Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 7: Keputusan Samira


__ADS_3

"Itu karena aku belum siap sayang. Aku hanya ingin sedikit memantapkan hatiku untuk bertemu kedua orang tuamu. Aku hanya butuh waktu sedikit lagi. Aku mohon sayang, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Kita sudah berkali kali lalui hal yang seperti ini".


Bukannya alasan itu yang selalu didengar oleh hampir semua wanita?. Alasan klasik yang selalu diutarakan pasangannya setiap kali diajak ke rumah orang tua sang wanita. Bukan untuk agar segera menikah, tetapi setidaknya orang tua si wanita tahu bahwa inilah sosok pria yang disukai anak wanitanya. Pria yang telah dipilih anak wanitanya.


"Kali ini berbeda. Aku tak dapat menolak permintaan orang tua ku. Kamu tau, aku adalah anak satu satunya. Ibu dan Bapak khawatir terhadapku"


"Mir... sabarlah sedikit, aku akan segera bertemu dengan Bapak Ibumu. Beri aku kesempatan. Sekali ini saja. Aku mohon Mir. Bukannya kamu belum ingin menikah juga sama seeprtiku?... bukanya kita memiliki visi misi yang sama untuk memantapkan diri dan materi dulu baru ke jenjang yang lebih serius. Mir sekali ini saja... aku mohon?"


"Maaf... aku tak bisa, ini demi orang tua ku"


TUT! TUT! TUT!


Dan percakapan mereka pun berakhir. Yang tertinggal hanya sesak yang teramat di dada Samira dan kekasihnya.


Tak selang beberapa menit, ponsel milik Samira pun berbunyi. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Samira tak mampu menjawab panggilan itu. Hanya mampu menatapnya dan menghilangkan bunyi dering panggilan masuk agar tak didengarnya lagi.


***


Beberapa menit setelahnya.


Di ruang makan, disana nampak Dianna dan Suaminya baru saja duduk untuk menikmati makan malam mereka. Samira yang baru saja turun dari kamarnya segera memposisikan dirinya di kursi seperti biasa yang sering di dudukinya setiap kali makan bersama.


Hening...


Tak ada topik pembicaraan malam ini. Seperti malam malam sebelumnya. Kebanyakan makan malam hanya dihiasi bunyi piring dan sendok yang saling beradu. Untuk itulah Dianna sedikit berusaha keras menjodohkan anaknya agar keheningan yang sering di rasakan setiap harinya di rumah yang cukup besar itu di pecahkan oleh tangisan dan tawa seorang cucu.

__ADS_1


Sang ibu yang melihat mata Samira terdapat bekas tangisan, tak memberanikan dirinya untuk bertanya. Dia hanya menebak bahwa anaknya itu menangis atas perjodohan yang tak di inginkannya ini. Tak tega, tapi dia berusaha untuk tegar.


Sedikit mengangkat kepalanya, Samira menatap Ibu dan ayahnya secara bergantian dan kemudian dia menatap ayahnya lagi sedikit lebih lama. Mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan keputusannya.


Keputusan yang akan dibuatnya nanti juga dipengaruhi oleh rasa cintanya pada sang ayah. Bukan dirinya selama ini tak sayang pada ayahnya. Hanya saja, Ayahnya sekarang di diagnosa penyakit yang tak bisa disembuhkan. Dan entah sampai kapan akan bertahan, setidaknya yang akan dia putuskan nanti dapat membahagiankan Ayah dan juga Ibunya.


"Baik Ayah, jika Rafiq menyukai Samira, aku bersedia menikah dengannya asalkan permintaanku dapat dipenuhi" ucap Samira memulai topik pembicaraan malam ini. Sedikit gugup terpancar dari raut wajahnya. Khawatir permintaannya ditolak oleh orang tuanya.


"Apa itu?..." Hartono, yang mendengar hal yang diucapkan Samira sedikit merasakan kelegaan. Tetapi sedikit khawatir atas permintaan yang nanti akan diutarakan putrinya itu. Juga Dianna yang merasakan hal yang sama dengan Suaminya dan penasaran dengan apa permintaan Samira.


"Setelah menikah nanti, izinkan Samira tetap melanjutkan kuliah sampai lulus, dan juga jangan melarang Samira untuk tetap bekerja setelah lulus kuliah nanti"


"Tapi... kenapa kamu harus bekerja?. Calon suamimu mampu memberimu makan?. Jangankan makan, untuk membelimu perhiasan mahal pun dia sangatlah mampu"


"Samira hanya tidak ingin terus mengemis padanya untuk membeli sesuatu yang Samira inginkan. Bukannya dia juga akan senang dan bangga jika nanti Samira bekerja?"


