
"Nak... bisa kah kau temani Rafiq untuk memilih cincin lamarannya?. Ibu tidak bisa menemaninya" pinta Hanna tanpa menjelaskan alasannya.
"Baik bu" jawab Qadirah menyanggupinya dan kemudian Hanna berlalu dari sana.
Hanna sebenarnya tahu sejak dulu bahwa diantara Rafiq dan Qadirah terdapat saling ketertarikan. Tapi berpura pura seolah tak tahu menahu soal itu semua.
Dari sekian wanita yang pernah diceritakan Rafiq pada ibunya, hanya Qadirah dikecualikan. Rafiq hanya tidak ingin menciptakan suasana yang tidak diinginkan jika harus jujur pada ibu nya, mengingat wanita itu serumah dengan dirinya.
Ibunya sengaja meminta Qadirah untuk menemani Rafiq membeli cincin lamaran itu agar mereka berdua dapat menyelesaikan masalah diantara keduanya. Terlebih, Hanna tidak pernah melihat keduanya berbicara sejak kedatangan Qadirah pada hari itu.
Beberapa menit kemudian, Hanna terlihat menaiki tangga menuju lantai atas. Sudah bisa dipastikan dirinya akan ke kamar Rafiq untuk meminta dirinya pergi bersama Qadirah mencari cincin lamaran dengan alasan tak jelas darinya, walapun suaminya memintanya.
"Ibu mau pergi ke mana? Kok tidak bisa menemani Rafiq sebentar saja?, Rafiq bisa sendiri kok milihnya Bu" tanya Rafiq setelah mendengar pinta dari sang ibu yang telah berada di kamarnya itu.
"Punya pengalaman apa kamu mau memilih cincin lamaran sendiri?, apa kamu tidak butuh saran dari seorang perempuan?, Istri kakamu sedang hamil, ibu ada janji di pabrik dengan karyawan. Yang ada Qadirah saja, kebetulan sejak dia datang di rumah ini, belum sekali ibu mengajaknya keluar. Apa kamu ingin pergi dengan bi Ratih ?..." jelas Hanna dan kemudian menatap anaknya menunggu jawaban atas pertanyaan terakhir yang dia lontarkan.
"Bi Ratih juga sepertinya tidak akan ikut denganmu, dia akan sibuk menyediakan hantaran untuk kamu bawa minggu depan. Untuk proaesi lamaranmu" jelas Hanna, tak menunggu jawaban dari anaknya itu yang dia yakini akan mengiyakan pertanyaannya itu.
"Kan masih ada tiga hari lagi bu, kenapa tidak besok saja beli cincinnya?."
"Besok ibu sibuk juga dengan persiapan seragam kita buat lamaran."
"Baiklah bu" ucap Rafiq lemas. Hanya mampu mengiyakan permintaan dari sang Ibu.
Beberapa menit kemudian, di ruang tamu rumah itu, nampak Rafiq sedang menunggu seseorang.
"Ayo berangkat" ucap Rafiq yang tak melihat Qadirah sama sekali ketika mendengar suara bunyi langkah mendekatinya. Dirinya hanya fokus menatap layar ponsel miliknya.
Setelah beberapa jauh dari pintu utama rumahnya, seketika dia teringat kunci mobil yang dia letakkan di atas meja dapur tadi. Segera dia pun mengubah arah dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Belum sempat dia memasuki rumah, tiba tiba dirinya melihat Qadirah keluar dari pintu rumah dengan begitu anggun. Baju yang dikenakannya saat ini memang harganya tidak begitu mahal, tapi setelah dikenakannya, baju itu terlihat begitu mahal, dan yang mengenakannya terlihat sunggu cantik. 'Sungguh sangat menawan'. Begitulah yang ada dalam pikiran Rafiq saat ini.
__ADS_1
Entah berapa detik dia menatap Qadirah begitu lekat, hingga akhirnya dia disadarkann panggilan Qadirah pada dirinya yang begitu lembut yang mampu menembus hatinya itu.
"Ayo berangkat Raf"
"A-ayo, aku kedalam dulu, lupa kuci mobil" jawab Rafiq gugup dan kemudian segera masuk kedalam rumah.
***
Setelah drama 'silent' yang cukup membuat Rafiq berkeringat salah tingkah di dalam mobilnya dan begitu pun Qadirah, akhirnya mereka sampai di salah satu toko perhiasan terbesar di kota itu.
"Cincin yang cantik. Pilih yang ini saja Raf" ucap Qadirah. Memberanikan memulai topik pembicaraan yang sejak keberangkatan dari rumah tadi, bibir mereka berdua seolah terkunci rapat. Tak ada yang ingin memulai.
"Sepertinya cincin itu tidak muat dijarinya, tapi coba saja dulu di jarimu. Karena ukuran tubuh kalian tidak terlalu berbeda" jawab Rafiq seolah tak terjadi apa apa diantara mereka berdua.
