Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 18: Kali Pertama


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


Suara dari pintu kamar mereka berbunyi bersamaan dengan Samira yang masuk ke dalam kamar mandi.


Rafiq yang mendengar suara itu pun lantas panik. Dirinya yang tak mengenakan sehelai kain pun di badannya, hanya selimut yang menutupi bagian intinya itu, kemudian bergegas berdiri mengenakan celana pendeknya yang terletak di lantai dan kemudian mengambil kaos dari dalam lemari, dan segera membuka pintu yang berbunyi tadi. Mengira itu adalah salah satu anggota keluarga dalam rumah itu.


"Siapa?" Tanya Rafiq seolah tadi tidak terjadi apa apa pada dirinya dan Samira.


"Aku Kak" jawab Aidan dari luar kamar.


Aidan yang sedari tadi di depan pintu kamar mereka, sebenarnya tidak ingin melakukan itu. Hanya saja dia harus terpaksa melakukannya demi mendapatkan informasi terkait wanita yang menemaninya tadi.


Tidak ada pilihan lain, selain menanyakannya pada Rafiq, walaupun sedikit mengganggu malam pertama mereka, pikir Aidan.


Sebelum pulang ke rumahnya, Aidan sempat ingin bertanya orang yang serumah dengan wanita itu, Namun yang dia dapati, Hanna sedang berada di kamarnya sedang istrahat setelah lelah dengan kegiatan siang tadi, kemudian Ingin bertanya pada Musabir, pasti dia tidak begitu dekat dengan Qadirah. Begitu alasan dirinya mengapa saat ini dia berada di rumah Pak Hartono.


"Ada apa Dan?, kok kesini lagi?" Tanya Rafiq yang saat ini sudah berada di luar kamarnya.


"Aku tadi sudah mau pulang kak. Kebetulan lewat sini, jadi aku mampir dulu. Oh iya, Itu kak?, aduh siapa namanya, aku lupa, oh iya Qadirah. Kak Rafiq punya nomor ponselnya?"


"Buat apa?" Tanya Rafiq penasaran.


"Itu kak, besok aku mau Qadirah temani aku ke rumah teman. Katanya besok dia lamaran kak."


"Memangnya kamu tidak punya teman wanita?"


"Punya kak, tapi semua udah punya pasangannya masing masing, lagi pula aku kan sudah lama di luar negeri, jadi untuk nyari mereka butuh waktu kak. Acara tunangan temanku besok. Tidak sempat lagi buat hubungi mereka"


"Kenapa harus Qadirah?" Tanya Rafiq penasaran.


"Mas... siapa itu mas?" Tanya Samira dari dalam kamar.


"Aidan, sepupu aku" jawab Rafiq.


"Baiklah, nanti aku kirim nomornya. Kan bisa telpon, kenapa harus datang segala" ucap Rafiq setelah tidak mendengar respon dari Samira.


"Sekalian mau ngecek sudah apa belum"

__ADS_1


"Ngecek apa maksudnya?"


"Itu kak... yang itu"


"Dasar...." umpat Rafiq setelah mengerti apa yang dimaksud Aidan.


"Aku permisi kak... selamat menikmati" ucap Aidan kemudian berlalu dari rumah itu.


Sebenarnya bukan paras cantik wajah Qadirah yang membuat Aidan sampai melakukan hal itu. Sikap dan sifat wanita itu yang memicu semuanya.


Ada niatan dalam hati Aidan untuk mendapatkan dirinya, bagaimanapun caranya. Dan besok dia berencana akan mengajak Qadirah untuk pergi ke acara lamaran temannya. Setidaknya jika ada pertanyaan seperti 'pacar mana?' Tidak akan ditanyakan lagi. Dan untuk pertanyaan 'kapan nikah?' Nanti akan dipikirkan olehnya kemudian.


Sekarang yang ingin dia lakukan adalah bagaimana caranya mendapatkan izin dari Hanna untuk mengajak Qadirah besok malam. Dan itu akan sangat mudah menurutnya.


***


Seperti halnya para istri pada umumnya, Samira pagi ini membuatkan pria yang sekarang telah menjadi imamnya itu sarapan pagi. Belum tahu banyak tentang selera Rafiq untuk sarapan, tapi setidaknya dia telah berusaha menyiapkannya. Begitu pikirnya.


