
Yang bisa dilakukannya hanyalah menyaksikan dan membantu semua prosesi itu sampai pria yang pernah menyentuh hatinya itu menjadi suami orang lain.
Anggapan kakak adik yang dirasakan oleh mereka berdua bukan tanpa sebab. Hal itu karena perhatian Qadira pada Rafiq yang melebihi dari apapun, bahkan perhatiannya pada dirinya sendiri. Bukan karena dirinya adalah anak dari majikannya, melainkan ada rasa yang berbeda yang ingin ditunjukannya pada pria itu.
Rasa itu timbul dari perlakuan dirinya itu, perlakuan ingin memiliki dan mejaga pria yang bukan mahram nya. Pria yang mampu menggerakan hatinya untuk ingin dijadikan pendampingnya. Tapi sampai saat ini perasaan itu, hanya berhenti pada sebatas menginginkan nya saja.
Pernah sekali terucap dari bibir Qadirah, tetapi tanggapan pria itu hanya menganggap dirinya adalah sebagai adik nya saja dan tidak lebih dari itu. Hal itu yang membuat dirinya mundur perlahan walaupun dia merasa bahwa pria itu juga suka padanya.
Dan perasaan Samira itu benar adanya. Di kamarnya, Rafiq tengah memikirkan Qadirah. Wanita yang menurutnya sangat baik kepadanya, wanita yang sangat memperhatikan dirinya walau hanya hal hal yang kecil saja diperhatikan olehnya. Lantas mengapa dirinya tak menjadikan Qadira adalah pasangannya?. Apakah perhatian yang Qadirah berikan belum cukup memenuhi syarat bagi Rafiq untuk menjadikannya sebagai pendampingnya?... setidaknya calon pendampingnya.
"Apa yang terjadi pada diriku?, mengapa wanita itu datang disaat waktu yang tidak tepat. Atau mungkin... ini adalah waktu yang tepat, yang Tuhan berikan kepadaku untuk memilih? Entahlah..."
***
Di tempat lain, di kamarnya. Wanita itu masih memikirkan apakah keputusan yang diambilnya itu sudah tepat atau ...., sebelum hari sakral itu berlangsung dirinya berfikir harus memantapkan hatinya sebelum dirinya menyesal pada akhirnya.
"Neng, ayah neng meminta neng untuk menemuinya di ruang keluarga" ucap bi Naroh yang sekarang berada tepat di pintu kamar Samira.
Hartono hari ini tidak ke kantornya karena sakit yang di deritanya kambuh. Kesempatan ini pun dia gunakan untuk berkumpul dengan anak dan istrinya membahas lamaran yang akan diselenggarakan minggu depan, begitu info yang dia dapatkan dari Musabir
"Baik bi" ucap Samira dari dalam kamarnya. Dan kemudian bi Naroh berlalu dari sana.
"Ayah dapat kabar dari kakanya Rafiq minggu depan, hari Rabu mereka akan datang untuk melamar. Ayah hanya mengingatkan kamu untuk memantapkan hatimu. Jangan buat ayah malu" ucap Hartono yang saat ini anak dan istrinya sudah berada di hadapannya.
"Apakah tidak terlalu cepat Ayah?... " minggu depan Samira harus ikut ujian" tanya Samira yang merasa perjodohan yang dilakukan keluarganya itu begitu cepat.
"Kamu mau menunggu sampai kapan?, minggu depan setelah lamaran, segera urus cuti kuliahmu" pinta Hartono.
__ADS_1
"Baik Ayah" ucap Samirah tanpa membantah perjataan Hartono tadi.
***
Di rumah lain, di dalam kamar wanita yang mampu mengusik pikiran Rafiq saat ini.
"Biarkan lah rasa ini mengendap selamanya, biarkanlah... sampai mungkin akan digantikan oleh rasa yang baru, atau mungkin rasa yang sama pada orang yang berbeda"
"Kenapa baru sekarang dia menikah, aku berharap setelah kepulanganku dia telah memantapkan hatinya pada Sesil. Wanita yang pernah di bicarakan oleh bu Hanna. Kenapa saat aku ada di rumah ini lagi, baru dia menikah. Aku tak akan kuat menahan menatapnya bersanding dengan wanita lain"
"Tuhan... setidaknya kirimkan aku pelindung, agar aku tak lagi terus mengharapkannya. Saat ini aku hanya bergantung pada ibu dan bapaknya untuk menjadi pelindungku. Saat ini mereka yang bisa aku andalkan. Tapi entah sampai kapan aku menunggu pelindungku?. Aku... aku hanya ingin dia tau bahwa aku hanya ingin dirinya"
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu itu membuat Qadirah bergegas untuk berdiri dari tempatnya yang sedari tadi, setelah melakukan sholat subuh masih duduk disana memikirkan pria itu, pria dari majikannya.
