Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 22: Tak Ada yang Kekal


__ADS_3

"Nak cepat segera ke rumah sakit, Samira kecelakaan" ucap Hanna dari seberang sana sambil terisak menahan tangis.


"Baik bu, Rafiq akan segera kesana". Jawab Rafiq panik.


Kata 'panik' mungkin masih kurang menggambarkan suasana hati Rafiq saat ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Samira saat ini, sampai dia harus dibawah ke Rumah Sakit. Separah apakah dirinya?...


Semua perasaan itu berkecamuk dalam dirinya. Namun pada saat ini yang paling mendominasi adalah perasaan takut. Takut jika... "Ah, jangan pikirkan hal yang tidak tidak" batin Rafiq.


Segera dia pun menuju dimana mobilnya terparkir. Sedikit berlari namun berusaha memenangkan dirinya. Jika dia tak tenang menghadapi situasi ini, maka akan sulit dirinya menyelesaikan masalahnya. Pikirnya.


Melaju dengan kecepatan rata rata menembus jalanan yang sedikit macet, kecepatan yang menurutnya masih dalam keadaan normal. Kini mobil yang di kendarainya telah berada tak jauh dari rumah sakit. Sedikit melirik ke layar ponsel miliknya yang menyala dengan tiba tiba. Telihat ada pesan disana yang baru saja sampai ke ponselnya itu. Mungkin itu adalah kode gedung dan nomor kamar dimana Samira saat ini berada. Pikirnya lagi.


Tapi belum melihat ponsel itu, karena dirinya harus konsentrasi dengan jalanan yang dia akan lalui di depannya. Dia harus tenang. Pikirnya lagi


Sesampainya di Rumah Sakit, Rafiq segera membuka dan membaca pesan itu. Dan benar adanya, pesan dari sang ibu. Pesan itu adalah kode gedung dan nomor kamar dimana Samira dan ibunya berada. Tanpa berpikir panjang dan dengan petunjuk yang baru saja dibacanya itu, dia menjelajahi Rumah Sakit itu seorang diri.


"Rafiq!" panggil Hanna.


Rafiq yang telah berada tak jauh dari ruangan yang akan di tujunya itu, kemudian mendekati ibu nya. Nampak dari kejauhan wajah sang ibu penuh dengan kecemasan yang sangat teramat, yang membuay dirinya semakin takut. Takut akan terjadi sesuatu pada istri dan anak yang dikandungnya.


"Dimana Samira bu?" Tanya Ragiq setelah berada di samping ibunya dengan suara yang sedikit gemetar dan tubuh yang lemas.


"Dia sedang dalam pemeriksaan" jawab Hanna dengan raut wajah cemas.


"Kenapa ini bisa terjadi bu?" Tanya Rafiq yang mulai meneteskan air mata, tak mampu menahan rasa takut yang menyelimuti pikirannya sedari tadi.


Hanna terdiam sejenak, dan kemudian menceritakan kronologi kejadian yang mereka alami tadi. Kejadian yang sangat begitu cepat yang tak dapat di hindari.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan kandungan tadi, Samira dan Hanna hendak akan pulang, dan sebelumnya telah menebus beberapa obat yang di resepkan dokter di apotik yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Beberapa langkah keluar dari area gedung itu, dan akan menuju ke mobil yang Hanna dan Samira kendarai. Mobil itu terpaksa harus di parkir di seberang jalan, karena lahan parkir yang sempit dan sudah penuh.


Setelah Hanna menuju mobil, kemudian samira menyusul dari belakang. Tiba tiba dari arah kiri mereka, sebuah truck kuning melaju dengan kecepatan rata rata menabrak samira, yang membuat Samira terpental tak telalu jauh dari truck itu. Bunyi yang dihasilkan dari tabrakan itu pun, di dengar oleh Hanna yang membuat dirinya meringis seolah dapat merasakan rasa sakitnya.


Sedetik kemudian Hanna menolehkan pandangannya ke belakang dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat Samira tergeletak di jalan dengan penuh darah. Dan segera, Hanna menuju ke arahnya untu menolongnya.


