
Semakin mendekat, wajah wanita itu dilihatnya semakin cantik, yang membuat dirinya susah memalingkan wajahnya sedikitpun. Sampai suara itu pun menyadarkannya.
"Ayo mas kita berangkat".
"Sudah lama tinggal dengan bu Hanna?, oh iya, aku Aidan, keponakan bu Hanna. Nama kamu siapa?" Ucap Aidan segera setelah mobil yang mereka tumpangi berjalan menuju tujuan mereka saat ini.
"Qadirah Mas. Kenal bu Hanna sudah sejak lama. Tapi baru beberapa minggu tinggal dengan bu Hanna" jawab Qadirah.
"Kayaknya kita seumuran, panggil aku Aidan saja"
"Baik Mas. Oh maksud aku Aidan"
"Kamu kenal istrinya kak Rafiq? Cantik ya?"
"Hmm..., iya cantik. Mereka serasi" ucap Qadirah. Walaupun di akhir kalimatnya dia harus berbohong. Mencoba perlahan mengikhlaskan pria yang sangat dia cintai.
"Kamu juga cantik" batin Aidan. Entah kenapa wajahnya sungguh menarik perhatiannya hari ini.
Untuk orang seperti Aidan yang sangat susah sekali untuk jatuh cinta, memandang seorang wanita hanya sekedar teman bisnis belaka, dan hari ini pertama kalinya, dirinya melihat Qadira, ingin rasanya dia bertemu setiap saat dengan wanita itu, dan dalam pikirannya saat ini sedang dia rencanakan.
"Disini mas butiknya, eh maaf. Aidan"
Sesaat kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah terparkir di depan Vicar's Beauty. Tempat itu tak hanya menawarkan jasa kecantikan saja. Tapi juga sepaket lengkap dengan jasa mendesain baju pengantin atau baju seragan untuk kekuarga.
Nampak Qadira turun dari mobil dan kemudian di susul Aidan.
"Biar aku saja"
Tidak apa apa, aku temani" pinta Aidan sedikit memaksa.
Tak dapat menolak, Qadirah pun merelakan dirinya berjalan ke dalam bangunan itu bersama pria yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Bak seperti sepasang suani istri yang baru saja pulang dari pesta pernikahan, penampilan keduanya pun menarik perhatian karyawan di gedung yang mereka masuki. Betapa tidak menjadi pusat perhatian, sang wanita dengan gaun merahnya yang terbalut pada tubuh ramping dan tinggi, menambah kecantikannya hari ini. Ditambah pria yang berparas tampan dan tinggi yang berjalan berdampingan dengannya sedang mengenakan kemeja batik.
"Aku bisa tebak mereka adalah suami istri"
"Sepertinya mereka adalah pasangan artis"
"Aku berani bertaruh denganmu, mereka berdua itu masih pacaran"
Begitu kalimat kalimat yang dilontarkan para karyawan itu. Tidak terlalu keras, namun mampu di dengar sampai ke kuping mereka. Mendengar hal itu membuat Aidan merasa percaya diri. Dia bahkan ingin membenarkan semua kalimat kalimat itu. Lain halnya dengan Qadirah yang saat ini berjalan dengan salah tingkah.
"Kamu langsung pulang ke rumah saja, saya bisa cari ojek online" ucap Qadira sesaat setelah mereka berdua telah berada di luar bangunan itu. Maksud hati tidak ingin terlalu dekat dengan pria yang baru dikenalnya.
"Oh, saya juga masih ada keperluan dengan bu Hanna. Daripada kamu naik ojek online, mending dengan aku saja" dusta Aidan.
Lagi lagi, tak bisa menolak, Qadirah harus pasrah untuk kesekian kalinya.
Saat mobil yang mereka tumpangi sudah mulai berjalan, sudah tersusun sebuah rencana dalam pikiran Aidan untuk mengunjungi rumah keluarga Pak Adnan. Entah apa nanti tujuan alasan dia ke rumah itu, yang jelas maksud yang terselubung itu hanya ingin bertemu dengan wanita yang menemaninya tadi.
***
Di dalam kamar yang dulunya di tempati Samira, Terlihat Rafiq baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Samira telah berada di kasurnya setelah membersihkan tubuhnya juga lebih dulu. Rafiq sebenarnya bisa saja mandi bersama dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya itu. Tapi dia ingin agar istrinya itu merasa dia tidak begitu tergesa gesa ingin memulainya.
