
"Aku sudah siap mas, ayo kita ke pasar" ucap Qadirah yang sedang menuju pada pria yang sedang menantinya.
Melihat wanita yang sedang dia nantikan itu menuju ke arahnya, matanya seketika membulat seolah melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya.
"Sampai kapan mas Aidan akan menatap aku seperti itu?" Tanya Qadirah setelah sampai di dekatnya.
"Hmmm, aku... ayo kita berangkat" ucap Aidan yang terkejut mendengar pertanyaan yang diucapkan Qadirah itu. Entah sudah keberapa kalinya tatapan terpukau itu dia tunjukan, yang pasti saat ini dadanya berdebar sangat kencang tak beraturan.
Dalam hati Aidan bertanya tanya, mengapa wanita yang memiliki sifat dingin padanya itu, sontak saja mau jalan bersama dirinya. Padahal untuk duduk bersama dengannya saja sangat susah diajak olehnya. Apa yang baru saja bu Hanna katakan padanya?. Pikirnya sambil menuju ke arah dimana mobilnya terparkir.
Setelah beberapa menit mereka berada dalam mobil dengan penuh keheningan itu, tibalah mereka di sebuah pasar tradisional. Disana samira membeli semua keperluan seperti sayur, daging, ikan, dan rempah rempah untuk keperluan selama seminggu. Aidan pun dengan sigap, seolah seperti suami yang sedang menemani istrinya ke pasar, membawakan barang barang itu dengan penuh senyum dan sesekali meringis karena bawaannya semakin berat. Demi Qadirah, Aidan rela mengelilingi pasar tradisional itu hampir satu jam lebih lamanya.
Lelah tak menjadi penghalang dirinya untuk mendapatkan wanita yang dianggapnya wanita terbaik. Wanita yang dapat di jadikan pendamping hidupnya. Wanita yang telah menjalani pahit dan kerasnya hidup ini, yang membuat wanita itu terpaksa harus menumpang pada hidup orang lain. Alasan itulah yang saat ini membuat Aidan rela melakukan segalanya untuk mendapatkan wanita yang sedang duduk di sampingnya itu, di dalam mobil menuju ke rumah 'mantan kekasih' wanita itu.
***
Di tempat lain.
"Mau kemana kamu?!..." tanya Rafiq yang melihat Samira mengenakan baju yang tidak biasa dia kenakan selama bersama dengan dirinya, dan sepertinya tampilan Samira seolah akan keluar untuk bertemu dengan seseorang.
"Mau ke rumah temanku" jawab Samira sekenanya. Dirinya juga tidak tahu menahu akan kemana dirinya dan sahabat yang mengajaknya untuk bertemu, namun dirinya saat ini sedang menunggu pemberitahuan selanjutnya dari sahabatnya itu, yang kini sedang menuju ke suatu tempat.
Tak dapat menahan Samira untuk pergi, Rafiq pun hanya dapat merelakannya. Dirinya hanya mampu menatap istrinya itu sampai dia menghilang dari pandangannya menuju ke teras depan rumah. Menahan artinya dia harus beradu mulut kembali debgan Samira dan harus siap menjawab berbagai pertanyaan yang akan keluar dari mulut Samira, dan hal itu yang ingin dia hindari, agar Samira merasa tidak tertekan.
Dalam hatinya, dia hanya dapat berharap dan berdoa. Semoga Samira akan segera hamil lagi. Tapi dengan kondisi yang sekarang, rasanya itu akan mustahil. Pikirnya, kemudian menepisnya.
Selama Samira duduk di bangku kuliah, hanya dua teman baiknya yang dikenal oleh Rafiq, Putri dan Ghea. Menghubungi mereka pun Rafiq berfikir seribu kali, takut akan memasuki ranah privasi Samirah, walaupun dia adalah istrinya, Mungkin ini adalah salah satu hak yang pernah Samira sebutkan itu, hak bahwa dirinya butuh dan ingin memiliki ruang yang tidak harus dicampuri oleh Rafiq, begitu pun dengan pekerjaannya. Tapi bukannya mereka adalah pasangam suami istri, yang suka dan duka dari masing masing akan mereka tanggung bersama sama?, dan juga bukannya aib istri adalah aib suami juga, begitu pun sebaliknya?. Pikirnya lagi.
__ADS_1
"Jika kau tak butuh perhatianku, setidaknya perlahan lahan kau dapat menerima aku sebagai suami mu. Aku tak butuh harus dicintai oleh mu. Perhatian yang palsu pun sudah cukup membuat aku sangat bahagia" batinnya.
