
Tak menjawa apa apa. Putri hanya mampu bersabar. Sabar menantikan apa yang akan di katakan Dannar ketika Samira menghubunginya.
Sementara itu, Samira telah mengirimkan pesan pada Dannar untuk menemuinya di suatu tempat tak jauh dari rumahnya. Sambil menunggu balasan atas pesannya, dirinya kembali mengganti pakaian untuk yang kedua kalinya. Dia sangat yakin bahwa Dannar pasti akan menemuinya. Dia masih sangat yakin bahwa cinta Dannar pada dirinya belum pudar walau dirinya telah bersuami.
"Mau kemana lagi kamu?" Tanya Rafiq yang saat ini baru masuk ke kamar mereka setelah pulang dari melakulan survey di salah satu area tanah yang ada di pinggiran kota.
"Malam ini aku ada janji sama temanku" jawab Samira santai tanpa merasakan panik sambil mengebakan make up tipis di wajahnya.
"Dimama?" Tanya Rafiq lagi untuk sekedar memastikan dimana tempat pertemuan istrinya dan katanya temannya itu. Tidak ada niatan untuk mengikutinya atau mencampuri urusan pribadinya. Hanya bertanya. Itu saja.
"Tidak perlu mas tahu, ini urusan pribadiku" jawab Samira tanpa menatap lawan bicaranya dan tetap melanjutkan dandanan wajah cantiknya.
Tak menjawab. Mendengar hal itu pun, niatan tidak mengikuti istrinya pun berubah. Rafiq akan mengikuti istrinya itu sampai benar benar dia yakin bahwa istrinya kembali ke rumah dengan aman dan selamat.
Beberapa menit kemudian, Samira telah berada di teras rumahnya menunggu taksi online untuk menjeputnya sekaligus menunggu balasan dari Dannar. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan mantan kekasihnya. Debar dada yang sekarang dia rasakan, sama persis waktu dirinya diajak bertemu oleh mantannya itu. Rasa yang masih sama, masih ada dalam hati Samira. Seolah dia tak peduli dengan statusnya saat ini.
Di lain tempat, tanpa sepengetahuan Samira, Rafiq telah bersiap siap untuk mengukitinya dari belakang dengan menggunakan motor. Saat ini dia tengah berada di samping rumah.
Tak lama samira menunggu, taksi online pun berhenti tepat di teras rumah dan dia pun segera naik untuk menghindari orang tuanya melihatnya keluar hanya seorang diri. Dia tidak ingin memikirkan jawaban dusta yang akan disampaikan kepada orang tuanya jika mereka bertanya akan kemana dirinya malan ini.
Tidak butuh 10 menit, Samira telah berada di tempat dimana akan berlangsungnya pertemuannya dengan Dannar. Namun, sampai dengan sekarang pesan yang Samira kirim belum juga dibaca sang penerima, masih tercentang dua dan juga belum berwarna biru pada aplikasi pesan itu.
Nampak Rafiq dari kejauhan, di balik pohon yang ada di taman itu sedang duduk sambil mengtak atik ponselnya tak jelas. Sedang menunggu juga seseorang yang katanya adalah seorang teman dari istrinya.
__ADS_1
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Getar ponsel milik samira yang menandakan panggilan masuk. Segera dia pun melihat ponselnya. Disana, dilayar pipih milik Samira itu tertulis Dannar. Nama yang baru saja di simpannya di ponsel itu kini sedang memanggilnya. Tak mau terlalu lama, Samira pun segera menekan tombol hijau di layar ponsel miliknya itu dan mengucapkan kata pertamanaya
"Halo"
"Kamu dimana?, di taman dekat rumah kamu kan?, aku sudah dekat situ" begitu jawaban dari seberang telpon itu.
"Oh iya, taman dekat rumah. Aku duduk di kursi yang biru ya" jawab Samira, sedikit kaget dengan suara mantan kekasihnya karena lama tak di dengarnya. Jantungnya pun semakin kenjang berdebar menantikan pria itu.
Dari balik pohon, Rafiq sedang mengawasi raut wajah istrinya yang seolah tak sabar menantikan temannya itu. Sesekali istrinya itu menebar pandangannya di sepanjang sudut taman, yang membuat Rafiq kesulitan mengamati istrinya itu karena terus memalingkan wajahnya di balik pohon untuk menyembunyikan wajahnya.
Tak lama Samira menunggu, wajah yang tak asing itu melambaikan tangannya, mendekat dan memeluk Samira dengan penuh rindu. Pelukan hangat itu, pelukan yang sungguh di rindukannya. Pelukan yang sudah lama menemaninya dulu, dan kini kembali dirasakannya lagi. Pelukan yang mampu membuat memori Samira kembali mengingat masa masa dulu. Pelukan itu sungguh berlangsung begitu lama.
