
Waktu terus berlalu meninggalkan kesakitan hati yang amat dalam. Setiap saat, detik dan menit terasa sakit di dada. Nafas terasa berat, air mata terus mengalir dengan seiringnya waktu. Perpisahan pun tak bisa terelakkan. Maicha dan Leo telah berpisah bagaikan hanya sekejap. Leo tidak bisa menolaknya lagi, apa lagi dengan tamparan Audrey yang sudah mengandung anaknya.
Sedangkan Maicha merasa bebas, perpisahan yang tak pernah ia harapkan, namun sudah menjadi jalan takdirnya. Ia berharap kedepannya akan menjadikannya lebih baik. Mommy Viona dan Daddy Albert menguatkan dirinya. Ia sering meluangkan waktu bersama, sebelum resmi bercerai ia memang sudah keluar dari kediaman Leo.
Andreas selalu ada di sampingnya, bahkan pria itu sangat sering mendatanginya dan menemaninya. Sama halnya saat ini, setiap hari jika tidak pagi maka sore atau malamnya dia akan datang membawa buket bunga mawar.
"Sayang ada Andreas," ujar Mommy Viona. Pengobatan dan dukungan keluarganya membuatnya memiliki semangat untuk sembuh dan kini kedua kakinya pun sembuh. "Jangan membuatnya menunggu lama." imbuhnya lagi.
Maicha menutup buku novelnya yang bergenre romansa. Dia menoleh ke arah jendela dan melihat bulan sabit yang membentuk senyuman. Hatinya pun juga tersenyum.
"Andreas ada di taman." Mommy Viona tersenyum, ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Dia pun mengantarkan Maicha pada Andreas menuju taman samping. "Dia datang lagi membawa buket bunga mawar. Dia sangat menyayangi mu."
Maicha tersenyum malu-malu. Di kehidupan lalunya ia memilih jalan yang salah dengan membuat Andreas bersedih. "And,"
Daddy Albert beranjak dari tempat duduknya. "Gunakan waktu kalian sebaik mungkin, Daddy dan Mommy tidak akan mengganggu waktu kalian."
"Em Dad, apa boleh aku membawa Maicha keluar?"
"Yah silahkah." Daddy Albert tersenyum. "Kau bisa meluangkan waktu dengan calon istri mu." Daddy Albert dan Mommy Viona tersenyum. Keduanya pun pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Kau mau membawa ku kemana?" tanya Maicha. "Aku belum bersiap-siap," ujar Maicha. Bohong jika ia belum bersiap-siap, tadi ia berdandan secantik mungkin menyambut Andreas.
"Kau sudah cantik bagi ku." Andreas menyelinapkan anak rambut Maicha ke belakang telinganya. "Jangan terlalu cantik, aku tidak ingin kau di rebut oleh pria lain. Pasti akan banyak pria yang mengidamkan mu."
__ADS_1
"Ayo, aku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada mu."
Maicha menarik sebelah alisnya dan tersenyum. Entaj apa lagi yang Andreas tunjukkan padanya. "Baiklah, aku akan mengikuti mu."
Andreas pun membawa Maicha ke mobilnya, membuka pintu mobilnya dan menutupnya, layaknya pasangan yang romantis. Mobil hitam itu pun keluar dari pekarangan rumah Andreas menuju suatu tempat dimana ia dan Maicha sering menghabiskan waktu bersama.
Tanpa mereka sadari, seorang pria tengah memperhatikan mobil hitam milik Andreas. "Ternyata kau bahagia bersamanya."
Sedangkan Andreas tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Maicha. Sebelah tangannya menyetir mobilnya. Keduanya hanya saling menatap dan tersenyum, tidak seperti biasanya. Mereka seperti pasangan yang malu-malu kucing.
"Em, Mai ..."
"Ya ...."
Maicha melihat Villa yang sering ia singgahi bersama dengan Andreas. Dia pun membuka pintunya dan meluhat lampu warna-warni menghiasi depan villa itu. Lampu yang menghiasi dinding dan pagar serta beton villa itu.
"Andreas kau ..."
"Masuklah calon istri ku." Andreas mengalungkan tangan Maicha ke lengannya.
Andreas dan Maicha perlahan memasuki Villa itu dan melihat ruangan yang di dekorasi dengan mawar merah. Bunga kemerahan itu menempel menghiasi dinding dengan nama Andreas dan Maicha membentuk love. "Cantik sekali ...."
Maicha di buat takjub dengan hadiah saat ini, yang biasanya buket, namun kali ini lebih megah dan lantai putih itu pun bertaburan kelopak bunga mawar merah membentuk jalan hingga ke arah anak tangga.
__ADS_1
Tepat di di sebuah ruangan kamar Andreas. "Sayang tunggu dulu, kau harus menutup mata mu." Andreas mengambil sebuah kain berwarna hitam dari sakunya yang ia siapkan dan Maicha pun menurutinya. Maicha membuka pintu itu dan melihat kelopak bunga mawar itu bercabang, salah satunya menuju ranjang dan satunya menuju ke arah balkon.
"Emm, aku ingin kau membuat pilihan. Kau harus memilihnya."
"Kau ingin ke kanan atau ke kiri?" tanya Andreas.
Maicha hanya asala menebak. "Ke kanan."
Andreas membuka kain hitam itu dan memperlihatkannya.
"Kau mau ke kanan, berarti ke balkon. Oh ok, tidak apa-apa." Andreas melangkah dan menatap Maicha, dia mengulurkan tangannya dan Maicha menyambutnya. Andreas menuntun Maicha ke arah balkon.
Maicha tertawa, sebegitu inginnya Andreas menghabiskan waktu bersamanya.
"Kau suka?" tanya Andreas.
"Tentu saja." Maicha langsung memeluk Andreas dengan erat. Ia selalu di buat rindu dan senang dengan suprise dari Andreas.
Andreas berjongkok dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah. "Maukah engkau Maicha, menikah dengan ku, menua bersama ku, menjalani hari-hari bersama ku."
Satu tetes air mata Maicha mengalir, ia mengangguk dan tidak bisa mengucapkan kata-kata.
Andreas memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Maicha dan mengecupnya. "Aku mencintai mu."
__ADS_1