
"Jangan pernah mencoba untuk menghindar. Pulang nanti, akan ku pastikan kau duduk di depan tepat disampingku" gumam Aidan.
"Baiklah jika itu mau kamu. Akan ku ikuti jalan ceritamu. Tapi jangan salahkan aku" batin Qadirah lagi.
Beberapa menit berlalu, mobil yang ditumpangi Musabir telah berada di pertengahan jalan menuju rumahnya. Musabir meminta untuk berhenti sejenak untuk membeli bebera botol air buat dirinya dan Aisyah minum. Tidak ingin membuat Qadirah kehausan juga, Aidan pun mengikuti Musabir dari belakang.
"Dasar tidak peka" gumam Aisyah yang sedari rumah tadi sudah mengetahui situasi diantara mereka berdua. Situasi canggung yang mereka ciptakan.
"Kamu mau air putih atau teh ?" Tanya Aidan pada Qadirah saat dirinya dan Musabir telah kembali dan berada di dalam mobil.
"Aku belum haus mas" jawab Qadira menolak tawaran Aidan itu.
"Beraninya kau menolak tawaranku" guman Aidan sangat kesal.
"Atau kamu mau kopi ini?" Tawar Musabir yang membeli dua botol air dan dua botol kopi instan yang siap di minum.
"Oh terima kasih mas. Saya sangat suka kopi merek ini" ucap Qadirah dan langsung mengambil kopi itu dari tangan Musabir.
"Sama sekali tidak peka" gumam Aisyah lagi.
"Oh ternyata dia suka kopi instan merek itu." Gumam Aidan.
"Sebentar ya kak, saya lupa membeli sesuatu" izin Aidan yang berusaha tidak menampakan situasi yang sedang dia jalani itu. Pergi membeli kopi instan yang katanya sangat disukai wanita itu. Persediaan jika dalam perjalanan menuju rumah Musabir, wanita itu menginginkan kopi itu lagi.
Sampai akhirnya mobil mereka sudah terparkir di depan rumah Mushabir, dan wanita itu tidak meminta kopi itu lagi.
"Mbak aku ke toiletnya sebentar ya" izin Qadirah yang baru saja masuk ke dalam rumah itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 04.00 sore, itu artinya tidak ada waktu lagi untuk mencari gaun di mall yang ada di pusat kota seperti yang di rencanakan Aidan sebelumnya, begitu pun juga dirinya, tidak akan sempat mengganti pakaiannya di rumahnya.
Estimasi waktu yang akan mereka tempuh untuk pulang kemungkinan akan tiba pada pukul 07.00 malam, dan itu artinya pesta lamaran temannya sudah akan di mulai. Mau tidak mau, mereka harus berangkat sekarang juga untuk meminimalkan waktuh tempuh mereka.
Saat ini, Aidan sedang berpikir keras bagaimana caranya bisa sampai ke pesta lamaran temannya tepat waktu.
Pilihan lain yang terbesit dalam pikirannya, dari posisinya sekaramg dia akan langsung menuju ke tempat lamaran itu dan membeli gaun Qadirah serta pakaian untuknya di perjalanan nanti di butik butik yang akan mereka lalui nanti.
"Istrahatlah dulu sejenak. Masih ada waktu. Tidak usah terburu buru" ujar Musabir.
__ADS_1
"Iya, benar itu. Tidak usah terburu buru. Toh kalian berdua belum pernah ke rumah ini" ucap Aisyah.
"Oh tidak apa apa kak. Saya sudah biasa perjalanan jauh. Nanti kalau ada kesempatan saya dan Qadirah akan ke rumah ini lagi. Ayo Qadirah kita kembali" ajak Aidan agar cepat berlalu dari rumah itu.
"Bentar mas. Aku belun selesai" ujar Qadirah dari dalam sana.
Sengaja Qadirah berlama lama di rumah itu agar tidak akan sempat pergi ke acara lamaran itu. Dirinya ingin menghindari pandangan semua teman teman dari pria yang baru dikenalnya itu padanya. Dan sebisa mungkin dia akan berlama lama di rumah itu.
"Qadirah... ayo kita berangkat" ucap Aidan yang sudah berada tepat di depan pintu toilet di rumah itu.
"Bentar mas. Sedikit lagi."
