
Pria yang beberapa hari lalu dimintanya untuk menjauhi dirinya sedang memegang ponsel dan sepertinya mengetikan sesuatu disana.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Dannar yang saat ini sedang menatapnya dari kejauhan sana.
Walau tak begitu jelas wajah tampan mantan kekasihnya itu dalam pandangannya. Namun dirinya dapat merasakan bahwa raut wajah yang dilihatnya saat ini penuh dengan rasa permohonan.
Segera dia menghampirinya dan memastikan tak ada yang melihat kejadian itu.
"Mir, apakah ini keputusan yang menurutmu terbaik?. Apakah tidak ada lagi ruang untukku berkorban untukmu?. Sungguh, rasa ini hanya untuk kamu Mir, aku tak pernah sedikit pun melirik yang lain dan kamu tahu itu" ucap Dannar setelah Samira berada di dekatnya.
Sedih, sungguh sangat sedih. Itu perasaan yang dirasakan Samira saat ini. Melihat perjuangan Dannar untuk memohon agar membatalkan perjodohan ini sungguh membuatnya merasa kasihan.
Pria yang dia cintai harus merasakan sakit atas perjodohan yang orang tuanya lakukan. Yang bisa dilakukan Samira saat ini adalah menegarkan hatinya. Bertahan untuk tak melinangkan air matanya, dan melihat sekeliling jangan sampai ada yang melihat kejadian yang saat ini dilakukannya.
"Mir, tatap aku sebentar saja... apakah kau tak merasakan sakit yang sama yang kurasakan sekarang?, bukankah dirimu pernah berjanji akan merasakan sakit bersama sama walau itu terlalu perih?" Lanjut Dannar lagi yang memaksa agar Samira menatapnya, menatap wajahnya yang saat ini penuh dengan permohonan.
"Sakit... sungguh sangat sakit. Perih sunggung begitu perih, lebih dari yang kau rasakan saat ini" batin Samira. Hampir meneteskan air mata, tapi langsung di singkirkannya dengan jari, tanpa dilihat sang kekasih yang dipaksa menjadi mantan kekasih.
"Kau sungguh tega Mir. Kau sungguh tega terhadapku. Kau memilih pria lain di saat hubungan kita sedang baik baik saja. Disaat aku telah mencurahkan perhatianku padamu. Disaat aku tak peduli lagi dengan diriku, karena yang aku tahu, aku harus membahagiakan dirimu, bagaimana pun caranya" ucap Dannar menepuk nepuk dadanya yang terdengar terasa sakit oleh Samira. Ingin melarang tindakan itu, tapi dirinya harus menahan sedikit lagi. Sampai pria itu merasa lelah dengan sendirinya.
"Katakanlah semaumu, puaskanlah hatimu, maafkan aku..., maafkan aku. Aku sungguh tahu pengorbananmu, aku sungguh mengerti bagaimana kau memperlakukanku. Semua yang aku ucapkan padamu itu hanya pembelaanku saja, pembenaranku saja, agar kau menyerah, menyerah tak memohon lagi" batin Samira lagi. Ingin rasa dirinya memeluk tubuh pria itu.
__ADS_1
Beberapa menit Samira tak mengucapkan sepatah kata pun. Akhirnya Dannar terdiam dan hanya mampu memandang wajah Samira dengan wajah sedih dan penuh permohonan. Lelah yang terpancar dari wajah Dannar membuat dada Samira semakin sesak. Sesak akan cintanya pada pria itu yang tak berakhir bahagia.
"Sudahlah Dannar. Biarkan semua itu menjadi kenangan kita berdua. Kenangan yang akan kusimpan baik dalam hati. Aku janji kenangan bersamamu tak akan kulupan, kenangan kita ku simpan baik di sini" ucap Samira menegarkan hatinya sambil menunjuk jari telunjuk di depan dadanya.
"Tapi... Aku... aku tak sanggup melawan kenangan itu Mir" ucap Dannar, kemudian berhenti sejenak. Berhenti untuk menenangkan situasi sampai kemudian dia bertanya dan memohon kembali.
"Mir... masih ada kesempatan untuk aku?, pikirkanlah Mir, sebelum pernikahan itu terjadi. Samira aku mohon batalkan pernikahanmu". Lanjut Dannar, menunggu jawaban dari sang wanita.
"Aku akan menuruti apa saja mau kamu. Bahkan... sekarang aku telah siap untuk menghadap ke kedua orang tuamu" Lanjutnya.