"Maaf mas, aku tidak tahu biasanya mas Rafiq sarapannya apa. Jadi saya hanya buatkan roti dan kopi saja" ucap Samira yang ikut duduk di meja makan itu setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Oh aku ganti teh saja kalau begitu, bentar ya mas."


"Tidak usah, sekali kali aku minum kopi tidak apa apa" ucap Rafiq menahan tangan Samira agar tak beranjak dari duduknya.


Medengar hal itu, Samira pun mengurungkan niatnya untuk membuatkan segelas teh.


Memegang tangan Samira membuat Rafiq menjadi gugup. Walaupun sudah menjadi istri sahnya. Mungkin dirinya masih belum terbiasa dengan hal itu, pikirnya.


Masih dengan rasa malu yang semalam dirasaknnya, Rafiq masih sedikit gugup menatap lama istrinya. Sedangkan istrinya terlihat cuek dengan yang sudah terjadi semalam.


"Ternyata seperti inilah rasanya menjadi suami. Malam di layani, siang dilayani juga. Tugasku harus membahagiakan istriku" batin Rafiq sambil tersenyum menikmati sarapan pagi buatan istrinya untuk pertama kalinya itu.


"Kerjaanmu bagaimana nak Rafiq?" tanya Pak Hartono yang membuyarkan lamunan bahagia Rafiq saat ini.


"Ada asisten pribadi saya yang tangani Om" jawab Rafiq. Sebenarnya dirinya telah cuti selama seminggu dari kerjaannya. Dan yang akan menggantikannya untuk sementara waktu adalah asisten pribadinya yang juga merupakan teman baiknya.


Seminggu adalah waktu yang cukup panjang menurut Rafiq. Untuk waktu itu dia bisa menikmati waktu bersama dengan istrinya. Sempat menanyakan pada Samira jika ingin kemana untuk bulan mandunya. Namun Samira hanya menjawab ingin di rumah saja. Apakah mungkin jika tidak mencintai pria yang telah menjadi suami, keinginan untuk berdua tak sedikit pun terbesit dalam hatinya?. Atau setidaknya menghargai keinginan pasangannya. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi Rafiq. Dimana pun itu, jika istrinya merasa senang, dia akan turuti.

__ADS_1


"Jangan panggil Om dong, Panggil saja Papa, kami ini sudah jadi orang tua kamu"


"Baik Pa"


"Kata Ayah kamu, cabang perusahan yang kamu tangani sekarang sudah siap untuk beroperasi ya?.. wah hebat kamu nak"


"Iya Pa, rencananya dekat dekat ini Pa"


Selang beberapa menit, sarapan pagi itu pun selesai dan Pak Hartono segera bergegas pergi ke kantornya. Rafiq dan Samira kembali ke kamarnya. Dianna hanya mampu memandang mereka penuh kebahagiaan.


Akhirnya Samira berdampingan dengan suami yang tepat. Begitu pikirnya.


***


"Aku udah pamitan ke Ibu, aku akan ajak kamu ke acara tunangan temanku. (Aidan)" begitu pesan yang saat ini sesang di baca Qadirah.


"Ada apa lagi ini?. Kenapa harus aku?" Batinnya.


"Maaf Mas. Aku tidak bisa" begitu kalimat yang di tulisnya dalam aplikasi pesan itu, dan kemudian membacanya kembali.


Merasa itu sedikit tidak sopan, menolak permintaan dari keponakan sang majikan, akhirnya kalimat yang siap dikirim itu pun di hapusnya.


"Baik mas" begitu jawaban atas ajakan Aidan yang telah Qadirah kirim.


"Malam ini jam 07.00 aku jemput. Dress Code nya warna putih dan merah muda".


Tak membalas pesan terakhir dari Aidan, Qadirah sedang berdikir gaun miliknya yang berwarna seperti yang diminta. Seingatnya dirinya tidak memiliki gaun yang berwarna seperti itu. Mungkin ini akan bisa menjadi alasan untuk tidak pergi ke acara itu.


"Maaf aku tidak punya gaun sesuai dengan dress code nya."


"Kalau begitu aku jemput kamu siang ini untuk cari gaunnya"


"Astaga!!" Ucap Qadirah tak mampu menolak tawaran itu dan melainkan mengiyakannya. Menolak sama halnya tak menuruti permintaan majikan.


***


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2