Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 24: Aku Tak Butuh Izin Darimu


__ADS_3

"Apa pun alasannya aku tak akan memberikan izin padamu untuk hal yang tidak berguna itu" ucap Rafiq sedikit emosi dan penuh ketegasan dalam nada suaranya.


"Aku.. tidak.. butuh.. izin.. dari kamu" ucap Samira ketus dan kemudian berlalu dari tempat itu.


Saat ini Rafiq merasa bahwa dirinya harus sedikit tegas pada Samira. Setidaknya dia mendengarkan apa yang disarankan olehnya.


***


Di tempat lain, di rumah Aidan.


Nampak dirinya sedang sibuk akan pergi ke suatu tempat. Tempat dimana wanita yang di inginkannya untuk dijadikan sebagai seorang istri itu berada. Saat ini Aidan sedang mengenakan pakaian terbaiknya, berharap wanita itu ketika melihat dirinya akan terpesona dan memiliki rasa. Setelah target dirinya meraih gelar S1 telah dilaksanakannya dengan nilai yang cukup memuaskan, kini saatnya dia ingin meraih gelar suami dari wanita itu, tentu dengan hasil yang memuaskan pula.


Setelah acara pernikahan sepupu dan sekaligus temannya waktu itu, waktu dimana pertama kali dirinya melihat wanita itu. Wanita yang mampu menembus dinding hatinya yang ditebalkan oleh rasa nyaman atas kesendirian. Dia memutuskan untuk kembali ke negara dimana dia menempuh pendidikannya. Dan menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa disana dengan segera, agar dengan segera pula dia kembali ke tanah air untuk mengejar cintanya. Namun karena begitu banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Sekitar dua bulan disana, dia baru dapat kembali ke Indonesia lagi. Dan sekarang Aidan sudah berada di Indonesia dengan gelar S1 yang di raihnya di bidang teknik pertambangan.


Cinta yang belum di raihnya masih harus tetap di perjuangkannya, tapi belum ada tanda dari dia untuk menerimanya sebagai suaminya atau sebagai calom suaminya saja dulu. Dan kini sesaat lagi dirinya akan berdua dengan wanita yang ingin dia nikahi itu. Pikirnya seolah olah itu akan terjadi.


"Mau kemana sudah rapih begini nak?" Tanya Hanna yang melihat Aidan sedang menuju ke arahnya dengan tampilan modisnya. Seperti ingin ke sebuah acara resmi. Begitu yang ada dipikiran Hanna saat ini.


"Mau menjemput Qadirah bu, katanya tadi dia diminta ibu untuk ke pasar. Benar begitu bu?" Jawab Aidan begitu setelah sampai de dakat Hanna dan kemudian duduk di sampingnya.


"Benar, tapi dia kan bisa bawa motor sendiri Nak, kenapa harus diantar jemput sama kamu segala?. Terus dandanan kamu seperti ini... sepertinya tampilan kamu bukan untuk ke pasar." Ucap Hanna dengan pandangannya yang menyelidik dari ujung rambut hingga sepatu yang Aidan kenakan saat ini.

__ADS_1


"Itu bu, anu - eh, saya tadi baru dari rumah teman. Belum sempat ganti" dusta Aidan.


"Oh... begitu rupanya. Tapi Qadirah sudah tau kamu yang antar dia ke pasar?" Tanya Hanna memastikan. Hal itu dia lakukan, karena dia tahu betul Qadirah masih belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan. Kenyataan bahwa anaknya, anak yang disukai oleh asistennya itu telah beristri, dan secara bersamaan ada pria lain dari keluarganya yang sedang mendekatinya. Pria yang sekarang duduk di samping dirinya dengan berpakaian seolah akan ke sebuah pertemuan resmi.


"Belum bu, makanya itu, Aidan datang ke ibu lebih dulu. Tolong samapaikan ke Qadirah bahwa ibu yang ingin dia diantar oleh Aidan ke pasar" ucap Aidan penuh permohonan dalam nada suaranya.


