Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap

Rela Kau Sakiti: Suami Tak Dianggap
Episode 19: Lelah Sekaligus Bahagia


__ADS_3

"Astaga!!" Ucap samira tak mampu menolak tawaran itu dan melainkan mengiyakannya. Menolak sama halnya tak menuruti permintaan majikan.


Cara yang dilakukan Aidan untuk mendekati dirinya telah diketahui oleh Qadirah.


Membuat jarak agar tak di dekatinya lagi, rasanya percuma. Percuma menolak ajakannya, apalagi Aidan melibatkan Hanna di dalamnya. Itu sungguh akan sulit.


Sekarang dirinya belum bisa benar benar lupa dengan Rafiq yang dianggapnya sebagai 'mantan' itu. Untuk sementara dia hanya ingin hatinya kosong sejenak, tanpa memikirkan pendamping. Memikirkan semua itu hanya dapat membuat hatinya terluka untuk kedua kalinya, dan dia memutuskan menutup rapat rapat hatinya untuk siapa pun. Untuk sementara waktu.


"Aku belum ingin membuka hati. Akan aku anggap ini adalah salah satu tugas aku bekerja sebagai asisten keluarga di rumah ini. Dan.... kenapa harus keluarga dari bu Hanna yang mendekati aku sekarang?. Itu hanya membuat aku mengingat masa laluku" ucap Qadirah pada dirinya.


Sesuai janji Aidan kemarin, bahwa dirinya akan datang menjemput Qadirah untuk mencari gaun yang akan di kenakan nya sebentar malam ke acara lamaran temannya.


Nampak mobil mewah terpakir di depan rumah Pak Adnan. Pemuda tampan baru saja keluar dari mobil itu. Mengenakan baju santainya, namun terlihat begitu modis dan cocok dengan usianya.


"Nak... ada apa siang begini sudah kesini?" Tanya Hanna melihat Aidan sedang menuju ke arah dirinya.


"Ada sedikit yang Aidan ingin lakukan... Qadirah kemana bu?" Tanya Aidan yang saat ini sedang berdiri di hadapan Hanna yang tengah membuat kue kering di dapur.


Mendengar hal itu pun Hanna hanya bisa tersenyum, tersenyum penuh kemenangan. Karena dirinya tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk membuat keponakannya itu jatuh cinta pada asisten rumah tangganya.


"Ada apa nyari Qadirah nak?" Tanya Hanna pura pura.


"Ini bu... Aku perlu dengan Qadirah, semalam sudah janji dengannya. Ada sedikit yang harus Aidan kerjakan, dan sangat butuh bantuan dari Qadirah"


"Oh begitu ya. Tadi dia disini bareng ibu buat kue. Tapi izin sebentar ke kamar mau mandi. Katanya mau keluar sebentar"


"Dengan siapa dia mau keluar bu?" Tanya Aidan penasaran. Dirinya mengira bahwa Samira punya janji lain selain dengan dirinya. Akan gagal rencananya jika hal itu terjadi. Pikirnya.

__ADS_1


"Katanya dengan pria yang baru dia kenal" dusta Hanna. Dirinya telah mengetahui saat Qadirah meminta izin tadi untuk bersiap siap, karena dirinya akan diajak Aidan keluar seharian ini dan bahkan akan kembali ke rumah pada malam hari.


"Pria?, pria siapa bu?, siapa namanya?" Tanya Aidan semakin penasaran. Ada rasa cemburu dari nada bicaranya tadi yang terdengar jelas di telinga Hanna.


"Katanya pria yang mau ajak dia jalan beli gaun untuk ke pesta lamaran temannya malam nanti" jelas Hanna untuk mereda rasa cemburu yang mulai membakar hati pemuda yang ada di depannya.


"Oh, itu aku bu" jelas Aidan sambil tersenyum yang menunjukan bahwa pria yang dimaksud Qadirah tadi adalah dirinya.


***


Di ruangan lain, di rumah itu.


"Mas, kita sudah terlalu lama disini. Apa sebaiknya kita pulang hari ini saja?" Tanya Aisyah pada suaminya yang baru saja masuk ke kamar mereka.


"Iya, tadi aku sudah pamitan ke ibu juga. Ayo bereskan semua barang barang kamu. Bereskan semampu kamu saja. Nanti aku yang bereskan sisanya" ucap Musabir yang kasihan melihat istrinya dengan perut yang sudah mulai membesar.