"Iya, cincin ini di desain khusus oleh pemilik toko ini. Harganya memang terbilang cukup mahal pak. Tapi saya yakin calon istri anda akan sangat menyukainya" jelas salah satu wanita yang sedang melayani mereka berdua yang mengira Qadirah adalah calon mempelai wanitanya.
DEG!
"Seandainya cincin ini akan menjadi milikku" gumam Qadirah.
"Bukan mbak, dia bukan calon istri saya" jelas Rafiq pada wanita itu.
"Cincinya muat di jari aku Raf. Sepertinya calon istrimu akan sangat suka dengan model seperti ini. Yang ini saja atau masih mau pilih yang lain?... Sepertinya, ini desainnya lebih bagus dari yang sebelumnya Raf" tambah Qadirah yang ingin juga menjelaskan pada wanita itu bahwa dirinya tidak dipilih pria yang sedang berada di disampingnya untuk menjadi calon istrinya.
"Dari semua cincin yang ada di toko ini, itu yang paling mahal" ucap wanita itu yang telah mengerti situasi saat ini.
"Jika kau mencari cincin untukku, maka aku tak butuh cincin yang mahal harganya. Cukup yang murah saja tapi sudah cukup mengikat janji suci kita sebagai pasangan suami istri" gumam Qadirah lagi.
"Tidak apa apa, yang penting terlihat bagus. Iya aku pilih yang ini saja mbak" ucap Rafiq kemudian.
Setelah menentukan pilihannya, Rafiq dan Qadirah pun berbalik arah akan pulang ke rumah. Ada niat terlintas dalam benak Rafiq untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya atas apa yang sudah terjadi di masa lalu dan sekarang, serta atas perjodohan yang sekarang dilakukannya, dan segera ingin menghapus kenangan wanita yang saat ini tengah berada di samping, dalam mobilnya.
__ADS_1
"Maaf jika ..." ucap Rafiq terpotong setelah mobil yang dikendarainya mulai berjalan.
"Tidak usah membahas yang itu." Potong Qadirah yang segera mengetahui percakapan itu akan mengarah kemana.
"Maaf, waktu itu aku telah memilih wanitaku. Kamu tahu diriku sangat tidak ingin menghianati wanitaku saat itu. Tapi aku baru tahu bahwa dia yang telah menghianatiku lebih dulu" ucap Rafiq menjelaskan alasan dirinya menolak Qadirah saat itu.
"Aku butuh waktu saat itu untuk mencintai wanita lain lagi. Sakit yang teramat waktu itu sungguh lama pulihnya. Jika aku jujur, jawabanku atas cintamu dulu itu, untuk membuatmu tidak begitu terlalu sakit. Dan saat semuanya telah aku ikhlaskan, waktu itu, tepat perasaan ini telah memilihmu, kamu telah pergi menghilang dari rumah, dan tak memberi aku kabar" lanjut Rafiq beberapa detik kemudian.
"Itu karena aku tak ingin berharap. Aku hanya menjaga hatiku akan semakin terluka jika mengabarimu keadaanku. Dan sepertinya kabar sedih yang aku alami saat itu tidak perlu kamu tahu" jelas Qadirah.
"Maafkan aku. Sekarang..., saat aku telah memilih wanitaku lagi, yang aku anggap wanita yang tepat untuk mendampingiku, kamu datang. Apakah kau sengaja mempermainkan hati ini?... ketika aku membutuhkanmu, kamu tak ada di sampingku, dan ketika aku tak membutuhkanmu kamu datang tanpa kabar"
"Begitulah jika kau merasa hanya membutuhkanku. Namun, jika kau benar benar membutuhkanku saat itu, maka dimanapun aku berada kau mencariku. Kau sebenarnya tak membutuhkanku"
"Aku sudah melakukan itu, tapi tak kunjung menemukanmu?. Memang susah jika cinta yang sungguh sungguh hanya datang dari satu arah saja. Maka tak akan menemukan hasilnya" jelas Rafiq seolah menyalahkan Qadirah yang datang di waktu yang tidak tepat.
"Aku telah berusaha. Tapi apa dayaku, aku saat itu.. i-ibuku sakit dan pergi selama lamanya"
DEG!
Mobil yang melaju, berhenti dengan tiba tiba setelah Rafiq mendengar hal itu.
Hening....
Tak ada penjelasan lagi yang diucapkan selain "Maafkan Aku....".
"Sudahlah, aku sudah terbiasa sakit. Ayo jalan lagi" pinta Qadirah yang terdengar biasa saja. Tapi di dalam sana. Dilubuk hati terdalamnya. Qadirah menangis tertahan.
"Walaupun kau tak menerima cintaku. Dalam hatiku, dirimu telah ku anggap sebagai 'mantan'. Agar diriku merasa seolah, setidaknya kau pernah menjalani cintamu denganku"
***
__ADS_1
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.