketika berdegup kencang jangan sampai Ana dikurung setelah kedapatan suka main ke club malam tanpa sepengetahuan orang tuanya.
__ADS_1
"Ohh kalau sekarang Briana sudah punya saya om, saya nggak akan pernah membuatnya kesepian."
"Jadi maksudmu aku bisa mempercayakan Briana padamu Zach? Sekarang katakan dengan jujur sudah sejauh mana hubungan kalian?"
"Kami baru berpacaran sejak 1 Minggu yang lalu om. Kualitas hubungan itu kan tidak bisa dilihat dari lama tidaknya hubungan itu terjalin om?"
"Sekarang katakan? Apa kamu serius dengan perkataanmu tadi? Berapa jarak usia kalian berdua?"
"Ya saya serius om, saya serius ingin menjaga Briana, saya serius dengan perkataan saya, usia kami terpaut 15 tahun?!"
"Aa hh baiklah, aku percayakan Briana padamu Zach tapi mulai malam ini Briana nggak boleh tinggal di penthousenya. Aku rasa Penthouse itu yang membuatnya kelewat bebas?"
Ucap Austin sambil mengelus sendiri brewok di sekitar bibir dan pipinya kala memikirkan apa yang akan di rencanakannya nanti pada anak gadisnya jika Briana kembali ke penthousenya sendirian.
"Hmm om bisa percayakan pada saya. Kalau harus kembali kemari saya khawatir jarak tempuh kampusnya dari sini yang terlampau jauh membuatnya cepat lelah, saya akan berusaha memantaunya keamanannya kalau om mengijinkan?!"
Austin pun berfikir sejenak. Lalu pandangannya menghunus tajam ke mata Zach. Ingin mencari kebusukan di mata itu namun sepertinya tak di temukannya sama sekali. "Zach, siapa nama keluargamu?"
"Maaf, saya bukanlah anak orang berada om, kedua orang tua saya adalah buruh tani, dalam 5 tahun ini saat saya sudah bisa memberi orang tua saya hidup yang layak, barulah kami dipandang oleh para tetangga dan menjadikan ayah saya lurah di desa itu."
"Hmm jadi om tahu? Ibu bilang mereka menemukan saya di depan gubug seorang diri di dalam box bayi, tiap hari ibu meninggalkan sepucuk surat di gubug itu untuk memberi tahu orang yang meninggalkan saya disana khawatir mereka meninggalkan saya dengan cara tak sengaja, maka dari itu ibu ingin memberitahu kalau bayi itu sekarang di asuh oleh pasangan suami istri Sutejo dan Sumiarti agar mereka bisa mencari keberadaan saya di lain hari.""
"Namun sampai saya berusia 35 tahun ini pun tak ada satupun yang mencari keberadaan bayi itu."
"Hmm baiklah Zach, aku rasa orang tua kandungmu juga tersiksa, saat kehilangan anak yang sangat berarti dan berprestasi sepertimu." Kemudian Austin pun memberi tepukan di bahu kanan Zach dan hendak meninggalkan Zach dari ruang kerjanya.
Lalu . . .
"Tunggu om? Jadi apa saya boleh menjaga Briana dan memperhatikannya sebagai kekasih saya om? Apa om merestui hubungan kami?"
Lalu Austin pun menghentikan langkahnya sejenak. "Itu tergantung Brianna Zach jika memang Briana bahagia dengan pilihannya aku sebagai orang tua hanya bisa mendukung keputusannya." Austin pun kemudian beranjak menuju ke ruang keluarganya kembali untuk menjemput Jelita sang istri.
~ Ruang Keluarga ~
"Ehek ehek mom, Ana takut Zach akan di pukuli oleh Daddy mom, ehek ehek."
__ADS_1
Briana yang ketakutan setengah mati pasti hubungan keduanya akan putus di tengah jalan.
"Apaan sih Daddy tuh pria kesayangan mommy yang nggak pernah melakukan kekerasan bahkan pada nyamuk sekalipun kecuali nyamuk itu menggigit mommy barulah Daddy naik pitam."
"Benarkah mom?" Lalu Ana pun menoleh kearah Austin yang sedang berjalan kearahnya sontak Ana pun berlarian ke arah ruang kerja Austin tanpa menghiraukan Austin sama sekali.
Austin pun menoleh melihat perubahan anak gadisnya yang sudah berubah dewasa dalam waktu singkat pikirnya. Lalu pria tua tampan itu pun menggeleng gelengkan kepalanya tanda heran dengan sikap gadis kecilnya yang sudah bisa merasakan jatuh cinta pada pria matang rupanya.
"Sudahlah om, begitulah cinta, jadi ingat masa mudaku dulu, yang bisa jatuh cinta pada om satu ini yang adalah ayah kandung mantan tunanganku yang sekarang menjadi anak tiriku hmmmpphhhff hmmppff."
Sementara itu Brandon yang asyik nge-game pun seketika pergi dari ruang keluarga itu kala sang Daddy dan Mommy yang sudah tak tahu tempat selalu menunjukkan kemesraan keduanya tanpa melihat kanan kiri.
"Waktunya kabur nih, mom and dad go get a room please!" ( mommy dan Daddy lanjutkanlah di kamar!)
Sarkas Brandon yang melengos saja melihat kemesraan keduanya yang selalu tak kenal tempat.
"Ssshhh om ke kamar yuk, nggak enak dilihat yang lain, pasti setelah ini kamu meminta yang lain."
"Baiklah ratuku ayo."
Jelita yang sudah tak tahan untuk memberi jatah pria tua yang masih tak terlihat tua itu pun melesat menuju kamar utama mereka di lantai 4.
Ruang Kerja
"Zach, Zach ooww Zach, are you okay?"
Tanya Briana pada kekasihnya yang baru di ketahuinya hari ini jika keduanya adalah sepasang kekasih.
"Hmm kemarilah?" Zach pun menarik saja tangan lentik gadis itu untuk berpangku diatas paha Zach.
"Ana ayo kita putus?!"
Deg!
"Apa?!"
__ADS_1
To be continued . . .