"Terlambat... kau sangat terlambat, aku telah berusaha semampuku untuk menutupi hubungan kita karena alasanmu yang tak pasti. Dan bulan depan telah ditetapkan bulan pernikahanku" ucap Samira.
"Tak ada rasa sedikitpun mencitai orang lain pada diri ini. Tapi sikapmu yang tak memberiku kepastian, yang membuat aku mengikuti keinginan kedua orang tuaku" lanjut Samira.
"Untuk itu, mengapa aku selalu mengatakan alasan menunda bertemu dengan kedua orang tuamu. aku gunakan waktu itu untuk menabung dan bekerja. Sekarang aku telah membeli sebuah perumahan kecil untuk kita tempati Mir. Kita tempati berdua dan anak anak kita nanti"
"Semua sudah terlambat. Aku telah diikat oleh cincin ini."
"Kamu bohong Mir. Masih ada... masih ada kesempatan untukku Mir. Ayolah Mir, Batalkan pernikahanmu. Aku sudah siap menghadap pada kedua orang tuamu"
"Terlambat... kau sangat terlambat, kau meminta orang tuaku untuk menikahimu, ayahku tak akan mampu mejawab. Walaupun kau memohon sekuat tenagamu. Percuma"
__ADS_1
"Kenapa Mir?. Aku yakin ayahmu akan mengerti apa yang akan aku jelaskan nanti. Tentunya jika kau menyetujui, jika aku yang akan menggantikan pria itu di pelaminan. Samira...beri aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya. Beri aku kesempatan. Hari ini pun aku sudah sangat siap menghadap pada orang tuamu"
"Apakah kamu yakin ayah dan ibuku akan mengatakan 'iya' atas apa yang akan kamu lakukan?, apakah kamu yakin, lamaran hari ini akan hilang dari ingatan pria yang melamarku tadi?. Pria yang kucintai ternyata lebih pecundang dari pada pria yang tak akan pernah ku cintai. Terlambat... kamu sungguh sangat terlambat. Suka atau tidak, cinta atau tidak, aku akan menjalaninya" ucap Samira.
"Jika kau menanyaiku apakah aku mencintaimu?... maka aku tanpa perlu berpikir akan menkawab 'iya'. Tapi... aku tidak kuat menghalangi keadaan. Keadaan yang memaksaku untuk mengatakan 'tidak'. Maka yang aku harapkan padamu. Mengertilah... Jika kau benar benar cinta padaku. Maka aku berharap atas keyakinanmu itu, suatu saat entah kapan... kita akan dipertemukan" lanjut Samira sebelum meninggalkan tempat itu.
"Pulanglah... dan berhenti memohon" ucapnya setelah beberapa langkah dari pria yang masih mengharapkan kisah cinta mereka sampai di pelaminan.
***
Di tempat lain, di rumah seorang pria yang baru saja melamar wanita yang menjadi dambaannya sejak dia SMA dulu.
"Aku baru mengerti sekarang, cinta itu memang butuh pengorbanan. Harus mampu menunggu begitu lama untuk mendapatkanmu. Sejak saat itu, waktu aku SMA dulu, yang pernah berjanji padamu akan menunggumu. Dan hanya menghitung hari, kita akan menjadi pasangan suami istri. Tekad ku untuk membahagiakan kamu dunia akhirat, aku telah ikrarkan saat melihat kamu mengenakan cincin pengikat hubungan kita, walau ikrar ku tak terucap. Aku yakin Tuhan mendengarkanNya" ucap Rafiq di dalam kamarnya sambil menatap cincin yang terpasang di jarinya.
"Aku janji, tak akan membuat sedikit pun air matamu keluar dari mata indahmu" lanjutnya lagi.
Di rumah yang sama, di kamar yang berbeda. Seorang gadis yang merelakan 'sang mantan' untuk bersanding dengan wanita lain di pelaminan sedang berdoa setelah melaksanakan sholat Ashar.
"Tuhan, aku hanya bisa memohon padamu. Cinta yang tak bertuan ini, cinta yang tak pantas untuk seorang anak majikanku. Jangan pernah hilangkan dari dalam hatiku. Aku sungguh sangat mampu menahan rasa sakitnya, walau teramat perih sekalipun. Tuhan apa aku tidak terlalu sedikit memaksa?. Membiarkan cinta ini mengendap selamanya."
***
__ADS_1
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.