Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 8: Permintaan Rafiq


__ADS_3

"Tidak tau juga bu, tapi Rafiq usahakan akan datang ke rumahnya besok. Mungkin ada hal yang penting yang mau dia sampaikan bu"


***


Pagi ini sesuai janji pada kakanya untuk datang ke rumahnya. Rafiq sudah bersiap siap di dalam kamarnya. Saat ini dia sedang membersihkan tubuhnya setelah sholat subuh tadi.


Beberapa menit di dalam kamar mandi, dirinya pun keluar dengan hanya mengenakan handuk putih begitu saja, yang menutupi bagian intinya. Pundak yang lebar, dada yang bidang, serta perut yang berkotak kotak, ditambah rambutnya yang setengah basah, membuat penampilannya pagi ini, bagi siapa yang melihatnya ingin rasanya diculik olehnya.


Seperti biasa, pagi ini pilihannya jatuh pada kemeja kotak kotak yang kemudian di lapisi sweater dongker tebal dan dipadukan dengan celana jeans. Setelah menganggap dirinya rapih sesuai apa yang dilihatnya di cermin yang sedang di tatapnya, dirinya pun segera keluar kamar dan menuju dapur untuk berpamitan pada ibu dan bapaknya.


Sementara itu, Hanna sejak sedari tadi sibuk di dapur. Disana juga terlihat bi Ratih sedang membantunya. Sang ibu menyiapkan beberapa bingkisan untuk anak pertamanya yang akan di titipnya pada Rafiq. Bingkisan kue kering yang disukai Musabir, telah terbungkus rapi yang diletakan di atas meja yang ada di dapur.


"Jangan lupa titipan ibu pada kakamu. Ibu taruh di meja dapur. Ibu mau ke pasar dulu dengan Bi Ratih" ucap Hanna ketika melihat anak keduanya itu turun dari tangga menuju ke arahnya.


"Baik Bu"


"Ayah, sudah ke kantor Bu?"


"Iya, kata Ayahmu, berkas di atas meja kamu di kantor segera diselesaikan. Nanti akan di proses, karena pabrik frozen food akan segera di buka"


"Oh iya bu. Setelah pulang nanti Rafiq akan selesaikan.


"Ibu pergi dulu ke pasar ya nak. Jangan lupa juga salam ibu sama kakakmu dan istrinya"


"Iya bu, Naik apa bu?... Perlu Rafiq antar"


"Tidak usah. Ibu naik motor bareng Bi Ratih. Bi Ratih kan mahir naik motornya."


"Baik bu. Hati hati ya bu, bi Ratih"


Setelah keberangkatan ibu dan bi Ratih ke pasar, Rafiq sejenak mengingat ingat apa saja yang akan di bawanya ke rumah kakaknya itu. Hal ini karena jarak yang akan di tempuhnya cukup jauh. Jika tidak terlalu padat kenderaan di jalan, maka waktu tempuh bisa menghabiskan empat jam dalam perjalanan, dan jika sedikit longgar jalananya, bisa ditempuh hanya dengan tiga jam perjalanan saja.


"Kue titipan ibu, air minum, kotak makanan, dan kunci mobil ?..." ucap Rafiq pada dirinya dan kemudian sedikit terkejut kunci mobil tak ada di saku celananya. Akhirnya dia kembali ke kamarnya. Sepanjang perjalanan ke kamarnya dia mengingat bahwa kunci mobilnya masih di simpan di saku celana yang dia kenakannya waktu menjemput Samira dari kampusnya.

__ADS_1


Segera setelah disiapkannya semua, Rafiq menyalakan mesin mobilnya dan berlalu menuju rumah kakanya.


***


Sementara itu di rumah Musabir, nampak istrinya (Aisyah) mengeluarkan beberapa jenis sayur dan buah yang dibelinya tadi di pasar untuk menjamu adik iparnya itu. Sedangkan Musabir sedang membersihkan taman belakang bersama putri pertamanya (Nania) yang sudah hampir selesai.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Musabir mengajak putrinya itu untuk segera membersihkan tangannya dan membantu istrinya untuk menyiapkan makan siang.


Hari ini Musabir tidak masuk mengajar karena khawatir jika adiknya tiba, dirinya tak ada di rumah, dan juga istrinya saat ini sedang mengandung anak keduanya yang diprediksikan dokter berjenis kelamin perempuan.


Untuk itu, Musabir memilih akan tetap di rumah seharian ini, juga membantu istrinya menyiapkan makan siang yang hari ini tampak begitu spesial baginya, karena sang adik yang sangat jarang mengunjungi mereka, diakibatkan harus membantu ayah untuk pekerjaan kantor.


