
~ Rumah Sakit Harapan Kasih, Padang ~
"Heh denger ya, gue emang ga sealim Lo? tapi gue pikir mantan penjahat lebih baik dari mantan ustad ye nggak?" Briana pun pergi dari kamar VVIP tempat Zach meregang nyawa. Brianna pun lagi-lagi meneteskan air matanya kala jatuh cinta pada pria tampan dengan segudang prestasi seperti Zach tentunya bukan perkara mudah.
Hanisti pun mengerutkan keningnya hingga alisnya tersambung sempurna seraya kesal pada kata kata menusuk Briana yang berhasil membuatnya tersindir dan kalah telak
"Heh? Jaga mulut kamu?! BLA BLA BLA . ."
Briana pun pergi sambil melambai tanpa melihat ke arah Hanisti sambil menggerakkan tangannya seperti bibir bebek.
Briana harus siap bersaing dengan gadis desa yang mengatasnamakan keperawanan sebagai senjata utama untuk menarik laki-laki sepertinya. Namun, Briana tak bergeming karena sekuat tenaga dijaganya keperawanannya seperti sang mama selalu mengajarkan padanya
Padahal dia bukan anak orang kaya, juga bukan pula crazy rich yang bisa membawa Brianna keliling dunia kelak. Tapi mungkin ada kalanya adrenalin kita selalu terpompa jika harus bersanding menjadi istri seorang abdi negara, yang harus selalu siap ditugaskan ke belahan bumi lain untuk membela negaranya.
Lalu Briana dengan muka masam tapi sudah sedikit lega karena sudah membalas perlakuan Hanisti padanya dan baru menyadari jika batere ponselnya yang habis untuknya memesan taxy online di daerah itu. Namun mobil BMW X5 sang mantan kekasih yang masih teronggok disana denga kuncinya tentu saja masih dibawanya serta membuatnya sedikit lega.
"Huft untung aja, gue masih bisa Malik ke mess rupanya. Hahahaha gue bawa mobil Lo Zach, biar Lo lama berduaan ama tu perempuan sok alim, bye!"
Serunya pada dirinya sendiri karena kekesalannya yang sudah memuncak pada mantan kekasihnya yang semakin lama semakin menjengkelkan dengan deretan wanita yang selalu mengelilinginya seperti semut merah yang siap menggigit Briana kapan saja jika Briana berulah dan hendak merebut Zach dari sisi mereka.
* * *
Keesokan harinya . .
17.00 sore menjelang malam
~ Balai Kependudukan ~
Seluruh pasien vaksin Corona pun sudah di tangani tanpa terkecuali. Hari ini Ratna, Brian dan juga Dani menangani sekitar 100 pasien dari berbagai penjuru desa yang masuk kelurahan yang di kepalai oleh pak Sutejo.
"Nah beneran kan gue udah curiga tuh pak pol pasti demenya Ama Lo yang membahana berkilau sepanjang masa siapa yang bisa menolak coba? Pesona si Briana idola dokter muda se fakultas. Dokter spesialis juga kali kalo ada yang masih jomblo?!"
"Huss.. jaga mulut Lo tar orangnya Bu lurah denger bisa berabe dong gue?!"
__ADS_1
"Biarin emang kenyataannya begitu, elo tuh harus memperjuangkan cinta Lo Na, nah sekarang gue tanya ama Lo, elo tuh masih demen ngga ama tuh pak pol bule?!"
Lalu Briana pun menganggukkan kepalanya sambil melengos ke arah berlawanan karena tanpa sadar air matanya luruh tak terhingga di pelupuk pipinya.
"Tapi kayanya si Zach udah ngga peduli lagi ke gue Rat, biarlah gue harus tegar menghadapi ini semua."
"Ah mana nih Briana yang bar-bar penuh percaya diri, urakan, selalu berusaha ngedapetin apa yang Lo mau, jangan nyerah di tengah jalan dong? Udah Allah tuh ngga tidur, kalo memang kalian berdua saling cinta maka tak ada lagi yang perlu di khawatirin sih, udah ah nih tisue."
