Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 13: Menemanimu Melamar Wanitamu


__ADS_3

"Walaupun kau tak menerima cintaku. Dalam hatiku, dirimu telah ku anggap sebagai 'mantan'. Agar diriku merasa seolah, setidaknya kau pernah menjalani cintamu denganku"


***


Hari ini, Rabu bertempat di rumah sang wanita, keluarga itu telah siap menunggu keluarga sang pria untuk menyatakan kesungguhannya terhadap anak wanita keluarga itu.


Di dalan kamar wanita itu, nampak Ibu dan Anak sedang duduk di atas kasur saling berhadapan. Sang ibu ingin memantapkan hati sang anak agar mau menerima dan membuka hatinya untuk pria yang sebentar lagi akan tiba di rumah itu.


"Nak, bukalah hatimu. Jangan biarkan hatimu terkurung bagai tanpa arah yang jelas. Sampai kapan kamu akan membiarkan hatimu itu ke arah yang tak jelas?. Siapa yang mengarahkannya?" ucap sang ibu yang melihat raut wajah anaknya masih tidak bisa menerima perjodohan ini dilakukan.


"Ibu tahu dari mana hati Samira menuju arah tak jelas. Hati Samira hanya lagi menjeda untuk itu bu."


"Sampai kapan akan kau jeda?, sampai ibu dan ayahmu tak bisa melihat kamu duduk di pelaminan, atau sampai ibu dan ayahmu tak bisa melihat cucu dari anak kamu dan pasangamu?..., sampai kapan?"


Hening.... setelah beberapa detik berlalu.


"Ibu..., untuk yang terakhir kalinya aku bertanya pada ibu. Apakah ibu yakin dengan perjodohan ini?" Tanya Samira masih berharap, sebelum proses lamaran terjadi. Samira masih berharap ada sedikit harapan disana.


"Ibu sangat yakin. Ibu sangat yakin pada Rafiq. Naluri ibu yang mengatakan itu. Apa yang membuatmu ragu padanya?, keluarganya sangat baik pada kita"


"Sebenarnya Samira telah memiliki kekasih bu. Kita sudah menjalaninya sudah sejak lama"


"Siapa dia?, Terus kemana dia?, kemana dia sekarang?. Kenapa tak datang untuk melamarmu atau setidaknya berkenalan dengan orang tua dari wanita yang dia cintai?"


Mendengar pertanyaan beruntun dari sang Ibu samira hanya bisa diam. Sedikit membenarkan semua itu.


"Katanya dia belum siap bertemu Ayah dan Ibu, dia ingin memantapkan hatinya dulu Bu" jelas Samira setelah beberapa detik terdiam.

__ADS_1


"Halahhh. Itu alasan dia saja. Itu bukan cinta namanya. Itu hanya ingin bermain cinta. Sampai kapan harus berpacaran tanpa ada kepastian?, sampai kapan saling panggil sayang tapi tak berujung di pernikahan. Sampai kapan?..." ucap Dianna.


"Yang ada hanya meninggalkan rasa sakit. Sakit yang di akibatkan oleh kalian yang bermain cinta, bermain cinta sesuka hati kalian." Lanjut Dianna lagi setelah beberapa detik kemudian.


Hening.... tak ada jawaban atau penjelasan lagi dari anaknya itu.


"Ibu dan ayah berharap, turutilah kami sekali ini saja. Ini demi kebaikan kamu. Mudah mudahan jika pilihan ibu salah, maka yang menanggung penyesalan tidak kamu seorang. Ada ibu dan ayah yang akan mengambil sebagian agar ringan terasa. Dan jika pilihan ibu benar, silahkan nikmati kebahagiaan yang tuhan berikan kepadamu. Ibu dan ayah akan tersenyum bahagia melihat kamu bahagia"


***


Di tempat lain.


"Tenangkan pikiranmu" saran Musabir yang melihat Rafiq tidak bisa tenang dan selalu menggoyakan kakinya, yang sepertinya sedang merasakan kegugupan yang teramat.


"Baik kak. Aku hanya masih tidak percaya Samira akan menjadi calon istriku"


"Baik kak."


"Kakak dulu seperti kamu, bahkan lebih gugup dari kamu. Saat itu kakak sangat dibenci oleh calon istri kakak. Kamu sudah tau alasan itu." Ucap musabir, kemudian berhenti sejenak.


