
Maicha menatap wajahnya di cermin, rambutnya masih basah, ia baru saja selelsai mandi dan mengingat kejadian tadi malam. Jika memikirkannya ia merasa malu sendiri, ia bahkan tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara. Entah berapa kali ia melakukannya dengan suaminya itu.
"Sayang."
Andreas memeluk pinggang ramping wanitanya itu. Tadi pagi ia sudah menghubungi asistennya untuk menggelar pernikahannya. "Sayang, emmm aku mencintai mu....."
"Benarkah? Aku selalu mempercayai mu."
Andreas mengecup pipi Maicha. "Jangan pernah meninggalkan aku. Aku takut kau meninggalkan aku." Sekalipun Maicha berada di sampingnya, ia sangat takut kehilangannya. Ia tidak rela kehilangan Maicha.
"Baiklah, aku mencintai mu." Maicha membalikkan tubuhnya dan merangkup wajah menggemaskan Andreas. "Aku tidak akan meninggalkan mu."
"Hari ini aku harus pulang dan kau harus ke kantor."
"Sayang, hari ini aku cuti." Andreas tersenyum. Ia mencium leher Maicha dan mengecupnya.
"Emmm ...."
Maicha bagaikan di sengat listrik yang membuat tubuhnya terasa panas.
__ADS_1
"Kau mau lagi kan? Aku menginginkannya." Andreas langsung menggendong tubuh Maicha ala Koala. Dia mencium bibir Maicha dan membaringkannya di atas kasurnya. Tubuh Maicha bagaikan candu, ia tidak bisa menahannya untuk tidak menyentuhnya. Ia tergila-gila pada Maicha.
Di tempat lain.
Leo mengaitkan kancing kemeja tangannya itu. Ia menatap wajahnya di cermin. Seorang pria mengetuk pintu kamarnya dan melihat sang bos.
"Apa saja agenda hari ini?" tanya Leo. Dia menoleh pada Asisten pria di belakangnya.
Sang Asisten pun menjelaskan agendanya hari ini. Hampir tidak ada jam untuknya istirahat. "Kosongkan satu jadwal, aku ingin menemui Mommy Viona dan Daddy Albert malam ini."
"Baik tuan, untuk nona Audrey, Dokter melaporkan kalau keadaan kandungannya baik-baik saja. Apa tuan ingin menemuinya?"
Setelah perceraianya dengan Maicha, Leo memutuskan merawat Audrey dan anaknya tapi tidak untuk menikah dengannya. Ia tidak ingin memiliki ikatan apa pun, ia hanya fokus pada anaknya saja.
Asisten pria itu pun membawa Leo ke rumah Audrey. Leo meminta Audrey untuk tetap tinggal di rumah ibunya karena ia sibuk bekerja dan kadang tidak pulang ke mansion, sebenarnya itu hanyalah sebuah alasan saja. Sebenarnya ia tidak ingin Audrey berada di mansionnya, mengingat perkataan Dokter jika seorang ibu hamil tidak boleh terlalu berat pikiran. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari jalan yang halus.
Leo membuka pintu mobilnya dan melihat Audrey yang sedang duduk bersantai dan berjemur.
"Leo," Audrey merasa senang dengan kehadiran Leo. Ia yakin Leo akan menerimanya lagi. "Aku merindukan mu." Audrey memeluk Leo.
__ADS_1
"Anak kita sangat merindukan mu," ucap Audrey. Dia sangat senang dengan kedatangan Leo.
Leo mengurai pelukannya. "Syukurlah, aku ingin kau menjaga anak kita dengan baik."
"Leo kapan kau akan menikah dengan ku?" tanya Audrey. Ia sangat berharap Leo mau menikah dengannya dan membesarkan anaknya bersama-sama.
"Aku tidak ingin membahasnya lagi Audrey. Kalau kau ingin aku mengakui anak mu, jangan membahas pernikahan lagi. O iya aku membawakan kue cokelat kesukaan mu, ku harap anak ku menyukainya."
"Kau belum bisa melupakan Maicha?" tanya Audrey. Sejujurnya ia merasa kasihan pada Leo yang kurusan dan dagunya di penuhi rambut halus.
"Iya, aku ingin memendamnya sendiri. Aku pergi dulu, kau jaga kesehatan mu dengan baik. Besok pagi aku harus ke Jerman untuk masalah perusahaan di sana."
Leo mengelus perut Audrey dan berlalu pergi. Audrey meremas dressnya, selalu saja jawaban yang sama. Jika tidak ada anak ini mungkin Leo sudah meninggalkannya, tapi untunglah ada anak ini yang mempertahankan kedekatannya dengan Leo. Maka dari itu ia memutuskan untuk merawat anak ini, tapi untunglah Leo berubah pikiran untuk merawat anaknya.
"Audrey tadi aku melihat Leo," ujar Mommy Luna.
"Iya Mam, dia membawakan kue cokelat." Jawab Audrey.
"Audrey kau begitu bodohnya tidak bisa membuat Leo jatuh hati pada mu." Maki Mommy Luna.
__ADS_1