
"Pikirkanlah, selagi kesempatan itu ada. Tak semua orang dapat memiliki kesempatan yang sama seperti dirimu. Pilihan yang menurut kamu sudah terbaik belum tentu yang terbaik" lanjut Ghea lagi.
***
Walau nomor ponsel Samira telah tersimpan di dalam ponselnya, Rafiq tidak ingin menghubungi Samira lebih dulu. Dia hanya tidak ingin terkesan seperti memaksa untuk menjeputnya pulang. Toh dia telah mengiyakan tawaran yang diajukannya tadi. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah bersiap siap dan mengecek ponselnya jika secara tiba tiba terdapat pesan disana dari wanita itu.
Sudah hampir dua jam lebih setelah kepulangannya dari kampus tadi, dirinya tak mengerjakan apa pun di kantor Ayahnya itu. Untuk saat ini, pikirannya belum ingin di ganggu oleh pekerjaan perusahaan atau siapa oun di kantor itu, kecuali keluarganya. Dia ingin fokus dulu pada wanita yang susah hilang dari pikirannya.
TING!
"Ah, mengganggu saja!" umpat Rafiq melihat pesan masuk yang ternyata itu adalah pesan dari provider yang mengingatkan tawaran paket internet murah yang sungguh sayang untuk dilewatkan.
TING!
Bunyi yang sama dengan sebelumnya kembali berbunyi dari ponsel miliknya yang terletak di atas meja kerjanya.
Mengira bahwa itu berasal dari provider yang biasanya mengirimkan dua pesan dalan satu waktu. Setelah menawarkan paket internet murah, kemudian akan mengingatkan program udian poin nya.
Sedikit lambat dari sebelumnya dia mengecek pesan itu. Menyalakan layar dan akhirnya, pesan yang ditungu tunggu sejak dari tadi, telah tiba dan langsung dibacanya.
"Aku sudah selesai kelasnya. Sekarang aku di 'Cafe Barat' dekat kampus. 500 meter dari pintu masuk sebelah kanan" begitu bunyi pesan masuk yang membuat senyum di bibirnya tercipta seketika.
Tak mau Samira menunggu lama, dia segera merapikan kemejanya dan segera keluar dari ruangan menuju dimana kenderaan kesayangannya itu terparkir.
Tak butuh waktu lama untuk dirinya sampai ke kampus karena siang itu, tidak begitu banyak mobil melintasi jalanan yang dilewatinya.
Dari kejauhan, Rafiq telah mengenali Samira yang sedang duduk bersama seorang wanita yang dilihatnya tadi pagi dari dalam mobilnya.
"Tampan, Sungguh sangat tampan" ucap Ghea ketika melihat Rafiq yang kini telah berada di depan mereka. Dia segera sadar bahwa pria yang sedang di tatapnya itu adalah pria yang sama tadi pagi. Tak memikirkan apakah suaranya tadi terdengar oleh si pemilik wajah atau tidak, karena yang dia ucapkan benar adanya.
__ADS_1
Mendengar apa yang di ucapkan teman dari wanita yang akan dijeputnya itu, ada sedikit rasa bahagia dalam dirinya. Padahal biasanya teman teman wanitanya dan beberapa wanita yang ditemuai di kampusnya dulu atau di kantor ayahnya, juga mengatakan hal yang sama, tapi baginya hanya biasa saja. Tak sedikit pun ada rasa yang seperti sekarang ini dirasakannya. Mungkin kalimat itu diucapkan di depan wanita yang saat ini sungguh menggangu pikirannya.
"Awwww!" teriak Ghea sedikit keras yang sejak sedari tadi menatap pria yang berdiri di depannya, yang kemudian dengan sekejap merubah arah tatapannya ke arah kakinya. Ya, yang memicu teriakan tadi ada di bawah sana. Kaki Samira tepat berada di atas kaki Ghea.
Ghea kemudian menggeser kaki kirinya itu. Dia belum menyadari kenapa tiba tiba kaki Samira ada diatas kakinya, sampai akhirnya dia menatap kembali ke atas dan melihat raut wajah Samira yang seolah memberikan isyarat untuk berhenti bicara.
"Ghea..." ucapnnya dengan menyodorkan tangan kanannya ke arah Rafiq yang tak sabar ingin cepat cepat dibalasnya.
"Rafiq..." ucapnya dengan kedua tapak tangannya disatukan di depan dada bidangnya serta dibarengi dengan sebuah senyum yang tercipta dari lengkungan bibirnya yang secara bersamaan memperjelas lesung pipi yang terlihat samar di pipi kanannya itu.