"Apakah aku bisa memanggilmu sayang?" Ucap Rafiq yang kini tengah berbaring di samping istrinya itu menatap langit langit kamar di rumah keluarga Pak Hartono.
"Aku terserah aja mas"
"Baik, aku izin dulu Sayang, apakah kita bisa mulai?" Tanya Rafiq sedikit gugup.
"Aku terserah aja mas. Mau segera atau besok aku siap siap saja" jawab Samira seolah mengerti pertanyaan itu. Saat ini posisinya sedang menatap ke arah kanannya penuh dengan kegugupan yang teramat. Walau dia tak ingin melakukannya dengan pria yang tak di cintainya.
Sedetik setelah selesai Samira mengatakan itu, tangan Rafiq telah berada di atas paha wanita itu. Takut tapi memberanikan diri. Entah apa yang membuat Rafiq takut, yang jelas saat ini dadanya berdegub kencang tak beraturan.
__ADS_1
Samira yang merasakan sentuhan itu, sedikit memejamkan mata. Geli yang dirasakannya saat ini tak mampu di hindarinya, kecuali menikmatinya.
"Sayang, bisa menghadap ke arahku?" Pinta Rafiq yang sudah tidak tahan ingin memulai melatih pinggangnya. Saat ini dibawah sana, miliknya, telah siap tegap ingin memulainya.
Memenuhi permintaan itu, Samira perlahan membalikan tubuhnya dengan mata terpejam. Perlahan namun pasti. Tangan kanan Rafiq menelusup di sela sela kain tipis yang dikenakan samira saat ini. Hingga akhirnya tangan itu berhenti pada salah satu gundukan daging kenyal di dada Samira. Ingin rasanya Samira menjerit kegelian, namun ditahannya dengan cara sedikit menggeliat, dan kini tangan itu berpindah ke gundukan disebelahnya dengan sedikit remasan yang diciptakan oleh Rafiq.
Dan geliatan samira semakin kencang, setelah dia merasakan sedikit basah di bagian puncak gundukan itu, akibat salivah yang keluar dari bibir Rafiq yang kini menjelajah sampai ke bagian lehernya, sampai Samira merasakan bagian intinya sedikit terdorong ke dalam oleh benda kenyal namun tegang yang mencoba memasukinya namun gagal.
Percobaan kedua benda itu memasukinya lagi, dan kali ini benda kenyal itu berhasil memasukinya ditandai erangan dari keduanya.
Tak tahan menahan rasa sakit bercampur kenikmatan, Samira pun hanya pasrah dan memeluk suaminya itu dengan erat.
Nafas panas yang dirasakan Rafiq di telinganya menciptakan sensasi geli di tubuhnya, menambah gairah Rafiq semakin kencang menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Erangan keduanya pun berpacu dengan cepat seirama dengan goyangan pinggul yang Rafiq ciptakan.
Sampai akhirnya, Rafiq merasakan ada cairan yang keluar dari tubuhnya yang memaksa dirinya harus menggeram kasar. Samira pun merasakan cairan yang masuk di bagian intinya itu terasa hangat. Dan kemudian melepaskan tubuh kekar Rafiq dengan lemas.
"Dia terlalu tergesa gesa" gumam Samira.
"Maaf, aku tak dapat menahannya. Ini kali pertamanya buatku" gumam Rafiq.
"Dan aku juga" lanjut Samira.
Setelah kejadian yang cukup melelahkan bagi keduanya itu pun, Rafiq nampak malu mengarahkan wajanya pada Samira. Hal ini karena terlalu cepat cairan putih itu keluar dari tubuhnya.
"Maaf tadi jika terlalu kasar." Ucap Rafiq kemudian, mendinginkan suasana yang hangat, yang baru saja tercipta.
Walau dalam keadaan lemas dan kantuk, Rafiq berusaha untuk membuka matanya. Dia belum ingin tidur. Dia hanya ingin istrahat sejenak dan ingin melanjutkan ronde ke dua, jika istrinya masih ingin pula. Namun niat itu terhenti ketika melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"TOK!, TOK!, TOK!"
Suara dari pintu kamar mereka berbunyi bersamaan dengan Samira yang masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
***
Bantu dukung karya ini dengan cara Like, Comment, dan tambahkan di rak buku Anda. Terima kasih.