Berkat beberapa orang yang melihat situasi itu, Samira segera di bawa ke Rumah Sakit terdekat yang ada di sekitar wilayah itu dengan sebuah mobil ambulance. Hanna terpaksa meninggalkan mobilnya yang masih terparkir di tempat tadi dan ikut menumpangi mobil ambulance itu.


"Maafkan ibu tak bisa menjaga Samira dengan baik" ucap Hanna yang tak kuasa menahan air matanya.


Selama kehamilan Samira, Hanna telah mencurahkan perhatian penuh padanya. Bahkan akan kemana pun Samira pergi keluar rumah, Hanna akan selalu meminta Samira agar dirinya dapat menemani atau setidaknya asisten rumah tangganya. Hanna bahkan selalu mengingatkan Samira akan kondisi kesehatannya. Kejadian tadi, kejadian yang membuat dirinya merasa gagal menjaga menantunya itu.


"Ikhlaskan saja bu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa. Beroda agar Samira dan anak aku, cucuk ibu akan baik baik saja" ucap Rafiq menenangkan.


Begitu pun dengan Rafiq. Rasa khawatir yang menyelimuti dirinya di salurkannya dengan cara bejalan mondar mandir di sekitar kamar itu.


Selang beberapa menit, atau hampir sejam. Dokter pun nampak keluar dari kamar itu.


"Bagaimana istri saya dok?" Tanya Rafiq segera setelah dokter berada di depan pintu kamar itu.


"Istri anda saat ini belum sadarkan diri diakibatkan benturan pada kepalanya. Selain itu benturan lain yang terjadi di bagian perut, membuat Istri anda mengeluarkan banyak darah. Kami telah berusaha semampu kami, Namun..." jelas dokter dan kemudian tak dapat melanjutkan penjelasan itu.


"Namun... apa dokter?, kenapa dengan perut istri saya?" Potong Rafiq.


"Kami mohon maaf. Anak yang tengah di kandung istri anda tidak dapat kami selamatkan".

__ADS_1


DEG!


Hanna yang mendengarkan hal itu tak mampu menutup mulutnya rapat, hanya bisa ternganga lebat, terkejut mendengar penjelasan dokter barusan tadi. Rafiq pun demikian. Seolah tak mampu untuk berdiri, Rafiq menjatuhkan tubuhnya begitu saja.


"Sabar Pak, Maafkan kami. Saya permisi dulu" ucap dokter dan kemudian berlalu dari sana.


"Kak Raf!" Ujar Aidan yang saat ini tengah berada tak jauh dari mereka. Segera dia pun membantu Rafiq untuk berdiri dan di tuntunnya ke sebuah kursi tak jauh dari mereka.


Segera sepeninggalnya Aidan dari ruangan Rafiq tadi, dia mensengar suara Rafiq yang sangat panik tadi, dan berinisiatif mengikuti Ragiq dari belalang. Ada sesuatu yang tidak wajar dari suara yang di dengarnya tadi. Begitu oikirnya.


"Sabar kak, Istigfar. Semua yang telah diberikan kepada kita, itu tak kekal kak. Ikhlaskan kak" Aidan mencoba menenangkan Rafiq


Sementata itu, Rafiq yang duduk tertunduk lemas. Tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Air mata yabg sedari tadi mengalir, kini mengalir dengan begitu derasnya.


Hanna yang berada di samping mereka juga tak dapat menahan rasa sedihnya. Ditambah melihat anaknya yang duduk tak berdaya membuatnya sesak tak karuan. Bagaimana dirinya nanti akan menjelaskan kepada Samira bahwa anak yang sangat di jaga oleh Samira itu kini tak dapat diselamatkan?...


"Bagaimana dengan Samira bu Hanna?" Tanya Dianna setelah beberapa menit yang lalu mendapatkan kabar dari Aidan, dan segera menuju ke Rumah Sakit dimana anaknya berada.


"Samira belum sadar, dan kata dokter... anak yang dikandungnya tak bisa di selamatkan" ucap Hanna terbata.


DEG!!!


Bagai disambar petir. Dianna dan Suaminya mematung tak berdaya.


***


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2