Ghea pun segera mengerti dan menarik kembali tangannya kemudian melihat telapak tangan miliknya apakah ada sesuatu disana. Gerakan reflek itu membuat Samira menggelengkan kecil kepalanya.
"Masih ada yang ingin dibicarakan dengan temanmu?... biar aku tunggu di dalam mobil saja" tanya Rafiq ketika melihat tingkah Ghea dan Samira barusan tadi.
"Oh iya, bisakah sedikit lagi? sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan dengan temanku. Tugas kuliah" Akhirnya, Samira mengeluarkan kata yang sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Dirinya merasa sedikit legah. Setidaknya wanita itu tidak lagi hanya mengeluarkan satu kata selama bersama dirinya.
"Kalau begitu aku tunggu di mobil saja" ucap Ragiq tak ingin mengganggu mereka dan kemudian segera menuju ke mobilnya.
"Biasa saja"
"Sedikit lepas dari genggamanmu, akan ku tangkap"
"Silahkan saja" ucap Samira santai.
"Aku balik duluan, kamu ada yang jemput atau pulang sendiri?"
"Pulang sendirilah. Kamu tau kan aku tak berpawang."
"Ha ha ha, baik. aku duluan ya?. Kamu hati hati di jalan" Samira kemudian menyusul Rafiq yang telah berada dalam mobil lebih dulu.
__ADS_1
***
Setelah kepulangan Samira dari kampusnya, semua yang diucapkan teman temannya coba dia uraikan satu persatu. Mencoba memahami maksudnya. Dan menepis segala keraguan yang sering menyelimuti pikirannya. Dua hal yang tak bisa dia lepaskan adalah kekasihnya dan kakrinya. Tapi setidaknya dari kedua itu ada salah satu yang tak dilepasnya. Agar penyesalannya tak begitu sakit dirasakannya kelak. Dan pilihannya tentu saja karirnya.
Untuk itu, saat ini dirinya sedang berusaha berpikir bagaimana caranya menyampaikan semua ini kepada kekasihnya. Samira juga tidak ingin kekasihnya terluka karena dirinya.
Dan pilihan itu tercipta kembali. Lebih tidak ingin melihat siapa yang terluka atas pilihannya, kekasihnya atau orang tuanya ?...
Malam ini rencananya dia akan menyampaikan kepada kedua orang tuanya tentang keputusannya. Walau Bapak dan Ibunya tak butuh keputusan itu, tapi setidaknya Bapak dan Ibunya mendengarkan permintaan yang akan di sampaikannya nanti.
Dengan sangat berat, Samira meraih ponselnya yang diletakkan di atas kasur dekat dengan dirinya. Rasa sedih pun tak bisa dihindarinya. Matanya kini penuh dengan air. Melihat layar ponsel yang telah dinyalakannya pun, dirinya tak sanggup. Tapi tetap berusaha untuk tetap tegar. Berusaha menutup matanya untuk menjatuhkan air bening itu dari matanya, dan kemudian air itu menetes jatuh di kedua pipinya. Kini saatnya dia menekan tombol 'panggil' untuk bisa terhubung dengan kekasihnya.
"Halo..., ini aku sudah di tempat biasa, kamu dimana?. Aku sudah sejam lebih disini" ucap pria yang berjanji akan menemui Samira setelah kepulangannya di kampus.
Mendengar suara itu dirinya tak mampu berkata apa apa. Kembali dia menutup matanya lagi untuk menjatuhkan air bening yang telah menumpuk di matanya.
"Halo... Mir, kau masih disana kan? Siapa yang menangis?"
"A-aku belum siap... u-untuk berpisah denganmu. Tapi... A-aku tak punya pilihan lain selain melepaskan mu. Aku hanya berharap... apa yang aku putuskan ini adalah keputusan terbaik" ucap Samira terbata bata.
Hening....
Tak ada jawaban dari seberang sana.
"Mir..., Sebegitu cepatnya kau melupakan kenangan kita yang sudah terjalin selama ini. Mana janjimu dulu yang ingin hidup bersamaku sampai tua nanti. Apakah aku tidak cukup meyakinkanmu untuk menjadi suami mu?" Ucap kekasihnya terdengar cukup pilu.
"Ketidakyakinanku, sampai dengan hari ini, kau tidak pernah mau memperkenalkan dirimu pada orang tuaku"
"Itu karena aku belum siap sayang. Aku hanya ingin sedikit memantapkan hatiku untuk bertemu kedua orang tuamu. Aku hanya butuh waktu sedikit lagi. Aku mohon sayang, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Kita sudah berkali kali lalui hal yang seperti ini".
__ADS_1
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.