"Aku sunggu rindu padamu" ucap Dannar dengan masih memeluk Samira dengan erat.
Merasakan hal yang sama, Dannar pun mendekatkan wajahnya perlahan pada Samira, menatap kedua bola mata mantan kekasihnya itu dengan sedikit lebih lama dan kemudian arah pandangannya menjalar ke bibir wanita yang telah menjadi milik orang lain itu entah berapa lama. Dalam pikirannya ingin sekali dia mencium bibir itu. Namun sebisa mungkin dia menahannya dan hanya mampu menelan ludahnya sekali yang mampu di dengar oleh Samira.
Beberapa detik telah dilewatinya hanya menatap bibir wanita yang ada di depannya itu, yang seolah pasrah apapun yang akan dilakukan olehnya, Dannar mencoba mendekatkan lagi wajahnya pada Samira yang membuat wanita itu tak mampu membuka matanya. Dalam keadaan mata sang wanita terpejam, Dannar semakin menajamkan penglihatannya menatap bibir mungil itu dan kemudian
"Mmmmmm......" Dannar memberanikan diri mencium bibir wanita yang sangat di rindukannya itu.
DEG!!!
__ADS_1
Disana. Rafiq berdiri mematung, menatap istrinya sedang berciuman mesra dengan mantan kekasihnya. Sedikit tak percaya, namun kejadian itu nyata di depan matanya.
Ingin berteriak sekencang kencangnya memanggil nama istrinya itu, namun bibirnya tak mampu, hanya bergetar tak berirama. Beberapa detik kemudian, dia menutup matanya dan kembali dibukanya dengan cepat, hanya untuk mengalirkan air mata yang telah penuh dimatanya.
Qadirah yang sedang melintasi jalan itu bersama Aidan dengan kecepatan yang lambat sedang mengamati tempat yang menjual bakso yang Hanna pesan pada mereka, langsung saja matanya terarah pada pria yang sedang berdiri. Qadira segera mengenali pria yang sedang berdiri itu, yang sedang menatap istrinya bersama mantan kekasihnya. Melihat kejadian itu pun, segera Qadirah meminta Aidan untuk menghentikan mobilnya dan kemudian turun dan bergegas menuju ke arah Rafiq dan menghalangi pandangannya, agar tak melihat adegan yang menyakitkan itu lagi.
Ingin rasanya Qadirah memeluk walau hanya untuk memberi kekuatan, itu saja. Namun dirinya tak memberanikan diri. Dia masih mampu mengontrol emosinya saat ini.
"Sudah mas. Cukup!!!. Kuatkan hatimu" hanya itu yang mampu dia ucapkan.
"Ayo mas kita pulang" lanjut Qadirah.
Diam dan mematung tak berdaya. Entah kemana pikirannya saat ini. Yang pasti hati pria yang ada di depannya itu sangat terluka. Begitu pikiran Qadirah saat ini tentang pria yang sangat dia cintainya itu.
Aidan yang tidak tahu menahu kejadian apa yang barusan terjadi, melihat Qadirah dan Rafiq saling berhadapan dengan raut wajah sedih, ikut juga merasakan kesedihan dengan kisah cinta Qadirah dan Rafiq.
Cinta memang tak bisa di paksakan, jika takdir mengatakan lain, maka kita harus mejalaninya penuh suka cita. Maka, dirinya pun semakin kuat tekadnya untuk mendapatkan Qadirah. Untuk menjadikan Qadirah sebagai istrinya, agar tidak ada lagi rasa pada pria yang dianggap 'mantan' itu. Dirinya ingin membahagiakan Qadirah tanpa melihat air mata setetes pun mengalir dari pipinya. Begitu dalam pikiran Aidan saat ini.
Sementara di sudut lain taman itu, seorang wanita yang mencoba membuka hatinya pada mantan kekasih sahabatnya itu, berdiri ikut menyaksikan kejadian yang sama yang membuat hati suami sahabatnya tercabik cabik. Putri tak dapat berbuat apa apa, hanya dapat menyaksikannya dengan hati yang penuh sesak.
"Kamu pulanglah lebih dulu. Aku mau ke suatu tempat" akhirnya Rafiq mengeluarkan kalimat yang sejak dari tadi sangat di nantikan oleh Qadirah. Khawatir jika dia terlalu memikirkan apa yang baru saja dilihatnya dan sesuatu yang tidak diingknkan terjadi pada dirinya selama peejalanan pulangnya nanti.
"Baik mas. Aku pulang dulu" ucap Qadirah setelah yakin Rafiq akan baik baik saja.
__ADS_1
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.