
"Qadirah..." ucap Hanna ketika melihat sosok wanita yang di panggilnya Qadirah itu berada di ambang pintu utama rumah mereka.
Terkejut sekaligus merasa bahagia, Hanna menatap wanita cantik yang berusia 22 tahun itu kini berada dirumah itu lagi. Rumah yang pernah memberi penghidupan bagi wanita yang kini tengah menatap Hanna dengan lekat.
Qadirah pernah menjadi asisten pribadi Hanna ketika awal awal dirinya menjalankan bisnis kue kering. Hubungan mereka bahkan tidak hanya sekedar asisten dan majikan, Qadirah sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Bahkan Hanna sampai membelikan rumah untuknya di desa dimana dia tinggal.
Tepat dua tahun yang lalu, tahun dimana Qadira harus merasakan kepedihan yang sungguh sangat pilu, yang memaksa dirinya harus menjalani hidup ini seorang diri. ayahnya meninggalkannya sebelum dia menginjakan kakinya di rumah itu, dan kini dirinya kembali di tinggal sosok ibu untuk selamanya.
Qadirah terpaksa mejual rumah yang pernah dibelikan Hanna dulu untuk dipergunakannya merawat ibunya yang terbaring sangat lemah di Rumah Sakit sampai akhirnya tak mampu bertahan lagi. Selama dua tahun itu, Qadirah dipaksa untuk mencari sesuap nasi agar bisa bertahan hidup di dunia yang menurut sebagian orang diluar sana tidak adil ini, tapi menurutnya, semua yang di alaminya sangat sangatlah adil, sangat adil bagi dirinya.
Sekarang Qadirah hanya bisa berdoa, Tuhan mengasihinya. Memberinya sedikit kekuatan untuk bisa bertahan. Jika dia harus meminta keadilan, maka nikmat hidup yang Tuhan berikan padanya tak sebanding dengan apa amalan yang dikerjakannya selama di dunia ini.
Dan kini dirinya tiba di rumah ini. Rumah yang pernah mengasihaninya. Berharap masih ada kesempatan bagi dirinya untuk dikasihani yang kedua kalinya.
"Ibu..." ucap Qadirah menatap Hanna yang sekarang sedang menuju ke arahnya. Suara yang dibarengi dengan linangan air mata itu mampu membuat Hanna ikut juga melinangkan ait mata.
"Kenapa baru datang sekarang nak?, kenapa tidak pernah mengabari Ibu?, ayo masuk dulu, nanti saja kamu jawabnya" Hanna segera memeluk tubuh yang terlihat sangat lemah itu.
"Qadirah, kamu istrahat saja dulu, kelihatannya kamu sangat kelelahan" Musabir datang segera membantu ibunya dan kemudian mengarahkan wanita itu ke kamar.
Setelah beberapa menit Qadira berada dalam kamar, akhirnya tenaganya mulai pulih kembali, setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Tak ada uang sepeserpun disakunya yang memaksanya harus berjalan menuju ke rumah ini. Tempat satu satunya tujuan akhirnya.
Dalam pikiran Qadira, dirinya sangat bersyukur dirinya berada di rumah ini lagi. Rumah yang penuh dengan kehangatan. Rumah yang menganggap dirinya adalah pemiliknya juga. Maka dengan segenap kemampuannya dia juga merasa bertanggung jawab melindungi nama baik keluarga yang telah mengasihaninya.
***
__ADS_1
Di dalam kamar Ayahnya, Musabir menjelaskan semua yang disampaikan Pak Hartono padanya, yang membuat ayahnya mwngambil keputusan bahwa minggu depan hari Rabu akan dilangsungkan prosesi lamaran anak keduanya itu. Hanna sangat setuju dengan keputusan yang telah dibuat suaminya itu. Adnan meminta putra pertamanya itu untuk tidak kemana mana dulu sampai anak keduanya itu selesai menikah.
Permintaan ayahnya tak dapat ditolah Musabir selain mengiyakannya. Dan dalam keadaan terpasa dia mengambil cuti panjang dari tempat kerjanya.
***
Setelah tidur panjangnya akibat kelelahan berkendara, Rafiq pun segera bangun dan keluar dari kamarnya menuju dapur. Setelah sampai di dapur, dia hanya mengambil beberapa lembar roti dan buah serta sebotol air minum dan kemudian berlalu dari sana. Sekilas matanya menangkap sosok yang begitu dia kenal. Tapi ditepis olehnya karena rasa kantuk yang belum benar benar hilang.
