
"Ah iya, mungkin Maicha hanya bergurau saja." Momny Viona melihat sekeliling kamar yang di tempati oleh Maicha. Cukup luas dan megah, ia yakin Maicha pasti menyukainya. Tidak kalah luas dengan kamar yang di tempati putrinya dulu.
"Leo, kenapa di atas sofa ada dua selimut?" tanya mommy Viona. Rasanya sangat aneh melihat dua selimut yang berada di atas sofa. Tidak mungkin Maicha dan Leo tidur di tempat terpisah, jika pun mereka tidur berpisah, lalu kenapa harus ada dua selimut, seharusnya hanya satu selimut saja.
Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung harus mengatakan apa. "Sehenarnya, tadi ... Tadi aku hanya melihat-lihat saja Mom. Iya, maksudnya memiluh selimut yang di sukai Maicha."
"Di sukai?" Mommy Viona mengerutkan dahinya. Putrinya tidak mungkin memilih selimut yang di sukainya. Dia tidak pernah memiliki keanehan seperti itu.
"Au."
Jantung Leo seakan keluar dari tempatnya, tubuhnya menegang dan ketakutan bagaikan angin yang membuat tubuhnya semakin panas.
"Leo, itu suara siapa?" tanya Mommy Viona. Dia mendengarkan suara seseorang.
"Mungkin suara Maicha Mom, tadi kan dia melantur Mom."
Mommy Viona menggeleng, tidak mungkin kedua telinganya salah. Ia yakin, ia mendengarkan suara seseorang.
"Leo, kau tidak menyembunyikan sesuatu kan?"
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Iya." Mommy Viona bersuara. Dia pun mendorong kursi rodanya ke arah pintu.
Leo memegang dadanya, ia menghembuskan nafasnya yang terasa panas. Hampir saja semuanya terbongkar. Dia menoleh dan melihat mommy Viona yang berbincang dengan salah satu pelayan dan mommy Viona pun pergi. Leo langsung bergegas ke kamar mandi dan melihat Audrey, satu tangannya menekan dinding dan melihat ke arah kakinya.
"Audrey! Apa yang kamu lakukan? Kenapa bersuara? Hampir saja mommy Viona curiga."
Audrey menahan geramnya yang tertahankan, tidak bisakah pria di depannya menanyakan keadaannya, bukan malah menegurnya dan hingga membuatnya sangat kesal. "Kau tidak menanyakan keadaan ku? Lihat Leo, kaki terkilir dan kau hanya bisa marah pada ku?"
Leo melihat ke arah kaki Audrey, ia pun menatap iba. "Maaf,"
"Aku ingin ke rumah sakit sekarang. Kaki ku sangat sakit Leo."
Audrey ingin melangkah, namun Leo menghentikannya.
"Leo, aku tidak tahan lagi. Kaki bengkak, kau malah diam saja, sitt ...." Audrey meringis saat kakinya berdenyut.
Kepala Leo terasa cenat cenut mendengarkan ocehan Audrey. Ia tidak mungkin membiarkan Audrey keluar dari rumah ini. "Kau tahan saja, awas saja kalau kau berani keluar."
Audrey mengepalkan kedua tangannya, ia menatap pintu yang di tutup dengan kasar dan di balik pintu itu terdengar langkah kaki yang mulai menjauh.
Sedangkan Maicha, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan menuruni anak tangga. Dia sempat mendengarkan perdebatan Audrey dan Leo yang membuatnya jengkel dan langsung pergi. Niat hati ia ingin mencari ibunya, namun tepat sampai di ruang tamu. Kedua matanya terbelalak melihat seorang pria. Ia ingin berteriak dan berhambur memeluknya, namun ia harus tahan.
__ADS_1
"Kau sudah bangun, mommy tadi membangunkan mu dan kau tidurnya seperti kerbau yang tidak bangun-bangun." Mommy Viona menatap putrinya. "Duduklah, ini Andreas dia teman bisnis Daddy mu."
Mommy Viona kembali menatap Andreas. "Maaf ya tuan Andreas, putri ku memang seperti ini meskipun sudah menikah."
Andreas diam saja, suatu saat nanti saat ia menikah dengan Maicha, tentu saja ia tidak berniat untuk membuat istrinya bekerja di dapur. Ia yang akan melakukannya sendiri.
Daddy Albert melirik Andreas, ia memang sengaja mengajak Andreas ke rumah Leo, sekalian untuk memanasinya. "Maaf ya sayang, aku mengajak Andreas kesini. Sekalian sarapan bareng, aku dan Andreas belum sarapan. Aku merindukan ibu mu."
"Halah, mommy saja yang di rindukan, aku enggak." Maicha merengut, wajahnya di tekuk.
Gelak tawa pun langsung terdengar, wajah Maicha yang halus dan putih itu sangat lucu ketika sedang menekukkan wajahnya bagaikan benang kusut. "Ya sudah aku menyiapkan sarapan dulu."
"Sayang, jangan lupa cuci muka dulu." Mommy Viona berteriak dan kedua pria itu terkekeh geli.
"Daddy sudah dat ...." Perkataan Leo langsung berhenti ketika melihat seorang laki-laki di samping ayah mertuanya. Dadanya langsung panas melihat wajah pria itu.
Daddy Albert berdiri, ia suka melihat wajah Andreas yang berubah dingin. "Maaf ya, Daddy mengajak Andreas ke sini dan sekalian sarapan bersama."
Leo berusaha sabar di atas kemarahannya, dia mengangguk dan mengulurkan tanganya, seolah dia tidak kenal dengan Andreas.
"Leo."
"Andreas."
__ADS_1
Calon suami istri mu batin Andreas.
Leo menekan tangan Andreas dan meremasnya. Andreas pun hanya diam saja dan tak berniat untuk membalasnya.