"Loh...., Kok jadi ibu yang ingin. Padalah kamu kan?...., Nah, kamu yang harus sampaikan sendiri. Kamu harus berusaha sendiri. Ibu sudah cukup mengenalkan kamu padanya. Selanjutnya kamu yang harus berusaha" ucap Hanna agar Aidan yang akan melakukannya. Hanna tidak ingin Qadirah merasa, bahwa dirinya dalam keadaan terpaksa berjalan dengan pria yang sedang memohon padanya.


"Ini juga usaha kan bu?." Aidan meyakinkaan kembali kepada Hanna bahwa apa yang dia lakukan sekarang juga termasuk sedang berusaha. Tapi dengan cara meminta bantuan padanya.


"Baiklah. Tapi sekali ini saja." Tak dapat mengelak atas wajah penuh permohonan pria yang ada di depannya itu dan juga sebagai konsekuensi atas dirinya yang telah mengenalkan Aidan pada Qadirah, maka kali ini dirinya memutuskan untuk membantunya. Tapi hanya untuk kali ini saja, untuk terakhir kalinya dirinya membantu Aidan.


"Siap bu" ucap Aidan kemudian, setelah mendengar kalimat dari Hanna itu.


***


Di rumah lain, di dalam kamar Rafiq dan istrinya.


"Sudah terlalu lama aku menunggu. Aku akan kembali kuliah. Tolong mas, jangan larang aku" ucap Samira tengah sedang menuju ke kasur untuk membaringkan tubuhnya pada pagi yang akan menjelang siang itu.


"Jika kamu menganggap kamu mampu, maka aku izinkan" jelas Rafiq yang sedang menuliskan seauatu di buku catatannya. Hari ini dia belum ingin ke kantornya, karena harus ke pinggiran kota untuk melakukan survey lokasi.

__ADS_1


"Harus berapa kali aku mengulang kalimatku. Aku tak butuh izin dari kamu. Aku hanya ingin kamu tidak menahanku atas apa yang akan aku lakukan, dengan tidak memberitahukan ke orang tua aku"


"Jangan berharap kamu bisa mengatur diriku semau kamu mas. Aku masih punya hak" lanjut Samira mengingatkan Rafiq bahwa dirinya masih bisa melakukan segalanya. Dan juga termasuk meminta untuk menceraikannya. Tapi Samira tidak melanjutkan kalimatnya itu.


"Iya..., aku tak akan memaksamu. Asalkan kamu harus sehat, dan tentunya untuk anak kita nanti, dan juga jangan lupakan untuk penuhi kewajibanmu" ucap Rafiq sedikit ragu mengiyakan apa yang ingin dilakukan istrinya itu. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Semakin keras dirinya memaksakan kehendaknya, dia merasa Samira akan semakin marah dengannya.


Hening..., Setelah apa yang diucapkan Rafiq itu membuat Samira akhirnya tidak mengatakan apa pun. Sedikit merasa puas atas ucapan Rafiq itu, dia pun membaringkan tubuhnya untuk tidur sejenak.


Hari itu, semenjak malam pertama dirinya menikmati tubuh istrinya yang saat ini sedang terbaring, ingin rasanya hari ini dirinya kembali melakulan hal itu lagi. Mungkin ini kesempatan yang tepat bagi dirinya, karena Samira menuntut hak nya, hak untuk melakulan apa yang dia inginkan. Dan hari ini juga dirinya akan meminta kewajibannya sebagai seorang istri. Begitu pikirnya sebelum melakukan aksinya.


Tanpa meminta izin dari sang istri, dia memulai aksinya itu dengan melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, dan mendekat ke arah istrinya itu. Tak dapat Samira hindari, pagi menjelang siang itu, dia merelakan tubuhnya dinikmati pria yang tidak lain adalah suaminya.


Walau waktu dan situasi yamg tidak tepat. Rafiq merasa bahwa untuk yang kedua kalinya, hal itu tidak menjadi masalah untuk menyalurkan hasratnya yang sudah lama terpendam.


***


"Aku sudah siap mas, ayo kita ke pasar" ucap Qadirah yang sedang menuju ke arahnya.


Melihat wanita yang sedang dia nantikan menuju ke arahnya, matanya membulat seolah melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya.


***

__ADS_1


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.


__ADS_2