
"Aku sungguh sangat mampu menahan rasa sakitnya, walau teramat perih sekalipun. Tuhan apa aku tidak terlalu sedikit memaksa?. Membiarkan cinta ini mengendap selamanya."
TOK! TOK! TOK!
"Nak, setelah kita bersihkan dapur, kita ke pasar ya, ibu mau beli persedian buat satu minggu kedepan" ajak Hanna setelah berada di dalam kamar Qadirah.
"Baik bu, bentar ya bu, saya lepas mukena dulu"
"Baik nak. Oh iya, nanti kapan kapan ajak ibu ke kampung kamu. Ibu dari dulu pingin ke rumahmu. Tapi kamu selalu menolak mengajak ibu"
"Buat apa kesana bu, kampung aku jauh, sepi dan signal ponsel tidak ada bu. Oh iya bu, maaf. Qadira tidak sempat izin ke ibu, rumah yang pernah belikan ke aku dulu, telah dijual bu" ucap Qadira.
"Tidak apa apa, itu sudah hak milikmu. Mau kau jual atau tidak ibu tidak permasalahkan itu" Seolah tahu uang hasil menjual rumah digunakannya untuk apa, Hanna tidak menanyai lagi terkait itu.
"Nak, bisa ibu bertanya?"
"Silahkan bu" ucap Qadirah yang masih sibuk merapikan beberapa lembar pakaian di lemari itu tanpa melihat lawan bicaranya.
"Qadirah sudah punya calon suami?"
DEG!
Hening....
"Calonku telah ibu jodohkan dengan wanita lain" batin Qadirah.
"Belum bu" jawab Qadira kemudian.
"Kenapa bu?" Tanya Qadirah yang penasaran. Pasti ada alasan dibalik pertanyaan Hanna tadi.
"Tidak, ibu hanya bertanya saja" jawab Hanna. Binggung harus mengatakannya bagaimana.
__ADS_1
"Ikhlaskan saja. Mungkin dia bukan jodohmu" lanjut Hanna memberanikan diri.
"Maksud ibu?" Tanya Qadirah yang tidak mengerti ucapan Hanna.
"Rafiq akan segera menikah. Ikhlaskan saja dia"
DEG!
Hening...
Qadirah terkejut dan sekaligus malu dengan apa yang diucapkan Hanna. "Betapa tidak malunya diriku mencintai anak majikan" batinnya.
"Punya ibu dan pak Adnan yang selalu membantu Qadira itu sudah cukup bu. Masa harus minta lebih. Aku ikhlas bu" ucap Qadirah malu. Tak mampu menatap Hanna.
"Nanti ibu akan coba bantu kenalkan dengan anaknya teman ibu"
"Qadirah belum ingin menikah bu. Saat ini Qadira ingin menenangkan diri dulu bu"
"Tidak baik seorang wanita menundah pernikahannya. Jika sudah ada jodohnya segeralah menikah. Beri tahu ibu kalau ada yang ingin kau butuhkan. Jangan sungkan pada ibu. Ibu sudah anggap kamu itu anak ibu"
"Masing masing diri kita sudah diatur rezeky nya oleh Tuhan. Apa yang ibu dapatkan, belum tentu milik ibu semua. Kebaikan ibu dan bapak itu karena kamu baik nak. Kami sekeluarga telah menganggap kamu sebagai keluarga kami".
"Tapi, seandainya aku yang menjadi calon menantunya bu. Ibu dan bapak tak perlu repot repot menganggap aku keluarga" batin Qadirah.
"Baik bu... terima kasih bu" ucapnya kemudian.
***
Di tempat lain, setelah kepulangannya untuk memohon cintanya agar dipertahankan. Dannar membaringkan tubuhnya di kasur di kosan miliknya. Tak kuasa menahan keadaan yang di alaminya dan hanya mampu menangisinya.
Ingin sekali berteriak. Tapi tak mampu. Bernafas pun rasanya sesak di dadanya. Air mata yang sedari tadi mengalir tak kunjung reda. Sungguh saat ini dirinya butuh seseorang untuk menguatkan dirinya.
__ADS_1
"Apa salahku?. Aku yang hanya ingin menjadi lebih baik. Apakah aku tak layak mendapatkan kebahagiaan?. Apakah kebahagian hanya berpihak pada yang berduit?. Apakah aku tak cukup layak untuk bahagia?... jika begitu adanya, berapa banyak yang aku harus sediakan agar diriku layak merasakan bagaimana rasanya bahagia?"
