
"A aahh Zach Lo gilaahhmmmphh!" Ucap Briana yang sudah di pepet sampai menempel di pintu tenda yang apabila semakin berat maka akan runtuh tenda dadakan untuk menampung para polisi korban kekejaman penjahat narkoba disana.
Zach yang tak bisa menahan kerinduannya selama 3 bulan terpisah karena gengsinya yang begitu tinggi untuk puasa menghubungi Briana pun akhirnya tuntaslah sudah di malam ini. "Aku kangen banget ama kamu jelek, please jangan pergi lagi!"
Pinta Zach pada gadis cantik yang kini, tubuh rampingnya sudah di dekapnya erat dengan tangan kanannya itu.
"Heh?! Sekarang gue tanya siapa yang pergi, terus di pindah tugasin ke Padang juga nggak pamit, siapa yang sengaja? Terus di tunangin? Elo ngga bisa jawab kan sekarang? Elo kira gue cuma bisa bisa Nerima setelah mempermainkan hati gue seenak jidat Lo heh dasar cowok breng sek!"
"Kejadiannya nggak seperti itu Ana, biar aku jelasin."
"Stop! Udah lo kira gue nggak punya sakit hati Zach, makanya saat Bu lurah ngundang gue ke acara pertunangan anaknya gue yang tadinya malas datang, gue sempetin datang, eh ternyata dugaan gue bener, elolah calon tunangan prianya. Igh elo tuh cowok terjahat yang pernah gue temuin di dunia ini hiks, hiks elo jahat banget Zach elo tega ke.gue!"
Lalu tangis Briana pun terjeda kala sang ibu masuk ke dalam tenda untuk mencari tau bagaimana keadaan anaknya yang terluka tadi. "Oh nak dokter apa terjadi sesuatu dengan anak saya."
Beruntung Briana dengan sigap memakai kembali maskernya yang sudah di buang Zach sembarang tadi di lantai. "Oh pak Zacch sudah baik-baik saja Bu, saya permisi keluar dulu."
"Bu aku baik-baik aja, ibu sebaiknya kembali pulang, dokter Briana biar aku yang mengantar okay, assalamualaikum."
__ADS_1
Pamit Zach yang ternyata baik-baik saja dan musibah yang membuat acara pertunangannya terpaksa dibatalkan yang sepertinya hal itu hanyalah akal-akalannya saja.
"Zach apa maksudmu? Tunggu Jek Jeki!"
"Sudah sudah Bun ajak yang lain balik, abak masih harus mengurus segala sesuatunya disini. Soal pertunangan si Jeki lebih baik tunggu putramu yang sibuk itu berinisiatif sendiri jangan tiba-tiba membuat acara tanpa tahu jadwalnya terlebih dahulu lagi pula penjahat ada dimana-mana Bun, jangan seenaknya sendiri?!"
Nasihat Sutejo pada istrinya yang sudah tak tahan menunggu Zach agar segera melepas masa lajangnya.
"Ana tunggu tunggu! Masuk ke dalam mobil." Pinta Zach agar Ana masuk kedalam mobil BMW X5 nya yang di gunakan untuk mencapai Medan terjal jalanan hutan yang becek dan juga berliku. "Pergi Zach, jangan muncul lagi ke hidup gue! Aww Zach tangan Lo bisa berdarah lagi, Zach turunin, okay okay gue ikut, tapi turunin dulu, sini gue lihat luka Lo?! Ck Lo sengaja ya?"
Zach pun akhirnya nekat menggendong saja tubuh mungil Briana ala bridal style, gadis cantik yang sudah di tinggalkannya tanpa kabar selama tiga bulan itu pun akhirnya iba padanya karena tangannya yang baru di jahitnya tadi itu pasti akan semakin terluka.
Lalu tujuan semula untuk mengantarkan pulang Briana pun akhirnya terpaksa harus berubah haluan. Kini Zach pun tak berkutik, luka Zach yang cukup parah di tangan kirinya pun bereaksi terhadap seluruh badannya kini.
"Ana, pegang tanganku." Pinta Zach sambil membelai wajah cantik yang sudah sangat dirindukannya itu.
"Zach berbaringlah dan pejamkan mata jangan banyak bergerak, tar darahnya makin banyak yang mengucur."
__ADS_1
45 menit kemudian Zach yang sudah di beri obat anti nyeri seadanya oleh Briana tadi pun akhirnya tak kuasa menahan sakitnya kini hingga badannya pun seketika mengalami demam dan menggigil.
Rumah Sakit Harapan Sejahtera, Padang.
Kamar VVIP
"Ana jangan pergi." Ucap manja Zach saat selang infus sudah dipasang dan ditancapkan ditangannya baju pasien juga sudah di pakaikan ke tubuh pria tampan itu hingga sampai kini pun di atas tempat tidur pasien Zach masih tak mau tertidur karena takut Briana akan raib lagi dari hidupnya.
"Hmm gue disini Zach, iya gue akan dampingin loh?! Sekarang istirahatlah."
1 jam kemudian Briana yang tersidur dengan menggenggam tangan kanan Zach di pinggiran tempat tidur pasien itu pun terbangun kala seorang gadis berusia sama mudanya dengannya namun memakai hijab membangunkannya dengan terlebih dulu melepas genggaman tangannya dari tangan sang calon tunangan.
"Hei nama kamu Briana kan? Sekarang pulanglah tugasmu sudah selesai, aku akan merawat kekasihku sekarang, aku sudah tak membutuhkan bantuanmu."
Ana yang masih berusaha sekuat tenaga menyatukan nyawanya kembali pun akhirnya dapat membuka matanya dengan sempurna dan tampaklah seorang wanita santun dengan hijab yang sudah dandan dengan rapi, jauh dari penampilannya saat ini yang masih bercampur darah sang pujaan hati keduanya dan rambut yang acak-acakan namun tak mengurangi pesona kecantikannya sedikit pun.
"Ah Baiklah aku akan pergi, tapi ingat satu hal semakin kamu mencoba untuk merubah perasannya hingga berbalik kepadamu, kamu akan makin gigit jari, dasar wanita bermuka dua."
__ADS_1
"Heh! Itu bukan urusanmu!" Sarkas Hanisti tak kalah posesif kala miliknya terancam terebut oleh Briana.
To be continued . . .