Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 16: Rencana Hanna


__ADS_3

"Bagaimana Bapak Ibu? Apakah sudah bisa di mulai?


"Tunggu!!!" Ucap sang pria yang kini tengah berjalan menuju ke arah kedua mempelai.


"Kenapa tak mengundangku?. Tega kamu ya kak Raf" Ucap pria itu dan kemudian duduk di jajaran kursi para pihak keluarga pria.


Hanna yang melihat pria itu, mengembangkan senyum lebarnya. Sementara itu, pria yang sedang berhadapan dengan penghulu hanya mampu menarik nafas dalam dan kemudian tersenyum penuh permohonan maaf pada pria itu, penghulu, dan semua para tamu undangan.


"Akhirnya kau datang juga" ucap Hanna ketika pria itu berada di dekatnya.


"Aku pasti datang bu..., masa pesta pernikahan teman baik aku sekaligus sepupu, aku tak datang"


Aidan, teman sekelas Rafiq waktu SD dulu sekaligus sepupunya dari adik sang ibu. Pria itu sengaja diundang khusus oleh Hanna untuk datang di pesta pernikahan anaknya. Tak ada niat untuk membuat Aidan harus menempuh perjalanan berjam jam dari luar negeri. Tapi, Hanna harus memberitahukan padanya dan sekaligus mengundangnya tanpa sepengetahuan Rafiq. Selain Aidan dan anaknya sangat akrab, ada tujuan terselubung lainnya yang tersimpan rapat untuk sementara waktu ini di dalam dadanya, yang menjadi alasan dari semua itu.


"Apakah dia pria yang akan di kenalkan ibu denganku?" Batin Qadira kemudian menepisnya. Tidaklah mungkin pria tampan yang dari penampilannya saja sudah menunjukan dia berasal dari keluarga kelas atas, dan dengan begitu saja dijodohkan dengan seorang pembantu.


"Baik, kalau begitu kita mulai acaranya" ucap penghulu setelah tak melihat keluarga pihak wanita dan pria serta para undangan tak mengajukan atau keberatan dengan acara pernikahan itu.


"Sah" begitu kata yang terucap dari para saksi yang sedikit menggema dalam ruang pesta pernikahan yang sederhana itu. Sebuah kata yang sekaligus mengikat hubungan kedua pasangan sampai mereka tutup usia.


Sementara itu, sosok pria yang sedang berada di luar acara pernikahan itu, menatap rumah mantan kekasihnya penuh pilu. Tak mampu melihat mantan kekasihnya bersanding dengan pria lain


"Mengundangku saja kau tak sudi. Aku tetap akan menunggumu. Aku tetap berharap cintamu" ucap Dannar dan kemudian berlalu dari sana.


Setelah beberapa jam, prosesi pernikahan itu pun akhirnya telah selesai. Para undangan pun telah meninggalkan tempat itu. Dan kini giliran rombongan pihak pria yang akan meninggalkan tempat itu. Namun sebelum meninggalkan tempat itu, Adnan dan Hanna serta yang lainnya menyempatkan diri untuk berpamitan dengan kedua pasangan suami istri dan juga keluarga Pak Hartono.


"Nak samira, jaga Rafiq ya nak. Ibu hanya berharap padamu, jika dia menyakitimu bilang saja pada ibu" pinta Hanna


"Baik bu" jawab Samira.

__ADS_1


"Aku tak akan menyakitinya bu. Bahkan goresan sedikit pun pada tubuhnya tak akan kubiarkan. Aku akan menjaganya lebih dari aku menjaga diriku" gumam Rafiq.


Rombongan keluarga pihak pria pun pamit dengan dipenuhi haru bahagia.


***


Di dalam mobil miliknya yang di kendarai Aidan, nampak Hanna dan Adnan berada di dalam sana. Sengaja Hanna melakukan itu agar dirinya leluasa untuk berbicara pada keponakan kesayangannya itu. Adnan nampak sibuk dengan buku catatannya. Mempersiapkan rancangan perizinan pembuangan limbah perusahannya.


"Bagaimana sekolahmu Nak?" Tanya Hanna pada Aidan yang saat ini, mereka sudah menempuh setengah perjalanan menuju rumah.


"Sekolah Aidan aman bu. Aidan sekarang lagi sibuk nyusun tugas akhir. Do'a kan segera lulus ya bu" Aidan yang sudah sangat dekat dengan Hanna sejak dari kecil sering memanggilnya ibu. Bagi Aidan, Hanna adalah ibu keduanya.


