
Angin berhembus membuat gorden putih itu melambai-lambai. Udara sejuk terasa udara panas. Kedua matanya tak berkedip, lurus ke depan seakan hidup dalam kekosongan. Dia menahan nafasnya sejenak dan kembali berbicara.
"Kau hamil?" tanya Maicha. Padahal ia jelas mendengarkan perkataan Audrey, tetapi ia ingin lebih jelas lagi. "Kau hamil? Selamat kalau begitu."
Ia terbangun karena suara ponselnya yang terus berdering dan akhirnya mengangkatnya setelah melihat nama Audrey di ponselnya. Ternyata ingin mengabari berita tentang kehamilannya.
"Kapan kau akan bercerai? Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tidak ingin perut ku semakin besar."
Sekalipun ia memiliki kekasih, rasanya masih sakit karena ia statusnya masih istrinya Leo. "Apa Leo tau?"
"Aku akan segera memberitahukannya." Audrey tak mendengarkan suara tangisan Maicha. Ia kira Maicha akan menangis seperti layaknya istri lainnya. Tapi ia mendengarkan suara Maicha yang tenang saja.
Maicha menghela nafasnya. Sepertinya hari ini ia harus menemui ibunya. Ia tidak bisa lagi menahannya. "Baiklah, aku akan berbicara dengan Leo. Aku tutup dulu," Ia mematikan sepihak dan menoleh ke arah pintu.
Maicha membuka pintu kamarnya dan melihat Leo yang berdiri.
Leo tersenyum melihat Maicha. Tanpa polesan make up dan menggunakan piyama tidur, Maicha sangat cantik. Terkesan natural tapi menawan. "Kau sudah bangun. Sarapannya sudah siap."
"Kau membuatnya?" tanya Maicha.
"Iya, aku menunggu mu untuk sarapan." Leo ingin berbalik, namun ia menahannya lagi dan mengusap pucuk kepala Maicha membuat Maicha tertegun sejenak.
__ADS_1
Maicha tersenyum tipis, antara bahagia dan ingin menangis. Dulu, sebelum menikah ia pernah merasakan usapan tangan Leo, tapi setelah menikah rasanya hambar. "Seandianya tidak terlambat, mungkin aku bisa mempertahankan mu, tapi sepertinya sudah terlambat Leo."
Maicha menutup pintu kamarnya, ia langsung membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap ke rumah orang tuanya. Ia pun turun untuk sarapan bersama dengan Leo, mungkin ini sarapan yang terakhirnya.
"Kau mau kemana?" tanya Leo melihat Maicha yang memakai tas slempangnya. "Kau ingin menemui Andreas?"
"Tidak, aku mau ke rumah Mommy dan Daddy." Jawab Maicha. Dia mengambil roti gulung. Selama pernikahannya ia tidak pernah merasakan masakan Leo. "Enak, kau yang memasaknya?"
"Iya, aku senang kau menyukainya." Seminggu ini ia belaajar memasak untuk Maicha. "Aku akan mengantar mu."
"Tidak, kau pasti terlambat ke kantor. Aku akan meminta sopir mengantar ku."
Leo mengangguk, tapi nanti ia akan memastikan jika Maicha ke rumah orang tuanya atau bertemu dengan Andreas. "Baiklah."
"Nona sudah datang? Nyonya dan Tuan menunggu Nona." Seorang pelayan menghampiri Maicha. Dia menyampaikan perkataan majikannya itu pada Maicha.
"Menunggu?" tanya Maicha. Dia memang mengabari ibunya, tapi rasanya aneh kalau ibunya menyampaikan pada pelayan rumahnya, tidak seperti biasanya.
Maicha meraskaan firasat tidak enak, dari awal memang ia sudah merasakannya, tapi memasuki kediaman kedua orang tuanya rasanya tertekan. Rasa gugup dan takutnya semakin kuat. Ia menarik dalam nafasnya dan membuka pintu kamar orang tuanya.
"Dad," Maicha melangkah menghampiri ayahnya yang berada di samping ibunya dekat jendela dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Mom," Maicha melihat ibunya tak bergeming ketika mendengarkan suaranya. Biasanya ibunya langsung menyambutnya.
"Kau sudah datang Maicha," ujar mommy Viona dengan suara datar. Dia berbalik dan menatap putrinya yang berdiri di depannya. Lalu memberikan sebuah amplop.
Maicha menerimanya dengan wajah tak mengerti. Dia pun membuak amplop itu dan kedua matanya terkejut melihat isi di dalam amplop itu. "Mom, Maicha bisa menjelaskan."
Maicha duduk di lantai dengan dua kaki di tekuk. Dia menatap ibunya yang telah melahirkan dan merawatnya.
"Kau membohongi Mommy, jadi pria itu kau sudah mengenalnya?"
Maicha menunduk, "Kami saling memiliki kekasih Mom. Bahkan kekasih Leo sedang hamil."
"Jangan salahkan Maicha Mom, ini semua gara-gara Leo. Seandainya Leo tidak memberikan surat kontrak padanya, Maicha tidak akan mengambil tindakan berselingkuh."
"Kau sudah tau?" tanya Mommy Viona dengan menatap tajam ke arah suaminya. Kemudian beralih pada Maicha. "Kalian hebat sekali mebohongi ku seperti ini."
"Maicha tidak ingin menyakiti mu, Mom."
Mommy Viona menekan dadanya yang terasa sesak. Selama ini ia seperti orang bodoh yang menganggap pernikahan putrinya baik-baik saja. Bahkan kekasih daro menantunya sednag hamil anak dari Leo. Air matanya tak bisa ia bendung lagi.
Maicha menyentuh kedua kaki mommy Viona. "Maafkan Maicha Mom, sejujurnya hati Maicha sakit saat Leo memberikan perjanjian itu. Maicha ingin bertahan, tapi Maicha tidak bisa. Mommy tau siapa selingkuhannya, Audrey Mom. Pasti yang memberikan foto itu adalah ibunya Audrey. Maicha datang kesini ingin menyampaikan kalau Maicha ingin bercerai karena Audrey menghubungi Maicha tadi pagi kalau dia hamil."
__ADS_1
Maicha menenggelamkan wajahnya ke pangkuan sang ibu. Ia menangis dan mengeluarkan rasa sesak di hatinya selama ini, rasa bersalah dan kesakitannya selama ini. "Bahkan Maicha melihat sendiri saat mereka di ranjang yang sama."