"Saat itu, di setiap langkah kakak, kakak selalu bertanya tanya apa kah nanti calon istri kakak mau menerima lamaran kakak setelah kejadian itu, kejadian yang disebabkan oleh kakakmu ini. Gugup dan takut saat itu kakak rasakan saling berganti dalam hati kakak. Kemudian kakak menenangkan diri. Hanya mengandalkan cinta kakak yang tulus saja pada calon istri kakak" Lanjut musabir.


"Baik kak. Do'a kan lamaran Rafik lancar. Bismillah..." ucap Rafiq setelah mobil mulai bergerak menuju ke tujuan mereka hari ini.


Beberapa lama kemudian, rombongan keluarga itu tiba di rumah Hartono. Sambutan hangat pun nampak dari wajah keluarga itu. Terkecuali samira, masih dengan ekspresi datar. Sesekali tersenyum ketika melihat keluarga dari pria yang akan melamarnya itu menyapanya. Entah ingin melanjutkan atau tidak lamaran ini, dirinya hanya mengikuti sesuai arahan kedua orang tuanya.


Acara hanya di hadiri oleh beberapa keluarga inti saja. Hal itu dimaksudkan agar prosesi lamaran yang dilaksanakan itu terasa hikmad. Saat ini prosesi lamaran tengah memasangkan cincin pada masing masing jari calon pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Saat ini, tepat dihadapannya. Rafiq menatap wanita itu dengan lekat beberapa detik. Di hadapannya, Sang ibu wanita itu sedang memasangkan cincin di jari anaknya. Rafiq bisa saja memasangkan langsung pada calon istrinya itu, tetapi dia tidak ingin menyentuhnya sebelum kata 'sah' terucap.


"Mudah mudahan cintaku padamu tak akan pudar sampai aku mati. Dan aku menjamin hal itu tak akan terjadi. Apapun nanti yang terjadi aku akan selalu ada disampingmu, mencintai sepenuh hatiku, Demi Tuhan" batin Rafiq.


Di kejauhan sana, tanpa Samira dan Rafiq sadari. Sosok wanita yang sesang berdoa dalam hatinya untuk kebahagiaan mereka.


"Bukan ingin memaksa keadaan. Harusnya aku yang yang mengenakan cincin itu. Harusnya aku yang menjadi calon pasangan hidupnya, harusnya dirinya memilih aku" ucap Qadirah pada dirinya.


"Sangat beruntung dirimu telah dipilihnya. Aku mohon padamu, jaga dia. Aku ikhlas dia bersama dirimu. Asalkan jangan pernah sakiti dia, karena aku tahu dia sangat... sangat mencintaimu" lanjutnya lagi. Ingin rasanya dia mengalirkan air mata, tapi sebisa mungkin ditahannya agar tak ada yang mengetahui ada hati yang sedang terluka.


"Menemanimu melamar wanitamu, sudah cukup daripada tidak melihatmu samasekali"


***


Setelah seluruh ranggkaian prosesi lamaran telah selesai dan keluarga Rafiq telah tidak lagi di rumah itu, Samira masuk ke kamarnya untuk beristrahat sejenak sebelum mempersiapkan berkas cuti kuliah yang akan dibawanya besok.


Samira meraih ponsel miliknya yang diletakkannya sejak tadi pagi di atas nakas dan kemudian menyalakan layar ponsel itu. Disana ada sekitar sepuluh panggilan tak terjawab. Nomor tanpa nama yang membuat dia penasaran. Setelah membersihkan panggilan itu, diasana masih terdapat satu lagi pesan masuk.


"Aku sekarang dekat rumahmu, bisahkah kau keluar sebentar. Aku hanya ingin menjelaskannya padamu" begitu pesan yang tertulis di layar ponsel itu.


Dia sudah tahu persis bahwa itu adalah Dannar, mantan kekasihnya. Tetapi rasa penasaran dan tidak ingin ada kejadian yang tak terduga, dia pun keluar rumah mencari tahu siapa dan dimana pria yang sudah mengirimkan pesan tadi.


Dan benar saja, tepat di depan rumah. Sedang duduk Diatas motor miliknya, motor yang sering membawa dirinya jalan. Pria yang beberapa hari lalu dimintanya untuk menjauhi dirinya sedang memegang ponsel dan sepertinya mengetikan sesuatu disana.


"Bisakah kita bicara sebentar?"


***

__ADS_1


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.


__ADS_2