Razia Cinta Polisi Tampan

Razia Cinta Polisi Tampan
Mangkir . . .


__ADS_3

Kemudian Briana, Ratna dan juga Dany pun berangkat dengan berjalan kaki sambil hawa dingin yang menusuk membuat ketiganya pun sukses berpakaian rapi dan sopan ala dokter bijaksana yang sangat jauh dari kata binal seperti pakaian yang biasanya dipakai oleh Briana saat beredar di club malam.


~ Balai Kelurahan ~


Acara pertunangan di gelar sangat meriah dengan adat Padang yang khas disana sini. Musik daerah pun berkumandang melantun indah mengiringi acara khidmat yang beberapa menit akan dimulai. Tampaklah Hanisti sang calon tunangan sudah duduk di deretan tepat di depan bersama ayah dan ibunya sedangkan di belakangnya sudah berjejer iring-iringan keluarga yang duduk berdampingan dengan sabar menunggu keluarga lelaki yang belum juga tampak siap menduduki tempat yang telah di sediakan.


Terlihat Briana yang memasang wajah tegar dengan senyum di wajah cantiknya yang menghiasi outfit dress selutut berwarna putih tampak sewarna dengan kulit tubuhnya yang juga seputih susu membuatnya menjadi pusat perhatian di pesta yang bukan miliknya itu. Briana pun menepi dengan menolak beberapa ajakan kenalan dari pemuda-pemuda desa yang sepertinya ingin mencuri perhatiannya sedari tadi. Brianna pun menyendiri dengan alasan yang kurang masuk akal. "Rat gue, ke pinggiran itu ya sambil lihat pemandangan, acaranya lama deh?"


"Oohh ya udah gue lagi konsen ngabisin makanan nih An, sambil cuci mata dan penasaran kok tunangan cowoknya belum nongol ya? Jangan-jangan."


"Heh ngaco Lo Rat, jangan-jangan apa?"


"Jangan-jangan doi nyesel dari belakang ngintip elo kok cantik banget, pengen tukar pasangan aja katanya gitu?!"


"Dasar cewek sableng Lo! Gue kira Jangan-jangan apaan?! Ternyata elo tuh emang ratu ngelantur."


"Pffttt padahal gue penasaran banget gimana wajah perwira polisi itu, dengar-dengar mirip bule dan ganteng banget, beh gimana nggak meleleh punya calon suami kaya begitu."


"Heh iya Rat gue aja udah di buat jungkir balik Ama dia eh, malah di tinggal gitu aja, dasar emang cowok breng sek ga ada akhlak!" Gumam Briana pelan kala deru hatinya sudah yakin bahwa tunangan laki-laki Hanisti itu memanglah Zach orangnya.


2 jam kemudian tampak jam sudah menunjukkan pukul 9 malam namun masih tak tampak keluarga tunangan pria berkumpul di kursi yang telah di sediakan. Briana yang melihat keanehan itu pun akhirnya ikut bergabung dengan Ratna dan teman-teman KKNnya yang lain. "Ada apaan Rat?"


"Itu katanya si tunangan kena musibah saat menangkap gembong narkoba."


"Apa?!"


Deg!


Jantung Briana berdetak tak karuan. Kalau memang calon tunangan Hanisti ini adalah benar memang Zach biarlah, Briana ingin membantu mantan kekasihnya yang sedang terluka mungkin untuk terakhir kalinya sebelum melepasnya berbahagia dengan pasangannya yang baru. Briana pun berlari sekencang mungkin untuk mengikuti mobil rombongan Hanisti yang hendak melaju menuju tempat kejadian.

__ADS_1


"Ohh nak dokter? Apa nak dokter bersedia membantu anak Bundo yang terluka di hutan?"


"Iya Bu syukurlah saya juga kebetulan membawa perlengkapan kedokteran saya. Kalo begitu ayoo tunggu apa lagi?" Ucap Briana mengajak rombongan itu untuk bergegas menuju TKP ( Tempat Kejadian Perkara.)


"Baiklah Ayoo semua nak dokter sudah siap membantu?"


Terlihat Hanisti yang sepertinya juga mengenal nama Briana saat keduanya di pertemukan dalam panggilan video 3 bulan yang lalu. Hanisti yang mengenakan pakaian pestanya dan make up tebal yang sudah menempel membuatnya seperti bukan Hanisti. Wajahnya menjadi semakin cantik walau berbeda dari penampilan Briana yang sangat terlihat elegant tanpa make up berarti namun sudah menampakkan kecantikan alaminya.


Perjalanan . . .


"Edi, Doni dan Tono bantu nak dokter nanti ya jangan diam aja."