"Thanks."
Ucapnya singkat sambil mengusap air matanya dengan tisue yang di berikan oleh Ratna sahabatnya sejurusan seangkatan juga senasib sepenanggungan.
Sroooot srooot!
"Nggak ada elo ngga rame Na, hajar aja tu kalo perlu, cewek sok suci macam begitu pen gue bejek bejek biar modiar! Emangnya jadi jaminan penampakan fisik alim dalemanya masih orisinil?"
"Mending elo tuh penampilan urakan tapi masih orisinil elo masih jaga kesucian Lo walau si pak pol terus aja pen jebol pertahanan Lo dari dulu untungnya elo kuat iman, coba kalo gue sebelum dirayu Ama tu pol ganteng pasti udah gue serahin kesucian gue tanpa sadar terhipnotis akan wajah paripurnanya."
"Ya sudah Rat, biarlah gue juga ngga mau makin sakit hati, biar dia yang berusaha ngedapetin cinta gue lah, masa iya gue yang ditinggal gue juga yang harus ngejar-ngejar ah ogah ngga mau gue, enak aja!"
"Ya udah, kalo keputusan lo kaya gitu, terserah elo deh, kayaknya udah hampir jam 6 Na yuk balik? Lagian jangan terlalu malam tuh si Dani udah lebih dulu ninggalin kita, takut juga gue kalo sampe jalanan sepi, kita cewe cewe begini."
"Ahh ngga apa-apa gue bawa jarum suntik tar biar tancepin aja virus rabies ini ke leher bajingan yang nekat ngeganggu kita."
Sarkas Brianna sambil membawa serum virus ke dalam tas tangannya tak lupa memasukkan serum itu tepat di jarum suntiknya terlebih dahulu untuk berjaga-jaga bila ada penjahat yang hendak mengganggu keamanan kedua gadis itu maka mereka sudah tenang.
Setelah 30 menit berjalan keduanya pun sampai di mess yang sederhana yang sangat jauh dari kata mewah seperti keseharian keduanya di Jakarta dengan segala fasilitas yang tersedia di kediaman masing-masing di karenakan keduanya adalah anak orang berada.
Perlu di garis bawahi jaman sekarang kuliah di jurusan kedokteran tentunya haruslah anak dari orang mampu karena jika tidak maka pastinya jalannya perkuliahan yang memerlukan
"Eh mobilnya masih Lo tahan disini Na? Terus Lo nggak ada niat buat ngembaliin gitu?"
Briana lagi-lagi mendengus kesal. "Huft males gue kalo harus ketemu Ama tuh perempuan bermuka dua?"
__ADS_1
"Apa perlu gue antar? Tar pulangnya kita naik taxol aja?"
"Apaan taxol? Gue masuk kamar dulu, mau mandi."
"Taxy online!""
Teriak Ratna tapi Briana hanya mendengarkannya sambil lalu dan
Ceklek!
"Hmm capek banget pegel banget."
Ucap jengah Briana sambil membaringkan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur sederhana dengan dipan kayu sehingga berbunyi . .
Kriek!
Saat tubuhnya menimpa tempat tidur itu.
"Aduuhh, pen pulang pen bobo di kamar gue, kangen bantal kesayangan gue?"
Ucapnya sambil memejamkan matanya lalu perlahan lahan membuka satu persatu kancing bajunya dan resleting celananya lalu melepaskannya di atas tempat tidur itu lalu melemparkannya sembarang. Sekarang penampakan gadis itu pun hanya memakai bra dan cela na da lamnya hingga terbukalah semua penampakan mulus tubuh seputih susu gadis itu hingga membuat seseorang yang menyelinap di dalam kamarnya pun berhasil menelan ludahnya kasar.
Gleg!
"Ehhmm bantal yang penuh iler itu kan?"
Deg!
"Zach!"
To be continued . .
Koment penyemangat nya dunk biar otor semangat?😘😘
__ADS_1