Aidan yang sudah tahu trik dari Qadirah yang sengaja berlama lama, akhirnya menemukan cara.
"Tadi ibu nelpon, minta dititipkan bahan kue untuk dipakai malam ini" ucap Aidan semenit kemudian setelah mendapatkan alasan yang menurutnya tidak akan bisa di tolak oleh Qadirah.
"Dasar kamu, beraninya berlindung pada bu Hanna" gumam Qadirah kesal. Dan kemudian dia keluar dark toilet itu.
"Baik mas. Ayo kita berangkat"
Panik karena takut rencananya akan gagal, berubah menjadi senyum penuh kemenangan. Tidak ingin berlama lama disana. Aidan pun pamit dan segera berlalu.
Sementara itu, melihat kenderaan yang sangat padat, membuat senyum di bibir Qadirah merekah lebar. Itu bukan karena dia akan berlama lama di mobil itu bersama Aidan. Melainkan dia tidak ingin ke acara lamaran teman pria yang duduk disampingnya.
"Nanti kita singgah di toko dekat rumah, biasanya ibu membeli semua bahan kuenya disana" ucap Qadirah mengingatkan
"Tadi ibu kirim pesan. Katanya ibu sudah membelinya" dusta Aidan.
"Dasar... ternyata kau membohongiku. Tunggu saja pembalasanku" gumam Qadira kesal yang baru menyadari bahwa itu semua adalah bohong.
***
Dua bulan kemudian
"Aku hamil mas" ucap Samira setelah sampai di kamar mereka malam ini.
"Kamu, kamu hamil sayang?, kamu tahu dari mana sayang?, kamu sudah ke dokter?" Tanya Rafiq ingin memastikan kembali. Pasalnya dirinya belum melihat tanda tanda kehamilan dari istrinya itu. Biasanya seorang istri yang hamil akan ada masa ngidam yang ingin makanan atau hal hal yang aneh lainnya. Pikir Rafiq saat ini.
__ADS_1
"Aku baru saja ke dokter. Kata dokter usia kandungan aku sudah tiga minggu" jelas Samira yang saat ini sedang mengganti pakaian yang di kenakan tadi.
"Kenapa tidak mengajakku ke dokter?. Aku bisa temani kamu, kita bisa pergi sama sama. Aku khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak kita. Atau setidaknya, kamu ajak ibu."
"Aku bisa mas. Aku bisa sendiri. Aku tidak seperti wanita hamil yang lainnya"
"Baiklah. Asalkan kabari aku selalu keadaanmu"
"ibu sudah tahu?" Tanya Rafiq ingin memastikan bahwa Dianna telah mengetahui kehamilan samira. Setidaknya jika Dianna mengetahuinya, dirinya akan sedikit tenang karena ada yang akan mengawasi Samira selagi dirinya bekerja.
"Belum, Ibu belum tahu. Tapi, makan malam nanti aku akan beri tahu pada ibu dan juga ayah"
Rafiq tak henti menatap istrinya itu. Pandangannya selalu tertuju pada bagian perut dari tubuh wanita itu.
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah" batinnya. Sampai akhirnya lamunannya disadarkan oleh suara Samira.
"Aku harap kamu menepati janjimu mas"
"Aku tidak akan mengingkari janji ku sayang. Aku harap juga kamu istrahat yang cukup, makan yang cukup, demi anak kita sayang" ucap Rafiq penuh tegas.
"Iya mas"
Menghela nafas lega mendengar kabar itu, segera membuat Rafiq tersenyum. Anak yang dinanti nantikannya sebentar lagi akan menemani hari harinya.
Sementara itu, Samira membaringkan tubuhnya di kasur untuk istrahat. Dia tidak ingin juga jika anak yang di kandungnya akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkannay. Itu sama halnya menunda dirinya untuk meraih apa yang menjadi fokus utamanya.
Tak sabar untuk mengabari ibunya, Rafiq pun segera membuat panggilan di layar ponsel yang di genggamnya itu.
"Halo bu... Samira hamil bu"
"Kamu tidak bercanda kan nak? Samira hamil?.." tanya Hanna tak percaya.
"Iya bu, Samira Hamil"
"Besok ibu akan kesana"
***
__ADS_1
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.