
"Samira belum sadar, dan kata dokter... anak yang dikandungnya tak bisa di selamatkan" ucap Hanna terbata
DEG!!!
Bagai disambar petir. Dianna dan Suaminya mematung tak berdaya.
"Apa?..., Bu Hanna sekarang tidak sedang berbohong kan bu?" Tanya Dianna tak percaya apa yang diucapkan Hanna barusan tadi.
Tak bisa membuka mulutnya lagi untuk bicara. Apa yang Hanna bisa lakukan adalah hanya ikut menangis melihat Dianna tak bisa menahan tangisannya.
"Sabar bu, ikhlaskan" ucap Hartono yang ada di sampingnya berusaha menguatkan istrinya itu.
"Cucu kita Pa, cucu pertama kita" ucap Dianna dan beberapa saat kemudian setelah dia mengucapkan kalimat itu, dia pingsan lemas tak berdaya.
Hartono yang ada disampingnya pun dengan sigap menahan tubuh Dianna agar tak jatuh kelantai. Hartono pun membopong Dianna ke kursi dekat dengan mereka, di dalam kamar dimana Samira saat ini berbaring.
Tanpa yang lain ketahui, hati dan pikiran Hartono saat ini berkecamuk tidak karuan. Tapi berusaha terlihat tegar dimata istrinya. Mencoba menahan air mata yang menetes sesekali di pipinya. Merelakan cucu pertama yang sangat dinantikan olehnya harus pergi disaat usia kandungan masih tiga bulan. Harus pergi saat dirinya belum dapat melihat wujud utuh sang cucu.
***
Setelah beberapa jam tidak sadarkan diri, dan tepat pukul 20.40, Samira akhirnya sadarkan diri juga. Sedikit meringis kesakitan, sakit yang dia rasakan dari luka kepala yang telah di perban itu dan dari perut yang terasa keram.
"Kamu sudah sadar nak?" Ucap Dianna yang sedari tadi duduk di sampingnya.
Tak ada jawaban dari Samira, yang terlihat hanyalah dirinya sedang mengumpulkan ingatannya atas kejadian yang telah dialaminya beberapa jam yang lalu. Kejadian yang mengerikan yang mampu membuat dirinya sedikit mengernyitkan dahinya namun tak kunjung dapat mengingatnya
Para anggota keluarga nampak mulai mendekat. Rafiq saat ini, tidak dapat berbuat apa apa, selain hanya pasrah jika Samira akan tahu bahwa anak yang ada di dalam kandungannya sudah tak ada lagi. Ingin menyampaikannya lebih dulu, dirinya tak mendapatkan cukup keberanian untuk hal itu. Sehingga, dia mengambil keputusan, biarkan saja Samira menegetahuinya dengan sendiri.
__ADS_1
"Yang sabar nak" ucap Hanna pada Samira yang terbaring dengan tatapan kosong. Masih mencoba mengumpulkan ingatannya. Hanna yang mengucapkan hal itu, lantas tak kuasa menahan air mata. Ingin segera dia mengatakan bahwa anaknya telah tiada. Tapi mulutnya tak cukup kuat digerakkannya. Cepat atau lambat dia pasti akan tahu. Dan sebaiknya diberi tahu secepatnya. Begitu dalam pikiran Hanna.
Rafiq pun menghampiri Samira. Niat hati membiarkan Samira mwngetahuinya dengan sendirinya, namun melihat sang ibu yang mencoba menyampaikan hal itu tak cukup kuat, dirinya pun ikut membantu. Mencoba sekuat tenaga menenangkan dirinya, dan membelai belai lembut kepala istrinya itu. Ingin mengatakan sesuatu, namun, apa yang dirasakan Hanna, juga sama seperti yang dirasakan Rafiq saat ini. Mulutnya seolah tak bisa digerakkan.
Samira sudah mulai mengingat ingat kejadian yang menimpanya. Tangannya mulai dia gerakkan dan mulai meraba perutnya. Merasakan sedikit keanehan pada perutnya yang tidak lagi membucit seperti biasanya.
"Dimana anakku?!!, Dimana anakku?!!" Tanya Samira segera setelah tau dan merasakan perutnya saat ini tak seperti sebelumnya.
