
Pelayan masih sibuk dengan pekerjaan nya masing masing, sementara Caca duduk di sofa mengamati ponsel nya yang sudah di ambang kematian
Tidak ada pesan singkat disana atau panggilan
Caca merindukan ayah dan teman teman nya.
seharian bersama rifal,
meskipun Caca menyukainya tapi ia merasa jenuh jika seharian berada di kamar
"Aku ingin menemui Nabila" rengek Caca di pelukan rifal
"Kau akan segera bertemu dengan nya, bersabar lah" mengusap lembut rambut Caca
"Apa kau akan makan siang?" tanya rifal lagi
Caca hanya menggelengkan kepalanya, perut nya baru saja ia isi dengan beberapa potongan buah, sehingga tidak selera untuk makan.
"Aku jenuh jika terus dikamar" tatap Caca
"Kau mau kemana dengan cuaca seperti ini. kau hanya akan menangis jika keluar" peluk rifal lagi
"apa kau tidak suka bersamaku" tanya rifal lagi, seolah dirinya tidak di inginkan untuk bersama Caca
"Tidak bukan seperti itu, aku jenuh dari kemarin aku hanya berdiam diri dikamar, mengapa aku tidak mencoba melawan rasa takutku" antusias dengan ucapannya sendiri
rifal menatap tajam Caca
apa maksudmu dengan berkata seperti itu, kau akan melawan rasa takutmu dengan pergi keluar
"Ya aku akan bermain hujan di kolam renang" seolah Caca membaca pikiran rifal.
ia bangkit dari duduknya, membuka baju hangat nya, baru mau melangkah kan kaki nya rifal memeluk nya dari belakang
"Apa yang akan kau lakukan" membalikkan tubuh Caca lalu mencium bibir nya
Caca gelagapan mengatur nafas nya, rifal memeluk nya dengan erat.
sulit untuk melepaskan dekapannya
"Aku akan melawan rasa takutku, aku bukan seorang pengecut yang takut akan kedatangan hujan. Tuhan sudah menentukan akan terjadi nya hujan, lalu aku harus takut akan takdir tuhan. tidak rifal, aku harus melawan nya.
jika aku hanya berdiam diri disini aku hanya akan semakin takut" teriak Caca dengan air mata
__ADS_1
rifal membenamkan Caca pada dadanya, mengusap lembut rambut nya
"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu. tolong dengar kan aku"
Caca melepaskan pelukannya, berjalan menuju pintu. menuju kolam renang
apa yang kau pikirkan ca
rifal berjalan cepat menyusul Caca, Caca sudah hilang dari lorong. Caca sudah berada di pintu kolam renang melihat guyuran hujan deras langsung di depannya.
air matanya terus mengalir, teringat kejadian masa kecilnya.
rifal datang langsung menghalangi pandangan Caca menenggelamkan wajah Caca pada dadanya
"Sudah aku katakan, aku tak ingin melihat air matamu"
Caca memeluk erat rifal.
rifal langsung membopong nya berjalan menuju kamar.
rifal merebahkan tubuh Caca di atas kasur, mengambil segelas air hangat lalu memberikan nya pada Caca
"Tubuhmu sangat dingin, pakai lah pakaian hangat mu, aku akan membuat kan mu jahe hangat" rifal bangkit lalu menuju pintu keluar
Rifal hanya mengambil jahe hangat dan mengangguk kepada pelayan, dengan cepat pelayan pergi meninggalkan kamar khusus tersebut.
Caca yang masih dengan tubuh nya yang membeku, ia tidak tahan akan dingin nya air hujan secara langsung, Caca menggigit bibir nya dengan keras.
rifal memberikan jahe hangat lalu memeluk Caca
"Kau baik baik saja"
tidak bergeming, caca masih merasa tubuhnya seperti es batu yang membeku.
rifal menyentuh dagu Caca dengan lembut dilahap nya.
Caca menikmati ciuman itu, ia merasa keterangan sekaligus kehangatan dengan ciuman rifal
sejak kapan aku mulai mencintai nya? sejak pertama ia menciumku atau saat pertama kali aku mencium nya.
Tubuh Caca sudah mulai hangat, hujan di luar sudah tidak terlalu deras.
Bunyi ponsel rifal berdenging, ia mengeluarkan dari saku nya
__ADS_1
tertera nama ayah Caca disana
"papamu" menatap Caca
Caca meraih ponsel rifal "Halo pah"
"sayang, kau baikan? hujan tidak nak disana?" tanya papa Caca antusias akan keadaan putri nya
"Aku baik baik saja pah, disini hujan deras pah. aku ingin pulang" gerutu caca dengan manja
"sayang, dengerin papa baik baik yaa, kamu akan segera pulang nak, kamu harus bisa jaga diri kamu yaa, dengerin apa yang rifal katakan ya sayang. papa sayang sama Caca"
"iya pah, aku juga sayang papa" membuat Caca semakin bermanja pada papa nya
mengakhiri telpon nya, lalu memberikan ponsel milik rifal. memeluk rifal kembali
rifal membalas nya dengan lembut.
Caca sudah menemukan tempat ternyaman nya, memeluk rifal adalah hal yang selalu ia inginkan, mencium bibir rifal ada sebuah kewajiban setiap detik nya.
Caca begitu nyaman berada di dekat rifal
tetapi mengingat kejadian semalam membuat nya bangkit dari pelukan rifal
"Apa kau sengaja menyiksa ku" tanya caca mendongakan kepala nya
Rifal tersenyum mencium bibir Caca lembut " Jika aku tidak menyiksamu, kau sekarang sudah tidak mungkin diperlukan ku lagi" memeluk Caca kembali
memang jika ia melakukan nya, aku akan terus menangis sepanjang hari. meskipun aku tersiksa seharusnya aku bahagia. rifal tidak merusak masa depanku. yaa walaupun akuu sudah tidak
"hei apa yang kau pikirkan" seperti yang mengetahui apa yang dikepala caca
Caca mendongakan kepala nya lagi, tidak bergeming namun cemburu
seperti nya rifal mengetahui isi kepalaku
Rifal mencium nya lembut "Aku memang mengetahui isi kepalamu, kau pasti sedang memikirkan setiap detik yang ku lakukan kan, lalu sekarang kau menginginkan nya. baiklah rebahkan tubuhmu.
aku akan memulainya dari atas atau dari bawah yaa?"
"Kauu" tatap Caca tajam
Rifal mengetahui tanpa obat pasti Caca akan tetap luluh di pelukan nya, dengan semua cara yang sempurna
__ADS_1
Caca begitu menikmati sensasi demi sensasi yang di berikan rifal.