"Tapi bu, Samira hanya...."


"Baik..., nanti coba ayah tanyakan pada keluarganya" tak ingin terlalu lama membicarakan hal ini, Hartono segera mengiyakan permintaan sang putri. Tetapi akan butuh bantuan dari keluarga pihak laki laki untuk menuriti permintaan Samira itu. Menolak permintaan anaknya itu, takutnya justru akan merubah keputusan anaknya.


***


Di tempat lain, di rumah keluarga Adnan Atmajaya, terlihat sang ibu sedang sibuk di dapur membuat kue kering yang cukup banyak. Kue kering yang dibuatnya sendiri itu adalah salah satu kue kering kesukaan keluarganya.


Membuat kue kering menjadi kebiasaan Hanna sejak dulu sampai dengan sekarang. Kemandirian Hanna sejak duduk di bangku kuliah itu lah, yang membuat Adnan akhirnya mempersunting dirinya.

__ADS_1


Wanita yang memilki bisnis kue kering itu, tak terlalu ngotot untuk mendapatkan keuntungan, dirinya menjalankan usahanya hanya sekedar hobi belaka. Tetapi hobi yang digelutinya telah memberinya berbagai kelengkapan pribadi miliknya. Sebuah mobil mewah, satu unit rumah di pinggiran kota, dan perhiasan seharga 5 Milyar yang disimpannya kelak jika dia membutuhkannya.


Pabrik kue kering miliknya, dibangun tak jauh dari rumah yang kini mereka tempati. Hal itu bukan tanpa sebab, jarak yang tidak terlalu jauh memudahkan bagi Hanna untuk tetap menjadi seorang istri yang mengurusi rumah dan juga sekaligus menjadi seorang pebisnis.


Rafiq yang telah selesai membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di kamarnya itu, turun dari lantai atas dan segera menuju ke dapur. Bukan untuk mecari apa yang bisa di makannya, tetapi mencari sang ibu untuk menceritakan kisahnya sebagai driver wanita itu seharian ini. Wanita yang saat ini diusahakan akan menjadi pasangannya.


"Bagaimana hari ini nak?..., aman ?" Tanya Hanna tanpa menolehkan wajah pada anaknya itu, karena saat ini dirinya sedang fokus pada hiasan kue kering yang sedang dikerjakannya.


"Aman bu" jawab Rafiq yang kemudian menghampiri sang ibu dan menempatkan dirinya berdiri tepat di belakangnya.


"Bu... bisa buatkan kue kering untuk dibawa ke rumah bu Dianna ?... jika nanti besok besok ada kesempatan lagi untuk Rafiq kesana lagi" Pinta sang anak pada ibunya yang saat ini sedang memijat mijat bahu sang ibu yang memaksa sang ibu harus berhenti mengerjakan kue kering yang sedang dia kerjakannya itu.


"Sepertinya ada signal baik nih. Bagaimana tadi perjalanan nya?" Tanya sang ibu yang sekilas menatap anaknya dan kemudian fokus pada kue kering yang sedikit lagi akan selesai.


"Belum bu, do'a kan saja. Rafiq hanya ingin berusaha. Seperti kata ibu. Kejar sampai itu sudah tidak mungkin lagi. Sampai saat ini Rafiq merasa bahwa itu masih mungkin"


"Baiklah..., ibu akan buatkan secepatnya. Tapi tidak hari ini ya... Ibu masih banyak pesanan. Di pabrik beberapa karyawan lagi sakit. Jadi ibu harus bisa sedikit membantu"


"Oke Bu. Siiip. Oh iya Bu, katanya kak Musabir, aku diminta datang ke rumahnya besok bu."


"Kenapa dia tak datang ke rumah ini saja ?" Tanya Hanna yang saat ini sedang manatap wajah anaknya itu


Musabir adalah anak pertamanya, setelah menikah dirinya memilih tinggal di rumahnya sendiri yang telah di beli dari gajinya sebagai guru pasantren. Walau tak begitu mewah, Musabir dan istrinya merasa bangga bisa tinggal di rumah hasil mereka sendiri. Hanna dan Adnan juga merasa bangga atas kemandirian putra pertamannya itu.


"Tidak tau juga bu, tapi Rafiq usahakan akan datang ke rumahnya besok. Mungkin ada hal yang penting yang mau dia sampaikan bu"

__ADS_1


***


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.


__ADS_2