TING!
Notifikaai pesan masuk dari ponsel milik Samirah berbunyi. Terdapat satu pesan disana.
"Tempat biasa 'Cafe Barat', dekat kampus" begitu pesan yang saat ini sedang Samira baca. Dengan segera, Samira beelalu dari rumahnya begitu saja tanpa berpamitan pada suaminya. Dan dia merasa tak perlu berpamitan pada suaminya karena sudah ditanyakan oleh suaminya tadi dan juga sudah dijawabnya. Begitu pikirnya.
***
"Hai Mir!. Sudah lama tak melihatmu, mengabariku saja kau tak ada. Apakah sudah tak mau bertemu denganku lagi?" Tanya Putri ketika Samira sudah berada di dekatnya di 'Cafe Barat', tempat yang biasa mereka kunjungi setelah pulang kuliah.
"Bukan begitu Put. Aku harus mengurus rumah tanggaku dan..., masih banyak lagi yang harus aku kerjakan. Oh iya, ada apa kau tiba tiba saja mengajakku bertemu?" Jelas putri dan kemudian menanyakan maksud dari pertemuan mereka yang mendadak itu.
'Oh itu Mir. Kemarin aku sempat di telpon mantanmu kekasihmu, Dannar"
"Ada apa dengan dia?, apa dia sakit?, bagaimana kabarnya?" potong Samira dengan nada suara panik, seolah masih menghkawatirkan mantan kekasihnya itu.
"Tidak, dia baik baik saja kok. Kau masih mengkhawatirkan dia?" Tanya putri
Hening... tak ada jawaban dari mulut sahabatnya itu.
"Terus mengapa kau tak menikahinya jika kau masih sayang dia Mir?" Lanjut Putri yang kemudian merasa bahwa Samira masih ada rasa dengan mantan kekasihnya itu.
"Jika aku harus jujur padamu Put. Aku sungguh masih sayang dia. Tapi, waktu itu aku harus memutuskan dia dan.., memilih menikahi pria pilihan orang tua ku"
"Waktu itu?... dan sekarang bagaimana?" Tanya Putri ingin memperjelas ucapan Samira tadi.
__ADS_1
Hening... tak ada jawaban lagi yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Jika kau masih sayang dia, mengapa kau tak memperjuangkan dia?, mengapa kau tak meyakinkan orang tuamu bahwa pilihan mu itu adalah yang terbaik?" Ucap Samira.
"Aku sudah mencoba Put. Semampu aku, aku telah mencobanya. Tapi, aku harus mengalah demi orang tua aku" jelas Samira.
"Terus sekarang kau masih mencintainya?" Tanya Putri ingin memastikan.
"Aku juga tidak tau Put. Aku coba jalani saja hidupku ini"
"Kemarin tiba tiba saja dia menelponku. Katanya dia ingin sekali bertemu denganmu. Dia rindu ingin melihat wajahmu" jelas Putri, saat mendengar apa yang di ucapkan Samira, dirinya tidak mendapatkan jawaban yang di inginkan disana.
"Aku tidak bisa Put. Bagaimana nanti jika Rafiq melihatku dengan dia, dan bagaimana jika orang tua aku tahu bahwa aku menemuinya?"
"Maka tentukanlah pilihanmu, suamimu atau mantan kekasihmu" batin Putri.
"Untuk masalah itu, bukan urusan aku. Aku cukup memberi tahukannya kepadamu, dan selanjutnya silahkan kau pikirkan sendiri. Ini nomornya" ucap Putri sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan angka diatasnya.
"Apakah dia yang meminta untuk aku menghubunginya?, mengapa bukan dia saja yang menghubungiku?" Tanya Samira merasa aneh.
"Mungkin..., dia hanya ingin tahu saja, jika kau menghubunginya, artinya dia masih bisa mengharapkanmu, dan jika tidak, maka dia sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali bersama kamu Mir" jelas Putri.
Antara ingin mengambil kertas yang bertuliskan nomor mantan kekasihnya itu atau membiarkannya saja terletak di atas meja Cafe. Samira kembali di hadapkan pada pilihan yang sama, seperti dirinya sebelum menikah dulu. Pilihannya antara tetap bertahan dengan suaminya atau mengambil kertas itu dan menghubungi mantan kekasihnya. Menghubunginya artinya memberi Dannar harapan untuk memulai hubungan dengan dirinya lagi.
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.
__ADS_1