
"Kamu tidak bercanda kan nak?, Samira hamil?.." tanya Hanna tak percaya.
"Iya bu, Samira Hamil"
"Besok ibu akan kesana"
Sementara itu, mendengar kabar kehamilan putrinya itu, Dianna lantas mengucap syukur. Cucu pertama dari anak tunggal mereka akan segera hadir menemani kesunyian yang Diana dan Hartono rasakan selama ini. Tak sabar menantikan kelahiran cucu pertama mereka, cucu yang akan menjadi penerus perusahaan Hartono.
"Istrahat yang cukup, jaga pola makan kamu, jangan bekerja yang berat berat dulu. Urusan rumah biar ibu dan bi Naroh yang tangani" pinta ibu begitu khawatir.
"Baik bu"
"Sekarang kamu istrahalah. Apa yang kamu inginkan katakan saja pada ibu".
"Aku hanya ingin mas Rafiq menepati janjinya bu. Aku tidak ingin mendengar ada alasan lain yang terucap setelah kelahiran anak ini"
DEG!
"Pasti itu, ibu sangat tau, Rafiq pasti akan menepatinya. Ibu yang akan menjamin itu" jawab Dianna kemudian setelah beberapa detik terdiam.
Samira hanya khawatir jika Rafiq akan ingkar dengan janjinya untuk menizinkan dirinya melanjutkan kuliah dan berkarir setelah lulus nanti.
Saat ini dia ingin segera melanjutkan studinya itu, tapi mencoba bertahan untuk sementara waktu. Dan untuk pria yang tak di cintainya (Rafiq) yang telah menikahinya, dia telah mencoba untuk perlahan membuka hatinya, tapi usaha itu tak cukup membuat dirinya cinta, atau setidaknya suka. Mungkin butuh waktu yang lama, pikirnya.
Sampai dengan sekarang, setelah pernikahan itu dilakukan, Samira merasa, dirinya hanya sebagai seperti istri yang telah di kontrak, yang setelah melahirkan anak pertama mereka, maka perjanjian akan berakhir.
Pria yang selama ini telah menunjukan kasih, sayang, dan cintanya, ternyata hanya dianggapnya sebagai konsekuensi dari kontrak itu. Begitu pun sebaliknya, apa yang telah dilakulannya pada Rafiq selama ini, kasih sayang walau tak utuh, cinta walau palsu, kehangatan walau penuh amarah.
"Aku berharap semua akan benar benar beeakhir setelah anak ini lahir" batin Samira.
***
Hari berganti begitu cepat, kini, saat ini Samira sedang berada di rumah sakit menantikan giliran dirinya untuk dilakukan pemeriksaan kandungan anak pertamanya dengan suami yang masih belum dicintainya itu. Sudah mencoba seperti yang disarankan ibunya, tapi sampai dengan detik ini dia belum merasakan cinta itu tumbuh. Walau sudah melalui suka duka bersama selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan lagi harus terkurung dalam rumah. Aku ingin seperti yang lain. Berkarir sesuai dengan yang mereka inginkan" batinya.
Saat ini Samira sedang bersama sang ibu. Dia dilarang suaminya untuk pergi sendiri ke dokter. Apalagi di usia kandungan yang baru tiga bulan itu.
"Baik bu Samira, coba pelan pelan baringkan tubuh anda. Saya akan memulai memeriksa tekanan darah anda terlebih dahulu" ucap suster yang saat ini sedang melayani dirinya karena telah tiba gilirannya untuk diperiksa.
"Tekanan darah anda normal. Dokter akan datang segera. Mohon bantuannya agar tetap dalam posisi seperti ini" pinta suster itu dan kemudian berlalu dari ruangan.
"Baik suster"
"Sudah lama tidak melihat anda bu Samira. Sejak pemeriksaan kandungan anda yang pertama. Bagaimana keadaan anda, sehat ?" ucap dokter yang sedang memasuki ruangan dimana samira berbaring.
"Kondisi saya sehat dok. Bahkan saya masih kuat untuk datang ke tempat dokter sendirian. Hari ini saya ditemani ibu karena khawatir nanti terjadi apa apa dengan saya"
"Sekuat apa pun anda, jika tak ada yang menemani, itu akan sangat bahaya. Apalagi kandungan anda yang sudah tiga bulan" ucap dokter sambil memeriksa keadaan kandungan Samira.
