
Pilihannya antara tetap bertahan dengan suaminya atau mengambil kertas itu dan menghubungi mantan kekasihnya. Menghubunginya artinya memberi Dannar harapan untuk memulai hubungan dengan dirinya lagi.
"Aku tak akan bisa mengubunginya" ucap Samira. Dia pun memutuskan untuk menolak mengambil kertas itu. Kertas yang bertuliskan nomor ponsel kekasihnya. Rasa ingin mengambilnya ditahan sekuat mungkin. Pasalnya sejak dirinya menikah, Dannar telah mengganti nomor ponselnya.
Sejenak dalam pikirannya terbesit, ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya itu. Samira merasa ada yang aneh dengan sikap yang ditunjukan sahabatnya, namun sedetik kemudian ditepis olehnya. Dia masih sangat percaya pada sahabatnya itu.
Alasan mengapa dirinya menolak kertas itu adalah dia tidak ingin orang tuanya kecewa, jika mereka tahu dirinya membuka hati untuk mantan kekasihnya dan meninggalkan pria yang telah menjadi suaminya itu. Begitu pikir singkatnya.
Mendengar apa yang diucapkan Samira, Putri merasa ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Entah apa yang membuat dirinya legah, yang pasti, itu menimbulkan rasa semakin curiga Samira. Dia mencurigai Putri memiliki hubungan dengan Dannar, tapi itu tidak mungkin, Putri adalah sahabat baiknya. Pikir Samira lagi.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan langsung pulang ke rumah. Aku khawatir ibu dan ayah akan mencariku. Aku setelah menikah masih tetap tinggal di rumah orang tua aku. Jadi, jika kau butuh aku, datanglah ke rumah orang tuaku" ucap Samirah
"Baiklah... Aku juga harus pergi. Aku akhir akhir ini juga menyiapkan sesuatu" ucap Putri kemudian.
Kedua wanita yang menyukai pria yang sama itu pun, lantas berpisah arah menuju ke tempat tujuan mereka, dengan sejuta pertanyaan yang ada dalam pikiran mereka masing masing
***
Hanna saat ini sungguh legah atas sedikit nasehat yang dia sampaikan pada Samira tadi, hal yang membuat Aidan penasaran itu.
Hanna hanya mengatakan pada Qadirah bahwa jangan sampai dirinya menyesal untuk kedua kalinya. Bukanya sifat yang saat ini di tunjukan Aidan sama persis dengan sikap Rafiq dulu pertama kali melihatnya?. Begitu pertanyaan yang di lontarkan Hanna pada Qadirah yang membuatnya memutuskan akan memulai membuka hati secara perlahan pada pria yang mendekatinya itu.
__ADS_1
"Nak, ibu pesan bakso juga ya. Katanya, bakso dekat taman itu banyak peminatnya. Ibu jadi penasaran pingin mencobanya juga" pinta Hanna pada Aidan yang akan keluar bersama dengan Qadirah, membeli bahan kue di toko langganan Hanna yang tak jauh dari rumah mereka. Letaknya tepat di depan sebuah taman.
"Baik bu" jawab Aidan.
"Bahan kuenya itu saja bu?, sepertinya terigunya masih kurang" tanya Qadirah
"Sudah cukup. Kasihan nak Aidan, ngangkatnya pasti berat" jawab Hanna.
"Baik bu. Qadirah pamit dulu bu" ucap Qadirah dan kemudian berbalik arah menuju menuju mobil Aidan yang terparkir.
"Aidan permisi dulu bu" ucap Aidan menyusul di belakang Qadirah.
"Baik nak" ucap Hanna pada kedua muda mudi yang akan memulai belajar saling mencintai. Semoga hubungan cinta mereka akan berakhir di pelaminan. Do'a Hanna kemudian.
***
Apa yang Putri lakukan tadi untuk memastikan bahwa Samira tidak akan menghubunginya lagi. Dan fakta itu benar adanya. Sesuai apa yang disampaikan Wanita itu, Samira bahwa dia sudah tidak akan kembali lagi pada pria yang dia cintai dulu. Kesempatan untuk melanjutkan hubungannya sengan Dannar terbuka walau tidak terlalu lebar. Dia berniat akan mulai menjalaninya cintanya.
