
Mommy Luna memijat dahinya dan memejamkan kedua matanya. Perkataan Leo membuatnya pusing dan tidak bisa memikirkan apapun, yang benar saja Leo tidak menginginkan anak. Dimana-mana di dunia ini anak pelengkap keluarga. "Apa benar Leo pernah mengatakan seperti tadi?"
Audrey ketakutan dan bibirnya gemetar. "Mom aku, aku melupakannya."
"Kau bodoh Audrey, lalu sekarang bagaimana? Kau apakan anak itu?" tanya Mommy Luna. Putrinya ini benar-benar bodoh dalam memikat pria. "Satu-satunya cara kau harus memohon pada Maicha."
Audrey menatap tajam ke arah ibunya. Mana ada seorang ibu menyuruh anaknya memohon pada orang lain. "Aku tidak mau Mom, aku tidak mau melukai harga diriku."
"Kau terlalu bodoh warisan dari ayah mu. Lihat saja, kau tidak bisa berpikir dengan cerdas. Kau kira aku menyuruh mu memohon pada Maicha hanya untuk menjatuhkan dirimu?" Mommy Luna berdecak. Ingin sekali ia menguras otak Audrey. "Kalau kau membuat Maicha luluh dan meninggalkan Leo, apa lagi Mempercepat pernikahannya, itu lebih bagus lagi Audrey, artinya Leo akan membutuhkan seseorang dan kau bisa membuatnya sadar kalau kau lebih berarti daripada Maicha. Apa perlu aku menjelaskannya pada mu?"
Audrey memikirkan perkataan ibunya. Ia pun tersenyum. "Baik Mom, aku akan menemui Maicha di rumah sakit. Sepertinya sangat tepat kalau aku menemuinya, tapi tunggu setelah Leo pergi dari rumah sakit."
__ADS_1
Di tempat lain.
Leo telah sampai di rumah sakit. Dia membawakan kue untuk Maicha dan Daddy Albert. Ia pikir mereka pasti belum makan malam dan berpikir untuk membawakannya. Ia merasa senang membawakan sesuatu untuk Maicha dan ayah mertuanya itu.
Tidak butuh waktu lama, Leo sampai di depan ruangan ibu mertunya dan melihat Maicha menemani ibu mertuanya yang tengah duduk. Dia pun membuka pintu ruangan itu dan menyapanya. Sontak kedua orang itu terkejut, apa lagi dengan Maicha. Ia sudah menyuruh Leo untuk tidak menemui ibunya.
"Leo!" Maicha melangkah dan menarik lengan Leo, namun suara Mommy Viona menghentikannya. "Viona, biarkan dia di sini. Mommy ingin bicara, kau keluarlah sebentar."
"Tapi Mom," Maicha tidak mungkin membiarkan Leo berada di satu ruangan dengan ibunya.
Maicha melirik Leo, ingin sekali ia menarik kulit wajah Leo yang sangat tebal dan tidak tau malu itu. "Baiklah." Maicha menyerah, tapi bukan tidak mengawasinya. "Aku tunggu di luar."
__ADS_1
Leo melihat ke arah Maicha hingga wanita itu keluar dari pintu dan mengawasinya di balik kaca kecil. Sejujurnya ia gugup, takut dan khawatir, namun ia harus melawannya dan meminta maaf pada ibu mertuanya itu.
"Mom bagaimana keadaan mu?" tanya Leo. Dia menaruh paper bagh itu ke atas meja dekat sofa. "Maafkan aku yang baru datang menjenguk Mommy."
Mommy Viona menekan dadanya yang terasa sesak. "Kenapa kau melakukan itu Leo? Padahal Mommy sangat mempercayai mu?"
Leo menunduk, ia pantas di caci maki oleh mertunya. "Maafkan aku Mom, aku salah."
"Salah? Kau tau salah setelah menghancurkan Maicha sangat dalam?"
Leo meraih tangan Mommy Viona dan menggenggamnya. "Maafkan Leo Mom," isaknya. Air matanya mengalir dengan perasaan menyesal. "Leo sangat menyesalinya. Leo ingin memperbaikinya. Berikan Leo kesempatan Mom, Leo akan membahagiakan Viona."
__ADS_1
Leo memohon dengan hati yang sangat dalam. Ia ingin berubah dan memperbaiki semuanya.
Mommy Viona menarik tangannya. Ia sangat kecewa pada Leo yang bahkan memiliki anak dari anak wanita yang pernah menghancurkan hidupnya.