"Siap bi, kami bertiga akan siap membantu dan siaga apalagi kak dokter begini cantik siapa yang tega membiarkannya berkerja sendiri ya nggak?"


"Hey dilarang mengganggu nak dokter ya? Kalo sampai bibi tahu kalian bertiga menggodanya bibi akan tinggalkan kalian bertiga di hutan."


"Siap bi." Ucap sigap ketiga pemuda itu sambil masih melihat nyalang penampakan cantik Briana di belakang mobil Innova yang untungnya di pisahkan oleh Sumiarti agar Briana tidak lagi di ganggu oleh ketiga pemuda keponakan si Sutejo ayah Zach.


30 menit kemudian . . .


"Lapor Capt! Bala bantuan datang, disana sudah ada calon tunangan capt dan juga dokter muda yang sedang KKN di kelurahan ayah capt!" Ucap Deni yang setia mengikuti kemanapun Zach di tugaskan.


"Arggh! Kenapa keluargaku juga sampai harus datang kemari, siapa sebenarnya yang memberi kabar kalo aku kena musibah Den yang goresan di lengan kananku saja ini bukan apa-apa Den!""


"Saya kurang tau bos. Yang jelas tidak mungkin kami memberi kabar kepada keluarga bos kalo bos mangkir dari acara pertunangan yang sudah di gelar meriah tapi sang tunangan tidak juga hadir disana. Tapi darah boss masih mengucur boss, lukanya lumayan dalam tetap harus di jahit sepertinya bos."


"Permisi, apakah pasien bisa duduk disini saya akan memeriksanya?" Ucap Briana yang menutupi wajahnya dengan masker sehingga hanya terlihat matanya saja dengan rambutnya diangkat ke atas.


Lalu Zach pun segera duduk di kursi tepat di depan gadis cantik yang memakai dress pesta serab putihnya yang pasti nanti akan menjadi korban akibat darah yang mengucur deras dimana-mana. Zach yang tak pernah peduli dengan wanita mana pun yang bertingkah aneh di depannya malah semakin curiga dengan gerak-gerik Briana yang menurutnya tak pantas menjadi dokter dengan penampilannya yang glamor dan tak sesuai sikon.

__ADS_1


"Hey dok, sebenarnya apa yang anda lakukan di hutan belantara ini kalau memang tak ada niat untuk mengobati pasien kenapa anda ikut dengan rombongan dengan pakaian pesta seperti ini."


"Dasar cowok breng sek nggak tau diri seenaknya aja ngatain orang tak tau tempat! Sudah tau gue ikut kemari karena peduli akan keselamatanya eh kini malah tiba-tiba marah tak karuan! Gue benci banget ama Lo! Nggak mati aja sih sekalian!" Geram Briana dalam hatinya.


"Diam dan turuti saya pak, siapa suruh anda sebagai tunangan mangkir dari acara pertunangan anda hingga kami para tamu undangan terbengkalai seperti ini? Mana ada acara pertunangan minus tunangan laki -lakinya malah sibuk dengan urusan pekerjaan."


"Saya berpakaian seperti ini karena tadinya akan mendatangi acara pertunangan anda." Sambil menyuntik sekeliling luka sobek selebar 10 cm itu dengan obat bius, Zach sedikit curiga dengan suara familiar yang tertutup masker yang mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang sudah di tinggalkannya tanpa kabar berita dan pamit terlebih dahulu.


"Argghh! Pelan-pelan dok, memangnya anda ini siapa mau menghakimi acara pertunangan orang lain, mau saya hadir atau tidak itu bukan urusan anda!"


"Ck! Diamlah pak! Sebentar lagi rasa nyerinya perlahan akan hilang terkena bius, saya akan menjahitnya pak, ambil nafas panjang-panjang okay?!"


Zach melihat penampakan dokter itu dari dekat dengan tak berkedip. Betapa wajah yang tertutup masker itu mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang tiga bulan lalu di tinggalkannya tanpa kabar.


30 menit kemudian . . .


"Baiklah jahitannya sudah selesai. Saya permisi dulu!"


Briana pun pamit dari hadapan Zach untuk segera pergi melanjutkan perjalanannya kembali ke mess KKN nya.


"Tunggu! Katakan siapa namamu?"


"Nama? Apa arti sebuah nama? Itu juga bukan urusan anda?!"


"Baiklah karena disini cuma ada kita berdua, kenapa tidak kamu buka saja masker ini hah?!


Deg!


"Heh! dasar nggak sopan! Dasar brenghmmphhpfff!" Briana yang mengumpat kesal karena Zach tiba-tiba mengambil maskernya dan mencium bibirnya tanpa ijin.

__ADS_1


To be continued . .


__ADS_2