Dannar Triana, pemuda tampan 25 tahun, yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Senior Samira di jurusan yang sama. Hidup di kota ini seorang diri, hanya bermodalkan keberanian.
Apa yang didapatnya saat ini adalah hasil dari usahanya menjadi seorang kurir ojek online. Walaupun hanya seorang kurir online, tapi dirinya mampu membuktikan pada Samira, saat ini dirinya dapat membeli sebuah rumah. Walaupun hanya sebuah rumah kecil yang ada di pesisir kota.
Sejak sekolah SMA, dia dipaksa untuk hidup mandiri, merantau di kota yang sangat keras itu. Dia terpaksa melakukannya, karena ibunya tak mampu membiayai dirinya. Mengharapkan bantuan dari ayahnya pun tak mendapatkan respon yang baik. Oleh sebab itu, dia bekerja di malam hari, di salah satu cafe di kota itu dan siangnya harus sekolah.
Pernah berada dalam keadaan yang sulit, saat setelah lulus dari SMA. Dia harus menjual tubuh atletisnya dan keperjakaannya malam itu pada wanita yang telah berumur yang siap membayarnya mahal. Uang yang dia dapatkan itu dapat membiayai awal tahun perkuliahannya. Wanita yang dia kenalnya di aplikasi itu sampai beberapa kali menjadi pelanggannya karena merasa puas atas layanannya.
Tahun kedua saat dia menjadi mahasiswa, dia berhenti menjual tubuhnya dan memilih untuk menjadi kurir ojek online. Sampai dirinya bertemu dengan Samira, yang menjadi pelanggan pertamanya, yang hari itu harus membawanya untuk kabur dari rumah mewah itu, untuk menghindari perjodohan. Begitu kata wanita itu. Dari situlah mereka saling kenal, dan baru menyadari mereka kuliah di kampus dan jurusan yang sama.
"Kemampuan materiku yang membuat diriku menunda untuk melamar dia. Seandainya waktu bisa aku putar kembali. Aku akan menemui orang tuanya untuk melamar. Tak peduli apa pun yang dikatakan mereka, setidak percobaan pertama aku telah lakukan. Aku sangat menyesal tak pernah sekalipun mencobanya. Aku hanya terlalu takut akan kemampuanku dalam materi yang sungguh sangat kurang." Sesal dirinya yang kemudian membuat dirinya tertidur.
***
Setelah beberapa hari, dan kini tiba saat yang di nantikan oleh Rafiq, tetapi sangat ingin dihindari Samira. Hari pernikahan yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
Gugup dan takut, itu yang dirasakan Rafiq saat ini. Gugup karena harus dilihat oleh para tamu undangan. Takut jika nanti saat mengucapkan ijab qabul dan tak sesuai yang sudah dilatihnya sejak dua minggu yang lalu.
"Tenangkan pikiranmu. Tidak usah membayangkan apa pun. Fokus saja apa yang menjadi tujuanmu" saran Musabir yang saat ini tengah rapi dengan seragam yang dikenakannya.
"Anak ibu sangat tampan. Jadilah suami yang berbakti. Jadilah imam yang baik. Jadilah sosok suami yang menjadi panutan bagi anak anaknya. Jangan pernah sakiti perasaan wanita" pinta Hanna yang hampir meneteskan air mata, tapi ditahannya karena dia baru ingat wajahnya baru dipoles make up yang begitu mahal.
Para keluarga nampak bahagia hari ini. Hanna dan Adnan nampak serasi dalam balutan busana Vicar's Beauty, yang secara khusus juga diminta sang ibu untuk mendesain busana pengantin yang dikenakan Rafiq dan Samira saat ini.
Qadirah nampak berbusana sederhana tapi tak mengurangi kecantikannya sekalipun. Sempat mata Rafiq melirik sedetik padanya, kemudian dengan cepat di arahkannya pandangan itu pada calon istrinya yang hanya butuh beberapa menit lagi akan menjadi istrinya.
"Bagaimana Bapak Ibu? Apakah sudah bisa di mulai?
"Tunggu!!!" Ucap sang pria yang kini tengah berjalan menuju ke arah kedua mempelai.
__ADS_1
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.