Reinkarnasi Istri Jahat Sang Presdir

Reinkarnasi Istri Jahat Sang Presdir
#Kerapuhan Leo


__ADS_3

Perkataan Maicha bagaikan petir yang menyambar hatinya, hancur berkeping-keping, bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak. Bibirnya bergetar ingin di gerakkan, dalam sekejap sekelilingnya seakan bagaikan roda berputar. Banyak bayangan Maicha bersama dengan dirinya walaupun hanya semenit dan sedetik.


Maicha membalikkan tubuhnya, ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Leo. Setiap langkah kakinya meretakkan mulai dari pernikahannya, bagaikan kaca yang terdapat foto mereka dan hancur mengiringi langkahnya. Seperti ada sebuah celah yang mengharuskannya keluar dari kegelapan.


"Mai," Daddy Albert bagaikan duri yang menghalangi langkah Leo yang ingin menyusul Maicha.


Kadua mata Leo sekaan memohon, namun Daddy Albert seperti balok es yang tak ingin mencair.


"Jauhi putri ku, awalnya aku selalu merasa sebagai orang tua, aku sudah menjalani peran ku sebagai seorang ayah. Tetapi tidak, aku tidak menjalaninya. Bukannya aku membahagiakkannya justru menyakitinya. Kau tau Leo, aku sebagai seorang ayah tidak ingin dan tidak akan pernah menyakiti putrinya. Leo, aku sangat kecewa pada mu, bukan, aku sepertinya kecewa pada diri ku sendiri yang memilih mu."


"Dad ...."


Leo baru menyadarinya, ia tidak ingin jauh dari ayah mertuanya yang sekaligus sahabat kedua orang tuanya. Ia baru menyadari jika kehadiran mereka sangat penting dalam hidupnya, kehadiran mereka sangat berarti untuknya.

__ADS_1


"Pergilah Leo, sebelum kewarasan ku hilang dan aku tidak mengingat kalau kau anak dari sahabat ku."


Daddy Albert melangkah pergi, sama dengan Maicha. Tubuhnya Leo seperti terhempas ke dalam jurang lautan. Jiwanya seakan tenggelam.


Sedangkan Maicha, dia duduk menangis tersedu-sedu di kursi putih dan menahan sesaknya di dadanya. Sekalipun istri hanyalah status, sekalipun cinta yang jauh dalam hati, tapi tetap saja yang namanya kecewa tetap ada.


"Maicha."


Andreas berjongkok di depan Maicha, tadi Daddy Albert menghubunginya dan mengatakan kejadiannya hingga ia bergegas ke rumah sakit. "Jangan menangis." Andreas merangkup pipi Maicha dan menghapus air matanya, tetesan air mata itu bagaikan belati yang menancap tepat di jantungnya. "Aku tidak ingin melihat mu menangis." Susah payah ia membuat Maicha tersenyum setiap harinya, membuatnya senang. Ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan Leo.


Maicha menggeleng, bukan salah pria di depannya. Di kehidupan sebelumnya pun pria di depannya meminta maaf padanya yang bukan kesalahannya. "Kenapa kau selalu meminta maaf pada ku? Jelas semuanya bukan salah mu Andreas."


"Aku merasa gagal tidak bisa membahagiakan mu."

__ADS_1


Maicha langsung berhambur memeluk Andreas, ia tau semua kesalahannya. Dalam pernikahannya seharusnya ia tidak melakukan perselingkuhan, tapi ia tidak kuat. Ia hanya wanita biasa saja.


"Maafkan aku, seharusnya aku yang meminta maaf pada mu. Kau ada saat aku menangis, kau selalu ada untuk ku Andreas."


Sementara di tempat lain.


Audrey sama sekali tidak mendapatkan panggilan dari Leo, pesan pun tidak ada. Bahkan ia sudah menghubungi Leo beberapa kali, pesan singkat pun menumpuk, tapi tidak satu pun yang di balas oleh Leo. Ia sangat takut dan gugup, seharusnya jika Maicha sudah mengatakan jika ia hamil, Leo pasti sudah menghubunginya.


"Kemana Leo? Apa Maicha tidak mengatakannya?"


"Sayang apa Leo belum menghubungi mu?" tanya Mommy Luna. Sejujurnya ia juga tegang menunggu kabar dari Leo, ia pun juga ikut menghubungi Leo.


"Sudah Mom, tapi Leo tidak menghubungi ku. Apa Maicha tidak mengatakannya dan berubah pikiran?"

__ADS_1


Mommy Luna menatap Audrey. "Sebaiknya kita menemui Leo, kita tunggu di mansionnya."


__ADS_2