Saat ini Rafiq sedang menikmati makan malam ala kadarnya. Dia sungguh ingin tidur lagi. Tapi ingatannya kembali di ingatkan oleh kalimat 'segera melamar' yang membuat dadanya berdegub kencang. Kantuk yang susah hilang kini lenyap, matanya benar benar membulat, tak terlihat seperti baru saja bangun dari tidurnya.
Dia memikiran wanita itu lagi. Rasa bahagia dan gugup kini beradu dalam pikirannya. Menikahi wanita yang merupakan cinta pertamanya.
Dalam hidup Ragiq sampai diusianya kini, terdapat tiga sosok wanita yang pernah berlabuh di hatinya. Yang pertama adalah Samira. Mungkin bisa dikatakan cinta pertamanya, lebih tepatnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Dan wanita ketiga adalah wanita yang telah dianggap ibunya sebagai anaknya itu. Bukan itu satu satunya dia mengurungkan niatnya untuk menyatakan cintanya pada Qadirah. Sikap keduanya yang seperti adik kakak selama berada serumah yang membuatnya tidak ingin menjadikan Qadirah sebagai pasangannya.
Dan kini dia melihat wanita itu sedang melayani sarapannya pagi ini. Merasa seperti bermimpi, dia kembali ke kamarnya. Membasuh wajahnya untuk kedua kalinya dan kembali lagi ke meja makan. Dari tangga dia melihat ke arah dapur, disana tidak terlihat wanita itu lagi. Hanya ayahnya yang sedang menikmati sarapannya dan ibunya yang kini ikut bergabung duduk bersama ayahnya di meja makan itu.
Merasa itu mungkin hanya halusinasinya saja, kemudian dia melanjutkan langkahnya dan menuju meja makan untuk melanjutkan sarapannya.
"Kalau mau tambah, bilang saja mas..."
Suara yang sangat familiar di telinganya itu seolah sedang mengajaknya bicara. Suara yang datang dari arah belakangnya itu membuat dirinya sedikit menoleh ke arah kanannya dan betapa terkejutnya dia. Wanita yang melayani sarapan paginya itu adalah wanita yang dilihatnya semalam, wanita yang dipikirnya hanya sebuah halusinasi.
"Iya, Qadira saat ini mulai kerja lagi di rumah kita nak. Kemarin dia datang" ucap Hanna yang melihat tingkah anaknya itu.
__ADS_1
Tak dapat berkata apa apa, pandangan itu sedikit lama menatap wajah wanita yang membawakannya segelas air putih, dan tatapan itu pun berhenti menatap wanita itu sampai wanita itu kembali ke dapur.
"Bagaimana berkas yang ada di atas meja kantormu?, sudah kamu selesaikan?" tanya Adnan
"Rafiq!... apakah semua sudah selesai?" Tanya Adnan lagi ketika tak mendapatkan respon.
"Iya ayah?... tadi apa yang ayah tanyakan ?" Tanya Rafiq yang baru sadar dari lamunannya.
"Berkas yang diatas meja kantor kamu, sudah selesai atau belum?" Hanna menggantikan Adnan untuk mengulangi pertanyaan itu karena melihat suaminya yang enggan untuk bertanya yang ketiga kalinya.
"Oh, yang itu. Sudah selesai semua Ayah. Surat perizinannya sudah selesai juga. Tinggal di siapkan saja semua bahannya dan mungkin sekitar enam bulan pabriknya sudah bisa mulai beroperasi"
"Ok. Semua sudah beres, dan Ayah minta kamu yang mengambil alih semua itu jika nanti kamu telah menikah. Itu hadiah dari Ayah. Minggu depan kita datang ke Rumah Pak Hartono untuk melamar anaknya"
DEG!
Entah apa yang yang membuat dirinya terdiam, tetapi rasa rasanya baru kemarin dia mulai membuka hatinya yang sempat dikuburnya itu, dan kini dia akan melamar wanita itu. Merasa senang tapi lebih didominasi rasa gugup yang membuat dirinya saat ini untuk kedua kalinya tak bisa mengucapkan kata apa apa selain...
"Baik ayah"
Sementara itu, wanita yang pernah singgah di hati Rafiq, mendengar apa yang diucapkan ayahnya yang sontak saja membuat dirinya terkejut, tetapi tak dapat berbuat apa apa, yang bisa dilakukannya hanyalah menyaksikan dan membantu semua prosesi itu sampai pria yang pernah menyentuh hatinya itu menjadi suami orang lain.
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.
__ADS_1