
"Baik kak" ucap Rafiq singkat yang kemudian membaringkan tubuhnya di sofa yang di dudukinya itu.
Setelah menjelaskan semua yang menjadi persyaratan atas apa yang ditimbulkan oleh permintaan Samira, Rafiq pun malam ini memutuskan untuk menginap di rumah kakaknya. Alasan lainnya adalah dirinya akan terlalu kelelahan jika menembus jalananan sore hari yang ramai akan kendaraan.
Saat ini, di kamar yang sudah disediakan oleh musabir untuknya, jika dirinya berkunjung ke rumahnya. Nampak Rafiq sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Merasa haus setelah beberapa menit mengerjakan tugas kantornya itu, dia pun bergegas keluar kamar dan menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. Namun, niat itu dia batalkan sejenak ketika dirinya melewati kamar kakak dan istrinya itu. Terdengar suara sayup sayup dari dalam kamar Musabir, nama yang begitu dikenalnya terucap dari mulut kakanya.
Hampir bersamaan dengan keluarnya Ragiq dari kamarnya, di dalam kamar lainnya, malam ini, Musabir sedang melakukan panggilan di layar ponselnya yang saat ini ditemani sang istri yang duduk disampingnya. Nama itu, nama yang menghubunginya kemarin tertulis di layar ponsel yang sedang melakukan panggilan. Kemudian Musabir menekan tombol speaker di layar ponsel itu agar istrinya juga ikut mendengar apa yang sedang mereka bicarakan nanti, juga untuk mengingatkan dirinya jika ada sesuatu yang dia lupakan untuk disampaikan.
"Halo..." tak butuh waktu lama, jawaban atas panggilan itu telah terhubung. Suara Pak Hartono terdengar ramah, menyapa sang pemilik ponsel.
"Halo Pak Hartono... ini Musabir Pak." ucap Musabir yang sampai ke telinga Rafiq
"Oh iya... Musabir, Bagaimana ?" Tanya Pak Hartono yang sepertinya sudah tau maksud dari tujuan panggilan itu dilakukan. Tentunya ingin menyampaikan keputusan Rafiq terhadap permintaan Samira seperti yang telah di sampaikannya.
"Iya Pak Hartono. Rafiq setuju dengan permitaan Samira. Tapi Rafiq mengajukan satu persyaratan"
"Persyaratan apa itu?, syarat itu pasti bisa diterima oleh anak saya" seakan tak ingin terlalu lama perjodohan ini dilakukan, dan juga ingin segera melangsukan prosesi pernikahan putrinya itu, dia mengiyakan tanpa harus mendengar telebih dahulu permintaan Rafiq yang akan disampaikan kakanya itu.
"Rafiq setuju jika Samira melanjutkan kuliah dan bekerja setelah nikah nanti. Tapi setelah anak pertama mereka lahir"
"Oh. Baik nanti saya akan jelaskan ke Samira. Segera kabarkan ke Bapakmu, datanglah ke rumah untuk melamar"
"Segera" gumam Rafiq sambil tersenyum bahagia, yang saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar Musabir.
"Baik Pak, mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan"
"Baik nak Musabir, sampai bertemu kembali, sampaikan salam saya sama nak Rafiq. Sampaikan jangan terlalu lama untuk melamar Samira. Pintu rumah bapak selalu terbuka buat nak Rafiq"
"Baik pak nanti saya sampaikan"
Dan pembicaraan itu pun berakhir dengan ditandai rasa kebahagian yang terdengar dari suara pak Hartono di seberang sana.
__ADS_1
Rafiq yang merasa pembicaraan itu telah selesai, segera mengambil langkah lebar nya dengan sangat hati hati menuju ke dapur, melanjutkan niatnya yang sempat dijedanya tadi.
"Siapa kak?" Sapa Rafiq pada kakaknya yang saat ini sudah keluar kamar sambil memegang ponselnya. Seolah tidak mendengar seluruh isi pembicaraan itu.
"Oh, pak Hartono. Tadi kakak sampaikan apa yang menjadi permintaanmu"
"Terus kak?" Tanya Rafiq masih pura pura tak mendengar percakapan tadi.
"Salam Pak Hartono ke kamu. Katanya jangan lama lama melamar Samira"
Dan hal yang ingin di dengarnya lagi akhirnya terucap. Rafiq hanya ingin mendengar kalimat itu 'segera melamar', hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang di dengarnya tadi tidak salah.