"Oh iya bu, sebelum Aidan datang ke sini Papa nitip ini buat Kak Rafiq. Tadi lupa Aidan sampaikan ke kak Rafiq" lanjut Aidan menyerahkan sebuah bingkisan kecil yang terlihat begitu mewah. Hanna dapat menduga bahwa isi yang ada di dalamnya itu adalah sebuah perhiasan.


"Oh baik, nanti ibu sampaikan. Minggu depan katanya mereka akan datang ke rumah"


"Pacarnya Aidan kok tidak pernah dikenalkan ke ibu sih?, atau sengaja ya, nanti pas nikah baru mau di kasih tahu?" Tanya Hanna untuk memastikan bahwa Aidan saat ini belum punya calon pasangan. Ingin menanyakan secara langsung, 'sudah punya pacar?' Kapan menikah?'. Namun khawatir akan membuat Aidan akan risih dengan pertanyaan pertanyaan seperti itu.


Hanna hanya ingin memastikan bahwa Qadirah akan mendapatkan calon pasangan yang baik baik dan setidaknya, jika Qadirah menikah tidak akan jauh dari keluarga mereka. Itu sebabnya, Aidan, menurut Hanna adalah pasangan yang tepat bagi Qadirah. "Jika tidak mendapatkan Rafiq, setidaknya temannya" batin Hanna.


"Aidan belum punya calon pasangan bu, jangankan calon bu, pacar atau yang mau kenalan saja belum ada bu"


"Oh Syukurlah..." ucap Hanna lega.


"Kok syukur sih bu. Aidan iri lo bu, lihat kak Rafiq tadi. Pingin seperti itu juga. Tapi apa daya Aidan tak ada yang mau"


"Sabar..., suatu saat pasti jodoh kamu akan menghampirimu. Atau mungkin sebentar lagi"


Hening tak ada respon dari Aidan. Saat ini dia sedang fokus berkendara.

__ADS_1


Hanna sengaja tidak akan melakukan perjodohan pada keduanya. Hanna ingin mereka bertemu secara alami. Tetapi pertemuan itu harus dia yang yang melakukannya. Dan saat ini, di dalam kepalanya telah tersusun rapi rencana itu. Rencana yang akan siap dilaksanakannya sebentar lagi.


"Oh iya, ibu minta tolong ya sebentar. Ibu lupa satu kemeja di butik Vicar's Beauty. Itu sebenarnya punya kamu. Tapi kamu datangnya telat. Jadi ibu tinggal saja dulu"


"Itu sebelah mana bu?" Tanya Aidan.


"Nanti kamu bareng sama anak temannya ibu ya"


"Baik bu"


Sementara di mobil yang lainnya, mobil yang di kendarai Musabir, nampak istrinya dan Qadira bercengkrama menceritakan kisah hidup Qadirah pada Aisyah mengapa dirinya sampai di rumah itu. Rumah milik pak Adnan yang telah memberinya kesempatan untuk kedua kalinya.


Sekitar satu jam lebih kemudian, mobil yang di kendarai mereka telah sampai di depan rumah. Aisyah dan Qadirah turun lebih dulu dan segera menju ke dalam rumah.


"Qadirah!" Panggil Hanna.


Belum sempat melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Panggilan hangat dari Hanna membuat dirinya terpaksa membalikan tubuhnya dan pandangannya ke arah Hanna.


"Temani ponakan ibu ke Vicar's Beatuty, kemeja yang ibu tinggal disana itu punya dia." Pinta Hanna


"Baik bu"


Jika ada temannya atau keluarga yang menanyakan siapa Qadira, maka dirinya akan benjawab Qadirah adalah anak temannya. Agar tidak ada yang menganggap dia adalah hanya seorang asisten rumah tangga saja.


Dan saat ini Qadirah sedang menuju mobil yang Hanna tumpangi tadi. Aidan yang melihat sosok wanita itu dari dalam mobilnya, yang sedang berjalan ke arahnya menduga bahwa itu adalah orang yang dimaksud Hanna tadi.


Semakin mendekat, wajah wanita itu dilihatnya semakin cantik, yang membuat dirinya susah memalingkan wajahnya sedikitpun. Sampai suara itu pun menyadarkannya.


"Ayo mas kita berangkat".

__ADS_1


***


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.


__ADS_2