"Qadirah... bisa ibu masuk nak?" Tanya Hanna dari luar kamar. Tak membuka pintu itu secara langsung, dirinya masih menunggu persetujuan dari Qadira untuk itu. Walaupun telah menganggapnya sebagai anak. Tapi entah kenapa dia tidak berani melakukan hal yang sama dengan anak anaknya.
"Ibu belum sempat mendengar jawaban atas pertanyaan ibu kemarin. Ada alasan apa kamu baru datang ke rumah ibu lagi?. Padahal ibu selalu menunggu kamu." Tanya Hanna setelah berhasil masuk dan duduk di atas kasur bersama Qadirah.
Qadira pun menjelaskan semua yang telah menimpanya setelah meninggalkan rumah ini. Dan Hanna pun memberikannya sebuah pelukan seolah memberikan nya kekuatan.
"Ayo bantu ibu menyiapkan sarapan" ajak Hanna tak lama setelah membiarkan Qadirah menumpahkan air matanya sampai Qadirah merasa puas.
"Baik bu" ucap Qadirah setelahnya.
Dirinya dan Hanna pun segera menuju ke dapur. Disana mereka melihat Aisyah sedang menyediakan beberapa lembar roti untuk sarapan keluarga itu nanti.
__ADS_1
"Masih ada yang butuh dipersiapkan Aisyah?"
"Oh iya bu, Aisyah belum membuat bubur ayamnya bu". Jawab Aisyah.
Hanna sangat maklum dengan apa yang bisa dikerjakan Aisyah saat ini, dia juga tidak ingin Aisyah mengerjakan apa apa, untuk mencegah dirinya kelelahan. Hanna hanya ingin ibu dan calon cucunya yang ke dua itu selalu sehat.
"Biar ibu dan Qadirah yang membuatnya, kamu duduk saja lebih dulu" pinta ibu yang segera dituruti Aisyah.
Setelah hidangan sarapannya semua selesai dan tertata rapi diatas meja, satu persatu anggota keluarga itu mulai berdatangan di ruangan itu dan menempati tempat duduknya masinh masing, tak terkecuali Qadirah. Saat ini dia duduk disebelahnya Aisyah.
"Bagaimana dengan kamu Rafiq, sudah siap minggu depan untuk lamaran?. Hari rabu tepatnya kita kesana. Mantapkan hatimu, karena tidak ada pilihan lain selain menikah setelah hari itu. Ayah tidak mau mendengar kata tetapi setelahnya." Ucap ayah membuka topik pembicaraan pagi ini.
"Biarkan rasa ini tinggal di dalam hati selama lamnya" ucap Qadira pada dirinya setelah mendengar semua yang di ucapkan ayah dari pria itu karena merasa sudah tidak ada harapan disana.
"Baik Ayah" jawab Rafiq
"Musabir, kamu dan istrimu bantu ibu persiapkan segala hal untuk lamaran nanti" pinta Adnan yang saat ini mengarah pandangannya pada anak pertamanya itu.
"Baik ayah"
"Dan untuk kamu Rafiq selain mental, siapkan cincin lamarannya. Jangan lupa. Karena itu hal yamg peling penting. Pilihlah sesukamu. Atau setidaknya ajak ibumu. Biasanya wanita paling mengerti masalah pilih memilih" ucap Adnan kembali mengarahkan pandangannya pada Rafiq.
Setelah sarapan pagi yang cukup ramai dari hari hari sebelumnya, para anggota keluarga itu pun satu persatu meninggalkan ruangan itu sesuai dengan jawal mereka masing masing pagi ini. Adnan dan Rafiq memilih bergi bersama dengan mobil yang sama ke kantor. Yang tertinggal hanyalah Qadirah dan Hanna serta bi Ratih
"Nak... bisa kah kau temani Rafiq untuk memilih cincin lamarannya?. Ibu tidak bisa menemaninya" pinta Hanna tanpa menjelaskan alasannya,
"Baik bu" jawab Qadirah menyanggupinya dan kemudian Hanna berlalu dari sana.
__ADS_1
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.