"Sabar sayang, kata dokter anak kita..." ucap Rafiq mencoba menguatkan Samira sambil membelai kepalanya.
"Tidak, kembalikan anak aku mas. Kembalikan" potong Samira sambil teriak histeris, yang membuat dirinya kembali lemas dan pingsan dengan air mata yang masih mengalir dari kedua matanya.
***
Pagi itu, di rumah kedua orang tuanya. Samira duduk di kursi di taman belakang rumah. Menatap sesuatu yang ada di depannya. Namun, tatapan itu sangat kosong. Pikirannya tidak sejalan dengan apa yang dilihatnya. Melainkan sedang memikirkan hal lain. Hal yang ingin segera dia lakukan.
"Harus sampai kapan mas?. Apakah sampai diriku tua baru mas akan membiarkan aku melanjutkan study ku dan mengembangkan karirku" ucap Samira ketika Rafiq berada di sampingnya.
"Aku ingin, aku segera melanjutkan kuliah aku mas" lanjut Samira.
"Aku tidak bisa mwngizknkanmu mir. A-Aku hanya tidak ingin kamu akan kelelahan dengan kehamilan kamu nanti dan juga kerjaan pribadimu" jawab Rafiq.
"Aku tidak sedang meminta izin dari kamu dan Aku mampu mas"
"Bukan begitu Mir, Kamu saja tidak cukup menjaga kehamilan kamu yang pertama, terus kamu ingin, kamu segera melanjutkan kuliah mu?"
"Takdir tidak bisa dicegah mas. Jika dia harus pergi maka tak ada yang dapat menahannya. Termasuk aku"
__ADS_1
"Mungkin benar tidak bisa di cegah, tapi bisa kah kau mencobanya?.. dan cobalah untuk tidak keras kepala Mir. Ikuti apa saranku. Sekali lagi, Aku hanya ingin kau tidak terlalu lelah"
"Sekali lagi pula, aku mengatakan bahwa Aku mampu mas"
"Semampu apa dirimu menjaga anak kita nanti?.. sudahlah mir, untuk apa kau harus bekerja. Kamu ingin apa? Aku bisa penuhi. Asalkan jangan memintaku untuk mengizinkanmu bekerja tanpa ada tujuan pasti."
"Siapa yang bilang aku tak punya tujuan pasti mas? Aku sungguh sangat punya tujuan. Akan kemana aku jika kamu meninghalkan aku?.."
DEG!
"Tak ada niat sedikit pun dalam pikiranku untuk meninggalkanmu, dan aku tak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi Mir. Tak akan pernah!" Ucap Rafiq kemudian setelah beberapa detik terdiam.
Dan memang benar. Rasa cinta Rafiq padanya sangatlah besar. Dia tak ingin terjadi hal hal yang buruk pada Samira. Untuk itu, dia meminta Samira untuk tetap di rumah saja.
Seperi halnya ibu ibu pada umumnya yang beraktivitas di rumah. Biarkan dia yang mencari nafkah untuk istrjnya. Walau tidak bisa memastikan akan mendapatkan rezeky atau tidak. Tapi apa pun hasilnya, senang, bahagia, susah, sedih, ditanggung sama sama. Biarlah dia sebagai seorang pria, seorang suami yang diberikan tenaga lebih dibandingkan wanita, yang akan mengerjakan semuanya. Pikirnya.
"Kau bisa memberiku jaminan apa atas ucapanmu itu?" Jika kau menceraikanku?, jika kau mati meninggalkanku?... Aku akan kemana?" Ucap Samira
"Jika bapak ibuku telah tiada.?, aku harus bergantung pada siapa ?.. tak ada mas... tidak ada!. Selain, aku yang harus bergantung pada diriku sendiri"
Apa yang Samira ucapkan memang benar adanya. Kemana dirinya akan menggantungkan hidupnya jika orang yang menyayangi dia tak ada lagi disampingnya. Tapi apakah benar, bahwa uang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menggantungkan hidup?...
"Apa pun alasannya aku tak akan memberikan izin padamu untuk hal yang tidak beeguna itu" ucap Rafiq sedikit emosi dan penuh ketegasan dalam nada suaranya.
"Aku.. tidak.. butuh.. izin.. dari kamu".
***
__ADS_1
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.