"Tapi, siapa yang antar kita ke rumah mas?, rumah kita cukup jauh mas. Rafiq sudah tidak di rumah ini lagi. Ya, kecuali kita minta diantar supir Ayah kamu"


Beberapa menit kemudian, Musabir telah berada bersama Aidan di ruang keluarga.


"Kamu ada kegiatan apa hari ini?. Nanti kakak minta bantuan kamu buat antar ke rumah kakak hari ini bisa kan?" Ucap Musabir tanpa menunggu pertanyaan pertamanya di jawab oleh Aidan.


"Oh itu kak. Aku mau keluar bareng Qadirah. Tapi bisa nanti setelah antar kakak ke rumah" jawab Aidan tanpa pikir panjang.


"Bagaimana kalau sekalian aja?, Qadirah juga belum pernah ke rumah kakak" tawar Musabir.


Mendengar hal itu, Aidan merasa bahwa itu adalah ide yang sangat bagus. Akan ada waktu yang lebih banyak buat dia dan Qadirah bersama.

__ADS_1


Setelah mengantar Musabir, kemudian dilanjutkan mencari gaun buat Qadirah. Malamnya berdua lagi bersama wanita itu akan ke acara lamaran temannya. "Melelahkan sekaligus merasakan kebahagian" batin Aidan.


Tak lama Aidan menunggu, Qadirah nampak berjalan menuju ke arahnya setelah beberapa menit yang lalu minta izin untuk mempersiapkan dirinya. Qadirah berjalan Perlahan dan penuh keanggunan. Hembusan angin dari pintu rumah itu membuat gaun yang dikenakannya sedikit melambai lambai.


Tidak begitu mewah baju yang dikenakan Qadirah saat ini. Tapi mampu membuat Aidan menatapnya untuk beberapa detik, sama seperti ketika Rafiq melihatnya dulu.


"Ayo mas kita berangkat" ajak Qadirah yang melihat Aidan menatap dirinya tanpa berkedip, yang membuat dirinya salah tingkah. Dan dia tidak ingin merasakan hal itu. Dirinya berusaha keras untuk tidak menjatuhkan cintanya begitu saja pada pria yang baru dia kenal.


"Ayo" ucap Aidan yang baru sadar dari lamunan yang di alaminya beberapa detik yang lalu.


"Oh bentar, kita tunggu sebentar kak Musabir ya. Rencananya kita akan mengantar mereka lebih dulu, kemudian kita cari gaun kamu. Kasihan kak Musabir tidak ada yang antar dia dan keluarganya ke rumahnya. Dia tidak membawa mobilnya ke sini. Mana lagi rumahnya cukup jauh".


"Bukannya itu yang kau inginkan juga. Sengaja berlama lama bersamaku. Kan ada supir keluarga. Di garasi ada dua mobil yang nganggur. Mengapa harus mengiyakan permintaan kak Musabir" batin Qadirah kesal pada Aidan yang sudah mencium aroma rencana pria yang ada di dekatnya itu.


Dalam keadaan tak berdaya, bukan karena kehabisan tenaga, tapi tak kuasa menolak, Qadirah pun memposisikan dirinya duduk di ruang keluarga itu dengan jarak yang cukup jauh dari Aidan.


Tak lama, Musabir dan keluarga kecilnya pun tampak dari arah kamar mereka, yang kemudian segera keluar rumah menuju dimana mobil Aidan terparkir.


"Ayo Qadirah kita berangkat" ajak Aidan yang telah selesai merapikan barang barang milik Musabir.


"Aku duduk di belakang saja dengan mbak Aisyah" ucap Qadirah yamg melihat Aidan membukakan pintu mobil bagian depan untuknya.


Tak bisa mengelak dan tak punya alasan lain, Aidan pasrah dan mengiyakan permintaan Qadirah. Sedikit kesal dengan penolakan itu, namun dia mampu meredanya. Karena sebentar lagi dia tak akan bisa berkutik. Begitu pikirnya.


"Jangan pernah mencoba untuk menghindar. Pulang nanti, akan ku pastikan kau duduk di depan tepat disampingku" gumam Aidan.


"Baiklah jika itu mau kamu. Akan ku ikuti jalan ceritamu. Tapi jangan salahkan aku" batin Qadirah lagi.

__ADS_1


***


Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.


__ADS_2