Sementara di rumah yang lain, tepatnya di dalam kamar. Samira merasa bahwa penolakan yang dilakukannya tadi serta apa yang di ucapkannya pada sahabatnya itu adalah bentuk dusta dari hatinya. Dia masih sangat mencintai Dannar, mantan kekasihnya. Sungguh masih sangat mencintainya. Dirinya seperti tersiksa selama ini. Karir dan mantan kekasihnya. Tak ada satu pun yang dia dapatkan.
"Apakah aku akan terus seperti ini?, telah menikah, tapi malah tidak merasakan bahagia. Kata orang, bahwa dalam pernikahan itu ada bahagia dan ada sedih juga, tapi mengapa sampai dengan sekarang, aku tak kunjung merasakan kebahagiaan itu, yang ada hanyalah sesak, penat dan tertekan. Aku tidak ingin menghabiskan hidupku seperti ini. Dan untuk kedua orang tuaku, pasti mereka akan setuju dengan apa pilihanku. Mereka tau bahwa setelah menikah dengan pria pilihan mereka, ternyata aku tidak bahagia" ucap Samira pada dieinya.
__ADS_1
Sesaat setelah beberaa detik, lantas dia pun mengangkat ponselnya yang di letakkannya di atas kasur, dan mulai mengetikkan beberapa kata di aplikasi pesan dan mengirkmkannya pada sahabatnya.
"Bisa kau kirimkan nomor ponsel Dannar. Aku akan menghubunginya malam ini" begitu pesan yang saat ini sedang dibaca oleh Putri yang membuat dirinya kesal dan ingin rasanya memaki pada sahabatnya itu.
"Jika kau suka maka pertahankan!!!. Jangan membuat dirimu merasa spesial yang diperebutkan dua pria tampan. *****!!!"
"Apa mau kamu?, kamu berani bermain dengan perasaan tapi malah kau takut menyesali hal itu. Dengan membaca pesan ini, aku bisa menebak perasaanmu, bahwa dirimu mengibarkan bendera sebagai tanda kamu akan memulai perang bermain hati, dan di dalamnya ada hatiku"
Tak dapat berbuat apa apa, Putri terpaksa mengirimkan nomor ponselnya. Dia tidak ingin disebut perebut pacar orang, sekaligus menghindari kecurigaan sahabatnya itu padanya. Kebahagiaan walau sedikit yang dia rasakan barusan tadi, hanya mampir sebentar dalam hidupnya, lalu kemudian dihempaskan oleh sahabat baiknya.
Putri yang merasa sudah mulai menyukai pria yang ditinghalkan sahabatnya itu, seakan tidak berdaya menghadapi kenyataan bahwa wanita itu ingin akan kembali padanya, pada Pria yang seminggu kemarin telah mulai dekat dengannya dan telah mulai menaruh perhatian lebih padanya.
Bukannya dia tidak bisa mencari pria yang lain selain pria 'bekas' sahabatnya itu, dia hanya membatu Dannar agar melupakan Samira waktu itu, hanya itu, itu saja. Tidak ada terbesit sedikit pun suka padanya. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa suka itu pun datang pada dirinya dan pada diri Dannar, dan tak dapat dihindari, kedekatan keduanya pun sudah memasuki level yang tidak biasa. Toh keduanya tidak memiliki pawang. Behitu pikir Putri.
"Mantapkan hatimu!, jika kau mencintainya pertahankanlah dirinya. Apapun resiko di akhir nanti, maka kau siap dengan hal itu" begitu pesan yang dikirim Putri, yang sekarang ini sedang dibaca oleh Samira di dalam kamarnya.
Putri pun sudah bisa tahu dengan pasti bahwa 'dia', pria yang akan di pilih Samira sudah jelas adalah mantan kekasihnya yang sebentar lagi akan kembali pada dirinya.
"Aku siap menerima resiko apa pun yang terjadi" jawab Samira lewat aplikasi pesan itu.
Tak menjawa apa apa. Putri hanya mampu bersabar. Sabar menantikan apa yang akan di katakan Dannar ketika Samira menghubunginya.
__ADS_1
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.