Dan perjuangan yang dirinya lakukan untuk menaklukan wanita yang telah disukainya sejak SMA itu kini sedikit memberi harapan. Dia tidak pernah merasa bahwa perjodohan ini membuat dirinya tidak diberi kebebasan, melainkan mempermudah dirinya menggapai cintanya yang pernah dikuburnya untuk sementara waktu itu.
***
Di tempat lain, di rumah Hartono Dwinugrah. Setelah perintah di sampaikannya pada Dianna untuk berkumpul sejenak, nampak semua anggota keluarga itu sedang duduk di ruang tamu.
Dan sedetik kemudian dia pun mengutarakan apa yang menjadi tujuannya agar ibu dan anaknya itu berkumpul.
"Rafiq setuju dengan permintaanmu"
Mendengar hal itu, Dianna merasa bahagia. Perjuangan yang selama ini dilakukannya agar anaknya dapat bersanding dengan menantu idamannya sedikit lagi akan terwujud. Dan tentunya ada harapan disana agar dapat memberikan cucu bagi dia dan suaminya.
"Tapi..." lanjut Hartono
"Tapi apa?..." tanya Dianna penasaran. Begitu pun dengan Samira yang saat ini arah pandangannya telah beralih ke ayahnya.
"Permintaan kamu akan dikabulkan setelah anak pertama kalian lahir"
Tentu hal ini membuat Dianna merasa senang. Karena dirinya khawatir jika nanti Samura hamil dan kemudian harus bekerja.
__ADS_1
"Hanya itu?" Tanya Samira yang tedengar sangat menyanggupi permintaan itu. Setidaknya bagi dia, bertahan mungkin lebih dari setahun tidak maaalah. Dia bisa ambil cuti kuliahnya dulu sampai anak pertama mereka lahir dan kemudian melanjutkan aktifitas seperti biasa yang di inginkannya.
"Iya hanya itu"
"Baiklah, Samira setuju" ucap Samira.
Senyum di kedua bibir yang saat ini menatap Samira terkembang merekah. Akhirnya, penantian panjang Dianna dan Hartono akan terkabul juga sesaat lagi.
"Kalau begitu kita buat rencana untuk diskusi dengan keluarga pak Adnan kapan tanggal pernikahannya" ucap Hartono setelah mereka sampai dikamar.
"Kalau bisa secepatnya. Nanti coba aku hubungi Bu Hanna besok" jawab Dianna
***
Pagi ini, Musabir harus memperpanjang izin untuk tidak masuk selama beberapa hari karena harus pergi ke rumah orang tuangya, untuk menjelaskan ke Bapak dan Ibunya perihal penjelasan dari Pak Hartono untuk segera melamar anaknya dan juga sekalian untuk mengunjungi orang tuanya karena sudah setahun ini baru sekali mereka mengunjungi mereka.
Setelah selesai mengurus semua perizinannya, kemudian menuju ke rumah orang tua mereka dengan menumpangi mobil Rafiq bersama anak dan istrinya.
Kedatangan anak pertamanya itu, telah diketahui oleh Hanna langsung dari anaknya yang sebelum mereka berangkat telah mengirimkan pesan ke ibunya untuk minta dibuatkan kue kering kesukaannya, yang membuat dirinya saat ini sedang sibuk menyiapkannya serta jamuan makan untuk anak tercintanya itu.
Tiga jam lebih menempuh perjalanan, akhirnya Rafiq dan Kakak beserta keluarga kecilnya itu tiba di rumah orang tuanya.
Terlihat putri pertama Musabir segera turun dari mobil dan berlari masuk menuju rumah itu, tak lama kemudian di susul Musabir dan Istrinya. Sedangkan Rafiq melanjutkan mengendarai mobilnya ke garasi.
Setelah beberapa menit, semua anggota keluarga itu pun telah berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati kue kering buatan Hanna, kecuali Rafiq yang saat ini sedang di kamarnya dan ayahnya yang berada di kantor.
"Assalamualaikum" suara lembut yang sangat familiar di telinga keluarga itu mampu menghentikan aktifitas mereka saat ini. Semua yang ada disana pun penasaran dengan suara siapa yang memberi salam di siang hari ini.
"Qadirah..." ucap Hanna ketika melihat sosok wanita yang di panggilnya Qadirah itu, berada di ambang pintu utama rumah mereka.
***
__ADS_1
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.