Sedangkan Musabir sendiri memilih untuk tidak terlibat di perusahan yang ayahnya bangun itu, dia memilih menjadi guru di pasantren karena alasan pribadi, begitu alasan yang disampaikan kepada orang tuanya ketika diminta untuk bergabung di perusahaan itu.


Dan tak lama kemudian, kenderaan Rafiq telah berada tepat di depan rumah kakaknya itu.


"Kak, ini ada titipan ibu" ujar Rafiq setelah berada di luar mobil yang di kedua tangannya penuh dengan kantong yang berisi bingkisan dari ibunya.


Setelah beberapa menit Rafiq duduk di ruang tamu rumah itu, Musabir akhirnya memulai pembicaraan mereka dengan menanyakan kabar ibu dan bapak mereka. Dan tak ingin berlama lama menjelaskan maksudnya, kemudian Musabir segera membicarakan alasan mengapa Rafiq diundang ke rumahnya.


"Bapaknya Samira kemarin malam menelpon kakak untuk menanyai sesuatu terkait perjodohan kalian. Samira setuju dirinya akan dijodohkan denganmu" ucap Musabir yang saat ini telah duduk tepat di depan Rafiq.


Mendengar hal itu, bibir Rafiq yang awalnya biasa saja, dengan cepat melengkung membentuk senyum penuh bahagia disana.


"Tapi..."


Senyum yang tadi telah mengembang, pudar seketika oleh satu kalimat yang di ucapkan kakaknya itu.


"Tapi apa kak?" Tanya Rafiq penasaran pada kakanya.


"Samira mengajukan beberapa permintaan" lanjut Musabir yang tadi tak sempat melanjutkan kalimatnya karena sang adik segera memotong kalimatnya itu.


"Permintaan apa itu kak?, mudah mudahan Rafiq dapat sangupi"

__ADS_1


"Pak Hartono hanya khawatir jika kamu tidak dapat menyanggupi permintaan Samira padamu, alasan itulah Pak Hartono minta bantuan kakak untuk memberimu pengertian. Samira ingin setelah dia menikah denganmu dia tetap di izinkan melanjutkan kuliahnya dan setelah lulus nanti dirinya ingin menhembangkan karirnya"


Rafiq mendengar hal itu, sejenak terdiam. Bukan tidak ingin Samira tidak bisa melanjutkan kuliah setelah nikah nanti, tapi bukannya butuh waktu beberapa bulan setelah menikah untuk menikmati kebersamaan bersama pasangannya. Toh mereka juga tidak pacaran sebelum menikah, dan saat itulah momennya.


Rafiq juga tidak mempermasalahkan jika Samira ingin berkarir setelah menikah. Tapi apa dirinya mampu mengurus rumah tangga yang sekaligus berkarir. Sebenarnya permintaan Samira sangat susah untuk dijawab oleh dirinya. Semua jawabannya ada pada diri Samira. Apakah dia mampu menjalaninya?. Iya, satu pertanyaan itu yang ingin kembali ditanyakannya pada Samira. Jika dia merasa mampu, maka dirinya akan mengiyakan permintaan itu, dan begitu pun sebaliknya.


"Wanita juga ingin berkarir Raf. Contohnya Ibu" ucap Aisya, istri dari kakaknya yang sedang mempersiapkan makan siang yang akan mereka santap nanti.


"Iya kak, Rafiq tidak menolak permintaannya. Tapi Rafiq khawatir saja, apa Samira bisa melakukannya?".


"Masalah bisa atau tidak dia melakukannya, untuk saat ini tidak usah kamu tanyakan. Biarkan dia nanti menjalaninya. Toh nanti jika dia sudah merasa tidak mampu, dia akan berhenti dengan sendirinya" nasehat Musabir


"Terdapat dua kemungkinan, berhenti denganku atau berhenti dengan karirnya. Tingal dipilihnya, mana yang membuatnya merasa terbebani"


DEG!


Hening....


Tak ada satupun yang bisa memulai pembicaraan lagi. Aisyah seketika menatap suaminya dan dibalas tatapan oleh sang suami yang seolah memberikan isyarat untuk tidak melanjutkan istrinya itu bicara.


"Sampaikan juga permintaanku kak pada keluarga Samira" lanjut Rafiq.


"Iya, kakak akan sampaikan. Apa itu permintaanmu?" Tanya Musabir penasaran.


"Aku menyetujui permintaan Samira asalkan setelah anak pertama kami lahir. Hanya itu permintaan ku kak"


"Baik, akan kakak sampailan pada Pak Hartono, karena beliau yang menyampaikan permintaan Samira pada kakak. Maka sebagai jawabannya, kakak akan sampaikan permintaanmu pada Ayahnya"


"Baik kak" ucap Rafiq singkat yang kemudian membaringkan tubuhnya di sofa yang di dudukinya itu.


***


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2