Reinkarnasi Istri Jahat Sang Presdir

Reinkarnasi Istri Jahat Sang Presdir
#Sarapan Bersama


__ADS_3

Butiran keringat bagaikan salju yang turun deras. Kedua matanya sangat tajam menghunus pria di depannya yang bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Tanpa tahu malunya pria itu malah mengajak ibu mertua dan ayah mertuanya berbicara dan bersanda gurau. Pria yang berstatus selingkuhan istrinya ini malah meminta di ceritakan masa kecil Maicha.


"Hahaha iya benar, Maicha sangat suka cokelat. Tapi kau tau selang dua hari dia malah sakit gigi." Mommy Viona sangat senang mengingat kenangan Maicha.


"Kau tau, Maicha mengatakan seperti ini." Kedua tangan Daddy Albert memegang pinggangnya. "Ini salah Daddy dan Mommy yang tidak melarang ku. Padahal kami sudah melarang."


Daddy Albert semakin tertawa keras, sering kali kedua matanya melirik Leo. "Maicha sangat lucu, ya tidak menyangka saja kalau dia dewasa."


"Tapi dia masih putri kecil kami. Kami sebagai kedua orang tuanya tidak pernah rela jika ada yang menyakitinya. Aku tidak akan pernah memaafkannya."


Mommy Viona mengiyakan perkataan Daddy Albert. "Iya benar, kami tidak rela jika dia di sakiti." Mommy Viona menoleh pada Leo. "Jika kau menyakiti putri ku, aku tidak akan memaafkan mu Leo."


Kedua telinga Leo seperti langsung muncul kobaran api. Dia menoleh dan kedua netranya bertabrakan dengan kedua netra mommy Viona. Dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Seandainnya mertuanya tau, mungkinkah dia menjadi pria pertama yang di benci olehnya?


"Mommy, Daddy, Leo dan tuan Andreas, sarapan sudah siap." Maicha berseru.


Andreas langsung bangkit, dia membantu mendorong kursi mommy Viona dan membuat wanita itu tersenyum padanya. "Terimakasih, kau baik sekali Andreas."


"Tante berharap kau mendapatkan jodoh yang baik dan wanita yang mendapatkan mu pasti sangat beruntung."


"Terimakasih Mom, ups maaf, Nyonya."


Mommy Viona tersenyum. "Tidak apa-apa, aku akan menerima mu sebagai anak ku."


Sebagai menantu Mom batin Andreas.


Daddy Albert yang berada di sampingnya pun meremas bahu Andreas. "Kau cari perhatian rupanya."

__ADS_1


Andreas pun tertawa keras, ketiga orang itu tidak memperdulikan seorang pria yang berada di belakang dengan sejuta kemarahan di dalam hatinya. Saking kesalnya ia ingin menghancurkan pria di depannya yang sedang sok akrab dengan kedua mertunya. Hatinya sangat terbakar, ia tidak rela kedua mertuanya beralih kasih sayang pada Andreas yang statusnya sebagai selingkuhan istrinya.


Srek


"Silahkan duduk Dad." Andreas menarik salah satu kursi di depannya dan Daddy Albert pun duduk.


"Terimakasih Andreas."


Sedangkan Mommy Viona berada di samping Daddy Albert. Muncul sebuah ide dari Andreas, dia memilih duduk di samping Maicha.


Semakin gelap wajah Leo yang melihat Andreas dengan terang-terangan duduk di samping istrinya. "Rasanya tidak sopan jika seorang pria yang baru di kenal duduk di samping seorang wanita yang berstatus istri."


Memdengarkan nada tak suka, sepasang suami istri itu pun melihat ke arah Leo. Mommy Viona melihat ke arah Andreas.


"Maaf, saya akan berpindah duduk."


"Sayang wajar saja kalau Leo cemburu, artinya dia mencintai Maicha. Bukankah itu hal baik?"


Merasa tidak nyaman dengan Leo. Mommy Viona pun menyuruh Andreas duduk di sampingnya. "Andreas pindahlah ke samping ku."


Andreas menurut, tangan kanannya menyentuh kaki Maicha dan membuatanya ingin mengatakan sesuatu. Lewat kedua matanya ia memekik kesal pada Andreas yang menyentuh di bawah areanya itu.


Ehem


Leo mengerti tatapan istrinya itu. Pagi ini seperti tenggalam di dalam neraka dan sangat bersyukur jika Andreas pergi dari rumahnya.


Selesai Andreas duduk, Maicha pun mempersilahkan kedua orang tuanya dan Leo memakan sarapannya. Kini ruang makan itu pun hening. Namun tidak dengan Maicha, salah satu kakinya dengan usil menyentuh kaki Andreas. Ujung jari jempol kakinya itu semakin naik dan lembut.

__ADS_1


Andreas menahan geli, ia tetap makan dengan nikmat sampai akhirnya. Ia merasakan sesuatu menyentuh pusakanya, sekatika dia terbatuk dan langsung mengambil segelas jus di sampingnya. Ia meneguk jus itu dan menyisakan setengah.


Kedua telinganya memanas dan memerah, wajahnya bagaikan tomat yang sangat matang dan siap di panen.


"Andreas ada apa? Emm kenapa wajah mu memerah? Kau demam?" tanya Mommy Viona.


Andreas menggeleng, "Tidak Mom. Emm, sepertinya udaranya panas."


"Hah?" Mommy Viona kebingungan, wajahnya merasa heran. Udara saat ini dingin dan ia tidak merasakan panas. Ia pikir mungkin hanya Andreas saja yang merasakan kedinginan.


Leo merasakan sesak, dadanya seakan terhimpit berada di tengah-tengah keluarga yang tampak harmonis ini. Ia pun bangkit dan pamit.


"Maaf Mom, Dad, aku ke atas dulu. Tubuh ku tidak enak," ujar Leo.


"Iya Leo." Jawab Mommy Viona. Dia beralih pada Maicha, putrinya itu. Tidak mungkin ia membiarkan Viona tidak mengurusi Leo, sudah kewajiban istrinya mengurus suaminya ketika sakit. "Maicha, panggilkan dokter untuk Leo. Di saat-saat seperti ini, apa lagi Leo sakit. Kau harus ada untuknya."


.....


Sedangkan di lantai atas.


Leo telah memasuki kamarnya, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan kedua tangannya mendorong vas bunga yang berada di atas nakas tepat di samping foto istrinya itu. Melihat Andreas memasuki dan mendekati keluarga mertuanya. Berarti tinggal selangkah lagi pria itu menarik Maicha dalam genggamannya.


Kepalanya terasa cenat cenut, ia tidak bisa memikirkan lainnya lagi. Sebisa mungkin ia tidak boleh katahuan.


"Leo, aku lapar," ucap seorang wanita. Dia mengintip di celah pintu kamar mandi. "Seharusnya kau membawakan aku sarapan." imbuhnya lagi. Dia mengusap perutnya yang terasa perih. Wajahnya sangat pucat.


"Tahanlah sebentar, tunggu sampai Mommy dan Daddy keluar," ucap Leo dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Audrey diam, ia tidak memiliki kekuatan untuk berdebat dengan Leo. Ia pun menutup pintunya kembali.


__ADS_2