"Baik dok" jawab Samira singkat.
"Baik dokter" ucap Samira mengerti.
Samira sangat berhati hati menjaga kandungannya. Bahkan dia rela melakukan apapun agar kandungannya itu aman dari segala ancaman apapun yang membahayakan kandungannya dan tentunya dirinya.
Semua itu dia lakukan karena karirnya seperti berada di ujung tanduk. Semua tergantung dari kelahiran anak pertamanya. Dia tidak ingin gagal meraih cita citanya.
***
Sementara di tempat lain, di dalam ruangan kantor dimana Rafiq sedang sibuk bekerja, nampak Aidan sedang duduk menatap nanar kearah Rafiq. Rafiq pun demikian, tak mau kalah menatap pria yang tidak lain adalah keluarganya itu.
Beradu tatap dalam keheningan itu pun cukup lama, sampai akhirnya Aidan yang memulai memecah keheningan itu.
"Oh... jadi itu yang menjadi alasan mengapa Qadirah tidak membuka hatinya pada pria lain, itu karena pria yang di cintainya adalah anak dari majikannya sendiri yang seolah memberikan dia harapan dan akhirnya menikah dengan orang lain. Sungguh kau pria tak berperasaan kak Rafiq. Melihat tingkah mu seperti ini aku seperti melihat pria pecundang" ucap Aidan emosi setelah mengetahui semua alasan mengapa sampai dengan sekarang, dirinya sangat susah untuk mendekati Qadirah.
Bukan memaksakan kehendanya, tapi dirinya merasa kasihan pada wanita yang membuat cinta nya jatuh sangat dalam pada wanita itu. Dia tidak bisa melihat wanita itu terus memikirkan sesuatu yang tidak akan mungkin dimilikinya.
__ADS_1
"Mengapa tak memalingkan cinta nya pada pria lain saja. Kau menunggu pria yang memberimu harapan dulu, tapi pria itu sedang bahagia di atas janjinya padamu. Sampai kapan kau akan menunggu pria pecundang ini?" batin Aidan.
"Kamu tahu dari mana?, jangan menganggap dirimu tahu segalanya tentang hidupku. Kita memang berteman sejak kecil, tapi bukan berarti kau tahu segalanya tentang diriku" ucap Rafiq yang mulai emosi kisah hidupnya di usik.
"Ibu... Aku tahu semuanya dari ibu, ibu telah menceritakannya pada ku"
DEG!
Hening... tak bisa mengelak.
"Sudahlah Dan, aku tidak ingin membahas ini lagi. Jika dia tidak ingin membuka hatinya padamu, jangan paksakan kehendakmu"
"Aku tak memaksa kehendakku kak. Aku hanya merasa kak Rafiq telah mempermainkan hatinya. Aku hanya tak tega melihaynya. Melihat dia menunggu balasan cintanya yang tak kunjung terbalaskan"
"Memang benar, aku tak pernah mengatakan aku tidak mencintainya. Maka aku harap kau bisa sampaikan padanya perasaanku itu" ucap Rafiq.
Sebenarnya perasaan yang disampaikannya itu adalah dusta. Dia sangat mencintai wanita itu, tapi hatinya sekarang telah menetap pada wanita yang lain, yang bahkan telah merebut hatinya lebih dulu dari pada wanita itu.
"Aku bukan kurir cintamu. Silahkan kak Raf yang sampaikan sendiri" ucap Aidan dan kemudian berlalu dari ruang itu.
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Ponsel Rafiq bergetar tak lama sejak sepeninggalnya Aidan sari ruangan itu. Getar ponsel milik Rafiq bertanda ada panggilan masuk sedang berlangsung. Segera dia pun melihat layar ponsel itu dan membaca nama yang melakulan panggilan. 'Ibu'.
"Iya Bu, ada apa?"
"Nak cepat segera ke rumah sakit, Samira kecelakaan" ucap Hanna dari seberang sana sambil terisak menahan tangis.
"Baik bu, Rafiq akan segera kesana".
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.
__ADS_1