
Seakan dunia runtuh, tubuh yang terdiri tulang-tulang pun rapuh seakan tak bernyawa. Air mata terus membanjiri kedua pipi putih dan mulus itu. Ingin sekali dia menangis dan berteriak, tapi untuk mengeluarkan kata-kata saja, bibirnya tak mampu.
"Maicha." Daddy Albert memeluk Maicha dari samping.
Daddy Albert pun tak bisa berkata-kata lagi, dadanya begitu sesak dan takut menghantuinya. Ia tidak bisa kehilangan istri tercintanya.
"Mommy Dad." Maicha tak bisa melihat ibunya terbaring lemah. Bahkan mengancam nyawanya. "Semua salah ku Dad." Maicha menangis pilu tepat di depan pintu ruang ICU.
"Mommy pasti sembuh." Daddy Albert menenangkan Maicha. Sebagai seorang ayah ia ingin menenangkan putrinya sekalipun hatinya tidak tenang.
"Ini salah ku Dad, ini salah Mai."
Daddy Albert memejamkan kedua matanya, ia mengecup kepala Maicha. "Bukan sayang, ini bukan salah mu. Kita berdoa, semoga Mommy baik-baik saja."
Daddy Albert membantu Maicha duduk di kursi tunggu. Sedangkan dia menunggu keluarnya sang dokter yang memeriksa istrinya. "Sayang, kau harus baik-baik saja. Aku berjanji akan membahagiakan mu."
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Suara sepatu beradu dengan lantai, langkahnya bagaikan harimau yang mengejar musuhnya. Ia menghentikan langkahnya saat melihat dua orang yang ia kenal. Beberapa menit yang lalu dia datang ke rumah mertuanya dan salah satu pelayan mengatakan kalau mertuanya sedang berada di rumah sakit.
Dia pun bergegas ke rumah sakit dan sampailah langkah kakinya di ruangan ibu mertuanya. "Dad, Maicha."
Maicha perlahan menoleh, air matanya mengalir dan tatapannya datar. Dia pun beranjak dan perlahan melangkah ke arahnya. Entah semenjak kapan tangannya langsung menampar pipi pria di depannya.
Tamparannya membuat pria itu syok dan menatap tak percaya ke arahnya. "Mai,"
"Pergi!! Aku muak melihat mu. Semua salah mu,"
Leo ingin menghapus air mata Maicha, namun dengan cepat Maicha menepis tangan Leo.
"Jangan menyentuh ku, tangan mu kotor."
__ADS_1
"Mai, maaf ...."
"Maaf? Setelah seperti ini kau mengatakan maaf? Dimana perasaan mu Leo? Dimana hati nurani mu?"
Daddy Albert menyela, "Pergilah, kau tidak di butuhkan di sini."
Leo menggeleng, ia ingin bersama menemani Maicha dan menjelaskan semuanya. "Leo bisa jelaskan semuanya."
"Kau mau menjelaska apa Leo? Kau tau alasan ku kenapa membenci Audrey? Karena dia anak dari wanita yang menyakiti mommy ku."
Bagaikan tersambar petir, Leo menatap ke arah Daddy Albert dan Daddy Albert menunduk.
"Itu alasan ku, Daddy ku pernah melakukan kesalahan tapi tidak seperti mu, dia tidak sampai menghamili kekasihnya dan berusaha kembali ke jalan yang benar. Sedangkan kau," Maicha menunjuk wajah Leo. "Kau tidak bisa berubah dan di harapkan. Aku akan secepatnya mengurus perceraian kita."
"Aku tidak mau bercerai, aku mohon berikan aku kesempatan Maicha." Leo memohon, ia ingin berubah dan membina rumah tangga. Baru ia menyadari kebersamaannya dengan Maicha.
"Kau gila? Kau tidak gila kan? Kesempatan? Audrey sednag hamil anak mu. Pasti kau baru mengetahuinya kan? Sebelum aku mengatakan pada Mommy, tapi ibunya Audrey mama mertua mu itu mengirimi foto ku dengan Andreas, semuanya kacau Leo. Kau dan kekasih mu itu penyebabnya. Lalu kau masih memiliki muka dengan meminta kesempatan. Seumur hidup aku tidak akan pernah memberikan kesempatan."
__ADS_1
Nyawanya seakan di tarik dalam sekejap, rasa sakit menggoroti seluruh tubuhnya. Rasa panas membakar jiwanya. Tubuhnya hampir sempoyongan dan jatuh ke belakang, namun ia tahan. Ia tidak percaya dengan perkataan Maicha, apa lagi fakta kalau Audrey sedang hamil.